26.2.11

Kedai Kopi Marini (3)

Hujan masih terus turun sejak pagi tadi. Kaca-kaca kedai masih memburam. Dari luar kedai terlihat siluet dua orang yang berbincang di sebuah meja besar, saling berhadapan. Di hadapan mereka terdapat berpulu-puluh kantung bubuk kopi, serta segala macam pelengkap kopi. Bau hujan yang bercambur bau kopi.
“Aku tak bisa meracik kopi. Kau tahu itu kan?” Kata Marini gemetar. Marini hanya takut, takut bahwa kopilah yang sebenarnya jadi penyebab meninggalnya ayah. Dan Marini juga takut bahwa orang-orang tidak akan pernah bisa hilang kesedihannya saat meminum kopi racikannya.
“Aku juga tak bisa, bakatku hanya sebagai seorang pelayan yang sigap dan ramah. Tapi kau? aku tahu kau punya bakat.” Jawab Reno menyakinkan. Reno adalah seorang pegawai yang setia. Reno sangat mencintai kopi seperti ia mencintai dirinya, itulah alasan mengapa ia ‘kerasan’ bekerja di kedai kopi milik Ayah Marini, dan tak menyerah meski Marini hampir saja menyerah.
“Bakatku hanya bermain pianika. Itu saja.” Kata Marini singkat. Wajahnya masih sembab akibat semalaman ia menangis. Ayahnya dan kopi, yang membuatnya menjadi seperti ini.
“Hmm, apa yang kau pikirkan selama bermain pianika?” Tanya Reno lagi.
“Aku memikirkan jalan cerita dari sebuah lagu yang sedang kumainkan. Tapi Ren, Perkara pianika tidak sama dengan perkara meracik kopi.” Marini mulai gundah.
“Kau salah, Marini. Justru pianika dan kopi punya banyak persamaan.”
“Persamaan? Dimananya?” Tanya Marini heran sambil mengerutkan kening, kedua alisnya bertemu.
“Aku mau bertanya padamu.. Ada berapa macam warna dalam tuts pianika?”
“Dua, hitam dan putih. Semua orang tahu itu, Ren.”
“Kemudian.. Dalam secangkir kopi, ada berapa rasa?”
“Dua, pahit dan manis. Pahit di awal, kemudian akan berakhir dengan rasa manis. Hanya itu yang aku tahu selama jadi penggemar kopi.”
“Hmm. Anggap saja itu adalah persamaannya. Pianika dan kopi punya 2 jenis yang berbeda di dalamnya. Perlakukanlah kopi seperti kau bermain pianika.”
“Aku masih tidak mengerti.” Marini semakin tidak mengerti dengan kata-kata Reno. Tapi dari raut wajahnya muncul secercah titik terang untuk percaya pada sebuah keyakinan baru tentang suatu hal.
“Apakah nada yang kau mainkan akan terasa nyaman ketika kau lebih banyak menekan tuts yang berwarna hitam?”
“Tidak. aku menekan tuts hitam dan putih bergantian, juga terkadang secara bersamaan.”
“Baiklah, meracik kopi adalah sesuatu yang penuh intuisi, dan penuh pengalaman. Setidaknya itu yang dikatakan oleh mendiang ayahmu.”
“Lalu?”
“Perlakukanlah kopi seperti kau perlakukan pianikamu. Tidak usah kau khawatir bahwa kopimu akan terlalu pahit atau terlalu manis. Namun nikmati saja setiap takaran yang kau tuang, lebih banyaklah kau gunakan perasaan, dan sedikitlah kau gunakan akal. Agar tercipta rasa yang sedang kau rasakan. Agar secangkir kopi mempunyai banyak pengalaman.” Reno menjelaskan dengan lancar sembari memainkan takaran-takaran kopi. Mungkin Reno sendiri tidak begitu mengerti apa yang sedang dikatakannya, namun Reno menginginkan Marini untuk tidak menyerah begitu saja. Reno menyakini bahwa suatu saat kedai kopi itu akan menjadi kedai kopi penghilang segala lara dan pembuat bahagia.

Marini hanya terdiam mendengar kata-kata Reno barusan, seperti disadarkan oleh kesadaran yang tak pernah ia sadari. Reno tersenyum dan beranjak meninggalkan Marini.
“Kau.. mau kemana?” Tanya Marini gugup.
“Hei, lihatlah biji-biji kopi itu. Mereka meminta untuk segera kau sentuh! Aku pergi dulu, ada urusan sebentar.” Kata Reno sambil menunjuk biji-biji kopi yang tergeletak di atas meja.
“Tapi, di luar masih hujan.”
“Aku membawa payung.”
“Payung tidak menghilangkan kemungkinan bahwa kau tidak akan basah saat berjalan di tengah hujan.”
“Ada apa? Apa kau mau aku tidak pergi?” Tanya Reno.
“Tidak, aku hanya bilang bahwa di luar masih hujan.” Jawab Marini singkat. Namun Reno tetap berlalu pergi meninggalkan Marini sendirian di kedainya. 




...***

Kedai Kopi Marini (2)

“Maaf, ini pesangon kalian.” Kata Marini kepada tiga pegawai yang bekerja di kedai kopi, sembari membagikan 3 buah amplop coklat yang berisi uang.
“Apakah tidak ada jalan lain Mbak selain menutup kedai kopi ini?” Kata Angel, pelayan yang paling muda yang bekerja di kedai kopi Marini.
“Iya Marini, bapak pasti sedih disana kalau tahu kedai kopi ini ditutup.” Tio menimpali, Tio adalah pegawai yang usianya paling tua di Kedai Kopi Marini. Ketiga pegawai itu sudah cukup dekat dengan Marini, anak dari bosnya. Maka itu, mereka sudah tidak segan untuk memanggil Marini dengan nama, bukan dengan sebutan ‘Boss’ atau ‘Mbak’.
“Tidak ada jalan lain. Percuma kalau kedai kopi ini dibuka, kalian tetap tidak akan dapat penghasilan dari pekerjaan kalian. Kedai kopi ini tidak akan dapat maju seperti saat Ayah masih hidup. Kedai kopi ini hanya akan membusuk jika dibiarkan terus terbuka.” Jawab Marini sambil menahan tangis.
“Marini, almarhum pernah berpesan, jangan anggap kopi sebagai sebuah penghasilan, tapi anggaplah kopi sebagai teman.” Kali ini Reno mulai berkata. Reno adalah seorang pegawai yang rajin, jika datang paling pagi. Jika pulang paling malam. Pekerjaannya rapi, dan ramah kepada pelanggan. Sebenarnya Marini tak pernah tega memberhentikan mereka. Hanya saja Marini tidak tertarik lagi dengan kopi. Meracik kopi adalah sebuah pekerjaan sia-sia, pikirnya saat itu.
“Kopi bukan teman, Ren. Kopi adalah musuh yang seharusnya paling dimusuhi.” Marini tidak dapat lagi menahan tangisnya.
Ketiga pegawai kopi itu menenangkan Marini. Mengelus-ngelus punggung Marini, dan memberikan segelas air putih. Mereka tahu bahwa Marini masih sangat terpukul dengan kematian ayahnya. Bagaimana tidak, ayahnya adalah satu-satunya orang yang ia miliki. Ibu Marini sudah meninggal karena kecelakaan kereta ketika Marini duduk di sekolah Menengah Atas, Marini anak tunggal, tidak punya saudara.  Dengan kematian ayahnya, Marini tahu bahwa ia kini akan berjuang sendirian.
“Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah. Terima kasih banyak atas apa yang kalian berikan untuk kedai kopi ini. Sungguh, aku tidak bisa membalasnya. Semoga kalian mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”
“Lalu, bagaimana dengan Mbak Marini?” Tanya Angel  khawatir.
“Tidak usah kalian pikirkan aku.” Kata Marini berusaha tegar dengan sisa-sisa kekuatannya. Dengan berat hati para pegawai meninggalkan kedai. Kecuali Rendi.
“Kenapa masih disini?” Tanya Marini. 
“Saya tidak akan pergi.” Jawab Rendi yakin. 
“Kenapa?” Marini mengerutkan alisnya.
“Saya akan membantumu untuk membangun kedai ini lagi.”Jawab Rendi dengan tatapan yang tajam. 
“Sudahlah, lebih baik kau pergi. Sebentar lagi aku akan mengunci kedai ini.”
Reno langsung berlari ke dapur. Marini bingung. Tidak lama kemudian Reno keluar dengan membawa kantung-kantung kopi. 
“Lihat, rasakan, dan cium aromanya. Kopi bukan hanya sekedar minuman. Kopi adalah sebuah perjalanan yang ada rasa manis dan pahit secara bersamaan. Inilah sesutau yang paling dicintai mendiang Bapak. Kamu pasti sangat mengetahui  itu bukan..?” Kata Reno sembari menyodor-nyodorkan biji kopi itu ke hadapan Marini.
“Itu dulu Ren. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Aku tidak mau melihat biji-biji kopi itu lagi!” Kata Marini sembari menepis kantung-kantung bubuk kopi itu hingga bubuk kopi itu berceceran di lantai.
“Bukan keadaan yang berbeda, tapi pikiranmu yang berbeda. Dari dulu sampai sekarang, kopi tetaplah kopi. Jangan lari dari kenyataan. Masih ada harapan untuk kedai kopi  ini!” Tegas Reno sambil membereskan biji-biji kopi yang berjatuhan di lantai lalu memerikannya lagi kepada Marini, namun Marini menolak, ia tidak mau memegang biji-biji kopi itu.
“Reno, kamu gak ngerti. Kopi sudah membuat ayah meninggal. Ayah kena serangan jantung karena terlalu banyak meminum kopi!”
“Saya tahu kamu sangat terpukul atas meninggalnya Bapak. Semua orang yang pernah merasakan kopi bapak juga sangat terpukul, termasuk saya. Tapi, itu semua adalah takdir dari Tuhan.”
“Karena itu aku gak mau mengulang takdir itu dengan masih membiarkan kedai ini berdiri.”
“Tapi berapa orang yang terobati kesedihannya dan kembali bahagia setelah meminum kopi? Berapa orang yang mendapat inspirasi setelah meminum kopi? Berapa orang yang telah menemukan rahasia kehidupan di dalam secangkir kopi?” Reno mengejar Marini dengan bertubi-tubi pertanyaan. Marini terdesak, dan terdiam. Air mata Marini mengalir lagi, mengalir sendiri, tanpa bisa ditahan.






                                ***

Kedai Kopi Marini (1)

Kedai Kopi Marini

“Ayah, apakah ayah disana bahagia? Apakah angin disana masih sama seperti angin disini? Angin yang menghantarkan wangi bubuk-bubuk kopi? Yang setiap malam, jika aku mencium tanganmu wanginya masih akan terasa? Dan apakah disana ada bubuk-bubuk kopi yang bisa kau racik? Mungkin disana ayah akan terkenal dengan sebutan si peracik kopi paling hebat. Atau mungkin disana ayah akan bertemu dengan orang-orang yang dulu bahagia karena telah meminum kopi buatan ayah?“ Marini menangis tak habis-habisnya di kedai kopinya. Meratapi sesuatu yang hilang mendadak dari hidupnya. Di hadapannya sekarang, hanya ada berpuluh bungkus bubuk kopi, cream, susu, coklat, alat penggiling kopi, serta pemanas, yang teronggok tak berdaya.



Marini tak tahu apa yang harus dilakukannya, ia tidak sepeti ayahnya, ia tidak pintar meracik kopi, ia hanya seorang pemain pianika, kesehariannya hanya bermain pianika di kedai ayahnya dan di kafe-kafe lain. Marini lihai bermain pianika. Ia tahu seperti apa nada yang pas untuk setiap suasana hati. Pianika tidak seperti kopi, pikirnya. Pianika adalah sebuah perasaan yang tertuang ke dalam alunan tuts-tuts hitam dan puitih, perasaan yang tidak disengaja. Sedangkan kopi, membutuhkan setiap takaran yang pasti, komposisi yang seimbang, dan pengolahan yang penuh pertimbangan. Marini selalu limbung, jika dulu ayahnya menyuruhnya belajar untuk meracik kopi. Kopi racikan Marini selalu rasanya tidak pernah pas. Entah terlalu pahit, terlalu manis, terlalu pekat, terlalu cair, terlalu getir,serba terlalu..

Marini semata-mata hanya menjadi seorang fans kopi buatan ayahnya. Namun, saat ini segalanya telah berubah. Marini dipaksa menjadi seorang peracik kopi persis seperti ayahnya.

“Jadilah seseorang yang bisa membuat orang melupakan segala kesedihannya ketika meminum kopi.” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan ayahnya kepada Marini saat pagi hari ketika Marini berangkat pergi untuk bermain pianika. Marini tidak menyangka bahwa pagi itu adalah pagi terakhir bersama ayahnya. Ayah Marini terkena serangan jantung. Marini yang ketika itu sedang berada di sebuah pertunjukkan segera berlari ke kedai kopi saat mendengar bahwa ayahnya terkena serangan jantung ketika sedang meracik kopi. Kaget bukan kepalang ketika Marini mendengar kabar itu. Ayahnya meninggal di tempat, sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Saat itu, Kedai kopi menjadi tempat yang ramai bukan main. Orang-orang ramai berdatangan, sesudah itu beratus-ratus rangkaian bunga datang dari para penggemar kopi racikan ayah. Semua pengunjung menatap Marini dengan pandangan yang aneh dan menghujam. Marini tak mengerti apakah arti dibalik tatapan itu. Namun seminggu kemudian, kedai kopi menjadi tempat yang amat sepi. Orang-orang tidak lagi dapat menikmati kopi yang sama. Kopi penghilang lara dan duka ketika diminum. “Kopi buatan Marini adalah kopi yang bisa menambah kepahitan dalam hidup.” Gerutu seorang pengunjung yang datang beberapa hari setelah mencicipi kopi racikan Marini.

Marini tidak hanya seorang peracik kopi yang buruk, tapi Marini menjadi orang yang sangat amat membenci kopi, sekarang.
“Kopi hanya sepekat ampas-ampas kematian, kopi bukan lah penghilang derita, justru kopi adalah sebuah racikan kesengsaraan. Kopi yang telah merenggut nyawa ayah. Kopi lah tokoh utama dalam skenario kematian ayah. Tidak sepantasnya aku menjadi peracik kopi, karena kopi hanya akan menambah jumlah kematian seseorang.” Kata Marini malam itu.  Ia terpekur sendirian dan menjadi seorang yang amat sinis dengan kehidupan.



... ***

19.2.11

I NEED a COFFE

Kopi, menghilangkan haus dalam bentuk yang lain.
menghilangkan derita dan lara yang menyesakkan pundak, dada, menggumpal di telinga, menumpuk sengal di hidung, dan mengeluarkannya bersama ampas-ampas yang menggenang.
Kopi adalah sebuah obat yang tidak ada aturan pakai, tidak punya komposisi yang pasti, namun meenyembuhkan segala rasa sakit yang mengendap.
Kopi membuatmu merasa nyaman, karena ada rasa getir di awal namun ada manis pada akhirnya, seperti pengalaman yang sudah lama berlalu -lalu kemudian sekejap datang bersama aliran-alirannya di lidah.

**while coffee makes you feel good, it feels bitter at first, but there are sweet in the end.**

-malam ini aku butuh kopi, kopi apa saja ,moccachino, vanila latte, kopi pahit, kopi susu, kopi jahe. Kopi apa saja, yang penting kopi.
Karena ada suatu rasa sesak yang ingin kusembuhkan pelan-pelan, semacam rasa bosan yang menyakitkan perasaan. 
Karena ada seseorang yang tidak bisa kugapai. Bahkan bukan kali ini saja, tapi jauh sebelum malam ini, aku juga pernah merasakannya.

-tapi malam ini aku butuh tidur, butuh sekali, semalaman hanya tidur 3 jam. sampai timbul kantung hitam di bawah mata dan menguap tak henti-hentinya..

-bisakah kopi beralih fungsi? Dari obat anti ngantuk menjadi obat resah serba guna, dan tertidur sesudah itu (bisa) me(lupa)kan.


entahlah..


..tonight my heart has somehow merged into what. 
I probably caught a shallow love, sweet love to someone, but ultimately I know that he really can not. 
I'm bored with my fate like this. yearning mice like a cat, I want to be a fish in an elegant tin.
I dont know, maybe it's time to let go. 
"Mate in the hands of God" , only words that can console now, makes me feel more like, without a cup of coffee tonight.

***






18.2.11

Together


Together

together. 
we walked together in one afternoon. 
on the trail, in the middle of the grass. 
we talked about many things, about the past your past.
I, on the activities of each of us on Sunday morning, 
about anything that makes us feel good. 
and in the afternoon, everything becomes something easy to remember, 
that we had together.

16.2.11

PERTEMUAN

Pertemuan 



Di ruang itu, seolah semuanya bersinggungan. Komputer itu, dan segala hal yang membuat kita dapat berbincang tentang banyak hal, di tempat yang berbeda namun pada jam yang sama.
Aku menunggu saat-saat seperti ini, sudah lama, lama sekali.

Burung-Burung Kertas



Burung-burung kertas

Ada saatnya kita sama dengan benda-benda, tak berdaya.
Seperti burung-burung kertas yang sayapnya hanya mampu menjadi penyeimbang, bukan untuk terbang.

15.2.11

RUSIA itu ANGGUN, setidaknya dari BAHASAnya




ini contoh2 huruf Rusia. Ribet juga ya! 
But it never hurts to try :)

Russian letters that are (almost) the same.

А а - Pronounced like the "a" in the word "father" or "car". It is not the 'flat' "a" sound you sometimes hear in words like "cat" or "flat".

К к - Pronounced like the "k" in "kitten" or "kangaroo". This letter replaces the english "c" sound in words like "cat".

М м - Pronounced like the "m" in man. (Note: Unlike english, the hand-written "м" should always start from the bottom)

O o - When stressed, it is pronounced like the "o" in "bore". When un-stressed it is pronounced more like the letter "a". (See later notes.)

Т т - Pronounced like the "t" in "tap". (Note: The hand-written form for "т" should always start from the top, as it looks quite similar to the letter "м")

Russian letters that look like english letters but sound different.

(These are the most important to learn so you don't get them mixed up.)

В в - Pronounced like the "v" in "vet". (Equivalent to the english letter "v").

Е е - Pronounced like the "ye" in "yes".

Н н - Pronounced like the "n" in "no". (Equivalent to the english letter "n"). 

Р р - Pronounced like the "r" in "run", but it is rolled. (Equivalent to the english letter "r").

С с - Pronounced like the "s" in "see". (Equivalent to the english letter "s"). (It might help to remember that it's used like the "s" sound in the english words "centre" and "cent".)

У у - Pronounced like the "oo" in "boot" or "root".

Х х - Pronounced like the "h" in "hello". However, this is often pronounced more like the "ch" in the Scottish "Loch" or German "Bach", or the spanish "x" in "Mexico".

Russian letters that look unusual, but have familiar sounds

Б б - Pronounced like the "b" in "bat". (Equivalent to the english letter "b").

Г г - Pronounced like the "g" in "go". (Equivalent to the english letter "g").

Д д - Pronounced like the "d" in "dog". (Equivalent to the english letter "d").

З з - Pronounced like the "z" in "zoo". (Equivalent to the english letter "z").

И и - Pronounced like the "i" in "taxi". (Sometimes equivalent to the english letter "i", the short 'ee' sound.). (Note: The 
hand-written form for "и" looks a little like the english "u").

Л л - Pronounced like the "l" in "love". (Equivalent to the english letter "l").

П п - Pronounced like the "p" in "pot". (Equivalent to the english letter "p").

Ф ф - Pronounced like the "f" in "fat". (Equivalent to the english letter "f").

Э э - Pronounced like the "e" in "fed".

New Russian letters and sounds

(The sounds will be familiar, but they don't have their own letter in English).

Ю ю - Pronounced like the "u" in "universe". (Pronounced much like the english word "you").

Я я - Pronounced like the "ya" in "yard".

Ё ё - Pronounced like "yo" in "yonder".

Ж ж - Like "s" in "measure", "pleasure" or "fusion" or like "g" in colour "beige". (As there is no english symbol for this sound, it is usually represented as "zh")

Ц ц - Similar to the "ts" sound in "sits" or "its".

Ч ч - Pronounced like the "ch" in "chips" or "church" .
 
Ш ш - Pronounced like the "sh" in shut.

Щ щ - Pronounced like "sh" but with your tongue on the roof of your mouth. Try putting your tongue in the same position as you would to say "ch" but say "sh" instead. English speakers may find it hard to define the difference between "ш" and "щ".

Ы ы - Pronounced like the "i" in "bit" or "ill". (Said with your tounge slightly back in your mouth.)

Й й - This letter is used to form diphthongs. So "oй" is like the "oy" sound in "boy" or "aй" is like the "igh" in "sigh".



Pronunciation Symbols

(These letters have no sound on their own, but are still considered letters.).

Ъ ъ - The 'Hard Sign' is rarely used. It indicates a slight pause between sylables.

Ь ь - The 'Soft Sign' makes the previous letter 'soft'. Think of the "p" sound in the word "pew". (Try inflecting a very slight "y" sound onto letter before it.)

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...