Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2011

Kedai Kopi Marini (3)

Hujan masih terus turun sejak pagi tadi. Kaca-kaca kedai masih memburam. Dari luar kedai terlihat siluet dua orang yang berbincang di sebuah meja besar, saling berhadapan. Di hadapan mereka terdapat berpulu-puluh kantung bubuk kopi, serta segala macam pelengkap kopi. Bau hujan yang bercambur bau kopi. “Aku tak bisa meracik kopi. Kau tahu itu kan?” Kata Marini gemetar. Marini hanya takut, takut bahwa kopilah yang sebenarnya jadi penyebab meninggalnya ayah. Dan Marini juga takut bahwa orang-orang tidak akan pernah bisa hilang kesedihannya saat meminum kopi racikannya. “Aku juga tak bisa, bakatku hanya sebagai seorang pelayan yang sigap dan ramah. Tapi kau? aku tahu kau punya bakat.” Jawab Reno menyakinkan. Reno adalah seorang pegawai yang setia. Reno sangat mencintai kopi seperti ia mencintai dirinya, itulah alasan mengapa ia ‘kerasan’ bekerja di kedai kopi milik Ayah Marini, dan tak menyerah meski Marini hampir saja menyerah. “Bakatku hanya bermain pianika. Itu saja.” Kata Marini singkat.…

Kedai Kopi Marini (2)

“Maaf, ini pesangon kalian.” Kata Marini kepada tiga pegawai yang bekerja di kedai kopi, sembari membagikan 3 buah amplop coklat yang berisi uang. “Apakah tidak ada jalan lain Mbak selain menutup kedai kopi ini?” Kata Angel, pelayan yang paling muda yang bekerja di kedai kopi Marini. “Iya Marini, bapak pasti sedih disana kalau tahu kedai kopi ini ditutup.” Tio menimpali, Tio adalah pegawai yang usianya paling tua di Kedai Kopi Marini. Ketiga pegawai itu sudah cukup dekat dengan Marini, anak dari bosnya. Maka itu, mereka sudah tidak segan untuk memanggil Marini dengan nama, bukan dengan sebutan ‘Boss’ atau ‘Mbak’. “Tidak ada jalan lain. Percuma kalau kedai kopi ini dibuka, kalian tetap tidak akan dapat penghasilan dari pekerjaan kalian. Kedai kopi ini tidak akan dapat maju seperti saat Ayah masih hidup. Kedai kopi ini hanya akan membusuk jika dibiarkan terus terbuka.” Jawab Marini sambil menahan tangis. “Marini, almarhum pernah berpesan, jangan anggap kopi sebagai sebuah penghasilan, tapi …

Kedai Kopi Marini (1)

Kedai Kopi Marini
“Ayah, apakah ayah disana bahagia? Apakah angin disana masih sama seperti angin disini? Angin yang menghantarkan wangi bubuk-bubuk kopi? Yang setiap malam, jika aku mencium tanganmu wanginya masih akan terasa? Dan apakah disana ada bubuk-bubuk kopi yang bisa kau racik? Mungkin disana ayah akan terkenal dengan sebutan si peracik kopi paling hebat. Atau mungkin disana ayah akan bertemu dengan orang-orang yang dulu bahagia karena telah meminum kopi buatan ayah?“ Marini menangis tak habis-habisnya di kedai kopinya. Meratapi sesuatu yang hilang mendadak dari hidupnya. Di hadapannya sekarang, hanya ada berpuluh bungkus bubuk kopi, cream, susu, coklat, alat penggiling kopi, serta pemanas, yang teronggok tak berdaya.


Marini tak tahu apa yang harus dilakukannya, ia tidak sepeti ayahnya, ia tidak pintar meracik kopi, ia hanya seorang pemain pianika, kesehariannya hanya bermain pianika di kedai ayahnya dan di kafe-kafe lain. Marini lihai bermain pianika. Ia tahu seperti apa nada …

I NEED a COFFE

Kopi, menghilangkan haus dalam bentuk yang lain. menghilangkan derita dan lara yang menyesakkan pundak, dada, menggumpal di telinga, menumpuk sengal di hidung, dan mengeluarkannya bersama ampas-ampas yang menggenang. Kopi adalah sebuah obat yang tidak ada aturan pakai, tidak punya komposisi yang pasti, namun meenyembuhkan segala rasa sakit yang mengendap. Kopi membuatmu merasa nyaman, karena ada rasa getir di awal namun ada manis pada akhirnya, seperti pengalaman yang sudah lama berlalu -lalu kemudian sekejap datang bersama aliran-alirannya di lidah.
**while coffee makes you feel good, it feels bitter at first, but there are sweet in the end.**
-malam ini aku butuh kopi, kopi apa saja ,moccachino, vanila latte, kopi pahit, kopi susu, kopi jahe. Kopi apa saja, yang penting kopi. Karena ada suatu rasa sesak yang ingin kusembuhkan pelan-pelan, semacam rasa bosan yang menyakitkan perasaan.  Karena ada seseorang yang tidak bisa kugapai. Bahkan bukan kali ini saja, tapi jauh sebelum malam ini, a…

Together

Together
together.  we walked together in one afternoon.  on the trail, in the middle of the grass.  we talked about many things, about the past your past. I, on the activities of each of us on Sunday morning,  about anything that makes us feel good.  and in the afternoon, everything becomes something easy to remember,  that we had together.

PERTEMUAN

Pertemuan 


Di ruang itu, seolah semuanya bersinggungan. Komputer itu, dan segala hal yang membuat kita dapat berbincang tentang banyak hal, di tempat yang berbeda namun pada jam yang sama. Aku menunggu saat-saat seperti ini, sudah lama, lama sekali.

Burung-Burung Kertas

RUSIA itu ANGGUN, setidaknya dari BAHASAnya

ini contoh2 huruf Rusia. Ribet juga ya!  But it never hurts to try :)
Russian letters that are (almost) the same.А а - Pronounced like the "a" in the word "father" or "car". It is not the 'flat' "a" sound you sometimes hear in words like "cat" or "flat".
К к - Pronounced like the "k" in "kitten" or "kangaroo". This letter replaces the english "c" sound in words like "cat".
М м - Pronounced like the "m" in man. (Note: Unlike english, the hand-written "м" should always start from the bottom)
O o - When stressed, it is pronounced like the "o" in "bore". When un-stressed it is pronounced more like the letter "a". (See later notes.)
Т т - Pronounced like the "t" in "tap". (Note: The hand-written form for "т" should always start from the top, as it looks quite similar to the letter "м&…