Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2011

Puisi untuk Pengamen di Hari Minggu

Aku melihatmu di sayup-sayup sesak bus kota
sedang memainkan balada tentang hidup manusia,
di percik lirikmu tersimpan aforisme bahwa manusia jangan menyerah,
separah perangah luka yang timbul muncul terus muncul tak pernah lelah

Saat itu, rasanya kau seperti tahu perasaanku di hari minggu itu,
bahwa hidupku sedang susah dengan cobaan Tuhan yang ber-adhesi dengan runtutan peristiwa akhir-akhir ini
Bahwa minggu lalu kakak perempuanku telah patah kakinya, bahwa dengan begitu terselip ketakutan bahwa ia tidak akan lagi berjalan dengan kakinya
Bahwa, selain itu baru saja, sebelum naik bus ini
aku bertengkar hebat dengan kakakku yang lain tentang masalah yang sangat prinsipil
Bahwa aku yang telah menyakini bahwa sebelumnya aku sangat bahagia
tapi kuanggap pernyataain itu Tuhan telah mematahkannya
degan sangat mudah

Tapi kau, si pengamen itu, bernyanyu dengan senyum bujuk rayu
agar orang-orang yang melihatmu ikut tersenyum juga
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa bisa saja kau punya kesedihan…

Suara-suara yang merusak tidurku

Suatu waktu, entah siang
entah malam
suara-suara itu menipu dinding kamarku
menjelma menjadi cat-cat yang terkelupas, kemudian rontok
seperti gigi-gigi yang tanggal
karena usia
mengekap rongga telinga yang lelah
masuk melalui pembuluh darah,
menjulur-julur akur
di sepanjang tubuh mimpi
yang tumpah pada sarung bantal
berbahan hujan di luar rumah

Suara-suara itu,
bekas cahaya televisi di malam hari,
juga bangkai musik
yang dibalsemkan dengan aroma panas,
anti--terapi tidur lama

PETAK UMPET

Goa-goa itu menyimpan prahara
yang berisik kecipak air dan
putri duyung asyik mandi
bercanda di batu batu, di sulur sulur
pepohonan sepanjang gelap
merayap--dekap

Sementara cuaca adalah peramal yang ingkar
sebab,
air yang berkecipak
di danau parau itu
terkadang lumer di semenanjung
mulut goa penuh galung galung
yang menyumbat jalur masuk para kelelawar

Tapi, terkadang juga
kecipak kecipak air itu tenggelam
jauh sekali ke dalam
dasar danau yang sehat-tanpa cahaya.

Putri duyung pun selesai mandi
lalu pergi tak pernah kembali

Catatan Menunggu Hujan

Barangkali halte ini
menjadi saksi
Tentang hujan-hujan gulana yang menumpang tindih sepatuku,
membungkus udara dengan air mata yang jatuh banyak sekali,
berkali-kali

Aku pun menunggu hujan ini menjadi bangkai
Hingga bisa kumakamkan
di kuku-kuku jariku yang pucat

dan kau,
akan membawa segenggam bunga
menges dari musim gugur
di kota-kota berparas mode
penuh menara

Menaburnya, di perih parah langit
berbau sangit
berdoa dengan tangan-tangan
kita,yang berpayung di trotoarNya

(2011)

Jangan Pinjami Bukumu!

Kata Gus "Hanya orang bodoh,
yang meminjamkan bukunya."

Sebab, setidaknya kau akan
kehilangan tabungan kata-kata
sementara dalam lipatan-lipatan dahaga
yang menyimpan surga

Lalu,
bagaimana situasi
bagi segelintir mata yang tak punya apa-apa
Bakat baginya hanya meminjam
kepada siapa saja yang punya
aksara berlebih-lebih
berkubah-kubah
bercabang tanpa akar-akar yang patuh gravitasi

Bisa dikatakan,
bukan kebodohan yang dikandangkan
tapi hanya semacam
keberuntungan pemula seperti
menemukan buka kroisan di
pot-pot pinggir garasi tua
milik janda kaya yang harinya sering
ditipu waktu

Bukuku pun akhirnya jatuh
Sebab tak ia jumpai, jari-jari
perawat yang seragamnya wangi
Namu,
seorang setan bernapas kelam
kukunya panjang--hitamhitam

Mungkin ada benarnya kata Gus
yang hidupnya bercermin luka-luka pelajaran
"Hanya orang bodoh, yang meminkamkan bukunya."


2011

Gorden Jendela itu Tak Pernah Tertutup Lagi

(i)
Ada seorang tua Konon ia perempuan penunggu Yang terkenal di desanya Yang tersohor karena setia
Seorang tetangga sewaktu menjenguknya Bertanya pada desah bola matanya  “Apa yang kau tunggu di balik gorden jendela yang tak                 pernah tertutup lagi?”
Sepasang mata itu tersenyum Ingatannya pergi mengulur sulur-sulur rambut putihnya, menenun hingga terbentuk bagai kepangan gadis penjual kue di depan sekolah dasar
sebetulnya, tidak satu pun peristiwa ia pernah lupa perempuan itu tajam dalam segala termasuk, jumlah lipatan gorden yang ia pelihara debunya dari pagi sampai malam sampai pagi lagi
(ii)
Semenjak, setengah abad yang lalu lelaki cerutu itu pergi  membawa sepenggalan hatinya yang sempit dan sempat diisi beberapa kata “Kalau kau masih bersendiri, kelak akan kulamar”

Nafasnya kacaunya lagi Tersiur hancur Membingungkan angin yang Kebetulan lewat di batas antara Mata dan kaca mata tebalnya
Kaca mata tebalnya itu, Ia bercerita Bahwa ia sendiri yang membuatnya Dari tabungan air mata Sepanjang hari, bulan,…

SERENADE

: Kepada yang hilang begitu saja
Oh ya, dulu kita pernah bersepakat bahwa kita punya lagu kesukaan Tapi di balik punggungku yang kelam, diam-diam kamu sibuk membuat nisan Yang terbuat dari kuku-kuku jarimu yang lenggang
Pada nisan itu, kalimat paling atas tertulis: Lahir                      ; Tanggal 32 Bulan Janus Tahun Domba Mati                       ; Tanggal 32,5 Bulan Janus Tahun Domba Tempat                   ; Sama-sama maya
Bukankah jangka waktu yang terlampau sempit? Jarum jam pun tak muat dikepit Dan arlojiku pun tertawa kemudian kecewa, menyaksikan kehidupan yang bersebentar sedemikian sekon telah kamu rencanakan, berdegup di katub-katub usia malam penuh irama
Aku juga masih ingat segala bentuk petikan suara musikmu yang menderau parau, yang tiap malam kuserap melalui gendang telinga hingga purnama rela jatuh ke selimut tidurku yang kronis dengan motif garis-garis sinis Namun sekejap suara itu berhenti di bawah kubur-kubur keramat yang susah payah kamu rawat, Bersinggungan sekali den…

Buku Harian

Aku mendapatimu di buku harianku Disitu kamu sedang tersedu-sedu Karena sebentar lagi akan dilupakan, atau terpaksa dilupakan Bersama gelombang-gelombang resah yang memaksanya untuk tetap bersendiri
Buku harianku tak ingin lagi mencatat apapun, memang Layaknya jarak yang tak mau berebut waktu dari Tuhan Di petang-petang gamang, di malam-malam pejam yang cerca karena air mata
Aku pun harus percaya, mungkin Bahwa ia hanya butuh jeda untuk sekedar mengosongkan lara Meski jam pasir belum mau mundur Dan mengeluarkan sepenggalan kepingan jantungmu yang masih terjerembab oleh desir halus dan bergerigi,             Tak bisa keluar
Aku tahu siapapun dari kita suatu hari harus pulang Tetapi, buku harian hanyalah buku harian Ia bersahaja dan jujur, meski matanya sering lembur, Meski telinganya rela kabur karena terlalu lama dibuka dan disuruh kerja
Ia lelah, kata dokter ia harus banyak istirah Tensi darahnya enam puluh Terlalu sendu untuk ukuran sebuah buku Suhu badannya di bawah angka satu Terlalu tinggi untuk su…