17.8.11

Puisi untuk Pengamen di Hari Minggu

Aku melihatmu di sayup-sayup sesak bus kota
sedang memainkan balada tentang hidup manusia,
di percik lirikmu tersimpan aforisme bahwa manusia jangan menyerah,
separah perangah luka yang timbul muncul terus muncul tak pernah lelah

Saat itu, rasanya kau seperti tahu perasaanku di hari minggu itu,
bahwa hidupku sedang susah dengan cobaan Tuhan yang ber-adhesi dengan runtutan peristiwa akhir-akhir ini
Bahwa minggu lalu kakak perempuanku telah patah kakinya, bahwa dengan begitu terselip ketakutan bahwa ia tidak akan lagi berjalan dengan kakinya
Bahwa, selain itu baru saja, sebelum naik bus ini
aku bertengkar hebat dengan kakakku yang lain tentang masalah yang sangat prinsipil
Bahwa aku yang telah menyakini bahwa sebelumnya aku sangat bahagia
tapi kuanggap pernyataain itu Tuhan telah mematahkannya
degan sangat mudah

Tapi kau, si pengamen itu, bernyanyu dengan senyum bujuk rayu
agar orang-orang yang melihatmu ikut tersenyum juga
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa bisa saja kau punya kesedihan yang mendera-dera
semisal istrimu di rumah yang sedang sakit parah,
atau bayaran sekolah anakmu yang menunggak berbulan-bulan lamanya

Kita tak pernah tahu, kisah siapa yang lebih sedih dari kisah siapa,
tapi dengan mendengar lagumu dan melihatmu,
aku jadi tahu bahwa senyum adalah obat yang paling manjur untuk menyembuhkan berbagai luka

Tuhan, aku menyesal,
bukan karena apa yang telah engkau campur baur dalam hidupku,
tetapi karena aku sudah mengeluh dengan mengeluarkan beribu-ribu peluh


Desember 2010

15.8.11

Suara-suara yang merusak tidurku

Suatu waktu, entah siang
entah malam
suara-suara itu menipu dinding kamarku
menjelma menjadi cat-cat yang terkelupas, kemudian rontok
seperti gigi-gigi yang tanggal
karena usia
mengekap rongga telinga yang lelah
masuk melalui pembuluh darah,
menjulur-julur akur
di sepanjang tubuh mimpi
yang tumpah pada sarung bantal
berbahan hujan di luar rumah

Suara-suara itu,
bekas cahaya televisi di malam hari,
juga bangkai musik
yang dibalsemkan dengan aroma panas,
anti--terapi tidur lama

PETAK UMPET

Goa-goa itu menyimpan prahara
yang berisik kecipak air dan
putri duyung asyik mandi
bercanda di batu batu, di sulur sulur
pepohonan sepanjang gelap
merayap--dekap

Sementara cuaca adalah peramal yang ingkar
sebab,
air yang berkecipak
di danau parau itu
terkadang lumer di semenanjung
mulut goa penuh galung galung
yang menyumbat jalur masuk para kelelawar

Tapi, terkadang juga
kecipak kecipak air itu tenggelam
jauh sekali ke dalam
dasar danau yang sehat-tanpa cahaya.

Putri duyung pun selesai mandi
lalu pergi tak pernah kembali

14.8.11

Catatan Menunggu Hujan

Barangkali halte ini
menjadi saksi
Tentang hujan-hujan gulana yang menumpang tindih sepatuku,
membungkus udara dengan air mata yang jatuh banyak sekali,
berkali-kali

Aku pun menunggu hujan ini menjadi bangkai
Hingga bisa kumakamkan
di kuku-kuku jariku yang pucat

dan kau,
akan membawa segenggam bunga
menges dari musim gugur
di kota-kota berparas mode
penuh menara

Menaburnya, di perih parah langit
berbau sangit
berdoa dengan tangan-tangan
kita,yang berpayung di trotoarNya

(2011)

Semacam Puisi Sebentar Saat Menunggu Adzan

Sebentar lagi aku akan ke rumahMu
Meminta sesuatu untuk sepenguguran dosa
yang tumbuh di sepanjang batang-batang
leherku

(2011)

Jangan Pinjami Bukumu!

Kata Gus "Hanya orang bodoh,
yang meminjamkan bukunya."

Sebab, setidaknya kau akan
kehilangan tabungan kata-kata
sementara dalam lipatan-lipatan dahaga
yang menyimpan surga

Lalu,
bagaimana situasi
bagi segelintir mata yang tak punya apa-apa
Bakat baginya hanya meminjam
kepada siapa saja yang punya
aksara berlebih-lebih
berkubah-kubah
bercabang tanpa akar-akar yang patuh gravitasi

Bisa dikatakan,
bukan kebodohan yang dikandangkan
tapi hanya semacam
keberuntungan pemula seperti
menemukan buka kroisan di
pot-pot pinggir garasi tua
milik janda kaya yang harinya sering
ditipu waktu

Bukuku pun akhirnya jatuh
Sebab tak ia jumpai, jari-jari
perawat yang seragamnya wangi
Namu,
seorang setan bernapas kelam
kukunya panjang--hitamhitam

Mungkin ada benarnya kata Gus
yang hidupnya bercermin luka-luka pelajaran
"Hanya orang bodoh, yang meminkamkan bukunya."


2011

12.8.11

Gorden Jendela itu Tak Pernah Tertutup Lagi


(i)
Ada seorang tua
Konon ia perempuan penunggu
Yang terkenal di desanya
Yang tersohor karena setia

Seorang tetangga sewaktu menjenguknya
Bertanya pada desah bola matanya
 “Apa yang kau tunggu di balik gorden jendela yang tak
                pernah tertutup lagi?”

Sepasang mata itu tersenyum
Ingatannya pergi mengulur sulur-sulur rambut
putihnya,
menenun hingga terbentuk bagai kepangan gadis penjual kue
di depan sekolah dasar

sebetulnya, tidak satu pun
peristiwa ia pernah lupa
perempuan itu tajam dalam segala
termasuk,
jumlah lipatan gorden yang ia pelihara
debunya dari pagi sampai malam
sampai pagi lagi

(ii)
Semenjak,
setengah abad yang lalu
lelaki cerutu itu
pergi  membawa sepenggalan hatinya
yang sempit dan sempat
diisi
beberapa kata “Kalau kau masih bersendiri, kelak akan kulamar”


Nafasnya kacaunya lagi
Tersiur hancur
Membingungkan angin yang
Kebetulan lewat di batas antara
Mata dan kaca mata tebalnya

Kaca mata tebalnya itu,
Ia bercerita
Bahwa ia sendiri yang membuatnya
Dari tabungan air mata
Sepanjang hari, bulan, dan windu

Matanya mengucur, seperti kran yang lepas klep-nya
Meluber,
Menumpahkan kerut kelopak
ke dalam bening gelas bening di pangkuannya
Seringkali air minumnya
terasa asin, selalu asin..

(iii)
Pun sejauh pandanganmu, tak ada yang tergesa melepas sandalnya
Memasuki rumah tua yang jika diinjak
lantainya akan berderit
Memilu hati
Memilu burung-burung parkit yang hobi
Bertengger pada paras ranting di beranda-beranda kecewa

Sejauh mata menelusur
Bayangannya jatuh ditimpa oleh tulang-tulang ngilu
bermalu—melulu

Ajal pun menyerah
Nyawanya tak kurang dari setengah
di hadapan jendela yang gordennya tak pernah ditutup lagi

Makan, minum, kencing
Ia babat dengan tatapannya yang lumat menatap

Bahkan sedetik ia tak rela
Pandangnya luput
dari selorong jalan setapak yang batu-batunya habis
mengerus
dan mengurus
penglihatan usia



Jakarta, 2011

11.8.11

SERENADE

: Kepada yang hilang begitu saja

Oh ya, dulu kita pernah bersepakat bahwa kita punya lagu kesukaan
Tapi di balik punggungku yang kelam, diam-diam kamu sibuk membuat nisan
Yang terbuat dari kuku-kuku jarimu yang lenggang

Pada nisan itu, kalimat paling atas tertulis:
Lahir                      ; Tanggal 32 Bulan Janus Tahun Domba
Mati                       ; Tanggal 32,5 Bulan Janus Tahun Domba
Tempat                   ; Sama-sama maya

Bukankah jangka waktu yang terlampau sempit? Jarum jam pun tak muat dikepit
Dan arlojiku pun tertawa kemudian kecewa,
menyaksikan kehidupan yang bersebentar sedemikian sekon telah kamu rencanakan,
berdegup di katub-katub usia malam penuh irama

Aku juga masih ingat segala bentuk petikan suara musikmu yang menderau parau,
yang tiap malam kuserap melalui gendang telinga hingga purnama rela jatuh ke selimut tidurku yang kronis dengan motif garis-garis sinis
Namun sekejap suara itu berhenti di bawah kubur-kubur keramat yang susah payah kamu rawat,
Bersinggungan sekali dengan telingaku yang hampir lumat tersesat

Ingin sekali tidak percaya bahwa kamu telah menggali ingatanku, mengoreknya satu per satu
Kemudian tanpa jejak, do-re-mi itu pun telah tak bernafas lagi
Kamu telah mencuri lubang hidungnya,
Mengambil paru-parunya sebelum sempat kutarik nafas pada birama tiga per lima
Sebelum sempat habis kuhapal lirik-lirik kematian itu
Lalu menyanyikannya di area penuh daun trembesi yang menjulang-julang tinggi

Baru saja ingin kukatakan “Tunggu dulu, Aku punya sesuatu!”

Karena di dalam sakuku, sudah aku siapkan ramuan dari salah satu rusuk yang telah kutumbuk sedemikian rupa, aromanya menggeliat hingga penjaga parkir di istana menciumnya dan meniupkan peluitnya agar jam ini berhenti mengalir seperti air yang mendadak beku

Baru saja ingin kuserahkan padamu sekelumit gingsulku yang mendera-dera, melaporkan bahwa aku baru saja kehilangan gigiku yang paling berharga, tak ada pengaruhnya mungkin untukmu
Tapi masih lebih baik sakit gigi kan daripada sakit hati? Atau sebaliknya?
Entahlah, aku tak paham tentang jenis-jenis rasa sakit, tapi aku tahu rasanya, saat serenade menjelma menjadi udara yang digelung badai pada musim yang tak pernah bisa aku namai

Saat kamu cepat sekali tercebur pada ombak yang menghisap segala apapun yang berwarna tertentu seperti dalam mitos dan dogeng jaman dahulu

Aku menyesal kenapa kamu begitu, kenapa kamu menghilang saat serenade mengiang-ngiang gamang
Atau mungkin aku lupa, serenade itu hanya parade berdurasi nol koma lima waktu di dunia yang berdomisili maya


(di pikiranku sendiri)
Juli 2011

Buku Harian


Aku mendapatimu di buku harianku
Disitu kamu sedang tersedu-sedu
Karena sebentar lagi akan dilupakan, atau terpaksa dilupakan
Bersama gelombang-gelombang resah yang memaksanya untuk tetap bersendiri

Buku harianku tak ingin lagi mencatat apapun, memang
Layaknya jarak yang tak mau berebut waktu dari Tuhan
Di petang-petang gamang, di malam-malam pejam yang cerca karena air mata

Aku pun harus percaya, mungkin
Bahwa ia hanya butuh jeda untuk sekedar mengosongkan lara
Meski jam pasir belum mau mundur
Dan mengeluarkan sepenggalan kepingan jantungmu yang masih terjerembab oleh desir halus dan bergerigi,
            Tak bisa keluar

Aku tahu siapapun dari kita suatu hari harus pulang
Tetapi, buku harian hanyalah buku harian
Ia bersahaja dan jujur,
meski matanya sering lembur,
Meski telinganya rela kabur karena terlalu lama dibuka dan disuruh kerja

Ia lelah, kata dokter ia harus banyak istirah
Tensi darahnya enam puluh
Terlalu sendu untuk ukuran sebuah buku
Suhu badannya di bawah angka satu
Terlalu tinggi untuk suhu sebuah benda mati

Berkelebat bayangan buku itu di cermin, dadanya bergemuruh hebat
Berdetak-detak kencang hingga kancingnya copot satu per satu,
Melonjak-lonjak seperti malam tawar yang berkencan dengan kelelawar

Kenapa?
Apakah kamu telah sekarat di bibirnya yang berkarat?
Atau kamu telah kehilangan peta hingga tersesat di rongganya yang sempurna bulat?
Sesungguhnya ia hanya harus benar istirahat

Mengertilah!
Ia hanya sebuah buku
Tapi, berat aku percaya bahwa sepenggal jantungmu masih juga terjerembab disana, dikepung oleh desir jam pasir yang halus dan gelincir,
            Tak bisa keluar
                        Tak pernah bisa keluar
            Meski suaraku yang kekar telah mendobrak paksa dirinya agar kamu bersegera keluar, membersihkan kelakar gusar yang perlahan mengendapkan rasa sakit yang tersasar

Bagaimanapun, ia hanya sebuah buku harian,
Jangan paksa ia untuk menangis semalaman, sebulanan, atau setahunan
Ia hanya sebuah benda mati yang hatinya pernah suri



(saat tersesat di suatu halaman buku harian)
Agustus 2011

Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...