Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2011

Kejadian Puisi

terima kasih sepi sebab sudah mengajariku membuat puisi meski puisiku kadang basi atau kata katanya sudah kepalang sering ditemukan di jalanan di wastafel di kerah baju atau di rak sepatu tapi sebetulnya -- kata kata itu sudah melalui perjalanan jauh berjam jam macet berpuluh puluh rambu di  kotamu untuk pada akhirnya sampai di garis garis tak berdaya itu mengisi setiap sudut yang ia suka bermain dengan rima atau sesekali berebut tanda tanya meski tidak tahu apa jawabannya
kata kata itu mungkinlah cuma sekadar sekadar pengisi tapi tak sampai penuh sekadar obat tapi tak sampai sembuh
lalu barangkali aku membutuhkan lebih banyak -- kata kata lagi dan membiarkan mereka, --kata kata itu merajut dirinya sendiri menjadi puisi siap pakai untuk aku kenakan pada perayaan sepi akhir pekan nanti

2011

Karena Kita Satu Paket

di tempat ini - kita sama sama tahu - kita bisa lupa waktu. 

entah karena terlalu asyik ngobrol atau karena terlena dengan sajian yang ditawarkan, meski kita terkadang memilih makanan yang itu-itu saja - sekedar ayam bakar atau es teh manis atau makanan yang terlihat enak di meja teman - yang kita pun ikut ikutan memesan. atau sesekali kita memesan 1 porsi untuk 2 orang, dengan alasan bahwa keuangan di dompet sudah menipis karena telah banyak terpakai untuk membeli remeh temeh kuliah.

bisa juga hanya sekedar 'numpang duduk' karena sudah membawa semacam perbekalan yang sudah disiapkan oleh ibu di rumah. hal-hal seperti inilah yang menimbulkan semacam ritual 'berbagi' yang bisa kita lakukan setiap hari. 
-kita merasa bahagia dengan sendirinya, tanpa tahu alasannya-

tidak ada yang lebih dulu memberi semacam pengakuan dan alasan-alasan tentang persahabatan yang kental ini, kita hanya memiliki kecenderungan pemikiran yang sama dalam memandang hidup. bahwa hidup tidak sepantasn…

Aku akan pergi sebelas hari dan (tidak) akan sakit

: Ibu

Berapa kecewa lagi yang mesti kau habiskan untuk menungguku pulang?
Masih adakah segala udara yang menemanimu
pada malam malam tidurmu yang tidak teratur
karena jadwal buang air yang terurai tanpa rencana?
Aku merasa bersalah, tapi harusnya kau tahu
Kecewaku tak kalah kecewanya dengan kecewamu
Bahkan aku tak sanggup menahan segala gelisah yang mengendap setiap hari
di mata, hidung, telinga, atau di sarung bantalku yang kesepian

Apakah kau dengar juga? aku mengirim salam pada semangkuk nasi
yang kau makan tadi pagi
Aku mengirim segala bentuk isyarat asal kau tahu
Tapi apakah kau merasa? saat kau bersin
aku menghirup debunya juga
Aku mencium bau mulutmu yang khas
Aku hapal wajahmu yang cemas
Aku ingat setiap gurat ekspresi
di sekujur rautmu yang layur
Aku kenang segala perintah yang mungkin sering aku bantah
Aku mengingatnya, bahkan segunduk resah itu
terkirim juga ke tenggorokanku
lalu tanpa sadar, perlahan menahan molekul molekul mimpi
untuk masuk dan bersarang di bawah alam s…

Perihal Batu

diam diam kau mengamati
mengintai tanpa jeda
tentang segala aktivitas
unggas unggas
rumput ranggas
ombak
lelawa malam
kekhawatiran
segalanya kau catat
pada kulit kulitmu yang diam
--yang dingin
--yang tak pernah terhelus
selimut
hanya bersisik kalut
bekas sisa tadi pagi
yang dibuang oleh tukang roti
sebagai batu yang cemas
maukah kau memberiku nasihat
tentang penat?


2011

Berterimakasihlah kepada Civrac

berterimakasihlah kepada Civrac yang telah menemukannya sebab atas segala usahanya bisa kau kayuh ketabahan ketabahan itu lalu bebas pada segala belenggu
di atasnya kau bisa membuka punggungmu menawarkannya pada angin yang tegar dan mereka debu-debu itu berebut tempat di keningmu yang berkeringat
kau bisa menertawakan keluh-kesahmu meninggalkannya di semenanjak roda roda yang melindas becekan rasa pedih hingga terciprat ke badan yang perlahan pulih
pada genggamanmu kau bisa menjadi ratu atau raja yang memegang kendali bertitah ini itu hingga mungkin segalanya bisa saja tertukar kanan atau kiri atau sebaliknya
kau yang mengutus dan memutus membuang dada sesak yang mengganggu --lalu melampiaskannya pada udara yang berputar di rantai rantai kecewa
pada akhirnya, kita memang mesti berterimakasih kepada Civrac

2011

Kepada siapa aku bicara

kepada siapa aku bicara kepada siapa berulang kali aku mengirim pesan kepada siapa aku bertanya kabar bukankah sebetulnya kita tak saling kenal kita tak saling kenal kita tak punya ingatan apa-apa tak punya kenangan apa-apa karena kita tak saling kenal karena aku tak tahu siapa engkau karena aku tak bisa mengenal karena kau tak bisa mengenal karena kita tidak saling kenal karena aku bersendiri disendirikan waktu disendirikan cuaca sebab kita tak punya pertanda tentang ciri-ciri sebab aku bersendiri sejak tadi

2011 saat aku tak jadi menangis dan tak juga jadi tersenyum

Di rumahMu, apakah aku masih manusia?

Jika petang, kulit-kulit ini bermetamorfosa penuh debu bedak yang berdebur-debur
Usap, lagi-lagi usap hingga kenyataan kabur pada bayang-bayangku  di bawah lampu jalan temaram dan palsu diusung gurai-gurai rambut  yang entah milik siapa
Kadang musuh-musuhmu--atau musuh kita berhamburan, menangkap gemulai gelagat naluri kewanitaanku memenjarakannya bersama hawa nafsu yang dibungkus wajah-wajah sok suci itu
Padahal, diam-diam kau pun memandang tak sabar payudara subur buatanku
Padahal,  siapa sangka, kita punya dosa yang sama-sama besar sama-sama tumbuh/bertambah setiap harinya tanpa kita tahu kita masih manusia atau bukan
Lalu aku pulang, dengan disembronokan dengan cerca  sekaligus desah mereka
Akupun tak tahu, sebenarnya aku masih manusia  atau bukan
Tapi, di rumahmu Apakah aku masih diterima? menjadi manusia (entah dalam bentuk lakilaki atau perempuan) seutuhnya?

2011 Untuk ia manusia ambigu, yang kulihat di pelataran masjid Istiqlal

Cahaya lampu jalan yang jatuh ke wajahmu

Malam bagiku adalah sebuah catatan tentang lampu-lampu jalan yang cahayanya jatuh tepat ke wajahmu
Disana bisa kutuliskan apa saja karena nyalanya yang lebih terang dari gerhana matahari di pertengahan september
Jelas sekali, satu kerut kelopakmu menyimpan beribu nebula saling silau menyilau antara harapan dan kenangan
Di bawah cahaya lampu itu, wajahmu adalah kiblat kunang-kunang yang tak tahan bahagia memporakporandakan air mata  peramal jahanam yang berjatuhan di selokan dendam
Aku, kemudian adalah salah satu kunang-kunang itu yang bergerumul menciumi sayu-sayu wajahmu
Aku, kemudian adalah kunang-kunang yang tak mau pergi demi mencatat tubir-tubir mungil di seputar bibir surga
Sampai, cahaya lampu jalan menjelma tai lalat yang  tidak terlihat di wajah dewi matahari

2011

Puisi untuk tukang las di depan rumahku

Percik-percik itu kau namakan sebagai sesuap nasi yang menambal lubang pada usus anak istrimu
Kadang kau pun tak ingin memikirkan tentang ketakutanmu bahwa bisa saja percik itu melahap salah satu atau kedua penglihatanmu
atau suatu hari, percik itu bisa saja menjelma menjadi luka bakar yang bekasnya terus ada--menjadi tatto kekal
tapi setidaknya, ada satu hal yang dapat menghiburmu tentang apa yang kau kerjakan dan itu adalah suatu hal yang sangat membanggakan yaitu, ketika istrimu menyapa di pagi hari, mencium punggung tanganmu, berdiri di ambang pintu sambil berbisik "Bapak ganteng sekali dengan kacamata hitam itu."
Lalu, sepanjang hari kau tersenyum-senyum sendiri menikmati percik-percik itu dengan sarung tanganmu yang tebal terisi oleh kenangan-kenangan saat kau menerima gaji pertama yang seluruhnya kau berikan pada istrimu yang setia menunggumu pulang di beranda rumah
Kau mulai mengganggap bahwa itu adalah pekerjaan paling keren karena beribu kecepatan cahaya mengiringi tubuh hitammu yang sering dibak…

Pembatas Buku

ini hidupku, yang kutemukan di antara lipatan-lipatan buku di dalamnya aku punya dunia labirin yang aku tidak akan pernah tersesat di segala liku aku punya peta dengan segala macam tanda yang aku cipta
aku penyendiri yang hidupnya hanya sebatas lipatan dan halaman

2011

Aku tidak pernah melihat kau menangis

Aku lihat perempuan tua berkulit hitam keriput, punggungnya bungkuk, nafasnya sengal rambut putihnya tertutup sebagian caping Ia bekerja di usia tinggi dengan pendapatan rendah
Perempuan itu tidak pernah  minta diperhatikan bahkan oleh orang nomor satu yang pernah berjanji padanya akan membawa hidup yang lebih baik di samping lemari beranda tidur di selipan kutang usangnya di bakul-bakul nasi yang penuh kutu
Aku tak melihat engkau menagih janji Aku melihat kau semakin giat sepanjang hari
Aku tak melihat kau mengeluh Padahal sawahmu sudah banjir oleh peluh
Aku tak melihat ada air mata di matamu yang sendu Apakah kau tidak bisa menangis? Atau kau menderita alakrima? Atau semuanya terlampau menyakitkan untuk kau teriakkan dengan  suaramu yang tinggal sebagian?

2011

Bintang Pulsar

Malam ini kau bersepeda lagi Aku sering mengintipmu dari balik jendelaku Kau pun sering memperhatikanku, aku malu makanya aku tak keluar pintu
Kau menengadah langit seperti ritual kunountuk nenek moyang menyanyikan nyanyi-nyanyian yang baru kau hapal sebagian selalu, setiap malam
Di matamu, aku lihat diriku sebagai secarik nyala yang diam yang tak pernah berangkat hanya mencatat kedatangan dan kepergian yang aku tunggu steiap habis tarawih
tapi, tunggu.. Siapa yang kau suka? Karena ketika esok kau kembali, tapi kau tidak melihatku sama sekali Kau melihat yang lain dengan tatapan mesra seperti kau menatapku dulu dengan iringan suara sadel sepeda
Hei, aku memang serupa! Tapi tidakbisakah kau bedakan Akulah bintang pulsar yang selalu berada tepat di atas genting rumahmu Aku yang pernah kau doakan sehabis tarawih, witir, dan sahur untuk tak pernah terhambur dan mati terkesiur
Meski akhirnya, aku seperi apa yang paling kau takutkan dalam doamu Mungkin karena itu, kau tidak lagi menatapku syahdu
Karena aku bintang pulsar …

Kepada Sarkus

Matamu penuh nafsu
di selasar kayu-kayu melintang

Sarkus, kenalkah kau pada dosa?
Jika kenal, malaikat pasti susah sekali menjumlahnya

Dosa-dosa itu apa kau rasakan juga?
Pada segunduk ilalang di ranjang, dimana telah kau lupakan istrimu
Kau lupa, yang melupakan, akan lama terlupa

Ialah Jutakrama, yang begitu tabah
pada dosa-dosa yang kau lahap tanpa istirahat
Ialah Jutakrama tanpa roman picisan semata

Sarkus, melihatlah tanpa nafsu
di mata Jutakrama, tersimpan jantungmu


kampung halaman,
2011

Kepada Jatukrama

Buat apa kau begitu tabah?
Pada gulma-gulma yang diperebutkan Sarkus
Sarkus mengunyahnya tanpa ampun
di hadapanmu yang bermata sayu

Kenapa betina selalu mengalah pada jantannya?
Padahal lidahmu bisa mengeluarkan
deritan lebih panjang
di malam-malam yang bintangnya berantakan

Di kakimu, aku yakin
kau punyasimpanan lahar panas
hingga Sarkus bisa saja kau perdaya
di tumpukan kotoran cairnya

Jutakrama, aku ingin kau
khususnya rahimmu, bisa menyala
lebih terang dari galaksi-galasi
yang berputar di ujung tanduk Sarkus


Kampung halaman,
2011

Kwatrin Laut

Di laut itu, kau pancing ikan
dengan rambut ibumu
Ikan tak pernah kau dapat
Ibumu sudah hampir botak

Di rumah, ibumu menenun rambut baru
dengan batang-batang hujan
yang bunyinya curam
menimpuki genting-genting dendam

Sudah begini, apa arti penyesalan?
Ikan-ikan sudah mati dengan bom bunuh diri
Yang dirakit bunga-bunga lili
berbau kesturi

Ibu pun pernah bilang "Laut itu penipu!"
Seperti kelamin semar yang ambigu
Sebelah jantan, sebelah lagi ayu
Sedang laut, kadang bengis kadang lugu

Di laut itu kau pancing ikan
dengan rambut ibumu
Ikan tak pernah kau dapat
Ibumu sudah hampir botak


Sokka, 2011