24.7.11

Sajak Flu

Aku dilanda flu
Tiga kali sehari  minum obat flu
Minum vitamin untuk penghilang flu
Tidur siang sebagai istirahatnya orang flu

Minum air putih, setiap hari
Satu hari tidak cukup delapan gelas lagi
Mungkin sampai gelas kedua puluh lalu minum ayem sari
Karena ada setimbun sariawan di dekat gigi

Jangan lupa dengan tisu
Untuk membuang lendir diantara bulu
Menyedot dan menghisap suhu
Ah benar-benar tidak enak hidungku!

Flu, jangan lagi mampir
Aku sudah tiduk punya tisu untuk digilir
Atau obat berpuluh butir
Dan jika membuang lendir, temanku ketar-ketir

Sajak Lapar

lambungku adalah panggung sepi tak ber-pemain
aktornya terlambat datang, penonton teriak minta hiburan

lambungku adalah ruang lengang tak berpenghuni
sofa dan karpet belum dibeli, majikannya pergi ke luar negri

lambungku adalah adalah adalah... aku tak tahu,
karena kosong tak pernah ada sesuatu

Sajak Gagal

Untuk: Franky Sahilatua

Tadinya aku akan membuat sajak
Tapi gagal
Karena tak ada tinta
Tunggu, mungkin biar kubeli dulu di toko orang cina

Nestapa, aku lupa ini hari tanggal merah
Semua toko tutup, termasuk toko tinta
Lagipula malam ini hujan.
Ah hujan, aku tak pernah terlalu percaya dengan hujan

Aku juga kalah dengan radio
Sejak tadi radio sudah menulis berpuluh sajak
Kali ini gilian Franky yang sajaknya tentang orang pinggiran
Yang katanya orang pingggiran.. oea..eo..

Terserah, aku tak mau kalah
Baiklah aku akan menulis dengan pinsil saja
Kubuka laci, ada kotak kaset dan buku diari
Kuambil buku diari, didalamnya ada pinsil warna merah nila
Ah, akhirnya!

Kutekan pinsil ke kertas.
Tanggal 7 Mar..
Tak!
Pinsilku patah,di kertas terlihat parah
Mungkin pinsilku terlalu tergesa, terlalu resah

Tunggu.. tunggu akan kuraut
Sampai terlihat lancip dan sisinya bergelombang kecil
Dimana, dimana ya perautku?
Aku lupa, benar benar lupa, serius.

Seperti tangis bayi di malam hari..

Sajak Franky ditulis lagi,
Antara bayi dan rautan, keduanya bertamu, bertabrakan, di ruang sel otakku
Kukeluarkan saja segala isinya dan kucerna satu persatu
Aha, aku ingat, di tas hitam di sudut lemari
Ah apa ya?
Bayi atau rautan?
Rautan, ya ya rautan!

Seperti di film, ibaratnya adegan ini dilewati saja, karena tak penting
Karena ingin buruburu kutulis sajak
Entah sajak apa, mungkin cinta mungkin orang tua, atau mungkin Franky Sahilatua
Sajak apa saja, asal jangan sajak gagal

lalu,
kulanjutkan huruf yang sempat tertambat
……et 1995

Tap!
Ruangan gelap
Penyiar radio sekarat
Sajak Franky mati
Kulongok ke luar melalui jendela
Tak ada siluet cahaya dari balik jendelajendela

Baiklah, kulapangkan hati, kulapangkan sajak
Malam dan gelap telah bersepakat mencuri
katakata pada sajakku yang gagal

Tidak ada sajak, begitu juga kata, begitu juga Franky

Sepatu

Dari tanah ke tanah,
Dari kemudian ke sekian,
Rimbun debu telah menyeruput keringat malam

Di sela lampu kota,
Kau masih bergegas saja
Menggenggam surat jiwa, riwayat hidup, dan sepaket lembaran usia
Katamu “Hari ini aku harus dapat!”
Namun sampai petang, pintu pintu tetap melemparmu,
Baju kering, lalu basah, sampai kering lagi
Karena dikerjai matahari

Di rumah
Anakmu ditiduri dogeng
Istrimu memasak batu

Sepatumu saja bahkan sudah mengantuk!

Peluk

: Ibu

Lelahkah ia yang jauh disana?
Menungguku untuk mengetuk pintu dan berkata ”aku pulang!”
Sampai kerut menggerogoti ingatannya tentang peluk
Memeluk rongga pada kerinduan yang terpuruk
Dapatkah ia tahan lukanya yang hampir tak pernah kering?
Menyembuh dengan sekedar air bening
Dengan mengucap ayat pada sebuah surat
Dan merapal kalimat yang mengharap

Lalu sampailah pada aku yang menemui Sabtu
Memecah bisu untuk ibu yang bediri menggagu
Di teras ini, ia berbincang tentang hidup
Mengisah dengan bibirnya yang terkatub.
Dan dengan matanya yang perlahan mengendur

Cicak di dinding pun seolah duduk berdiskusi
Tak mampu melerai kami yang kerap meniduri
Hingga larut kuusap punggungnya yang gersang
Menyaring susu pada airmatanya yang menggenang

Adakah setengah suara terdengar dari udara yang mengembala?
Menciumi wangi dalam sadar yang dioleskannnya pada duka
Setelah lama kudatangi ia dengan seribu cerita jenaka
Ingin sekali ia tertawa yang mengisi tanpa jeda

Lelahkah ia yang menunggu disana?
Karena aku yang tertahan untuk perjumpaan di ujung seminggu
Mengemas peluk untuk membukanya pada rengkuhan setiap Sabtu
                   

Meet

A yellow-painted house
In the corner, you sit, on the bench that every day you talk to
Flame burning in front of the screen

You think, your eyebrow hair and hair neatly lined up
Wilderness as a stacked pile of black grass calm
And your eyes promises to be a witness among the key
Sharp, like talking about things that did not sound

Then,
brought the evening meeting
Between woman and man guards screen
I’m the woman,
was hurriedly brought the cables package

To you wind instrument to heal his wounds

but,
until now,
You grin no longer preoccupied staring at the screen
You said “It was not me who can heal wounds..”

But the meeting has occurred
Though I asked,
Why make the flame loses evening light?
Why do not you just speak at length?
Why we are meeting the wind out of the yellow house?

I grab paper,
writing for the meeting, which probably do not want my end
Straigth to look for your shadow under the evening
And the eyebrows you're busy making a parallel formation,
even though your eyes are still staring at the screen.



Pertemuan

Sebuah rumah bercat kuning
Di sudut, kau duduk, di bangku yang saban hari kau bersinggah
Di depan layar menyala-nyala
Kau berpikir, dan rambut-rambut alismu rapi berbaris,
seolah belantara rumput hitam yang bertumpuk-tumpuk meneduhkan.
Dan matamu jadi saksi antara janji-janji para tombol
Tajam, seperti berbincang tentang banyak hal yang tidak terdengar

Kemudian,
petang menghantar pertemuan
Antara perempuan dan lelaki penjaga layar
Aku si perempuan,
tengah tergesa membawa sepaket kabel-kabel
Untuk kau tiup agar sembuh lukanya,

Namun,
Sampai kini
Kau menyeringai, tidak lagi khusuk menatap layar
Kau berkata “ Bukan aku yang bisa menyembuhkan lukanya.”

Tapi pertemuan telah terjadi
Meski aku bertanya,
Mengapa petang membuat nyala kehilangan cahaya?
Mengapa kau tidak berceramah panjang lebar saja?
Mengapa angin mengeluarkan pertemuan kita dari rumah kuning itu?

Ku ambil kertas,
Menulis jadwal, untuk sebuah pertemuan yang mungkin tidak ingin ku akhiri,
Agar terus terlihat siluetmu di bawah petang
Dan alismu yang sibuk membuat formasi sejajar,
meski matamu masih tetap menatap layar.

Nelangsa: Kepada penjual wedang ronde

Sekali
tibatiba kalap pengayuh roda dua
Terjulur sepanjang kerikil jalan Sukamaju
Oleng, melupa kalau blong pengerem
Getir, topinya terhenyut pasir

Tumpah segala wadahwadah di lipatan debu

Matamu memutih,
hidungmu kembangkempis
Kiri kanan sepi
Berkesiur rotiroti di antara wedang ronde

Nelangsa,
anak istrimu makan apa..

Ibu Tua yang Kau Tarik Nadinya

Persembahan malam selaksa menghantarkan renta
Jerit usia yang memudar tabir
Rapuh dilahap ambisi muda
Lepaslah kerut yang melingkar di kepalanya
Menohok hingga pangkal urat syaraf

Kau remas hati dari rahim asalmu
Mengemul hitam hitam dosa di separuh kosong takdir
Kau kumur rahangmu dengan arang
Memuntah sisa-sisa pembuangan

Kau tarik nadinya
Pada pelamunan ibumu di kursi goyang
Menenun delapan jahitan
Untuk koyakan jantung yang lebam

”Inilah sakit di penghujung tua, oleh geram anakku yang pendosa”
Lenyaplah bau surga itu, yang lewat tak pernah kau cium.
Lalu matanya pecah berderau lara, kesudahan tangis itu ialah karma.


Habis Daya

Ketika bising di hembusan jalan malam,
Porak hatimu melerai makna senda yang senada
Tak dapat lagi kau bedakan mana kosong mana isi
Yang kau dapati pada perbekalan siang hari


Samar bayanganmu terhisap aspal
Mengikut jejak pada tumit hak sepatu
Tuk, tuk, tuk
Desah ujung jemari yang menggelap penat


Ranum kemulan urat-urat bibirmu
Wangi sekali sampai sengat mengendus bulu penyaring tubuh
Kau kerat aurat di pertaruhan ranjang kayu
Yang kau yakini jadi emas meski itu sembilu


Untuk anakmu di tempat tidur,
Yang perutnya kau lihat membuncit debur.
Matanya lesu karena beban sependeritaan, dan kau pulang pagi untuk cari makan


Dari mana lantas hingga kaki putih itu habis daya
Mengeram kendur sayap sepi kesucian
Dan kini tergadai segala harta,
yang dulu kau simpan rapi di tempatnya




Kwatrin tentang sesosok kekhilafan

aku tumpahi mejamu dengan kosakata
malam ini kamu lupa
sesuatu pada kalender telah merah
tentang upacara sesaji di atas noktah


Pulang, jangan kerap membangkang
Sekalipun hujan telah memukul wajahmu dalamdalam
Peranjat doa serayu kembang kamboja
Untuk bapakmu yang meniduri tanah


Tanggalkan peruntunganmu pada tikar
Sekawan yang mengutukmu sebaiknya ditengkar
Gelung celanamu lalu ciprati wudhu
Peranjat doa lekas senang bapakmu


Oktober 2010


Empat Cangkir Kopi

Cangkir pertama:
Terang, terombang-ambing ampas satin, terhirup selinting kafein
Kurangkum gelegar rasa yang terporak pada lelehan keping semesta
Pergi ku ke rimba dua arah, kupilih wajahmu jadi darah
Kutelisir alirannya pada arteri, denyutan sendi-sendi biru bilik kiri


Cangkir kedua:
Kuhinggapi kelopakmu di penjulur jalan
Kutambah latte jadi madu. Hingga terlalu manis, kubuang ke empedu
Kulempar dadu ketika tidur sesendok matahari, yang membekas lebam di pelipis kiri


Cangkir ketiga:
Aku mengenalmu berbeda, dalam ramuan sebuah perempuan
Kau kemasi langit di cangkirmu, lalu menyedu dengan rasa baru
Tapi tabu kupukul waktu di punggungmu
Hingga diam detikdetik, kutelan pelikpelik


Cangkir keempat:
Aku taruh diatas meja kayu, yang bertaplak sumbu
Membasah retina pada suhu dua puluh dua
Biar debur segala anakanak lara
Biar melesak udara kering pada paru, hingga hitamhitamnya mendesir kelu


Sejarah empat cangkir kopi
Untuk kau yang diburu waktu
Kusudahi, kupamit pada kelelawar senja di pinggiran batu


Empat cangkir kopi, kutenggak
Masih lebih mending ketimbang setetes arak
Hitamhitamnya mengerat gusi-gusi, getir


Kulesakkan sepuluh kantung gula
Agar terasa reda
Agar petir tidak lagi mampir
Agar keruh semacam bulir..



Oktober 2010

Selagi Kau Te r t i d u r ...

di pundi pundi bahumu yang kuat
bekas jerihmu membiru menggumpal
ingin sekali kupeluk kelopakmu
selagi kau tertidur,
selagi kau meminta mimpi
untuk datang lagi
membalas pejaman kemarin
dan kemarin lagi.. 


nyanyian yang kau jelma pun terlambat dini hari
ambigu, terang dan temaram
menderaulah peluh. 
sadarkah kau telah lewat petang? 
dan tidur adalah jalan pulang...

Arachnida

Kau telah memilih cinta untuk ditelantarkan bersama laba-laba besar
Membuat sarang dan menelurkan beribu-ribu
Lalu kau matikan lampu
Kau meraba-raba, buta
Aku terkurung pada jaring, pada kebutaan yang menelantarkanku kemudian
di halte-halte sepi,
sebising pun tak terdengar

Aku pulang tak diantar seperti nyanyian arwah
Merambati aspal dan udara yang bergesekkan panas,
tanpa satu kendara pun melintas

Aku lihat ke atas
Laba-laba masih ada, tergantung di dinding rumahmu yang bercat pudar

Jaringnya sobek karena decitan malam

Kau dipangku laba-laba
Aku dipangku kesepian


2011

Selamat Hari Anak Nasional

(1) Jutaan sperma ayahku malam itu adalah saingan terberatku. 

(2) Enyak memaksanya menikah dengan A Hong. Mata Zaenab sembab memandangi foto Bang Doel.

(3) Hari ini aku merayakan ulang tahunku yg ke-35 di depan pusara anakku yang besok baru saja akan masuk sekolah dasar.

(4) Aku kena pukul ayah lagi. Hari ini setoranku cuma 2 buah dompet yang tak banyak isi.

(5) Diskotik sudah mau tutup, tapi dari kesepuluh pria itu, belum ada yang mau mengaku sebagai ayahku.


Juli 2011  

Beberapa Fiksimini Tentang Poster

(1) RUMAH SAKIT JIWA.

Seharian ayah berdiri di samping tempat tidurnya.
Tangannya hormat sembari hikmat menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Matanya redup menatap lurus wajah seseorang di dalam poster.
Wajah orang nomor satu di negeri ini. 

(2) MAKAN SIANG.

Gambar kucing di poster itu tiba-tiba menghilang,
saat aku baru saja selesai menggoreng ikan.

Adikku pasti sedih, itu poster "Tom" favoritnya.  

(3) SEPATU.

Pulang sekolah aku didera hujan lebat, hingga sepatuku basah hebat.
Semalaman aku berdoa agar kering sepatuku, agar esok aku bisa ke sekolah tepat waktu.
Paginya, kulihat tokoh idolaku di dalam poster bertelanjang kaki.

Di samping tempat tidurku kudapati sepatu baru yang sudah tidak asing lagi. 


(4) EINSTEIN.

Sudah lama sekali ia tak ganti posisi.
Lidahnya tak pernah lelah menjulur keluar rumah.
Rambutnya putih terurai tanpa rencana.
Tangannya terus menggaruk kepalanya yang bahkan mungkin tidak pernah terasa gatal. 


Juli 2011

23.7.11

Sajak Kipas Angin

: Kepada penemu Kipas Angin Schuyler Wheeler

Barangkali aku ingin mengerti kenapa kau selalu berputar di tempat yang sama, di lingkaran yang sama, bahkan dengan arah yang sama
Tak inginkah sesekali kau melayap keluar jaring horizontal yang selalu mengekang tubuhmu ke dalam 3 bagian? 
Tubuhmu yang seperti daun waru, yang berdebu karena hanya dibersihkan tiga kali sewindu?

Aku hanya ingin mengerti kenapa kau begitu setia pada majikanmu
Apakah karena kau tak punya saudara lagi, selain dua saudara kembarmu yang selalu mengikutimu kemanapun kau pergi?
Apakah  karena kau tak tahu lagi siapa yag mesti kau setia-i, selain kepada angka satu dan dua yang memanggilmu perkasa?

Baiklah, mungkin aku tidak akan ingin mengerti lagi,
Karena aku pun membutuhkanmu

Aku yang tak pandai menangkap udara
Dan mengolah udara menjadi angin yang berkesiur debur
Aku tak pandai apapun,
kecuali menekan angka nol,
itu pun karena aku kasihan padamu karena seharian belum istirahat


Jakarta, Juli 2011








Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...