Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2011

Beberapa Hal Tentang Bapak

1.Seorang lelaki, lumayan tua dan sehat, kisahnya ia tak pernah sekalipun merokok seumur hidupnya.
2.Ia selalu banyak bercerita ketika naik motor, ketika di perjalanan, ketika melewati kali, pepohonan yang diam, rumah-rumah toko. Obrolannya datar saja; tentang cucunya yang tidur siangnya pulas, tentang keberkahan pernikahan tetangga yang menyusahkan karena menutup jalan, atau tentang dirinya yang sering bersin ketika shalat berjamaah di masjid.
3.Ia rendah hati, ramah, setiap orang yang ia temui disapanya. Mungkin sewaktu muda, ia banyak yang naksir, siapa yang tidak suka dengan orang yang ramah. Saya pun kadang naksir dengannya.
4.Hobinya mengisi teka-teki silang. Jika ada kotak yang belum terisi, ia bisa penasaran setengah mati.

5.Ia pintar bermain harmonika, tapi sekarang sudah tidak pernah bermain lagi. “Nafas bapak sudah tidak sekuat dan sepanjang dulu.” Katanya sedikit terengah ketika mengembalikan harmonika yang  saya belikan untuknya. Memang agak  kecewa mendengarnya.
6.Rajin sekal…

Penyair di Java House

barangkali kita memang butuh kejenuhan untuk sesekali kita ciumi aromanya di sebaris kopi atau secangkir puisi  atau kita bisa bergegas ke Java House, kudengar disana banyak penyair berbau nyinyir, menamai kejenuhannya dengan mengadopsi kosakata dari alam semesta atau luar angkasa
mereka, mereka itu tahu benar cara menyirap kata menjadi kekasihnya. seperti muslihat, penyair dan kata berpelukan tanpa lengan berdekapan bagai angan. bercampur dengan sepaket airmata, rasa sesal, atau segala riuh rendah perih. mereka, mereka itu, si penyair yang memakai kata sebagai paru-paru, agar bebas dari tahanan hidup kemudian bertahan hidup.
"Aku tidak bisa mati tanpamu, maka hiduplah bersamaku." Lirih si penyair suatu ketika  kepada kata. katakata bertekuk lutut. namun, sebuah tanda baca atau semacam tanda tanya melarang hubungan mereka, dengan sebuah duga bahwa puisi tidak akan melahirkan apa-apa selain duka. namun, selalu ada sebuah ingin dalam seputar labirin.  mereka, kata dan penyair kawin lari waktu, …

di lantai ini, di komedi putar ini

akan ada saat dimana kita samasama sadar, bahwa
darah kita terlalu segar--untuk kita nikmati
sembari makan biskuit atau mengisi teka teki silang

kita lupakan sebentar, bahwa kita menderita. teramat menderita.
karena kita masih punya semacam kesempatan untuk menukarkan
darah kita ke tukang-tukang donor di pinggir jalan
barangkali mereka menyimpan darah yang tak kalah segarnya

atau kita mencampurnya sedikit dengan gerimis,
agar aromanya tidak terlampau amis. dan
bim sala bim! segala telah serupa magis

kita tak perlu menangis
kita tak perlu menangis
hai koran pagi atau berita metro tv! kita tak usah
menangis. kita bisa menghibur diri dengan
pergi ke pasar malam, naik komedi putar,
mengamati si penjaja jagung bakar tampak atas
ia juga tak menangis, namun memang
dari jari-jarinya yang tua telah terkucur darah tak habis-habisnya
jatuh di pelukan rerumputan, yang meninggi, tetiba meninggi

di lantai ini, di komedi putar ini
lantainya basah, matanya marah, darah kita akhirnya mengalir juga
tap…

Sengketa di Mesuji

ini kali telah habis nafas kami
dicucuki hidung kami di tanah sendiri
dipecut nadi kami dan kau semburkan juga
darah kami pada istri anak kami

hidup kami sudah terlampau sakit
janganlah kau dan lembar-lembar itu
kau paksa untuk membungkus jenazah kami

kompor, kasur, atau tikar bambu
tak punya tempat
tak punya alamat barang untuk bersedekap
atau berselonjor atau bertelentang

seandainya kita punya
maukah kau membela kami juga?

ini kali kita cuma minta keadilan
keadilan yang barangkali telah kau rubah namanya?


2011

Planetarium

pukul 16: 43. lampu lampu padam, kursi kursi berjatuhan bersama punggung-punggung yang lurus. dan ia menyala! ia menyala!
makhluk bulat bentol-bentol itu yang berperan sebagai raja melotot ke langit lengkung. menaburkannya dengan airmata bewarna keperakan, serupa titik-titik yang bisa disulap menjadi apa saja: dewi padi, pegasus, timbangan, atau barangkali manusia air. ah itu hanya permainan orang yunani kuno. lupakan dulu tentang mereka, lalu belajarlah tentang hawa dingin yang bisa mematikanmu jika kau menginjak salah satu dari mereka yang cahayanya amat meneduhkan.
tengoklah ke arah timur, dapat kau temukan di ufuk rajawali telah menyebarkan radiasi kekuningan itu. pada pukul tujuh mungkin kau akan kehangatan, tapi jangan sesekali mencelupkan jarimu saat tepat ada di ujung rambutmu.
kau lupa, bahwa kau telah mempunyai sembilan tetangga yang sama bulatnya namun beda suhunya. begitupun mungkin bentuknya. barangkali ada satu tetangga kita yang orang kaya, ia memakai perhiasan dan pakaian…

Dhuha'

tidak terlalu pagi tidak terlalu siang
lalu tunaikanlah barang 2 atau 4 rakaat lalu di surga, kau sudah membeli istana


2011

Doa Akhir Tahun

Dengan menyebut nama sajakmu yang maharindu dan mahasendu
sayup-sayup kalender berkata bahwa ia telah hampir habis masa kadaluwarsanya, namun kudengar sajakmu masih belum khatam juga, setia menunggu semacam titik atau koma untuk menamatkan bagian terakhirnya
lalu pertanda apa lagi yang kau dustakan? sementara kau, si penyair telah ribut bertitah "barangsiapa yang menuju sajakku di rintik-rintik hujan yang patah atau kilau matahari yang parah, maka akan kutempatkan namanya dalam nisanku dengan huruf merah jambu."
ombak, embun, atau waktu telah ikut berembuk di kepala penyair, menerobos dindingnya yang kelam bagai batu, mengetuk bahkan mendobrak agar apa saja bisa keluar dari sana. namun yang kau dapati, hanyalah sekelompok serangga yang berhamburan dari matamu, sembari bersenandung tentang teduhnya bulan desember mereka menggotong-gotong pupil, retina, dan kornea, berserapah bahwa kau akan berjalan doyong dengan kebutaan itu. namun sayang, kau tetap bersikeras menulis dengan den…

Hujan di Bendungan Hilir

sudah reda, namun kau tetap membawa hujan kemana-mana di dalam sakumu, menyimpannya, memberi nama, agar suatu hari, entah esok atau lusa kau bisa melahirkannya, melahirkan hujan di matamu yang kecoklatan, dan menamatkan seonggok buku-buku pelajaran yang melesakkan aritmatika dan beribu logaritma.
namun, si pemain ski itu tetap meluncur pada lehermu yang dingin, merampungkan salju yang meneteskan setiap katanya pada hujan yang akan muncul tahun depan. dan kau tak perlu terlalu khawatir sebab kau diam-diam punya cadangan air mata yang tanpa sepengetahuan kurcaci-kurcaci itu kau akan pergi ke kamar mandi  lalu menukarnya dnegan segala yang berbentuk cair.
di depan cermin itu, sebuah bayangan yang sangat kau kenal telah kuyup bahkan sangat lembab, kau butuh sesuatu untuk mengeringkan jemarimu yang telah dilumuti bedak tabur wangi melati atau kesturi barangkali
lalu tibalah, si pemain ski memainkan sepatu hujannya ke atas salju yang menguning seperti rambutmu yang lapuk karena …