Skip to main content

Posts

Ludira Yudha untuk GAIA Cosmo

Hari ini, Rabu 15 November 2017. Aku menemani suami bekerja: nguntel kawat. Bukan, bukan di rumah yang biasanya kami berdua melepas penat kami dengan acara Running Man. Tetapi di Hotel. Ya, hari ini aku diajak suamiku ke Gaia Cosmo Hotel, Jogjakarta. 
Saat jejak kami menapaki lantai Hotel, suamiku langsung menggiringku untuk duduk di lobi.  "Duduk dulu di sini ya. Aku mau ke toilet. "Katanya sambil menunjuk ke arah kursi yang berada di lobi lantai 1.  "Iya. Tapi karyamu dimana mas?"Tanyaku sembari duduk di salat satu sofa lobi.  "Kamu ngga ngeliat? Segede itu?" Mendengar jawaban suamiku tentu saja aku langsung melihat sekeliling.  Dan benar saja ternyata karyanya ada di sebelahku persis.  "Masya Allah.." Aku pun langsung menertawai kebodohanku atau mungkin kekacauan penglihatanku.  "Kamu memang ngga memperhatikan.." Jawab suamiku sambil berlalu ke toilet. 
Karya itu benar-benar di sampingku. Karya yang ternyata jika digantungkan di b…
Recent posts

Setelah Mencintaimu

Setelah mencintaimu aku jadi banyak melakukan hal-hal yang tak masuk akal
Setiap pagi tubuhku dimandikan cahaya matahari dan aku mandi dengan air yang memiliki banyak kenangan sebab ia tak jernih seperti air di Jakarta
Setelah mencintaimu hamparan sawah jadi kawanku
Sebab manusia jarang kutemui Gedung-gedung tinggi dan asap-asap knalpot meninggalkanku Aku tak tahu apakah ini baik atau tidak bagiku
Suhu panas di siang hari dan kondisi air tanah yang tidak begitu baik Tiba-tiba bisa bisa saja kuterima Tanpa aku tahu kenapa
Namun rupanya menyenangkan juga
Membeli dan mengatur barang-barang baru di rumah baru rumah yang tentunya bukan milik sendiri
Tapi apa artinya
Jika aku bisa meletakkan kompor dimanapun aku mau Pergi ke pasar dan memilih mana sayuran yang terbaik untuk bisa dimakan hari ini
Menemukan ulat-ulat berjalan di brokoli
Mendapati sarang lebah yang semakin membesar di penyangga rumah Bertemu dengan kelelawar di kamar mandi barangkali adalah perkara yang tiba-tiba saja bisa kumaklumi setelah mencinta…

Airmata Ibu

Sajadah serupa kurir yang mengantarkan surat-suratku untuk sampai pada ibu
Mohon maaf sebab tak bisa
menyampaikannya langsung
Alamat rumah ibu pun
Telah melotok di luar kepalaku
Aku terlalu sering mengingat dan menghapalnya

Jadi tak mungkin jika surat itu
yang berisi doa atau ucapan selamat rindu itu
tak sampai juga kepada ibu

Sebab hanya itulah satu-satunya cara yang kutahu
Aku tak bisa mencintai ibu
dengan memijat kakinya

Aku tak bisa mencintai ibu
dengan menyuapinya

Aku tak bisa bisa mencintai ibu
dengan menggenggam tangannya

Hanya ini cara yang kupunya
Semoga tak sia-sia

Kujinjing sesalku Kurenung kesalahanku
Airmatamu membayang di sangkar sukmaku
Sebab belum genap baktiku 

Bantul, 1 November 2017 21:36

Gadis Kecil Ibu

Unuk Nafisa
Gadis kecil ibu Telah sampai mana Kau tinggalkan jejakmu Florida atau Nusa Tenggara? Ibu kangen, Nak Ingin membelai rambutmu Sesekali juga Ingin ibu masakkan makanan kesukaanmu
Ah, tapi sudahlah, Nak Tak usah kau hiraukan kerinduan ibu Jangan sampai lupa ya, Nak Akan pesan dari ibumu Ibu titip potongan matahari Yang terbit di dekat laut Laut itu nampaknya masih ingat bau tubuhmu Kau pernah selami kedalamannya
Potongan cahaya matahari itu Akan ibu gantung di dinding rumah Dan ibu jadikan pelita Ketika mata ibu kian buram Untuk memasukkan jarum ke dalam benang
Tahukah, Nak Ibu tengah sibuk membuat Kaos kaki bayi untuk cucu ibu nanti Agar cinta ibu bisa terbawa Saat ia berjalan kemanapun Memetik satu per satu takdirnya
Oh iya, jangan lupa sering-sering telpon ibu ya Walaupun ibu tak punya telepon genggam Kau tau kan mesti menghubungi ibu dimana?
Saat kau berdiri, rukuk, sujud, dan menadahkan tangan Engkau sebenarnya sedang bicara pada ibu Dan ibu tengah mendengarkan suara…

Doa Pengantin

Selamat pagi Semoga pagimu tak basi Supaya tak basi Maka kuhidangkan Secangkir kopi Untuk kau sesapi Bersama sepi Tapi, tidak! Sebab telah ada aku disini Yang tak letih mencintai
Maka jika langit terlihat sama Ketahuilah sebenarnya Warnanya selalu berbeda setiap harinya Sepertiku yang selalu terlihat sama Namun sebenarnya Warna cinta itu Berbeda Setiap menitnya
Rutinitas mencucikan baju Membuatkan sarapan, makan siang dan malam Sesungguhnya hanya secuil saja Dari seluruh rasa cinta Yang kupunya
Kau tak perlu Membayangkan seberapa berat cinta itu Jika ditampung dalam sebuah wadah Karena cintaku tak mampu ditimbang
Ia tak terdefinisi Tak terlihat Tak dapat diraba Cinta hanya dapat terasa Ketika kau kehilangannya
Tapi tidak! Aku akan selalu disini Kau tak akan kehilanganku Kecuali kelak suatu hari Kematian kita akan Menorehkan perpisahan
Jangan pernah takut Perihal usia Sebab dunia memang bukan Tempat yang pantas Untuk berlama-lama dengan sang kekasih
Percayalah Ada suatu tempa…

Puisi Tempe

Bolak balik aku berjalan antara dapur dan ruang tamu Sembari menggoreng tempe, aku menulis puisi
Puisiku tentang tempe yang terbungkus daun Secara tekun dibungkus oleh ibu-ibu pembuat tempe Rasanya persis seperti ayam dalam bayanganku
Sesekali aku menggorengnya dengan tepung Sesekali kugoreng dengan senyuman
Sementara tempe terbaring santai di atas wajan Kulanjutkan kata-kata yang belum kurampungkan
Aku bertanya-tanya, kata apa yang hendak kutuliskan tadi Di layar laptopku kulihat kata-kata itu membentuk barisan kacang kedelai
Puisiku nampaknya sudah difermentasi menjadi sebuah tempe Yang siap digoreng lalu dinikmati


Bantul, 30.10.2017

Tetangga

Hal yang sangat lumrah jika para ibu rumah tangga duduk bersama dan mengobrolkan perihal remeh temeh. Dan saya bukanlah tipikal ibu-ibu seperti itu. Bukan, bukan berarti saya tidak suka dengan mereka. Tapi memang sayanya saja yang kuper dan sulit bersosialisasi. Sebab saya selalu berpikir keras, jika sudah duduk-duduk dan kumpul begitu apa yang bisa saya bicarakan dan obrolkan dengan mereka. Saya bukan orang yang pandai mencari topik pembicaraan dan juga bukan orang yang pandai meresponnya. Sungguh, saya benar-benar kesulitan.
Ditambah lagi perbendaharaan kosa kata bahasa Jawa saya masih sangat minim. Tapi bukan berarti saya menutup diri sama sekali. Pelan-pelan saya mempelajari bahasa Jawa dari ceramah atau obrolan suami dengan kawan-kawannya, saya juga sering menanyakan artinya jika ada yang tidak saya mengerti. Kemudian tak jarang juga saya bergabung dengan ibu-ibu di lingkungan saya, saat belanja sayur misalnya. But, Believe it or not! Saat itu juga saya seperti sedang dalam ruang…