26.11.11

Suatu Hari Ketika Yunus Pergi


Suatu hari ketika Yunus pergi,
Ia membawa segenggam jantungnya
Kepada Ninawa (bangsa yang dimaksudkan Tuhan sebagai pelupa)
Mungkin begini juga perihal kita semula-pelupa
                                   
Kebenaran bukanlah muslihat atau sekedar mantra
Yang diucapkan secara sembarang
Hingga mereka menutup segala pintu bagi Yunus
Yang rela menunjukkan jalan Tuhan yang lurus

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya, dan Dia-lah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesarannya kepada orang-orang yang mengetahui.” (Yunus : 5)

Namun sewaktu itu,
Sewaktu waktu yang sudah sangat dulu
Yunus mungkin geram,
Karena Ninawa menolak segala kata dan jiwa
Yunus dari sana
Padahal Tuhan merencanakan apa
Yang mereka tidak ketahui
Dan segala takdir
Sesungguhnya telah benar-benar dituliskan

“Maka mereka tidak menunggu-nunggu kecuali kejadian-kejadian yang sama dengan kejadian-kejadian yang menimpa orang-orang terdahulu sebelum mereka. Katakanlah, maka tunggulah, aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu.”(Yunus : 102)
  
Mungkin disebut juga, lelah
Dan pada akhirnya Yunus pun pergi
Ke sebuah lembah, berbagai bukit, dan pohon-pohon
Yang sepanjang jalan mengikuti dirinya
Memperbincangkan dirinya
Sebagai utusan yang menyerah,
Ia lalu berlayar dan sayang kapal tak muat angkutan
Kemudian dilemparkannya ke sebuah lautan
yang menerima dirinya secara lapang

Di lain hal,
Ninawa telah sujud dengan sendirinya
Tentunya atas kehendak Si Penguasa
Di lain hal pula, mereka mencari seseorang yang di
Kejadian sebelumnya telah mereka  hina sebagai makhluk
Pembawa dusta

Pesan belum benar-benar disampaikan, dan hal ini
Adalah lubang tumbuhnya murka
Sebagai penanda, Si Penyayang membuat semacam hukuman
Atau serupa teguran bahwa semestinya
Apa yang telah dikatakanNya menjadi ladang baginya,
Namun waktu telah terlambat
Dan seekor paus telah dititah agar Yunus
Masuk ke dalam perutnya

Merasa keterasingan yang begitu hitam,
Yunus berdoa sepanjang malam
Sepanjang nafasnya masih berjalan di lubang-lubang hidupnya
Berpuasa karena tak satupun tersedia sebagai penahan
Membuka dan menutupnya dengan kalimat Tuhan
Yang Mulia,
Sekonyong seluruh penduduk laut akhirnya ikut merasa
Menggumul paus dan ia tersadar bahwa
 apa yang telah ia telan beberapa waktu lalu
Bukan pula seorang manusia yang biasa

Dimuntahkanlah Yunus ke daratan dan
Tumbuh bersamanya pohon labu yang segera membesar
Disyukurinya berkah tak terhingga,  lalu
Ninawa kembali kepada Yunus yang dulu
Sempat mereka tak bukakan pintu

“ Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik.” (Yunus : 109)


(2011)

Nah, Nietzsche


Ia sentuh ubun-ubun engkau dengan kecup embun, menuntun aku tentang tabiat Kasih dan Kasihan. Ia belum mati, Ia belum mati. Puan Kasih! Kasihkan!
Bahkan bila ia berkenan, aku mohon nabi perempuan: Ia utus kau padaku, satu-satunya pembenarmu.
Kekal cium pada engkau, Puan, di punggung lengan.
-Hasan Aspahani-


 

Harusnya kau bisa hidup lebih lama,
Untuk sekadar mengobati luka
Dan mungkin setelah itu
Kau akan mendapati seekor bulan yang
Mampu memberimu keterangan
Tentang semesta
Yang tidak tunggal dengan sendirinya
Namun segala yang berada mempunyai
Asal-usul. Mempunyai ‘ada’ yang kau namai dengan gamang
Sebagai sebuah ketiadaan yang kekal

Sewaktu kau belum tua, atau wajahmu
Masih segar dan kemerahan
Kau pernah hampir menyelamatkan dirimu dan
Mengurungkan diri untuk berbelasungkawa
Atas ketiadaan itu:
Ingin kukenali Kau, wahai Yang Tak Dikenal,
Yang cengkerami pusat jiwaku, yang lintasi hidupku bagai badai,..” (Nietzsche, 1864)

Di dasar jiwamu, percikan atas ke’ada’an yang menjadikanmu ‘ada’
Telah tumbuh namun tak sempat kau suburkan
Atau kau sirami dengan lembut
Yang mengalir di sepanjang sum-sum

Namun apakah kesepian itu, lalu pesimis kau pikir
Tidak ada yang bisa memperbaiki segala ini
Dan semua isi telah rusak sebagaimana mestinya

Masih kau rasakan jerat-jerat itu memerosokkanmu
Dan berbagai ucap lain kau tolak dengan keberdayaan itu
Ada yang kau lupa, barangkali
Bagaimana kebaikan bisa muncul kapan saja
Dan hal-hal itu
Termasuk bulan-bulan purnama itu
Yang pernah menampikmu
Bukankah mereka menyesal jika mendapatimu
Telah lebih sehat dari biasanya
Dan kau tidak perlu berusaha mati , seperti yang kau ucap pada suatu masa:
Saya putus asa, tak tahu cara untuk meneruskan hidup seperti ini.
Nanti malam saya akan minum opium, supaya hilang akal saya..” (Nietzsche, 1882)

Namun aku sangat percaya pada nyala matamu,
Yang bahkan belum pernah kutemui
Kau-lah keagungan yang tulus mencari Tuhan
Namun tak sempat menemukanNya
Dan takdir sepenuhnya kau cintai
Dengan kesendirian-kesendirian seperti dalam puisimu:
Kesendirian ketujuh!
Tak pernah kurasa
Sedekat ini manis kepastian
Sehangat ini tatap mentari:
-bukankah es di puncakku masih membara?
Keperakan, ringan, bagai ikan
Perahuku kini bertolak..” (Nietzsche, Amor fati)

Aku sungguh mencintaimu sebagai cinta yang mandiri
Sekaligus kasihan sebagai kau yang tak pernah mengenal Kasih.



(2011)

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...