29.5.11

Kepada seseorang yang kupanggil dengan sebutan : IBU


Cintaku padamu adalah candu. Candu yang sendu, yang tanpa jeda kucumbu. Aku rela menghabiskan waktu dua puluh empat jam atau seribu empat ratus empat puluh menit atau dua ribu seratus enam puluh detikku untuk mencintaimu, karena kau pun rela melakukan hal yang sama bahkan lebih dari itu. 

Aku candu untuk mencanduimu. Untuk berbincang denganmu, atau sekedar membuatkan secangkir teh hangat dengan rasa kesukaanmu, secangkir teh yang manis namun terselip getir didalamnya, secangkir teh yang harus dibuat dengan penuh kehati-hatian. Meski aku tahu bahwa akupun tidak pernah hati-hati dan selalu sembrono dalam meracik cintaku padamu, cintaku padamu selalu terburu-buru, karena kau adalah candu yang tak bisa dihati-hatikan.

Kau adalah suatu alasan yang membuatku sedikitpun tak bisa berpaling. Dan aku berjanji, aku tidak mau dikalahkan oleh musuh yang bernama waktu, yang mengikiskan satu per satu ingatanku tentangmu. Tidak, aku akan selalu mengabdi padamu dan selalu ingat untuk tidak pernah melupakanmu, bahwa kau adalah seseorang yang paling kucintai tanpa aku pernah mau untuk kehilanganmu.

Mungkin aku akan tahu, suatu tempat dimana kita berdua tidak lagi menjadi sendiri. Dengan harapan seperti ini, yang membuatku bertahan akan keyakinan tentang cinta pada sebuah sudut yang berada diantara kita. Di sebuah tempat yang basah dan penuh gelisah. Di sebuah kursi goyang yang selalu kau goyangkan dengan kakimu yang goyah, hanya untuk meyakinkan bahwa kau tidak akan pernah berhenti, untuk mencintaiku. Seperti aku yang selalu ingin dicandui oleh cintaku sendiri kepadamu, cintaku yang juga tidak pernah ingin berhenti.

Ketika aku memikirkan bahwa suatu hari aku akan tumbuh menua dan pada akhirnya kau akan hilang. Atau aku tidak akan sempat lagi mencium tanganmu yang keriput dilahap kerut. Atau ketika kau mulai pikun, kuharap ada satu hal yang kau tidak akan memikunkan dirimu untuk itu, bahwa aku adalah orang yang candu untuk mencintaimu dan tidak boleh masuk daftar hal-hal yang kaupikunkan.
Aku akan selalu bertahan karena satu alasan, karena cintaku padamu adalah candu, yang tidak bisa kuhilangkan meski hanya detik kesatu atau untuk perjumpaan yang sama-sama kita tahu bahwa kita masih semesra dahulu. Masih sangat mesra seperti sepasang kekasih yang baru dijatuhi cinta, yang baru dijatahi rasa.

Di lorong jiwaku, aku merasa tidak kekurangan sesuatu apapun yang membuatku menjadi lemah, karena kau, karena kau adalah candu yang menghidupkan canduku itu, yang menghidupkan hidupku yang selalu ingin memproduksi candu untuk mencintaimu.



(2011)

27.5.11

Surat wasiat untuk anakku, Geraldine!


Charlie Chaplin


Geraldine putriku, aku jauh darimu, namun sekejap pun wajahmu tidak pernah jauh dari benakku. Tapi kau dimana? Di Paris di atas panggung teater megah... aku tahu ini bahwa dalam kehengingan malam, aku mendengar langkahmu. Aku mendengar peranmu di teater itu, kau tampil sebagai putri penguasa yang ditawan oleh bangsa Tartar


Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah. Duduklah dan bacalah surat ini... aku adalah ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa. Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari mereka.


Geraldine putriku, kau tidak mengenalku dengan baik. Pada malam-malam saat jauh darimu aku menceritakan banyak kisah kepadamu namun aku tidak pernah mengungkapkan penderitaan dan kesedihanku. Ini juga kisah yang menarik. Cerita tentang seorang badut lapar yang menyanyi dan menerima sedekah di tempat terburuk di London. Ini adalah ceritaku. Aku telah merasakan kelaparan. Aku merasakan pedihnya kemiskinan. Yang lebih parah lagi, aku telah merasakan penderitaan dan kehinaan badut gelandangan itu yang menyimpan gelombang lautan kebanggaan dalam hatinya. Aku juga merasakan bahwa urang recehan sedekah pejalan kaki itu sama sekali tidak meruntuhkan harga dirinya. Meski demikian aku tetap hidup.


Geraldine putriku, dunia yang kau hidup di dalamnya adalah dunia seni dan musik. Tengah malam saat kau keluar dari gedung teater itu, lupakanlah para pemuja kaya itu. Tapi kepada sopir taksi yang mengantarmu pulang ke rumah, tanyakanlah keadaan istrinya. Jika dia tidak punya uang untuk membeli pakaian untuk anaknya, sisipkanlah uang di sakunya secara sembunyi-sembunyi.


Geraldine putriku, sesekali naiklah bus dan kereta bawah tanah. Perhatikanlah masyarakat. Kenalilah para janda dan anak-anak yatim dan paling tidak untuk satu hari saja katakan: "Aku juga bagian dari mereka". Pada hakikatnya kau benar-benar seperti mereka. Seni sebelum memberikan dua sayap kepada manusia untuk bisa terbang, ia akan mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu. Ketika kau merasa sudah berada di atas angin, saat itu juga tinggalkanlah teater dan pergilah ke pinggiran Paris dengan taksimu. Aku mengenal dengan baik wilayah itu. Di situ kau akan menyaksikan para seniman sepertimu. Mereka berakting lebih indah dan lebih menghayati daripada kamu. Bedanya di situ tidak akan kau temukan gemerlap lampu seperti di teatermu. Ketahuliah bahwa selalu ada orang yang berakting lebih baik darimu.


Geraldine putriku, aku mengirimkan cek ini untukmu, belanjakanlah sesuka hatimu. Namun ketika kau ingin membelanjakan dua franc, berpikirlah bahwa franc ketiga bukan milikmu. Itu adalah milik seorang miskin yang memerlukannya. Jika kau menghendakinya, kau dapat menemukan orang miskin itu dengan sangat mudah. Jika aku banyak berbicara kepadamu tentang uang, itu karena aku mengetahui kekuatan ‘anak setan' ini dalam menipu.....


Geraldine putriku, masih ada banyak hal yang akan aku ceritakan kepadamu, namun aku akan menceritakannya di kesempatan lain. 


Dan aku akhiri suratku ini dengan;
"Jadilah manusia, suci dan satu hati; karena lapar, menerima sedekah, dan mati dalam kemiskinan, seribukali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan".


 -Charlie Chaplin-

***sumber: dunia-unik.com

26.5.11

Pencopet di Juanda


/1/
Wahai anak muda, beraninya kau merogoh sakuku.
Meraih milikku yang paling berharga.

/2/
Wahai bapak tua,
Kenapa tidak kau relakan saja handphone mu itu?
Toh kau masih bisa membeli yang baru

/3/
Enak saja kau bicara
Handphone ini pemberian anakku yang pertama
Ia meninggal 3 bulan yang lalu

/4/
Maafkan aku bapak tua
Tapi anakku sudah 5 hari mogok makan,
Ia minta dibelikan handphone katanya.
Handphone idamannya yang persis seperti punyamu
Handphone yang tadinya ada di kantongmu, tapi sudah di kantongku,

/5/
Maaf pencopet,
Aku tadi kasar geledah tasmu, karena aku pun benar-benar tak mau kehilangan itu
Di tasmu kutemukan sajadah
Sajadah hasil copetan juga? Atau untuk berdoa agar kau berhasil mencopet hari ini?

/6/
Bukan,
Tetapi karena galauku tak sudah-sudah
Aku bawa sajadah, supaya aku bisa berdoa sehabis lelah menagih resah

/7/
Jika kutafsir, sesungguhnya kau adalah pencopet yang beriman. Semoga imanmu bukan hasil copetan juga toh?

/8/
Terlalu banyak menyindir kau, pak tua! Rambutmu sudah putih, sudahkah kau banyak sedekah?

/9/
Selain beriman, ternyata, kau pencopet yang pemarah!
Kembalikan handphoneku, cepat!


/10/
Sudah kulempar ke sebuah entah, karena takut kena amarah

/11/
Bohong! Pencopet selalu punya banyak alasan.

/12/
Orang kaya selalu kikir, hingga akhirnya kehilangan



*
26 Mei 2011
Halte Juanda,
Ada yang kehilangan, ada yang menghilangkan, dan ada yang dihilangkan





18.5.11

Proses pemadatan dari bentuk keindahannya yang tertinggi

“Seni adalah kristalisasi dari nilai-nilai artistik yang sublim.” Victor Hugo 
dalam buku: Seribu Tahun Teater

17.5.11

Lirik Kematian

Hanya
karena..

Lirik kebisuan di tanah kelahiran.
Gagak hitam yang menanda bahwa sesuatu telah terekam..

Dimanakah pemakaman itu?
Yang menguntai pada benang terjuntai
Hingga ia berlari dengan peluh bundar-bundar
Mengamit parit yang terjepit

Dimanakah pemakaman itu? Teriaknya lantang!
Namun telah sampailah ia pada ketinggian
Menengadah telak dengan lehernya yang rimbang

Ini bukan tentang hanya karena..
Namun ini tentang ramalan kutukan tadi malam
Tentang kelelawar yang mengumpat di balik ampas tua
Tentang mitos yang menelantarkan makna
Dan tentang nenek moyang yang mengakhiri sebuah hayat di dentuman kekacauan

Lalu ia berlari lagi..
Mengeras kakinya, bahkan hatinya
Menelosok dahak pada akal yang tertumpah
Tak bisa ia menahan telunjukknya untuk tak berserapah
Mengobar seperti bola matanya yang merah

Ia tak tahan lagi.
Telah lama ia pendam nelangsa, menguburnya dengan noktah

Ia tak tahan lagi,
Telah dikemas rapi pasir di hidungnya,
Memampatkan sengal nafasnya
Kemudian ia mengabur pada gapura yang terkubur
Menghisap lengan, mengepalnya dalam genggam
Mengena pada lonceng yang menggantung tinggi

Yang berdentang tujuh kali..


Jakarta, Juni 2010

Kemiskinan adalah Jeruji Besi Hitam Berkarat

Kemiskinan adalah penjara
Kemiskinan adalah jeruji besi hitam berkarat,
yang membatasi impian.
Sipirnya berupa oknum berperut besar,
bersepatu hitam mengkilat,
berceloteh seperti beo,
namun matanya terpejam, bertopang dagu.

Jatah nasi adalah harga yang melambung tinggi,
sedang minumnya adalah segelas undang-undang kemelaratan.

Kemiskinan adalah kardus-kardus tempat singgah,
beronggok-onggok memenuhi pinggir kereta.

Kemiskinan adalah bising,
sedang MEREKA memakai penutup telinga
atau pura-pura mendengar lagu nina bobo.
Agar terlelap
Agar tahanan tidak keluar berhambur
Agar sepatunya tetap mengkilat
Agar perutnya selalu gembur

Kemiskinan adalah kutukan yang dipelihara!


Jakarta,
5 Maret 2011

10.5.11

Perahu


Hari ini kita bertukar perahu lagi,
Perahuku warna hitam, dan perahumu juga
Meski samasama warna hitam, tapi kita tidak pernah lelah untuk bertukar perahu

Bagaimana kalau kita cari suasana baru?
Kita lomba adu cepat perahu, perahu siapa yang paling cepat akan mendapat perahu baru
Hmm, tidak tidak.

Bagaimana kalau sesekali kita naik perahu di perahu yang sama
Terserah perahu yang mana, perahuku atau perahumu
Tapi lebih baik perahuku, karena aku tak mau kau kehilangan perahumu
Tapi akan ditaruh dimana perahumu jika kita naik perahuku?
Oh, aku tau
Lebih baik perahumu dilipat saja, lipat yang kecil agar bisa masuk ke saku bajumu                     

Lalu kita berlayar bersama naik perahuku
Mau aku yang mendayung atau kau yang mendayung?
Bagaimana kalau kau saja? Lalu aku yang memberi petunjuk tentang arah
Tentang sesuatu tempat yang kita pernah resah

Jika nanti sudah sampai dimana perahuku telah labuh di tempat itu
Bukalah lipatan perahumu
Mungkin sedikit lecek, tapi tak apa. Toh, kau tetap punya perahu
Aku pun tak bosan dengan perahumu
Sedikit bosan sih,
Ah, bagaimana kalau kita cat saja perahu kita
Kita ganti warna, merah atau jingga
Aku rasa lebih indah jika jingga
Hmm, rasanya daritadi aku terlalu banyak menjawab pertanyaan sendiri
Habis daritadi kau diam saja sih

Oh, ternyata kau sedang sibuk membuat warna ya
Baiklah, jingga itu berasal dari warna merah dan kuning dalam spektrum yang terlihat pada panjang gelombang sekitar enam ratus dua puluh sampai enam ratus delapan puluh lima nanometer
Eh, kau sudah tau ya? Ah, memang aku terlalu sok tau ya.

Baiklah aku akan diam saja, dan seksama  memperhatikanmu memberi warna perahu
Ah, rasanya senang sekali, seperti akan punya perahu baru

Apa? Warna merahnya kurang?
Baiklah akan kuambil dulu kedalam mataku, berapa banyak yang kau butuhkan? Satu gelas atau satu sungai?
Satu langit pun tak apa, mataku masih punya cadangannya, aku kan tinggal menangis saja

Perahunya terlalu merah! Kau sadar tidak?
Ah kau sepeti sedang marahmarah
Ditambah kuning ya?
Tunggulah sebentar, aku akan pergi ke matahari
Untuk meminta warna kuning
Siapa tahu matahari punya
Ah matahari pasti punya

Sudah nih, cepat kan?
Matahari baik sekali
Ia memberiku warna kuning yang banyak, sampaisampai ,lihat deh! jika aku kibas rambutku akan terhambur cairan kuning, indah ya

oh terlalu banyak kuning rupanya?
Lihat perahu kita terlalu silau jadinya!
Butuh keredupan hingga mata siapapun tak akan jengah jika melihatnya
Kalau begitu, aku harus membeli gelap dulu, tidak lama kok
Cuma pergi sejenak ke masa lalu

Ini gelapnya, masa lalu memberiku sebanyak ini
Kataku sembari membuka jaketku, kepingankepingan gelap dan berbagai nasib bertumpuk di situ

Bagaimana?
Apakah kau mau menumpahkannya ke perahu kita?

Kau diam saja, mungkin tanda jika jawabanmu “iya”
Baiklah,
Hitungan ketiga kita tumpahkan bersama-sama ya

Satu
Dua
Tiga!
….
“Ini seperti perahu kita yang dulu, perahu yang sebelum kita ganti warnanya.” Kali ini kau yang bicara dengan keterkejutan yang tak pernah aku tahu bahwa kau ternyata bisa terkejut juga.
“Ini perahumu, dan ini perahuku. Kita tidak usah saling bertukar perahu lagi ya.” Katamu kemudian sambil melipat perahumu.

Perahuku diam saja melihat perahumu yang telah masuk ke saku bajumu.


***



7.5.11

siapa sebenarnya kamu?

kamu terlalu sempurna!
dan sempurnanya kamu itu berlebihan.

apa kamu sadar? setiap orang yang melihatmu langsung 'ciut'
dan seketika bersembunyi di balik ketiaknya
yang tidak enak baunya
karena malu, karena isin
karena belum melakukan apa-apa
seperti apa yang sudah kamu lakukan sejauh itu
dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh jari-jarimu yang sedikit orang saja yang mengerti (tidak termasuk aku)
dengan pemikiranmu yang terkadang melampaui batas logika seorang manusia muda
dengan penjangkauanmu yang mengatasnamakan banyak aspek kehidupan

kamu tidak melupakan sesuatu apapun
termasuk orang-orang yang bahkan tak kenal kamu dan kamu mengenalkannya kepada mereka bukan hanya tentang kamu, tapi tentang segala hal di luar kamu yang menghubungkan kepala dan otak mereka ke masa depan, yang bahkan mereka pun mungkin tak pernah tahu dan mendengar kata 'masa depan'

ah, apakah tadi aku sudah bilang bahwa kamu sempurna?
rasanya sudah, tapi tak apalah jika aku katakan lagi.
kamu sempurna. dan sempurnamu itu berelebihan

betapa mudahnya iri dengan kamu
kamu tahu itu?
ketika aku baru saja ingin mengangkat kaki
tapi kamu sudah berlari sepanjang seribu bumi
kamu makan apa?
apakah sarapanmu sama sepertiku roti juga?
atau rotimu di tambah 2 helai ilmu dan minumnya segelas liur nietzsche?
atau kamu tidak pernah tidur karena semalaman waktumu digunakan untuk mencabuti uban einstein.

belum pernah melihatmu saja aku sudah sekagum ini,
apalagi nanti,
jika aku berkesempatan untuk sesekali melihat kamu yang aku nilai sempurna
nilaimu lebih dari sepuluh, bahkan akan kuberi kamu nilai satu juta seratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan puluh sembilan
ah, itu pun masih terlalu kecil
karena nilaimu mungkin tak terhingga,
tak terdefinisi,
dan bahkan kalkulator pun akan menyerah jika menghitung nilaimu
nilaimu ada dan tak terhingga
nilaimu ada pada dirimu sendiri, pada isi otakmu yang mungkin jumlah sel otaknya juga tak terhingga

oh, aku tau
mungkin rahasiamu ada ketika mandi
mungkin kamu mandi dengan bulan yang sebelumnya kamu lelehkan dengan panas matahari siang yang membakar
lalu kamu bilas dengan air langit malam yang kebiruan, dan acara mandimu ditonton oleh jutaan mata bintang yang sinarnya adalah pantulan dari tubuhmu
pada saat itu, orang-orang masih sibuk tidur, tak ada satupun yang berpikir seperti kamu, berpikir untuk mandi di dalam mimpi

apakah prediksi ku itu benar?
ah, pasti salah
kamu kan manusia
pasti butuh tidur juga
tapi mungkin tidurmu tak sama dangan tidurku
mungkin tidurmu sambil membaca buku
matamu terpejam tapi mungkin telingamu berpikir
tentang apa yang harus kamu dengarkan esok pagi?
matamu terpejam tapi mungkin jarimu menganalisis
tentang apa yang esok hari akan kamu tulis?


baiklah,
aku tidak akan lagi mencoba mengorek rahasiamu

tapi,
maukah kamu mengungkapnya dari bibirmu langsung?
ceritakan padaku tentang rahasiamu, tentang kegiatanmu seharihari saat di rumah, di kamar tidur, di jalan raya, dan dimana saja
aku janji tak akan bilang pada siapapun
bisikkanlah di telinga kananku
dan aku janji telinga kiriku tidak akan 'menguping'
aku janji. (ini jari kelingkingku)

tapi bagaimana caranya kita berbisikkan?
kita kan senjang
ada jarak yang sangat jauh bahkan terlalu jauh untuk saling memandang

bagaimana ya?
ah! mungkin aku harus minum secangkir kopi dulu, seperti yang pernah kamu tulis bahwa kopi adalah identitasmu, kopi adalah pelabuhanmu dan kamu pernah berkata "mari ngopi!"

aku akan menyeruput bahkan menenggak secara perlahan atau berarak
selisir cairan pekat kopi yang tergelincir dahsyat di lidahku telak

ya, dengan begitu
mudah-mudahan kita bisa benar-benar bertemu
di mulutku atau di cangkirku
terserah dimanapun kau mau


***
(kepada seseorang yang kutemukan di dunia maya, dan (selalu) ku-iri-i dengan segala yang dilakukannya)

Merah Muda Mei

bulan mei, tanggal tujuh, tepatnya di kacamatamu
pertemuan yang terjadi antara sesuatu
antara sepasang mata dan sepasang mata yang khawatir untuk ku terjemahkan
dan telah kembali dari pengasingannya yang bertahun tertahan

merah muda,
mei

6.5.11

Sabtu Pagi di Bus Kota

sabtu pagi di bus kota

pagi ini, katamu kau akan naik bus kota
bus kotaku sedang sakit, katamu berikutnya
telinganya merah, badannya panas
mungkin ia sedang demam karena beberapa hari tak makan nanas
 
tak ada hubungannya memang,
tetapi sabtu pagi ini kau berlari gemetaran

menuju terminal yang gaduhnya mirip paruparu
yang lama terbakar asap dan riuh debu

di paruparumu kau temukan teras dan ruang tamu
juga dapur di sebelah ruang tunggu
kemudian kau nyalakan tungku
kau masak obat untuk bus kotamu

kau bertanya lirih "bolehkah aku minumkan obat dari jendelamu yang hangat?"
pintuku kemudian menangis dengan gelak
tak ada obat yang paling manjur
selain penghapal kota paling ulung seperti dirimu yang jujur
kau penangkap paruparu paling lihai di bus kotamu
kau memasak obat dengan irisan telinga, dua puluh tetes ar mata, dan satu keping lidah
yang kau ramu dengan cawan bajumu yang sobek sudah

"aku hanya berharap bus kotaku sembuh."
"aku hanya ingin perjalanan di sabtu pagi yang aduh"

"lalu siapakah kamu yang mengaku pemanggil hari di stasiun paruparuku yang gaduh,
di bus kotaku dan bus kotamu yang keruh?"

4.5.11

Pelipur

Aku punya teman,
teman sepermainan,
dimana ada dia selalu ada aku

Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...