Puisi dan cerita dan sebagainya takkan pernah cukup, seperti Januari yang mempertemukanku pada nasib di tumpukan jerami

Selamat datang! Anggap saja rumah sendiri :)

Friday, May 25, 2012

Jembatan Benhil


Barangkali malam ini langit terbuat dari lemari es
Yang jika angin bertiup sedikit saja bisa memecahkan dada.

Pada sebuah jembatan, banyak luka yang belum disembuhkan,
Anak jalanan, pengemis tanpa kaki, pemain saksofon
Yang membawakan sonet nestapa dengan irama menyakitkan.
Meski tak ingin lagi kubicarakan tentang kesedihan
Namun  siapa yang sanggup menahan nyeri otot hati
Jika tahu bahwa seorang bayi yang belum genap
Satu bulan sudah belajar menanggung
Dingin dan debu yang panjang?

Pedagangpedagang menjajakan hidupnya atas nama
Melawan nasib. Digelarnya kacamata,
Obat kulit, perhiasan palsu, di atas jembatan yang macet
Karena setengah terisi, setengah pedestrian.

—Semacam ironi bukan?—

Barangkali sepulangnya ke rumah,
Akan kucium tangan ibuku dan kuusap wajahnya yang rumit
lalu berkata: terimakasih sebab memperlakukanku
Dengan amat baik, lalu aku masih begini, masih seperti ini.
Sementara yang susah, besok akan tetap susah.
Dan yang bersenang-senang akan semakin girang.

Malam yang cemas menjadi tekateki yang nyaris penuh terisi
Dengan gedung sebagai pelengkap kotakkotak yang berontak.
Aku semakin terasing dan sendiri, pada pikiranpikiran
Yang tak sanggup kuterjemahkan. Lebamnya cuaca dan
Sesaknya perjalanan begitu lengkap namun berlawanan.

Apa yang membuat kita alpa pada derita yang bukan
Milik kita? Ada yang menangis tak berhenti, ada juga
yang takut tercuri karena tak siap berbagi.

Kenapa?
Sebab apa?

Semakin aku sibuk bertanya,
Jawabannya semakin tak ada.


2012

Tuesday, May 8, 2012

Diorama

(Sebuah Sajak Coba-Coba)

Pada suatu pagi, sepasang mata nanar menatap diorama, lalu dengan berbisik ia berkata; kemarin aku linglung, aku membolakbalik daftar menu sarapan, tapi yang kujumpai hanya seekor kaki rubah bumbu asam manis. Aku beralih ke dapur, mencari roti isi atau sekaleng ikan segar, namun yang kujumpai adalah sebotol bir kadaluwarsa—kutenggak isinya—rasanya mirip airmata dari mulut buaya. Tibatiba perutku mual, kumuntahkan isinya, jangan heran bila muntahku berisi kentang, telur asin, atau lampu tidur. Kembali kususun diorama dari cangkang-cangkang kulitku dan kubangun rumah untukmu lengkap dengan besmen dan beranda. Sebab kuakui—aku memang pergi ke rumahmu tahun lalu, tapi kosong dan kotakposmu berjejalan suratsurat tanpa nama. Dari siapa?

Dengan gusar tangannya bergetar menekan tombol dan menelpon entah ke siapa, lalu lirih suaranya; maaf aku sibuk, hutangku banyak sekali dan janjiku jarang ditepati. Maaf, aku hibuk, aku lupa tanggal dan waktu. Ingin sekali kutuliskan beberapa patah kabar—tentang kota yang tinggi dan lampu yang cahayanya silau sekali, aku tak sanggup, aku ingin pergi tapi aku terlalu sibuk. Sedang kau masih ingat ucapan itu? Seperti saat Khidir meninggalkan Musa; kau takkan sanggup sabar bersamaku. Aku ingin kau menyebut mantra yang sama, lalu seperti bah yang menggulung perahu kertas Nuh. Byar.. Byaaar.. Byaaarr.. Aku selamat dan berlayar hingga untuk keduakalinya aku muntah di hadapanmu. Tak usah lagi heran, bila muntahku berisi kentang, telur asin, atau lampu tidur. Toh, kelak akan kuceritakan padamu, betapa perpisahan sungguh mengasyikan. Seperti sinema elektrik; musik yang mengguncang, iklan yang muncul tibatiba, sorort mata tajam—dengan itu adrenalinmu naik dari semula, bahkan diluar batas sangka.

Kemudian suatu hari—suatu saat dimana kau dan aku kembali pada ketunggalan—mungkin kau akan mengulang beberapa patah pepatah yang pernah kutitah, akupun tak pernah luput oleh diamdiam yang sengaja menyusun kembali diorama—yang jika kau tahu kuncinya adalah panorama sebuah musim dan beberapa rumah yang pernah kubuat adalah makam sebuah kenang.

2012

Ode Buat Digdio


Dig, digdio
Mengapa kau keras kepala?
Jika tidur siang, perlu beberapa orang
Untuk membujukmu, sekadar memberi ancangancang.
Bahwa seorang kakek tua dengan badan berumur oli
Gemar menculik anak nakal yang tak mau tidur siang
 --Sembari membanting angan-angan, mobil-mobilan
Puzzle, kau ngamuk seperti preman di persimpangan.

Dig, Digdio
Hidup bukan hanya sebatas tatapan, setengah tubuh manusia
Yang jika kau tahu bahwa nenek dan kakek, tante dan om
Rela berpayah-payah menahanmu
Untuk tak keluar rumah, jangan terlalu menjadi pemarah--
di luar panas dan sepi.

Dig, Digdio
Jangan ngamuk lagi, tidur siang saban sebentar
Setelah itu mandi, main air, main kecipak kecipak
Karena kau senang sekali saat disiram dan
Matamu berkedip-kedip,
Bibirmu mencari udara, dan byur..byur..
Kau senang menyalakan kran
Tapi untuk soal sikat gigi Dig susah sekali.

Dig, Digdio
Ode apalagi selain Nina dan cicak di dinding?
Barangkali nyanyian ibumu yang belum kau dengar,
Ibumu belum pulang, bersabarlah lalu
Lepas tak terjaga, Dig..

2012

Friday, May 4, 2012

Romansa Diri Sendiri

kau didepanku tudung merah senja
matamu membelah belantara dadaku

masuk ke dalam rimba yang hendak mendamba
sayup paling kuyup yang perlahan meredup

kau di depanku tudung merah senja
bibirmu mengalir zikir berbulirbulir
menghancur getir pada jiwaku yang anyir

kau di depanku tudung merah senja 
aku lapar dan kau di depanku
aku di depan diriku sendiri

2012

*catatan: sajak ini awalnya dibuat oleh Bu Hafni untuk saya
--lalu saya melanjutkannya. sepertinya kami akan jadi sahabat.

Saturday, April 14, 2012

Sepanjang Jalan Kota Tua

Dari balik jendela transjakarta,
Aku melihat banyak harapan.
Seperti namanama jalan   
di sepanjang menuju kotatua
:kebahagiaan, kesejahteraan, dan
kesederhanaan.
Entah apa filosofinya,
Tapi mungkin aku akan bahagia jika
Tinggal di jalan kebahagiaan,
dan seterusnya
dan selamanya

Tapi bukankah tinggal dimanapun
Kita bisa menjelma apa saja?

Bahkan siapa yang tahu mungkin akan 
menjadi penyedih walaupun tinggal di jalan
kebahagiaan.

Sebab aku belum juga mengerti konsep kebahagiaan
seperti apa dan bagaimana.
Barangkali seperti hotelhotel, pijat refleksi,
atau tokobuku yang berada di sepanjang kota tua.
Mungkin sesekali waktu,
siapapun bisa melepas dukanya disana.



Hawa panas dan debudebu beterbangan.

Aku bisa menyimpulkan—siang ini
Matahari sedang mabuk cinta
Kepada langit, ia korbankan segala nafasnya
Kepada bumi, ia berikan segala energinya

Keringatkeringat membuncah dan hendak berserapah,
tapi segera kuingat—apapun cuaca adalah anugrah


:Melewati lorong
—seorang lelaki setengah baya
Bermain biola, menembangkan keceriaan,
Ia hamburhambur senyumnya—seolah hidupnya
hanya untuk hari itu saja

Remajaremaja berkumpul bermain kartu
menukar siasat—tertawatawa licik.
Dan sesekali mengaduh ketika
tahu nasibnya tak sebagus kartu As
di genggamannya

Di tepi air mancur,
seorang perempuan menyandarkan
kepala di bahu lelakinya.
Barangkali dengan begitu,
pikirannya yang rumit akan
tumpah di dada lelaki yang
yang lebih tabah—
dari waktu yang kian pasrah.

Bangunan moneychanger masih berdiri gagah
—mungkin aku
Bisa menukar banyak kenanganku
dengan kenangan di tempat lain--kenangan asing
dengan kurs yang lebih tinggi.

Museum-museum mengawetkan waktu
dalam ruang tak berpenghuni, memadatkan
sejarah di batubatu, di laci meja kayu,
bahhkan di mata seorang serdadu.

Di kota tua, orangorang hendak
Mengabadikan kenangannya—dalam ukiran tato
—dalam sebuah jepretan foto

Sementara aku masih juga bertanya
(bertanya dengan siapa saja atau yang bukan siapa-siapa).
"Apakah di kota tua, sebuah kenangan
bisa ditukar dengan masa depan?"

2012

Wednesday, April 11, 2012

Perempuan

: Dien Hanif,
  perempuan yang selalu menundukkan pandangan

Apa yang kau lihat dibawah sana perempuan?
Apakah hamparan surga yang rumput-rumputnya
Selalu berzikir menyebut Ia yang Maha Cinta
Ataukah sugai-sungai yang mengalir
Dikelilingi tembok yang amat tinggi?

Ceritakan padaku, perempuan
Ceritakan lagi tentang tempat itu
Dimana setiap nyawa adalah
Remaja dengan kecantikan dan
Ketampanan luar biasa
Dimana ada bidadari dan bidadara
Dengan paras yang sempurna

Sebab aku belum juga mengerti
--belum mampu mengerti
Tentang surga yang ada di pikiranmu

Ajarkan padaku bagaimana
Cara menundukkan pandangan
Agar di bawah sana dapat kutatap matamu
yang berisi tamantaman dengan sejuta gladiola

Ajarkan padaku agar mataku seperti matamu
--seperti mata penyair yang hendak
Menerjemahkan bahwa dunia
Hanya perandaian dengan segala fatamorgana

Oh, bagaimana takdir, kita takkan pernah tahu
Tapi kau selalu bisa menggambar surga
di bawah telapak kakimu

2012

Friday, April 6, 2012

Kereta

Di ujung gerbong itu, aku membayangkan kabut
menjadi matamu, dan alismu tercipta dari gerimisgerimis

Lantas apa yang begitu terasa asing, sementara kita rajin
Mengirim doadoa yang tak pernah ada aminnya?

Barangkali kepergianmulah yang akhirnya
Memberangkatkanku pada kehilangan

(Kenapa kau tinggalkan aku, sebelum kita bertemu?)

Aku hendak membayangkan lagi, namun kenangan
Tolol macam begini siapa sudi memungutnya?

Lantas siapa yang pantas dengan nasib begini?
Cuaca juga begini, seperti tahu aku tak
Juga beranjak dari kertaskertas kalenderku--
Melingkari angkaangkanya dengan kesedihan

Susah payah kurawat takdir di garistanganku

: Namun kau hanya menjawab dengan jenaka
Pohonpohon seperti diorama yang juga menertawakan kita
Menertawakanku lebih tepatnya,
Hingga aku bertanya, bagaimana kalau akhirnya
Akulah yang paling kau benci?

Sementara aku tak juga membencimu

Kemarahan adalah warna hitam pada lukisanku,
Dan percayakah kau, aku banyak menggambar
Hantu berparas ambigu seperti wajahmu

Mungkin kau ragu, jika suatu hari
Suara kereta terdengar sesekali di dinding kamarku
Dan menggetarkan poster beatles klasik
Atau menggetarkan cermin yang didalamnya
Banyak bayangan seperti peluru yang menghantam
Jantungku, pembuluhdarahku, ususku,
Dan retinamataku yang terlampau
Sering menelan airmata daripada
Menatap lebam cuaca

(Apakah ini cuma kebetulan?)

Nasib yang kebetulan, perbincangan kebetulan
Dan hubungan yang aneh. Barangkali tak seharusnya
Aku percaya padamu, barangkali aku tak pernah
mengucap sajak Chairil
“Aku pernah ingin benar padamu. Menjadi kanak kembali..”

Apa hubunganku dengan Chairil?
Ah, aku terlalu banyak bertanya, seharusnya kutiru saja 
peramal di ujung jalan sana, 
dengan jarijari yang tabah ia terka hidupnya,
Bahwa burung hantu, atau air rupa-rupa akan membawanya
Ke dalam surga pikirannya
Setidaknya, ya setidaknya
Ia tidak lebih bodoh dariku

Atau ia tak pernah naik kereta
Dengan gerbong yang selalu terbuka
Dengan mimpi-mimpi yang selalu ia bawa dalam kantung tidurnya

(Kau menundaku begitu lama)

Haruskah ada yang terus menunggu seperti tukang
sobek karcis yang muram--menghapal nomornomor
dan waktu keberangkatan

: Aku hendak membayangkan lagi
Bagaimana akhirnya jika kaulah yang paling kubenci?


Suara kereta semakin menderu,
menggetarkan dinding kusam kamarku

2012