27.4.11

Aku Mimpi Aku Mati



 I
Aku mimpi seseorang menemukanku terapung di sungai
Dengan tubuh yang bahkan tak pernah kukenali
Tetapi,
Di keningku ada sebuah tanda
Tanda kelahiran bahwa aku pernah dilhairkan
Dan hanya aku yang memilikinya
          Ah, apa benar itu aku?
                                                 
II
aku mimpi orangorang menemukanku terkapar
di pinggir rel kereta berkarat yang sekarat
yang kata orang tubuhku  tidak lagi satu, tapi tiga
tangan, kaki, dan kepala
entah badanku dimana
tetapi aku melihat seseorang yang pernah menyimpanku dalam rahimnya
dihadapanku ia meronta seperti orang gila
ah, ada apa ini?

III
Aku mimpi seseorang memanggilku almarhumah
Tapi setahuku, aku tak pernah punya nama itu
setiap orang tak pernah ingin punya,
jangan panggil aku itu
aku masih ingin merakit mimpiku dan akan meledakkannya di masa depan

IV
aku mimpi mereka memungut tanganku
tangan yang telah busuk yang lelah menulis kebusukan
kebusukan di kotaku, di sekolahku, dan di rumahku
aku tak tahu,
di mimpiku
aku dikebiri, dijadikan anatomi
seingatku, aku tak pernah sekalipun merekayasa

Ah, kenapa jujur tak pernah bernasib mujur?

Ah, lagipula hanya mimpi


Jakarta, April 2011

21.4.11

Untung Saja






















untung saja kau tak punya suami
yang merengkuh putikmu jika malam menepi
dan menyerbukkan ke segala penjuru sari-sari

untung saja

untung saja kau masih ada di selasar
yang tersembunyi
yang cuma aku yang tahu

yang peruntunganmu ditentukan oleh angin dan perdu

untung saja kau belum tua
yang baumu tak pernah mau bersua

tapi musim ini sudah kemarau
dimana suaramu telah parau
dan daunmu telah kacau

sekarang bukan lagi tentang untung
karena kau yang tersembunyi,
karena kau yang tak punya suami


yang cuma aku yang tahu kini



Jakarta, 22 April 2011

16.4.11

Sekali ini aku akan mengingat transjakarta

Aku mengingat semua kenangan baik dan buruk,
termasuk kau dan transjakarta

saat yang kurasa bahwa segalanya menyesakkan
seperti udara yang sudah segan

tapi tidak dengan kau
yang berdiri santai dan gontai
yang sesekali membetulkan letak tas dan topi
yang memberi kursi untukku padahal waktu itu aku tau bahwa tasmu sangat berat

maafkan aku karena tidak menanyakan nomor ponselmu
atau besok kau berangkat jam berapa?
agar perjalananku tidak sebusuk transjakarta
agar perjalananku lebih menyenangkan dari biasanya


maafkan aku rokok kretek
maafkan aku topi hijau
dan maafkan aku karena senyumku waktu itu tidak semanis senyummu padaku..

13.4.11

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 9



***
Ada apa diantara siapa dan siapa?
Dan siapa yang lebih mencintai siapa?
Lalu siapa yang tau, bahwa kita hanya dipisahkan oleh sepekat sekat
Bukan utara dan selatan
Bukan jarak antara dua kota yang berseberangan
Bukan pula rumah yang tak berjendela sehingga kita tak pernah mampu saling melihat

Tapi sepekat sekat di sisi kiriku dan di sisi kananmu
 Yang membuat masing-masing dari kita sibuk berprasangka bahwa kau si pembohong dan aku si pembosan
Seperti  inilah cerita yang menyesakkan yang sebenarnya tak perlu diceritakan

Namun tak usah disesali
Mungkin ini hari bukan hari ketika kita berjodoh
Mungkin kita hanya perlu selembar kartu pos untuk berbincang
Tantang kesukaanku dan kesukaanmu
Tentang kegiatan kita masing-masing di hari minggu
Tentang rasa kopi kesukaan kita, karamel dan robusta
di selembar kartu pos.                              
Ya..
Karena hujan dan stasiun tak pernah sepakat untuk mempertemukan kita.



 : kata udara disampingku dan udara di sampingmu

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 8


: perempuanku

Nyatanya kau telah dibosani oleh kartu pos yang mungkin kau anggap sebagai elegi
Nyatanya kau memilih untuk tidak hadir pada upacara yang dirayakan musim hujan hari ini

Pukul 19.57
Stasiun semakin merontaki bibirnya yang kerontang
Dan aku hanya bisa menyuapi mulutnya dengan kesedihan

Pukul 21.21
Aku melihat kartu posku berjalan sendiri di selokan
Tempat aku termangu sejak pagi tadi
Kartu pos ku tertanggal januari, februari, maret, april, hingga bulan ini
Kartu posku berwarna biru, jingga, hingga coklat kemerahan
Disitu, segala kenangan hancur ditumbuk hujan

Aku mencarimu di labirin waktu
Segala penjuru stasiun, seluruh peluh rerimbun
Tempat anak panah rindu kita minta dipertemukan
Tempat kesepakatan kita yang telah disalahpahami ingin
Air mataku berdarah
Menyerah di gerabah gundah



Aku,
satu-satunya yang tersisa di stasiun ini..

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 7


: perempuanku

Aku tau kau mungkin bosan
Aku tau kau tak mungkin ke utara
ke celah stasiun tempat aku meminta

Aku tau mungkin kau tak lagi percaya
Pada perca kata yang aku jahit tiap malam
dan telah kukenakan sekarang

Janganlah bosan, sayangku
aku akan berdiri bahkan sampai dini hari
Datanglah sayangku,
kesini, ke tempat dengungan kota yang selalu ingin kau sambut
dengan pipimu yang merah muda dan kelut


pukul 18.00
petang dan hujan mulai mengucap pertemuan
tapi tidak dengan kita
kemanakah kau?                          
Baju kuning ku hampir kenyang tertimpa remang

Bacakah kau setiap kartu posku?
Atau langsung kau kirim ke tukang sampah dekat rumahmu
Atau alamatmu yang sudah bosan mungkin membacanya
Lalu memindahkan sendiri kalimatnya


Entahlah,
Aku sudah hilang patah
Kau mungkin sudah tak betah..

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 6


: perempuanku

Mereka sudah tergantung rapi di almari
Mereka, sepasang celana dan kemeja berwarna kuning
Celana dengan dua saku di masing sisi
Dan kemeja berlengan panjang yang kubeli di toko kesayangan


Rambutku kusisir rapi, tanpa belahan, hanya tirisan
Kubeli tiket kereta api jauh-jauh hari
Agar tidak mengantri dan telat hari

Pukul delapan pagi
Resah ku duduk di pinggir jendela kereta
Pergi ke sebuah tempat pada kartu pos bertuliskan Djakarta
Tempat kita berjanji bertatap muka

Khayalan, asap daun, dan busa kursi melebur satu
Mengerutu suhu, mencipta debu
Sementara kau menulis puisi, aku memetik gitar
 Menyanyikan lagu orang jatuh getar

Aku tak sabar
Bertemu pendar


Hujan, kartu pos, dan stasiun # 5



: perempuanku

Aku tau kau mungkin bosan
Dengan kartu posku yang beragam warna
Yang tiap sehabis mandi pasti aku menulisnya
Dengan jemari yang bergetar
Dan pelupuk rasa rindu yang besar namun masih samar

Aku  tau kau mungkin bosan
Dengan janji yang selalu gagal kutepati
Jarak yang semakin berkerak, dan mimpi yang menjelma menjadi sepi

Ini sudah musim keempat
Aku akan menunda segala pekerjaan
Dan membatali sejuta janji
Kecuali janji  denganmu

Aku akan datang di stasiun tepat pukul dua
Tepat atau mungkin sebelumnya
Bahkan ketika kau belum menyadari  bahwa aku telah mematung  di belakangmu
Memandangi rambutmu yang telah mungkin panjang
dan memerah karena udara

Kita memang tak pernah bisa menebak cuaca
Tapi hujan telah aku sewa menjadi pengiring kita

12.4.11

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 4





: lelakiku

Pukul 20.45
Aku tak mampu lagi menahan hujan untuk tidak jatuh
Sudah terlalu deras
Dan aku sudah terlanjur terapung di lumbung perasaanku sendiri
Perahuku sudah hanyut ditampar waktu

Kutinggalkan segala lembar kartu posmu di stasiun ini
Tintanya mencair, mengalir dan berdesir
Menelisir ke segala penjuru air

Biarlah angin yang membacanya
Biar ia tahu
Bahwa aku sudah dibohongi
Oleh sesiapa yang mengaku nabi
Dari kaum para gerbong malam ini


Hujan, kartu pos, dan stasiun # 3


: lelakiku

Bau tanah semakin berkarat diseka hujan
Bulirnya memenuhi sepatuku
Aku tau ini musim hujan
Yang katanya kau akan datang
Yang katanya kau akan datang sembari melambai tangan dengan senyuman paling lebar
Ah, bahkan aku lupa senyummu seperti apa
Sudah bertahun lalu,
Tahun ketiga sejak aku lulus sekolah atas
                                   
Akan kuhitung sampai 3
Jika kau tak datang
Maka akan kutinggali stasiun ini
Aku tidak peduli
Karena aku tau kau pasti bohong

Stasiun semakin sepi
Mungkin akan kutambah hitunganku menjadi 4
Jika kau tidak datang juga
Akan kubuang semua kartu posmu ke keranjang sampah.
Dan dengungan dengungan kota semakin seperti ucapan sangkakala
Kulirik jam tangan..

Pukul 19.30



Hujan, kartu pos, dan stasiun # 2


: lelakiku

Pukul empat sore,
Stasiun sudah sepi
Kereta baru saja berangkat
Udara coklat perlahan masuk ke dadaku
Melalui saku mantel lalu menembus ke lubang paru

Katamu,  pukul dua kau akan tiba
Tapi aku sudah berdiri dari pukul  satu.
Lututku telah pekat diburu lalat
Perih dihujam lirih
Ngilu
Sesekali, hmm tidak berkali kulongokkan kepala ke ujung gerbong
Dan tak sekalipun ada manusia berbaju kuning         
Aku sudah menduga kau pasti bohong
Bahkan aku sudah tau sejak  pagi tadi
Ketika aku bangun di antara tumpahan cat di atas sprei
Tapi kutinggalkan kanvas dan kuas di sudut
 Meminta mereka mengerjakan sendiri
Dan bergegas ku berlari ke stasiun ini

Aku tau kau bohong
Tapi kini aku melonggok jam tangan
sudah pukul enam. Petang, 
segan..

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 1


: lelakiku

Aku tak perlu menunggumu berhari hari
Berminggu-minggu, berwindu
Atau bertahun seribu.
Untuk apa?
Toh aku tau kau tidak akan pernah datang
Mungkin datang
Tapi lebih cenderung tidak
Ah aku tau!
Itu akal bulusmu
Saat kau mengirim berpuluh lembar kartu pos bergambar kereta
Katamu kau akan naik kereta seperti yang ada di gambar
Katamu kau akan tiba saat musim sudah menyerahkan hujan kepada pawang
Dan ketika lonceng-lonceng mendengung di tengah kota

Saat itu, katamu kau akan memakai baju serba kuning
Ah itu bohong!
Aku tau kau tidak punya baju warna kuning
Aku juga tau kuning tak pernah masuk hitunganmu
Katamu kuning warna orang sedang jatuh cinta

Ah itu bualanmu
Yang aku tau,  kuning warna kain kematian
Warna lara di ujung keranda
Tidak mungkin, kau memang gemar bohong
Bahkan ketika kau diam pun.

Peluk.

Source image:Pinterest.com Lelahkah ia yang jauh disana? Menungguku untuk mengetuk pintu dan berkata ”aku pulang!” Sampai kerut menggero...