Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2011

Sajak Flu

Aku dilanda flu Tiga kali sehari  minum obat flu Minum vitamin untuk penghilang flu Tidur siang sebagai istirahatnya orang flu
Minum air putih, setiap hari Satu hari tidak cukup delapan gelas lagi Mungkin sampai gelas kedua puluh lalu minum ayem sari Karena ada setimbun sariawan di dekat gigi
Jangan lupa dengan tisu Untuk membuang lendir diantara bulu Menyedot dan menghisap suhu Ah benar-benar tidak enak hidungku!
Flu, jangan lagi mampir Aku sudah tiduk punya tisu untuk digilir Atau obat berpuluh butir Dan jika membuang lendir, temanku ketar-ketir

Sajak Lapar

lambungku adalah panggung sepi tak ber-pemain aktornya terlambat datang, penonton teriak minta hiburan
lambungku adalah ruang lengang tak berpenghuni sofa dan karpet belum dibeli, majikannya pergi ke luar negri
lambungku adalah adalah adalah... aku tak tahu, karena kosong tak pernah ada sesuatu

Sajak Gagal

Untuk: Franky Sahilatua Tadinya aku akan membuat sajak Tapi gagal Karena tak ada tinta Tunggu, mungkin biar kubeli dulu di toko orang cina
Nestapa, aku lupa ini hari tanggal merah Semua toko tutup, termasuk toko tinta Lagipula malam ini hujan. Ah hujan, aku tak pernah terlalu percaya dengan hujan
Aku juga kalah dengan radio Sejak tadi radio sudah menulis berpuluh sajak Kali ini gilian Franky yang sajaknya tentang orang pinggiran Yang katanya orang pingggiran.. oea..eo..
Terserah, aku tak mau kalah Baiklah aku akan menulis dengan pinsil saja Kubuka laci, ada kotak kaset dan buku diari Kuambil buku diari, didalamnya ada pinsil warna merah nila Ah, akhirnya!
Kutekan pinsil ke kertas. Tanggal 7 Mar.. Tak! Pinsilku patah,di kertas terlihat parah Mungkin pinsilku terlalu tergesa, terlalu resah
Tunggu.. tunggu akan kuraut Sampai terlihat lancip dan sisinya bergelombang kecil Dimana, dimana ya perautku? Aku lupa, benar benar lupa, serius.
Seperti tangis bayi di malam hari..
Sajak Franky ditulis lagi, Antara bayi dan raut…

Sepatu

Dari tanah ke tanah, Dari kemudian ke sekian, Rimbun debu telah menyeruput keringat malam
Di sela lampu kota, Kau masih bergegas saja Menggenggam surat jiwa, riwayat hidup, dan sepaket lembaran usia Katamu “Hari ini aku harus dapat!” Namun sampai petang, pintu pintu tetap melemparmu, Baju kering, lalu basah, sampai kering lagi Karena dikerjai matahari
Di rumah Anakmu ditiduri dogeng Istrimu memasak batu
Sepatumu saja bahkan sudah mengantuk!

Peluk

: Ibu

Lelahkah ia yang jauh disana?
Menungguku untuk mengetuk pintu dan berkata ”aku pulang!” Sampai kerut menggerogoti ingatannya tentang peluk Memeluk rongga pada kerinduan yang terpuruk Dapatkah ia tahan lukanya yang hampir tak pernah kering? Menyembuh dengan sekedar air bening Dengan mengucap ayat pada sebuah surat Dan merapal kalimat yang mengharap
Lalu sampailah pada aku yang menemui Sabtu Memecah bisu untuk ibu yang bediri menggagu Di teras ini, ia berbincang tentang hidup Mengisah dengan bibirnya yang terkatub. Dan dengan matanya yang perlahan mengendur
Cicak di dinding pun seolah duduk berdiskusi Tak mampu melerai kami yang kerap meniduri Hingga larut kuusap punggungnya yang gersang Menyaring susu pada airmatanya yang menggenang
Adakah setengah suara terdengar dari udara yang mengembala? Menciumi wangi dalam sadar yang dioleskannnya pada duka Setelah lama kudatangi ia dengan seribu cerita jenaka Ingin sekali ia tertawa yang mengisi tanpa jeda
Lelahkah ia yang menunggu disana? Karena aku yang tert…

Meet

A yellow-painted house In the corner, you sit, on the bench that every day you talk to Flame burning in front of the screen
You think, your eyebrow hair and hair neatly lined up Wilderness as a stacked pile of black grass calm And your eyes promises to be a witness among the key Sharp, like talking about things that did not sound
Then, brought the evening meeting Between woman and man guards screen I’m the woman, was hurriedly brought the cables package
To you wind instrument to heal his wounds
but, until now, You grin no longer preoccupied staring at the screen You said “It was not me who can heal wounds..”
But the meeting has occurred Though I asked, Why make the flame loses evening light? Why do not you just speak at length? Why we are meeting the wind out of the yellow house?
I grab paper, writing for the meeting, which probably do not want my end Straigth to look for your shadow under the evening And the eyebrows you're busy making a parallel formation, even though your eyes are still staring at the s…

Pertemuan

Sebuah rumah bercat kuning Di sudut, kau duduk, di bangku yang saban hari kau bersinggah Di depan layar menyala-nyala Kau berpikir, dan rambut-rambut alismu rapi berbaris, seolah belantara rumput hitam yang bertumpuk-tumpuk meneduhkan. Dan matamu jadi saksi antara janji-janji para tombol Tajam, seperti berbincang tentang banyak hal yang tidak terdengar
Kemudian, petang menghantar pertemuan Antara perempuan dan lelaki penjaga layar Aku si perempuan, tengah tergesa membawa sepaket kabel-kabel Untuk kau tiup agar sembuh lukanya,
Namun, Sampai kini Kau menyeringai, tidak lagi khusuk menatap layar Kau berkata “ Bukan aku yang bisa menyembuhkan lukanya.”
Tapi pertemuan telah terjadi Meski aku bertanya, Mengapa petang membuat nyala kehilangan cahaya? Mengapa kau tidak berceramah panjang lebar saja? Mengapa angin mengeluarkan pertemuan kita dari rumah kuning itu?
Ku ambil kertas, Menulis jadwal, untuk sebuah pertemuan yang mungkin tidak ingin ku akhiri, Agar terus terlihat siluetmu di bawah petang Dan alismu yang s…

Nelangsa: Kepada penjual wedang ronde

Sekali
tibatiba kalap pengayuh roda dua
Terjulur sepanjang kerikil jalan Sukamaju
Oleng, melupa kalau blong pengerem
Getir, topinya terhenyut pasir

Tumpah segala wadahwadah di lipatan debu
Matamu memutih,
hidungmu kembangkempis
Kiri kanan sepi
Berkesiur rotiroti di antara wedang ronde

Nelangsa,
anak istrimu makan apa..

Ibu Tua yang Kau Tarik Nadinya

Persembahan malam selaksa menghantarkan renta
Jerit usia yang memudar tabir
Rapuh dilahap ambisi muda
Lepaslah kerut yang melingkar di kepalanya
Menohok hingga pangkal urat syaraf

Kau remas hati dari rahim asalmu
Mengemul hitam hitam dosa di separuh kosong takdir
Kau kumur rahangmu dengan arang
Memuntah sisa-sisa pembuangan

Kau tarik nadinya
Pada pelamunan ibumu di kursi goyang
Menenun delapan jahitan
Untuk koyakan jantung yang lebam

”Inilah sakit di penghujung tua, oleh geram anakku yang pendosa”
Lenyaplah bau surga itu, yang lewat tak pernah kau cium.
Lalu matanya pecah berderau lara, kesudahan tangis itu ialah karma.

Habis Daya

Ketika bising di hembusan jalan malam,
Porak hatimu melerai makna senda yang senada
Tak dapat lagi kau bedakan mana kosong mana isi
Yang kau dapati pada perbekalan siang hari


Samar bayanganmu terhisap aspal
Mengikut jejak pada tumit hak sepatu
Tuk, tuk, tuk
Desah ujung jemari yang menggelap penat


Ranum kemulan urat-urat bibirmu
Wangi sekali sampai sengat mengendus bulu penyaring tubuh
Kau kerat aurat di pertaruhan ranjang kayu
Yang kau yakini jadi emas meski itu sembilu


Untuk anakmu di tempat tidur,
Yang perutnya kau lihat membuncit debur.
Matanya lesu karena beban sependeritaan, dan kau pulang pagi untuk cari makan


Dari mana lantas hingga kaki putih itu habis daya
Mengeram kendur sayap sepi kesucian
Dan kini tergadai segala harta,
yang dulu kau simpan rapi di tempatnya




Kwatrin tentang sesosok kekhilafan

aku tumpahi mejamu dengan kosakata
malam ini kamu lupa
sesuatu pada kalender telah merah
tentang upacara sesaji di atas noktah


Pulang, jangan kerap membangkang
Sekalipun hujan telah memukul wajahmu dalamdalam
Peranjat doa serayu kembang kamboja
Untuk bapakmu yang meniduri tanah


Tanggalkan peruntunganmu pada tikar
Sekawan yang mengutukmu sebaiknya ditengkar
Gelung celanamu lalu ciprati wudhu
Peranjat doa lekas senang bapakmu


Oktober 2010


Empat Cangkir Kopi

Cangkir pertama:
Terang, terombang-ambing ampas satin, terhirup selinting kafein
Kurangkum gelegar rasa yang terporak pada lelehan keping semesta
Pergi ku ke rimba dua arah, kupilih wajahmu jadi darah
Kutelisir alirannya pada arteri, denyutan sendi-sendi biru bilik kiri


Cangkir kedua:
Kuhinggapi kelopakmu di penjulur jalan
Kutambah latte jadi madu. Hingga terlalu manis, kubuang ke empedu
Kulempar dadu ketika tidur sesendok matahari, yang membekas lebam di pelipis kiri


Cangkir ketiga:
Aku mengenalmu berbeda, dalam ramuan sebuah perempuan
Kau kemasi langit di cangkirmu, lalu menyedu dengan rasa baru
Tapi tabu kupukul waktu di punggungmu
Hingga diam detikdetik, kutelan pelikpelik


Cangkir keempat:
Aku taruh diatas meja kayu, yang bertaplak sumbu
Membasah retina pada suhu dua puluh dua
Biar debur segala anakanak lara
Biar melesak udara kering pada paru, hingga hitamhitamnya mendesir kelu


Sejarah empat cangkir kopi
Untuk kau yang diburu waktu
Kusudahi, kupamit pada kelelawar senja di pinggiran batu


Empat cangkir…

Selagi Kau Te r t i d u r ...

di pundi pundi bahumu yang kuat
bekas jerihmu membiru menggumpal
ingin sekali kupeluk kelopakmu
selagi kau tertidur,
selagi kau meminta mimpi
untuk datang lagi
membalas pejaman kemarin
dan kemarin lagi.. 


nyanyian yang kau jelma pun terlambat dini hari
ambigu, terang dan temaram
menderaulah peluh. 
sadarkah kau telah lewat petang? 
dan tidur adalah jalan pulang...

Arachnida

Kau telah memilih cinta untuk ditelantarkan bersama laba-laba besar Membuat sarang dan menelurkan beribu-ribu Lalu kau matikan lampu Kau meraba-raba, buta Aku terkurung pada jaring, pada kebutaan yang menelantarkanku kemudian di halte-halte sepi, sebising pun tak terdengar
Aku pulang tak diantar seperti nyanyian arwah Merambati aspal dan udara yang bergesekkan panas, tanpa satu kendara pun melintas
Aku lihat ke atas Laba-laba masih ada, tergantung di dinding rumahmu yang bercat pudar
Jaringnya sobek karena decitan malam
Kau dipangku laba-laba Aku dipangku kesepian

2011

Selamat Hari Anak Nasional

(1) Jutaan sperma ayahku malam itu adalah saingan terberatku. 
(2) Enyak memaksanya menikah dengan A Hong. Mata Zaenab sembab memandangi foto Bang Doel.
(3) Hari ini aku merayakan ulang tahunku yg ke-35 di depan pusara anakku yang besok baru saja akan masuk sekolah dasar.
(4) Aku kena pukul ayah lagi. Hari ini setoranku cuma 2 buah dompet yang tak banyak isi.
(5) Diskotik sudah mau tutup, tapi dari kesepuluh pria itu, belum ada yang mau mengaku sebagai ayahku.

Juli 2011

Beberapa Fiksimini Tentang Poster

(1) RUMAH SAKIT JIWA.

Seharian ayah berdiri di samping tempat tidurnya.
Tangannya hormat sembari hikmat menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Matanya redup menatap lurus wajah seseorang di dalam poster.
Wajah orang nomor satu di negeri ini. 
(2) MAKAN SIANG.

Gambar kucing di poster itu tiba-tiba menghilang,
saat aku baru saja selesai menggoreng ikan.

Adikku pasti sedih, itu poster "Tom" favoritnya.  
(3) SEPATU.

Pulang sekolah aku didera hujan lebat, hingga sepatuku basah hebat.
Semalaman aku berdoa agar kering sepatuku, agar esok aku bisa ke sekolah tepat waktu.
Paginya, kulihat tokoh idolaku di dalam poster bertelanjang kaki.

Di samping tempat tidurku kudapati sepatu baru yang sudah tidak asing lagi. 

(4) EINSTEIN.

Sudah lama sekali ia tak ganti posisi.
Lidahnya tak pernah lelah menjulur keluar rumah.
Rambutnya putih terurai tanpa rencana.
Tangannya terus menggaruk kepalanya yang bahkan mungkin tidak pernah terasa gatal. 

Juli 2011

Sajak Kipas Angin

: Kepada penemu Kipas Angin Schuyler Wheeler
Barangkali aku ingin mengerti kenapa kau selalu berputar di tempat yang sama, di lingkaran yang sama, bahkan dengan arah yang sama Tak inginkah sesekali kau melayap keluar jaring horizontal yang selalu mengekang tubuhmu ke dalam 3 bagian?  Tubuhmu yang seperti daun waru, yang berdebu karena hanya dibersihkan tiga kali sewindu?
Aku hanya ingin mengerti kenapa kau begitu setia pada majikanmu Apakah karena kau tak punya saudara lagi, selain dua saudara kembarmu yang selalu mengikutimu kemanapun kau pergi? Apakah  karena kau tak tahu lagi siapa yag mesti kau setia-i, selain kepada angka satu dan dua yang memanggilmu perkasa?
Baiklah, mungkin aku tidak akan ingin mengerti lagi, Karena aku pun membutuhkanmu

Aku yang tak pandai menangkap udara Dan mengolah udara menjadi angin yang berkesiur debur Aku tak pandai apapun, kecuali menekan angka nol, itu pun karena aku kasihan padamu karena seharian belum istirahat

Jakarta, Juli 2011