Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2011

Sajak Mesin Cuci

: Hamilthon Smith
Kepada Penemu Mesin Cuci

Mesin cuci,
tolong cuci sajakku
Sudah tiga hari sajakku belum ganti
Aromanya santer di hidung siapa-siapa
menyeruak kepada udara
melebihi wangi bumbu dapur,
wangi bawang dan selada,
atau wangi semprotan setrika

Nanti kubelikan senyum deterjen anti noda
atau
pelukan hangat air ledeng
yang mengguyur tubuhmu dan tubuh sajakku sekujur

Agar anyir tak lagi mampir
dan malam terkesima kembali pada sajakku yang kilau
yang silau karena kau
karena mesin cuci yang memeras habis segala keringat pada sajakku yang kotor

Setelah itu kan kujemur sajak di bawah selasar waktu di ruang tunggu
di bawah matahari yang berdiri menggagu

Takkan lupa kuangkat, jika mendung mengembun di matamu
agar tak jadi basah
agar mesin cuci tak menyesal telah mendandanimu resah

Terima kasih mesin cuci
di lain waktu akan kukunjungimu bersama sajakku (lagi)


Juni 2011

Sajak Televisi

Kepada Penemu Televisi: JL. Baird


Televisi
Apa yang kerap kau ingini
dari orang-orang yang gemar mengunjungimu?
pada malam hari atau pada saat-saat sebelum mandi
sebuah informasi
atau
sebuah sampah yang menimbul bau pada hidup yang ambigu?

Apa yang kerap kau ucap televisi?
di telinga orang-orang yang butuh pelipur,
yang butuh penghibur bagi dirinya yang sedang futur,
yang sedang lembur dan butuh libur

Apa yang sedang kau pikirkan?
tentang anak-anak kecil yang menontonmu di tengah malam
sebuah siaran saat orang tua tertidur dengan pulas dan
anak tersebut melesap menyusuri imaji yang berlebihan
di batas sebuah kepantasan

Apa yang kau tahu tentang gosip-gosip artis papan atas
yang mencair bagai racun di saluran cerna
peradaban?

Apa yang kau tanggung atas sinema elektronik
sinema segenggam intrik
yang mengusik
mengelitik
gaya hidup dengan pelik?

Barangkali kau akan mengerti, televisi
agar kau tidak jadi penyusup pada degub-degub yang tertutup
pada redup yang sayup-sayup mengintai kalut

Ak…

Berbuah

ada luka yang kau tanam pada pohon itu
ingatkah?
saat gagak menyerbu masing-masing dari rumah kita
kita kelimpungan, tapi sembari tertawa-tawa
lalu luka itu kau tiup dengan asap motor dan debu jalan layang

aku pun memetik buahnya
buah air mata dari air mata yang berbuah
kau membalikkan kedua kata itu
sambil tertawa-tawa (lagi)

tapi aku tidak, aku menahan air mata, yang pernah berbuah di mataku dan
berbuah juga di matamu
























lalu pohon itu kembali digerumul gagak-gagak hitam yang belum sempat sarapan..



Mei 2011

Perempuan yang terus perawan karena puisi

apa yang membuatmu terus bertahan dalam perawan, perempuan?
puisi. jawabnya datar
tetapi, matanya terus pergi ke tempat lain
mencari sesuatu yang bahkan ia tak tahu apa

seumur hidupnya ia tak pernah puasa puisi


(2011)

Jarak

: Ratih dan Ryjan

/1/

apa yang lebih sesak dari jarak?
apa yang lebih sengal dari sesal?

jarak yang selalu kita hujat jika kita sedang ingin dekat
dan kenapa peluhmu tak pernah berhenti mengalir dari mataku?



/2/

JARAK

kita membelinya 3 tahun lalu
dengan uang tabungan kita masig masing
di suatu hari kita memecah kenangan itu
kita kumpulkan beragam koin tangis dan lembaran tawa
kita pergi ke bank
lalu kau pertanya kepada perempuan di balik meja

"Mba, aku ingin menukar ini dengan jarak. bisa?"
katamu sembari keberatan membawa bungkusan uang kita

"Bisa, tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

"Sebelumnya anda harus mengisi formulir kepercayaan dan kesetiaan"

"Setelah itu?"

"Sudah, itu saja."

"Nah, kami akan memberi struk janji, harus disimpan dan tidak boleh dibuang.
Karena suatu saat pegawai kami bisa datang ke jarak yang telah anda beli."

Baiklah,

/3/

Kita jual saja jarak itu
Sedari tadi ia cemberut saja,

Kurasa jarak…

Masihkah kau ingat perjalanan ini, Bu?

/1/ Ibu, dimanakah rahimmu harus kukunjungi? Cukup lama aku termenung disini, menatap lumbung bumi yang telah kremasi Aku ingin pergi saja bersama segumpal tanah dan mani Hingga dijadikannya aku sebentuk daging dan tulang-belulang yang bisa bicara Yang telah diputuskan “Jadilah, maka jadilah!” Tahukah bu, ribuan sperma ayahku malam itu adalah musuh terbesarku malam itu
/2/ Besok antar aku ke jalan delima ya, Bu Kudengar disana banyak toko yang menjual daster lucu Akan kubelikan kau dua atau beberapa Untukku dan untukmu yang telah gempita menjadikannya aku
/3/ Terlalu rakuskah aku yang menghisapmu dari dua penjuru? Cairan kental berupa zat anti bodi dan mantra candra guna Menjelmakan pipiku yang semok dan hidungku yang bengkok Kata orang pipiku mirip ayah, dan hidungku mirip hidungmu Kau hanya senyumsenyum saja sambil meraba hidungmu Kemudian meraba hidungku

/4/ Semua orang kecuali ibu melarangku berjalan dan berkata “Awas jatuh!” Esoknya aku bisa berjalan tanpa takut terjatuh (lagi)
/5/ Ayah marah-marah kar…