Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2011

Kepada seseorang yang kupanggil dengan sebutan : IBU

Cintaku padamu adalah candu. Candu yang sendu, yang tanpa jeda kucumbu. Aku rela menghabiskan waktu dua puluh empat jam atau seribu empat ratus empat puluh menit atau dua ribu seratus enam puluh detikku untuk mencintaimu, karena kau pun rela melakukan hal yang sama bahkan lebih dari itu. 
Aku candu untuk mencanduimu. Untuk berbincang denganmu, atau sekedar membuatkan secangkir teh hangat dengan rasa kesukaanmu, secangkir teh yang manis namun terselip getir didalamnya, secangkir teh yang harus dibuat dengan penuh kehati-hatian. Meski aku tahu bahwa akupun tidak pernah hati-hati dan selalu sembrono dalam meracik cintaku padamu, cintaku padamu selalu terburu-buru, karena kau adalah candu yang tak bisa dihati-hatikan.

Kau adalah suatu alasan yang membuatku sedikitpun tak bisa berpaling. Dan aku berjanji, aku tidak mau dikalahkan oleh musuh yang bernama waktu, yang mengikiskan satu per satu ingatanku tentangmu. Tidak, aku akan selalu mengabdi padamu dan selalu ingat untuk tidak pernah melup…

Surat wasiat untuk anakku, Geraldine!

Charlie Chaplin


Geraldine putriku, aku jauh darimu, namun sekejap pun wajahmu tidak pernah jauh dari benakku. Tapi kau dimana? Di Paris di atas panggung teater megah... aku tahu ini bahwa dalam kehengingan malam, aku mendengar langkahmu. Aku mendengar peranmu di teater itu, kau tampil sebagai putri penguasa yang ditawan oleh bangsa Tartar


Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah. Duduklah dan bacalah surat ini... aku adalah ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa. Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari merek…

Pencopet di Juanda

/1/ Wahai anak muda, beraninya kau merogoh sakuku. Meraih milikku yang paling berharga.
/2/ Wahai bapak tua, Kenapa tidak kau relakan saja handphone mu itu? Toh kau masih bisa membeli yang baru
/3/ Enak saja kau bicara Handphone ini pemberian anakku yang pertama Ia meninggal 3 bulan yang lalu
/4/ Maafkan aku bapak tua Tapi anakku sudah 5 hari mogok makan, Ia minta dibelikan handphone katanya. Handphone idamannya yang persis seperti punyamu Handphone yang tadinya ada di kantongmu, tapi sudah di kantongku,
/5/ Maaf pencopet, Aku tadi kasar geledah tasmu, karena aku pun benar-benar tak mau kehilangan itu Di tasmu kutemukan sajadah Sajadah hasil copetan juga? Atau untuk berdoa agar kau berhasil mencopet hari ini?
/6/ Bukan, Tetapi karena galauku tak sudah-sudah Aku bawa sajadah, supaya aku bisa berdoa sehabis lelah menagih resah
/7/ Jika kutafsir, sesungguhnya kau adalah pencopet yang beriman. Semoga imanmu bukan hasil copetan juga toh?
/8/ Terlalu banyak menyindir kau, pak tua! Rambutmu sudah putih, sudahkah kau b…

Proses pemadatan dari bentuk keindahannya yang tertinggi

“Seni adalah kristalisasi dari nilai-nilai artistik yang sublim.” Victor Hugo 
dalam buku: Seribu Tahun Teater

Lirik Kematian

Hanya
karena..

Lirik kebisuan di tanah kelahiran.
Gagak hitam yang menanda bahwa sesuatu telah terekam..

Dimanakah pemakaman itu?
Yang menguntai pada benang terjuntai
Hingga ia berlari dengan peluh bundar-bundar
Mengamit parit yang terjepit

Dimanakah pemakaman itu? Teriaknya lantang!
Namun telah sampailah ia pada ketinggian
Menengadah telak dengan lehernya yang rimbang

Ini bukan tentang hanya karena..
Namun ini tentang ramalan kutukan tadi malam
Tentang kelelawar yang mengumpat di balik ampas tua
Tentang mitos yang menelantarkan makna
Dan tentang nenek moyang yang mengakhiri sebuah hayat di dentuman kekacauan

Lalu ia berlari lagi..
Mengeras kakinya, bahkan hatinya
Menelosok dahak pada akal yang tertumpah
Tak bisa ia menahan telunjukknya untuk tak berserapah
Mengobar seperti bola matanya yang merah

Ia tak tahan lagi.
Telah lama ia pendam nelangsa, menguburnya dengan noktah

Ia tak tahan lagi,
Telah dikemas rapi pasir di hidungnya,
Memampatkan sengal nafasnya
Kemudian ia mengabur pada …

Kemiskinan adalah Jeruji Besi Hitam Berkarat

Kemiskinan adalah penjara Kemiskinan adalah jeruji besi hitam berkarat, yang membatasi impian. Sipirnya berupa oknum berperut besar, bersepatu hitam mengkilat, berceloteh seperti beo, namun matanya terpejam, bertopang dagu.
Jatah nasi adalah harga yang melambung tinggi, sedang minumnya adalah segelas undang-undang kemelaratan.
Kemiskinan adalah kardus-kardus tempat singgah, beronggok-onggok memenuhi pinggir kereta.
Kemiskinan adalah bising, sedang MEREKA memakai penutup telinga atau pura-pura mendengar lagu nina bobo. Agar terlelap Agar tahanan tidak keluar berhambur Agar sepatunya tetap mengkilat Agar perutnya selalu gembur
Kemiskinan adalah kutukan yang dipelihara!

Jakarta, 5 Maret 2011

Perahu

Hari ini kita bertukar perahu lagi, Perahuku warna hitam, dan perahumu juga Meski samasama warna hitam, tapi kita tidak pernah lelah untuk bertukar perahu
Bagaimana kalau kita cari suasana baru? Kita lomba adu cepat perahu, perahu siapa yang paling cepat akan mendapat perahu baru Hmm, tidak tidak.
Bagaimana kalau sesekali kita naik perahu di perahu yang sama Terserah perahu yang mana, perahuku atau perahumu Tapi lebih baik perahuku, karena aku tak mau kau kehilangan perahumu Tapi akan ditaruh dimana perahumu jika kita naik perahuku? Oh, aku tau Lebih baik perahumu dilipat saja, lipat yang kecil agar bisa masuk ke saku bajumu                     
Lalu kita berlayar bersama naik perahuku Mau aku yang mendayung atau kau yang mendayung? Bagaimana kalau kau saja? Lalu aku yang memberi petunjuk tentang arah Tentang sesuatu tempat yang kita pernah resah
Jika nanti sudah sampai dimana perahuku telah labuh di tempat itu Bukalah lipatan perahumu Mungkin sedikit lecek, tapi tak apa. Toh, kau tetap punya perahu Ak…

siapa sebenarnya kamu?

kamu terlalu sempurna!
dan sempurnanya kamu itu berlebihan.

apa kamu sadar? setiap orang yang melihatmu langsung 'ciut'
dan seketika bersembunyi di balik ketiaknya
yang tidak enak baunya
karena malu, karena isin
karena belum melakukan apa-apa
seperti apa yang sudah kamu lakukan sejauh itu
dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh jari-jarimu yang sedikit orang saja yang mengerti (tidak termasuk aku)
dengan pemikiranmu yang terkadang melampaui batas logika seorang manusia muda
dengan penjangkauanmu yang mengatasnamakan banyak aspek kehidupan

kamu tidak melupakan sesuatu apapun
termasuk orang-orang yang bahkan tak kenal kamu dan kamu mengenalkannya kepada mereka bukan hanya tentang kamu, tapi tentang segala hal di luar kamu yang menghubungkan kepala dan otak mereka ke masa depan, yang bahkan mereka pun mungkin tak pernah tahu dan mendengar kata 'masa depan'

ah, apakah tadi aku sudah bilang bahwa kamu sempurna?
rasanya sudah, tapi tak apalah jika aku katakan lagi.
kamu sempu…

Merah Muda Mei

bulan mei, tanggal tujuh, tepatnya di kacamatamu
pertemuan yang terjadi antara sesuatu
antara sepasang mata dan sepasang mata yang khawatir untuk ku terjemahkan
dan telah kembali dari pengasingannya yang bertahun tertahan

merah muda,
mei

Sabtu Pagi di Bus Kota

sabtu pagi di bus kota

pagi ini, katamu kau akan naik bus kota
bus kotaku sedang sakit, katamu berikutnya
telinganya merah, badannya panas
mungkin ia sedang demam karena beberapa hari tak makan nanas

tak ada hubungannya memang,
tetapi sabtu pagi ini kau berlari gemetaran

menuju terminal yang gaduhnya mirip paruparu
yang lama terbakar asap dan riuh debu

di paruparumu kau temukan teras dan ruang tamu
juga dapur di sebelah ruang tunggu
kemudian kau nyalakan tungku
kau masak obat untuk bus kotamu

kau bertanya lirih "bolehkah aku minumkan obat dari jendelamu yang hangat?"
pintuku kemudian menangis dengan gelak
tak ada obat yang paling manjur
selain penghapal kota paling ulung seperti dirimu yang jujur
kau penangkap paruparu paling lihai di bus kotamu
kau memasak obat dengan irisan telinga, dua puluh tetes ar mata, dan satu keping lidah
yang kau ramu dengan cawan bajumu yang sobek sudah

"aku hanya berharap bus kotaku sembuh."
"aku hanya ingin perjalanan di sabtu pag…

Pelipur

Aku punya teman,
teman sepermainan,
dimana ada dia selalu ada aku