Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2011

Aku Mimpi Aku Mati

Untung Saja

untung saja kau tak punya suami
yang merengkuh putikmu jika malam menepi
dan menyerbukkan ke segala penjuru sari-sari

untung saja

untung saja kau masih ada di selasar
yang tersembunyi
yang cuma aku yang tahu

yang peruntunganmu ditentukan oleh angin dan perdu

untung saja kau belum tua
yang baumu tak pernah mau bersua

tapi musim ini sudah kemarau
dimana suaramu telah parau
dan daunmu telah kacau

sekarang bukan lagi tentang untung
karena kau yang tersembunyi,
karena kau yang tak punya suami


yang cuma aku yang tahu kini



Jakarta, 22 April 2011

Sekali ini aku akan mengingat transjakarta

Aku mengingat semua kenangan baik dan buruk,
termasuk kau dan transjakarta

saat yang kurasa bahwa segalanya menyesakkan
seperti udara yang sudah segan

tapi tidak dengan kau
yang berdiri santai dan gontai
yang sesekali membetulkan letak tas dan topi
yang memberi kursi untukku padahal waktu itu aku tau bahwa tasmu sangat berat

maafkan aku karena tidak menanyakan nomor ponselmu
atau besok kau berangkat jam berapa?
agar perjalananku tidak sebusuk transjakarta
agar perjalananku lebih menyenangkan dari biasanya


maafkan aku rokok kretek
maafkan aku topi hijau
dan maafkan aku karena senyumku waktu itu tidak semanis senyummu padaku..

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 9

*** Ada apa diantara siapa dan siapa? Dan siapa yang lebih mencintai siapa? Lalu siapa yang tau, bahwa kita hanya dipisahkan oleh sepekat sekat Bukan utara dan selatan Bukan jarak antara dua kota yang berseberangan Bukan pula rumah yang tak berjendela sehingga kita tak pernah mampu saling melihat
Tapi sepekat sekat di sisi kiriku dan di sisi kananmu  Yang membuat masing-masing dari kita sibuk berprasangka bahwa kau si pembohong dan aku si pembosan Seperti  inilah cerita yang menyesakkan yang sebenarnya tak perlu diceritakan
Namun tak usah disesali Mungkin ini hari bukan hari ketika kita berjodoh Mungkin kita hanya perlu selembar kartu pos untuk berbincang Tantang kesukaanku dan kesukaanmu Tentang kegiatan kita masing-masing di hari minggu Tentang rasa kopi kesukaan kita, karamel dan robusta di selembar kartu pos.                               Ya.. Karena hujan dan stasiun tak pernah sepakat untuk mempertemukan kita.


 : kata udara disampingku dan udara di sampingmu

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 8

: perempuanku
Nyatanya kau telah dibosani oleh kartu pos yang mungkin kau anggap sebagai elegi Nyatanya kau memilih untuk tidak hadir pada upacara yang dirayakan musim hujan hari ini
Pukul 19.57 Stasiun semakin merontaki bibirnya yang kerontang Dan aku hanya bisa menyuapi mulutnya dengan kesedihan
Pukul 21.21 Aku melihat kartu posku berjalan sendiri di selokan Tempat aku termangu sejak pagi tadi Kartu pos ku tertanggal januari, februari, maret, april, hingga bulan ini Kartu posku berwarna biru, jingga, hingga coklat kemerahan Disitu, segala kenangan hancur ditumbuk hujan
Aku mencarimu di labirin waktu Segala penjuru stasiun, seluruh peluh rerimbun Tempat anak panah rindu kita minta dipertemukan Tempat kesepakatan kita yang telah disalahpahami ingin Air mataku berdarah Menyerah di gerabah gundah


Aku, satu-satunya yang tersisa di stasiun ini..

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 7

: perempuanku
Aku tau kau mungkin bosan Aku tau kau tak mungkin ke utara ke celah stasiun tempat aku meminta
Aku tau mungkin kau tak lagi percaya Pada perca kata yang aku jahit tiap malam dan telah kukenakan sekarang
Janganlah bosan, sayangku aku akan berdiri bahkan sampai dini hari Datanglah sayangku, kesini, ke tempat dengungan kota yang selalu ingin kau sambut dengan pipimu yang merah muda dan kelut

pukul 18.00 petang dan hujan mulai mengucap pertemuan tapi tidak dengan kita kemanakah kau?                           Baju kuning ku hampir kenyang tertimpa remang
Bacakah kau setiap kartu posku? Atau langsung kau kirim ke tukang sampah dekat rumahmu Atau alamatmu yang sudah bosan mungkin membacanya Lalu memindahkan sendiri kalimatnya

Entahlah, Aku sudah hilang patah Kau mungkin sudah tak betah..

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 6

: perempuanku
Mereka sudah tergantung rapi di almari Mereka, sepasang celana dan kemeja berwarna kuning Celana dengan dua saku di masing sisi Dan kemeja berlengan panjang yang kubeli di toko kesayangan

Rambutku kusisir rapi, tanpa belahan, hanya tirisan Kubeli tiket kereta api jauh-jauh hari Agar tidak mengantri dan telat hari
Pukul delapan pagi Resah ku duduk di pinggir jendela kereta Pergi ke sebuah tempat pada kartu pos bertuliskan Djakarta Tempat kita berjanji bertatap muka
Khayalan, asap daun, dan busa kursi melebur satu Mengerutu suhu, mencipta debu Sementara kau menulis puisi, aku memetik gitar  Menyanyikan lagu orang jatuh getar
Aku tak sabar Bertemu pendar

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 5

: perempuanku
Aku tau kau mungkin bosan Dengan kartu posku yang beragam warna Yang tiap sehabis mandi pasti aku menulisnya Dengan jemari yang bergetar Dan pelupuk rasa rindu yang besar namun masih samar
Aku  tau kau mungkin bosan Dengan janji yang selalu gagal kutepati Jarak yang semakin berkerak, dan mimpi yang menjelma menjadi sepi
Ini sudah musim keempat Aku akan menunda segala pekerjaan Dan membatali sejuta janji Kecuali janji  denganmu
Aku akan datang di stasiun tepat pukul dua Tepat atau mungkin sebelumnya Bahkan ketika kau belum menyadari  bahwa aku telah mematung  di belakangmu Memandangi rambutmu yang telah mungkin panjang dan memerah karena udara
Kita memang tak pernah bisa menebak cuaca Tapi hujan telah aku sewa menjadi pengiring kita

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 4

: lelakiku
Pukul 20.45 Aku tak mampu lagi menahan hujan untuk tidak jatuh Sudah terlalu deras Dan aku sudah terlanjur terapung di lumbung perasaanku sendiri Perahuku sudah hanyut ditampar waktu
Kutinggalkan segala lembar kartu posmu di stasiun ini Tintanya mencair, mengalir dan berdesir Menelisir ke segala penjuru air
Biarlah angin yang membacanya Biar ia tahu Bahwa aku sudah dibohongi Oleh sesiapa yang mengaku nabi Dari kaum para gerbong malam ini

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 3

: lelakiku

Bau tanah semakin berkarat diseka hujan Bulirnya memenuhi sepatuku Aku tau ini musim hujan Yang katanya kau akan datang Yang katanya kau akan datang sembari melambai tangan dengan senyuman paling lebar Ah, bahkan aku lupa senyummu seperti apa Sudah bertahun lalu, Tahun ketiga sejak aku lulus sekolah atas Akan kuhitung sampai 3 Jika kau tak datang Maka akan kutinggali stasiun ini Aku tidak peduli Karena aku tau kau pasti bohong
Stasiun semakin sepi Mungkin akan kutambah hitunganku menjadi 4 Jika kau tidak datang juga Akan kubuang semua kartu posmu ke keranjang sampah. Dan dengungan dengungan kota semakin seperti ucapan sangkakala Kulirik jam tangan..
Pukul 19.30


Hujan, kartu pos, dan stasiun # 2

: lelakiku
Pukul empat sore, Stasiun sudah sepi Kereta baru saja berangkat Udara coklat perlahan masuk ke dadaku Melalui saku mantel lalu menembus ke lubang paru
Katamu,  pukul dua kau akan tiba Tapi aku sudah berdiri dari pukul  satu. Lututku telah pekat diburu lalat Perih dihujam lirih Ngilu Sesekali, hmm tidak berkali kulongokkan kepala ke ujung gerbong Dan tak sekalipun ada manusia berbaju kuning          Aku sudah menduga kau pasti bohong Bahkan aku sudah tau sejak  pagi tadi Ketika aku bangun di antara tumpahan cat di atas sprei Tapi kutinggalkan kanvas dan kuas di sudut  Meminta mereka mengerjakan sendiri Dan bergegas ku berlari ke stasiun ini
Aku tau kau bohong Tapi kini aku melonggok jam tangan sudah pukul enam. Petang,  segan..

Hujan, kartu pos, dan stasiun # 1

: lelakiku
Aku tak perlu menunggumu berhari hari Berminggu-minggu, berwindu Atau bertahun seribu. Untuk apa? Toh aku tau kau tidak akan pernah datang Mungkin datang Tapi lebih cenderung tidak Ah aku tau! Itu akal bulusmu Saat kau mengirim berpuluh lembar kartu pos bergambar kereta Katamu kau akan naik kereta seperti yang ada di gambar Katamu kau akan tiba saat musim sudah menyerahkan hujan kepada pawang Dan ketika lonceng-lonceng mendengung di tengah kota
Saat itu, katamu kau akan memakai baju serba kuning Ah itu bohong! Aku tau kau tidak punya baju warna kuning Aku juga tau kuning tak pernah masuk hitunganmu Katamu kuning warna orang sedang jatuh cinta
Ah itu bualanmu Yang aku tau,  kuning warna kain kematian Warna lara di ujung keranda Tidak mungkin, kau memang gemar bohong Bahkan ketika kau diam pun.