23.6.11

Sajak Mesin Cuci

: Hamilthon Smith
Kepada Penemu Mesin Cuci

Mesin cuci,
tolong cuci sajakku
Sudah tiga hari sajakku belum ganti
Aromanya santer di hidung siapa-siapa
menyeruak kepada udara
melebihi wangi bumbu dapur,
wangi bawang dan selada,
atau wangi semprotan setrika

Nanti kubelikan senyum deterjen anti noda
atau
pelukan hangat air ledeng
yang mengguyur tubuhmu dan tubuh sajakku sekujur

Agar anyir tak lagi mampir
dan malam terkesima kembali pada sajakku yang kilau
yang silau karena kau
karena mesin cuci yang memeras habis segala keringat pada sajakku yang kotor

Setelah itu kan kujemur sajak di bawah selasar waktu di ruang tunggu
di bawah matahari yang berdiri menggagu

Takkan lupa kuangkat, jika mendung mengembun di matamu
agar tak jadi basah
agar mesin cuci tak menyesal telah mendandanimu resah

Terima kasih mesin cuci
di lain waktu akan kukunjungimu bersama sajakku (lagi)


Juni 2011

Sajak Televisi

Kepada Penemu Televisi: JL. Baird


Televisi
Apa yang kerap kau ingini
dari orang-orang yang gemar mengunjungimu?
pada malam hari atau pada saat-saat sebelum mandi
sebuah informasi
atau
sebuah sampah yang menimbul bau pada hidup yang ambigu?

Apa yang kerap kau ucap televisi?
di telinga orang-orang yang butuh pelipur,
yang butuh penghibur bagi dirinya yang sedang futur,
yang sedang lembur dan butuh libur

Apa yang sedang kau pikirkan?
tentang anak-anak kecil yang menontonmu di tengah malam
sebuah siaran saat orang tua tertidur dengan pulas dan
anak tersebut melesap menyusuri imaji yang berlebihan
di batas sebuah kepantasan

Apa yang kau tahu tentang gosip-gosip artis papan atas
yang mencair bagai racun di saluran cerna
peradaban?

Apa yang kau tanggung atas sinema elektronik
sinema segenggam intrik
yang mengusik
mengelitik
gaya hidup dengan pelik?

Barangkali kau akan mengerti, televisi
agar kau tidak jadi penyusup pada degub-degub yang tertutup
pada redup yang sayup-sayup mengintai kalut

Aku hanya ingin kau terbangun,
di suatu hari
menjadi nasib baik yang tanpa kita sadari telah menyekap segala pagi, siang, sore,
dan malam



Televisi,
tolong berbaik-hatilah


Juni 2011

20.6.11

Berbuah

ada luka yang kau tanam pada pohon itu
ingatkah?
saat gagak menyerbu masing-masing dari rumah kita
kita kelimpungan, tapi sembari tertawa-tawa
lalu luka itu kau tiup dengan asap motor dan debu jalan layang

aku pun memetik buahnya
buah air mata dari air mata yang berbuah
kau membalikkan kedua kata itu
sambil tertawa-tawa (lagi)

tapi aku tidak, aku menahan air mata, yang pernah berbuah di mataku dan
berbuah juga di matamu
























lalu pohon itu kembali digerumul gagak-gagak hitam yang belum sempat sarapan..


 
Mei 2011

12.6.11

Perempuan yang terus perawan karena puisi

apa yang membuatmu terus bertahan dalam perawan, perempuan?
puisi. jawabnya datar
tetapi, matanya terus pergi ke tempat lain
mencari sesuatu yang bahkan ia tak tahu apa

seumur hidupnya ia tak pernah puasa puisi


(2011)

9.6.11

Jarak

: Ratih dan Ryjan

/1/

apa yang lebih sesak dari jarak?
apa yang lebih sengal dari sesal?

jarak yang selalu kita hujat jika kita sedang ingin dekat
dan kenapa peluhmu tak pernah berhenti mengalir dari mataku?



/2/

JARAK

kita membelinya 3 tahun lalu
dengan uang tabungan kita masig masing
di suatu hari kita memecah kenangan itu
kita kumpulkan beragam koin tangis dan lembaran tawa
kita pergi ke bank
lalu kau pertanya kepada perempuan di balik meja

"Mba, aku ingin menukar ini dengan jarak. bisa?"
katamu sembari keberatan membawa bungkusan uang kita

"Bisa, tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

"Sebelumnya anda harus mengisi formulir kepercayaan dan kesetiaan"

"Setelah itu?"

"Sudah, itu saja."

"Nah, kami akan memberi struk janji, harus disimpan dan tidak boleh dibuang.
Karena suatu saat pegawai kami bisa datang ke jarak yang telah anda beli."

Baiklah,

/3/

Kita jual saja jarak itu
Sedari tadi ia cemberut saja,

Kurasa jarak pun tak pernah ingin punya pemilik.

/4/
"Ah, pahit.!" Katamu sembari mencibir setelah mencicipi jarak.

"Sudah tahu pahit, kenapa dibeli?"

"Habisnya harus beli."

Tinggalkan saja di sini jarak itu!


/4/

Apakah yang tak pernah bosan itu?

Apakah jarak?

Siapakah yang merawat jarak hingga selalu panjang?

Padahal setiap malam, kita selalu memotong jarak di mimpi kita


/5/

Siapakah yang menemukan jarak pertama kali?
Kalau bertemu orangnya, beritahu padaku.
Aku akan membunuhnya.

/6/

"Kau pegang ini, aku pegang ini." katamu sembari memberiku kayu besar.
Kita hampiri jarak, kita habisi hingga tak bernyawa.
Setuju?



Juni 2011

8.6.11

Masihkah kau ingat perjalanan ini, Bu?


/1/
Ibu, dimanakah rahimmu harus kukunjungi?
Cukup lama aku termenung disini, menatap lumbung bumi yang telah kremasi
Aku ingin pergi saja bersama segumpal tanah dan mani
Hingga dijadikannya aku sebentuk daging dan tulang-belulang yang bisa bicara
Yang telah diputuskan “Jadilah, maka jadilah!”
Tahukah bu, ribuan sperma ayahku malam itu adalah musuh terbesarku malam itu

/2/
Besok antar aku ke jalan delima ya, Bu
Kudengar disana banyak toko yang menjual daster lucu
Akan kubelikan kau dua atau beberapa
Untukku dan untukmu yang telah gempita menjadikannya aku

/3/
Terlalu rakuskah aku yang menghisapmu dari dua penjuru?
Cairan kental berupa zat anti bodi dan mantra candra guna
Menjelmakan pipiku yang semok dan hidungku yang bengkok
Kata orang pipiku mirip ayah, dan hidungku mirip hidungmu
Kau hanya senyumsenyum saja sambil meraba hidungmu
Kemudian meraba hidungku


/4/
Semua orang kecuali ibu melarangku berjalan dan berkata “Awas jatuh!”
Esoknya aku bisa berjalan tanpa takut terjatuh (lagi)

/5/
Ayah marah-marah karena di meja tak ada makanan
Ibu beralasan uang bulanan telah habis dimakan lapar dan waktu
ayah pergi keluar, ibu diam saja
Tak sengaja, kulihat di saku ibu ada sebuah amplop bertuliskan “sepatu untuk anakku.”
Aku jadi ingat, lusa adalah hari pertama aku masuk sekolah

/6/
“Kenapa sejak tadi kau memandangi anak perempuan itu?” Tanya ibu sambil menunjuk perempuan berkepang dua di depanku.
Aku menunduk malu
“Kau jatuh cinta ya?”
“Mungkin.” Jawabku sipu
“Wah berarti perempuan itu cinta pertamamu.”
“Bukan, ia yang kedua.”
“Loh, siapa yang pertama?”
“Ibu..”

/7/
Hari ini sekolahku telah habis
Aku harus bilang apalagi pada ibu?
Terima kasih sudah, bilang cinta sudah
Mungkin besok aku akan bilang
“Aku tidak mau kehilangan ibu”
Ah itu pun sudah.

/8/
Hari ini hari ketika harus kubayarkan semuanya
Bersambutan dengan para bos dan layar computer
Ketika kubuka tas kerja
Terselip sekolak biji  salak, dan secarik kertas coklat
“Selamat kerja dan jangan lupa makan ini ketika perutmu kosong.”
Dari ibumu yang hampir ompong

/9/
Besok aku menikah
Dengan perempuan yang dengan penuh keringat kucari yang mirip ibu
Meski aku tahu bahwa ibu hanya ada satu di dunia
Tapi perempuan ini, mirip sekali denganmu, Bu

/10/
Lihat anakku, Bu. Hidungnya mirip dengan neneknya
Sama sama bengkok.

/11/
“Ayah, kenapa setiap hari kita ke rumah nenek?”
Tanya anakku sewaktu di motor menuju ke rumah kenangan itu.
“Karena setiap hari ayah rindu nenek, rindu sekali.”
“Tapi apakah nenek tidak bosan?”
“Nenek tidak pernah bosan, karena cinta yang sejati tidak pernah bosan pada dirinya sendiri.” Jawabku.
Anakku tersenyum lalu manggut-manggut.
Dari kaca spion, kulihat ibu yang sedang menjahitkan ketiak seragam sekolahku yang bolong dulu.
Keringatnya menetes di keningku.





Jakarta, Juni 2011





CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...