30.9.11

Kejadian Puisi

terima kasih sepi
sebab sudah mengajariku membuat puisi
meski puisiku kadang basi
atau kata katanya
sudah kepalang sering ditemukan
di jalanan
di wastafel
di kerah baju
atau
di rak sepatu
tapi sebetulnya -- kata kata itu
sudah melalui perjalanan jauh
berjam jam macet
berpuluh puluh rambu di  kotamu
untuk pada akhirnya
sampai di garis garis tak berdaya itu
mengisi setiap sudut yang ia suka
bermain dengan rima
atau sesekali
berebut tanda tanya
meski tidak tahu apa jawabannya

kata kata itu
mungkinlah cuma sekadar
sekadar pengisi tapi tak sampai penuh
sekadar obat tapi tak sampai sembuh

lalu barangkali
aku membutuhkan lebih banyak
-- kata kata lagi
dan membiarkan mereka,
--kata kata itu
merajut dirinya sendiri
menjadi puisi siap pakai
untuk aku kenakan
pada perayaan sepi
akhir pekan nanti


2011

Karena Kita Satu Paket


di tempat ini - kita sama sama tahu - kita bisa lupa waktu. 

entah karena terlalu asyik ngobrol atau karena terlena dengan sajian yang ditawarkan, meski kita terkadang memilih makanan yang itu-itu saja - sekedar ayam bakar atau es teh manis atau makanan yang terlihat enak di meja teman - yang kita pun ikut ikutan memesan. atau sesekali kita memesan 1 porsi untuk 2 orang, dengan alasan bahwa keuangan di dompet sudah menipis karena telah banyak terpakai untuk membeli remeh temeh kuliah.

bisa juga hanya sekedar 'numpang duduk' karena sudah membawa semacam perbekalan yang sudah disiapkan oleh ibu di rumah. hal-hal seperti inilah yang menimbulkan semacam ritual 'berbagi' yang bisa kita lakukan setiap hari. 

-kita merasa bahagia dengan sendirinya, tanpa tahu alasannya-

tidak ada yang lebih dulu memberi semacam pengakuan dan alasan-alasan tentang persahabatan yang kental ini, kita hanya memiliki kecenderungan pemikiran yang sama dalam memandang hidup. bahwa hidup tidak sepantasnya untuk kita lebih-lebihkan, kita cukup memandanganya sebagai sesuatu yang sederhana, lalu segalanya akan terlihat sempurna. 

seperti halnya membagi cerita lucu - yang kita alami - di perjalanan -atau di rumah masing masing-untuk kita tertawai bersama. kita tidak tahu bagian mana yang lucu - tapi semacam candu - kita bisa tertawa tanpa alasan. karena saya - kita - tahu, kesakitan macam apa pun akan sembuh dengan tertawa.

di tempat ini - kita bisa menjadi diri sendiri sekaligus menjadi orang lain, seperti kebiasaan kita menirukan bagaimana cara teman berjalan-atau gaya berbicara dosen yang menyebalkan. kita bisa menjadi apa saja yang kita mau- tak juga ada yang mengatur, kita akan sama sama mengalah untuk memberikan ceritanya sendiri, atau saya yang tergolong pemalu, mungkin harus dipaksa dulu baru mau bercerita, berbeda lagi, ada juga yang tanpa diminta akan terus-terusan bercerita. tidak masalah, ini dinamika namanya - kata saya sok tahu.

saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya hari hari saya tanpa kalian. 

mungkin saya akan duduk sendirian, 
menghabiskan makanan yang terasa hambar, 
melihat lihat sekeliling, lalu  merasa ada yang kurang, 
ada yang hilang

-tidak bisa mendengarkan ataupun bercerita, tidak juga ada yang ditertawakan atau bahkan sekedar tersenyum - karena kita satu paket - kita tidak dijual terpisah.


2011 

24.9.11

Aku akan pergi sebelas hari dan (tidak) akan sakit

: Ibu

Berapa kecewa lagi yang mesti kau habiskan untuk menungguku pulang?
Masih adakah segala udara yang menemanimu
pada malam malam tidurmu yang tidak teratur
karena jadwal buang air yang terurai tanpa rencana?
Aku merasa bersalah, tapi harusnya kau tahu
Kecewaku tak kalah kecewanya dengan kecewamu
Bahkan aku tak sanggup menahan segala gelisah yang mengendap setiap hari
di mata, hidung, telinga, atau di sarung bantalku yang kesepian

Apakah kau dengar juga? aku mengirim salam pada semangkuk nasi
yang kau makan tadi pagi
Aku mengirim segala bentuk isyarat asal kau tahu
Tapi apakah kau merasa? saat kau bersin
aku menghirup debunya juga
Aku mencium bau mulutmu yang khas
Aku hapal wajahmu yang cemas
Aku ingat setiap gurat ekspresi
di sekujur rautmu yang layur
Aku kenang segala perintah yang mungkin sering aku bantah
Aku mengingatnya, bahkan segunduk resah itu
terkirim juga ke tenggorokanku
lalu tanpa sadar, perlahan menahan molekul molekul mimpi
untuk masuk dan bersarang di bawah alam sadarku yang pintunya jarang aku kunci
untuk sekedar membiarkanmu
atau sengaja memintamu datang mengelus rambutku yang dingin
dan mengatakan bahwa aku akan baik baik saja
sampai aku nanti tiba di rumah


2011
Saat kita berada di tempat yang jauh, namun masih mampu untuk saling mengingat

19.9.11

Perihal Batu

diam diam kau mengamati
mengintai tanpa jeda
tentang segala aktivitas
unggas unggas
rumput ranggas
ombak
lelawa malam
kekhawatiran
segalanya kau catat
pada kulit kulitmu yang diam
--yang dingin
--yang tak pernah terhelus
selimut
hanya bersisik kalut
bekas sisa tadi pagi
yang dibuang oleh tukang roti
sebagai batu yang cemas
maukah kau memberiku nasihat
tentang penat?


2011

11.9.11

Berterimakasihlah kepada Civrac


berterimakasihlah kepada Civrac
yang telah menemukannya
sebab
atas segala usahanya
bisa kau kayuh ketabahan ketabahan itu
lalu bebas
pada segala belenggu

di atasnya
kau bisa membuka punggungmu
menawarkannya pada angin yang tegar
dan mereka
debu-debu itu
berebut tempat
di keningmu yang berkeringat

kau bisa menertawakan
keluh-kesahmu
meninggalkannya
di semenanjak roda roda
yang melindas becekan rasa pedih
hingga terciprat ke badan yang perlahan pulih

pada genggamanmu
kau bisa
menjadi ratu atau raja
yang memegang kendali
bertitah ini itu
hingga mungkin segalanya
bisa saja
tertukar
kanan atau kiri
atau sebaliknya

kau yang mengutus dan memutus
membuang dada sesak yang mengganggu
--lalu
melampiaskannya pada udara
yang berputar di rantai rantai kecewa

pada akhirnya,
kita memang mesti
berterimakasih kepada Civrac


2011

Kepada siapa aku bicara

kepada siapa aku bicara
kepada siapa berulang kali aku mengirim pesan
kepada siapa aku bertanya kabar
bukankah sebetulnya kita tak saling kenal
kita tak saling kenal
kita tak punya ingatan apa-apa
tak punya kenangan apa-apa
karena kita tak saling kenal
karena aku tak tahu siapa engkau
karena aku tak bisa mengenal
karena kau tak bisa mengenal
karena kita tidak saling kenal
karena aku bersendiri
disendirikan waktu
disendirikan cuaca
sebab kita tak punya pertanda
tentang ciri-ciri
sebab aku bersendiri
sejak tadi


2011
saat aku tak jadi menangis dan
tak juga jadi tersenyum

Di rumahMu, apakah aku masih manusia?

Jika petang,
kulit-kulit ini bermetamorfosa
penuh debu bedak
yang berdebur-debur

Usap,
lagi-lagi usap
hingga kenyataan kabur
pada bayang-bayangku 
di bawah lampu jalan temaram
dan palsu diusung gurai-gurai rambut 
yang entah milik siapa

Kadang musuh-musuhmu--atau musuh kita
berhamburan, menangkap gemulai
gelagat naluri kewanitaanku
memenjarakannya bersama hawa nafsu
yang dibungkus wajah-wajah sok suci itu

Padahal,
diam-diam kau pun
memandang tak sabar
payudara subur buatanku

Padahal, 
siapa sangka,
kita punya dosa yang sama-sama besar
sama-sama tumbuh/bertambah
setiap harinya
tanpa kita tahu
kita masih manusia atau bukan

Lalu aku pulang, dengan disembronokan
dengan cerca 
sekaligus
desah mereka

Akupun tak tahu,
sebenarnya aku masih manusia 
atau bukan

Tapi, di rumahmu
Apakah aku masih diterima?
menjadi manusia (entah dalam bentuk lakilaki atau perempuan) seutuhnya?


2011
Untuk ia manusia ambigu, yang kulihat di pelataran masjid Istiqlal

Cahaya lampu jalan yang jatuh ke wajahmu

Malam bagiku adalah sebuah catatan
tentang lampu-lampu jalan
yang cahayanya jatuh tepat ke wajahmu

Disana bisa kutuliskan apa saja
karena nyalanya yang lebih terang
dari gerhana matahari di pertengahan september

Jelas sekali, satu kerut kelopakmu
menyimpan beribu nebula
saling silau menyilau
antara harapan dan kenangan

Di bawah cahaya lampu itu,
wajahmu adalah kiblat kunang-kunang
yang tak tahan bahagia
memporakporandakan air mata 
peramal jahanam
yang berjatuhan di selokan dendam

Aku, kemudian
adalah salah satu
kunang-kunang itu
yang bergerumul menciumi sayu-sayu wajahmu

Aku, kemudian
adalah kunang-kunang yang tak mau pergi
demi mencatat tubir-tubir mungil
di seputar bibir surga

Sampai,
cahaya lampu jalan menjelma tai lalat yang 
tidak terlihat di wajah dewi matahari


2011

Puisi untuk tukang las di depan rumahku


Percik-percik itu kau namakan sebagai
sesuap nasi
yang menambal lubang pada
usus anak istrimu

Kadang kau pun tak ingin memikirkan
tentang ketakutanmu bahwa bisa saja
percik itu melahap salah satu
atau
kedua penglihatanmu

atau suatu hari,
percik itu bisa saja menjelma
menjadi luka bakar yang bekasnya terus ada--menjadi tatto kekal

tapi setidaknya,
ada satu hal yang dapat menghiburmu
tentang apa yang kau kerjakan
dan itu adalah suatu hal yang sangat membanggakan
yaitu,
ketika istrimu menyapa di pagi hari,
mencium punggung tanganmu,
berdiri di ambang pintu sambil berbisik
"Bapak ganteng sekali dengan kacamata hitam itu."

Lalu, sepanjang hari kau tersenyum-senyum sendiri
menikmati percik-percik itu dengan sarung tanganmu
yang tebal terisi oleh kenangan-kenangan saat
kau menerima gaji pertama
yang seluruhnya kau berikan
pada istrimu
yang setia menunggumu pulang
di beranda rumah

Kau mulai mengganggap bahwa itu adalah pekerjaan paling keren
karena beribu kecepatan cahaya mengiringi
tubuh hitammu
yang sering dibakar suhu


Kemudian, ketika kau pulang ke rumah,
seplastik matahari sudah ada di genggamanmu,
dengan porsi dua orang yang telah kau sulap
menjadi porsi empat orang

Anak istrimu tertawa girang

Kau juga,
panasnya bara di tubuhmu hilang seketika--
tak pernah kau coba rasa-rasa


2011

Pembatas Buku


ini hidupku, yang kutemukan di antara lipatan-lipatan buku
di dalamnya aku punya dunia labirin yang aku
tidak akan pernah tersesat di segala liku
aku punya peta dengan segala macam tanda yang aku cipta

aku penyendiri yang hidupnya hanya sebatas lipatan dan halaman


2011

Aku tidak pernah melihat kau menangis





Aku lihat perempuan tua berkulit hitam keriput,
punggungnya bungkuk,
nafasnya sengal
rambut putihnya tertutup sebagian caping
Ia bekerja di usia tinggi
dengan pendapatan rendah

Perempuan itu tidak pernah 
minta diperhatikan
bahkan oleh orang nomor satu
yang pernah berjanji padanya
akan membawa
hidup yang lebih baik
di samping lemari beranda tidur
di selipan kutang usangnya
di bakul-bakul nasi yang penuh kutu

Aku tak melihat engkau menagih janji
Aku melihat kau semakin giat sepanjang hari

Aku tak melihat kau mengeluh
Padahal sawahmu sudah banjir oleh peluh

Aku tak melihat ada air mata di matamu yang sendu
Apakah kau tidak bisa menangis?
Atau kau menderita alakrima?
Atau semuanya terlampau menyakitkan
untuk kau teriakkan dengan 
suaramu yang tinggal sebagian?


2011

Bintang Pulsar

Malam ini kau bersepeda lagi
Aku sering mengintipmu dari balik jendelaku
Kau pun sering memperhatikanku, aku malu
makanya aku tak keluar pintu

Kau menengadah langit
seperti ritual kunountuk nenek moyang
menyanyikan nyanyi-nyanyian yang baru kau hapal sebagian
selalu, setiap malam

Di matamu, aku lihat diriku
sebagai secarik nyala yang diam
yang tak pernah berangkat
hanya mencatat kedatangan dan kepergian
yang aku tunggu steiap habis tarawih

tapi, tunggu..
Siapa yang kau suka?
Karena ketika esok kau kembali, tapi kau tidak melihatku
sama sekali
Kau melihat yang lain
dengan tatapan mesra seperti kau menatapku dulu
dengan iringan suara sadel sepeda

Hei, aku memang serupa!
Tapi tidakbisakah kau bedakan
Akulah bintang pulsar yang selalu
berada tepat di atas genting rumahmu
Aku yang pernah kau doakan sehabis tarawih, witir, dan sahur
untuk tak pernah terhambur
dan mati terkesiur

Meski akhirnya, aku seperi apa
yang paling kau takutkan dalam doamu
Mungkin karena itu,
kau tidak lagi menatapku syahdu

Karena aku bintang pulsar
yang telah mati tersasar
dalam pusar pasar malam penuh kelakar


2011
Saat bersepeda malam-malam

8.9.11

Kepada Sarkus

Matamu penuh nafsu
di selasar kayu-kayu melintang

Sarkus, kenalkah kau pada dosa?
Jika kenal, malaikat pasti susah sekali menjumlahnya

Dosa-dosa itu apa kau rasakan juga?
Pada segunduk ilalang di ranjang, dimana telah kau lupakan istrimu
Kau lupa, yang melupakan, akan lama terlupa

Ialah Jutakrama, yang begitu tabah
pada dosa-dosa yang kau lahap tanpa istirahat
Ialah Jutakrama tanpa roman picisan semata

Sarkus, melihatlah tanpa nafsu
di mata Jutakrama, tersimpan jantungmu


kampung halaman,
2011

Kepada Jatukrama

Buat apa kau begitu tabah?
Pada gulma-gulma yang diperebutkan Sarkus
Sarkus mengunyahnya tanpa ampun
di hadapanmu yang bermata sayu

Kenapa betina selalu mengalah pada jantannya?
Padahal lidahmu bisa mengeluarkan
deritan lebih panjang
di malam-malam yang bintangnya berantakan

Di kakimu, aku yakin
kau punyasimpanan lahar panas
hingga Sarkus bisa saja kau perdaya
di tumpukan kotoran cairnya

Jutakrama, aku ingin kau
khususnya rahimmu, bisa menyala
lebih terang dari galaksi-galasi
yang berputar di ujung tanduk Sarkus


Kampung halaman,
2011

Kwatrin Laut

Di laut itu, kau pancing ikan
dengan rambut ibumu
Ikan tak pernah kau dapat
Ibumu sudah hampir botak

Di rumah, ibumu menenun rambut baru
dengan batang-batang hujan
yang bunyinya curam
menimpuki genting-genting dendam

Sudah begini, apa arti penyesalan?
Ikan-ikan sudah mati dengan bom bunuh diri
Yang dirakit bunga-bunga lili
berbau kesturi

Ibu pun pernah bilang "Laut itu penipu!"
Seperti kelamin semar yang ambigu
Sebelah jantan, sebelah lagi ayu
Sedang laut, kadang bengis kadang lugu

Di laut itu kau pancing ikan
dengan rambut ibumu
Ikan tak pernah kau dapat
Ibumu sudah hampir botak


Sokka, 2011

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...