26.12.11

Beberapa Hal Tentang Bapak

1.      Seorang lelaki, lumayan tua dan sehat, kisahnya ia tak pernah sekalipun merokok seumur hidupnya.

2.     Ia selalu banyak bercerita ketika naik motor, ketika di perjalanan, ketika melewati kali, pepohonan yang diam, rumah-rumah toko. Obrolannya datar saja; tentang cucunya yang tidur siangnya pulas, tentang keberkahan pernikahan tetangga yang menyusahkan karena menutup jalan, atau tentang dirinya yang sering bersin ketika shalat berjamaah di masjid.

3.      Ia rendah hati, ramah, setiap orang yang ia temui disapanya. Mungkin sewaktu muda, ia banyak yang naksir, siapa yang tidak suka dengan orang yang ramah. Saya pun kadang naksir dengannya.

4.      Hobinya mengisi teka-teki silang. Jika ada kotak yang belum terisi, ia bisa penasaran setengah mati.


5.      Ia pintar bermain harmonika, tapi sekarang sudah tidak pernah bermain lagi. “Nafas bapak sudah tidak sekuat dan sepanjang dulu.” Katanya sedikit terengah ketika mengembalikan harmonika yang  saya belikan untuknya. Memang agak  kecewa mendengarnya.

6.      Rajin sekali ia membuat perabot, hampir setiap perabot di rumah (misalnya; meja, kursi, lemari, rak buku) ia yang buat dengan tangannya sendiri. Suka mengecat rumah, pagar, atau tangga.

7.      Bapak sudah pensiun, tidak bekerja lagi. Kesehariannya di rumah; menjaga seorang cucunya. Satu hal yang saya sangat sadar, ia mencintai cucunya (keponakan saya) dengan rasa  cinta yang tidak bisa dijelaskan oleh apapun.

Saya pun begitu (sangat) mencintainya dengan seluruh kesedihan dan kebahagiaan saya.


Desember 2011

Jakarta

17.12.11

Penyair di Java House

barangkali kita memang butuh kejenuhan
untuk sesekali kita ciumi aromanya di sebaris kopi atau secangkir puisi 
atau kita bisa bergegas ke Java House, kudengar
disana banyak penyair berbau nyinyir,
menamai kejenuhannya dengan mengadopsi kosakata
dari alam semesta atau luar angkasa

mereka, mereka itu tahu benar cara menyirap kata menjadi
kekasihnya. seperti muslihat, penyair dan kata berpelukan tanpa lengan
berdekapan bagai angan.
bercampur dengan sepaket airmata, rasa sesal, atau segala riuh rendah
perih. mereka, mereka itu, si penyair yang memakai kata sebagai
paru-paru, agar bebas dari tahanan hidup kemudian bertahan hidup.

"Aku tidak bisa mati tanpamu, maka hiduplah bersamaku." Lirih si penyair suatu ketika 
kepada kata. katakata bertekuk lutut. namun, sebuah tanda baca atau
semacam tanda tanya melarang hubungan mereka, dengan sebuah duga
bahwa puisi tidak akan melahirkan apa-apa selain duka.
namun, selalu ada sebuah ingin dalam seputar labirin. 
mereka, kata dan penyair kawin lari
waktu, angin, dan ragu menikahkan mereka dengan seucap "sah"
tak perlu menunggu sembilan bulan sepuluh hari
maka lahirlah sebuah puisi, tanpa basabasi


2011

di lantai ini, di komedi putar ini

akan ada saat dimana kita samasama sadar, bahwa
darah kita terlalu segar--untuk kita nikmati
sembari makan biskuit atau mengisi teka teki silang

kita lupakan sebentar, bahwa kita menderita. teramat menderita.
karena kita masih punya semacam kesempatan untuk menukarkan
darah kita ke tukang-tukang donor di pinggir jalan
barangkali mereka menyimpan darah yang tak kalah segarnya

atau kita mencampurnya sedikit dengan gerimis,
agar aromanya tidak terlampau amis. dan
bim sala bim! segala telah serupa magis

kita tak perlu menangis
kita tak perlu menangis
hai koran pagi atau berita metro tv! kita tak usah
menangis. kita bisa menghibur diri dengan
pergi ke pasar malam, naik komedi putar,
mengamati si penjaja jagung bakar tampak atas
ia juga tak menangis, namun memang
dari jari-jarinya yang tua telah terkucur darah tak habis-habisnya
jatuh di pelukan rerumputan, yang meninggi, tetiba meninggi

di lantai ini, di komedi putar ini
lantainya basah, matanya marah, darah kita akhirnya mengalir juga
tapi bukan merah warnanya, namun agak biru, agak ungu

sebelum waktu habis dan berputar ke bawah
kita harus sesegera meminumnya, selesai.
dan membersihkan mulut kita, tanpa bekas. tanpa...



2011

Sengketa di Mesuji

ini kali telah habis nafas kami
dicucuki hidung kami di tanah sendiri
dipecut nadi kami dan kau semburkan juga
darah kami pada istri anak kami

hidup kami sudah terlampau sakit
janganlah kau dan lembar-lembar itu
kau paksa untuk membungkus jenazah kami

kompor, kasur, atau tikar bambu
tak punya tempat
tak punya alamat barang untuk bersedekap
atau berselonjor atau bertelentang

seandainya kita punya
maukah kau membela kami juga?

ini kali kita cuma minta keadilan
keadilan yang barangkali telah kau rubah namanya?


2011

8.12.11

Planetarium

pukul 16: 43. lampu lampu padam, kursi kursi berjatuhan bersama punggung-punggung yang lurus. dan ia menyala! ia menyala!

makhluk bulat bentol-bentol itu yang berperan sebagai raja melotot ke langit lengkung. menaburkannya dengan airmata bewarna keperakan, serupa titik-titik yang bisa disulap menjadi apa saja: dewi padi, pegasus, timbangan, atau barangkali manusia air. ah itu hanya permainan orang yunani kuno. lupakan dulu tentang mereka, lalu belajarlah tentang hawa dingin yang bisa mematikanmu jika kau menginjak salah satu dari mereka yang cahayanya amat meneduhkan.

tengoklah ke arah timur, dapat kau temukan di ufuk rajawali telah menyebarkan radiasi kekuningan itu. pada pukul tujuh mungkin kau akan kehangatan, tapi jangan sesekali mencelupkan jarimu saat tepat ada di ujung rambutmu.

kau lupa, bahwa kau telah mempunyai sembilan tetangga yang sama bulatnya namun beda suhunya. begitupun mungkin bentuknya. barangkali ada satu tetangga kita yang orang kaya, ia memakai perhiasan dan pakaiannya mewah mengkilap-kilap seperti salju yang ditimpa matahari. betapa hawa dingin yang kau bayangkan bukanlah dingin yang sesungguhnya, namun melepuh pada lepuhan yang tak terkira panasnya. lalu nafas yang kau dambakan sungguh tak disediakan disana. demikian kenapa kita bertempat tinggal di alamat ini. 

dan pada waktu yang mungkin tidak bisa kita duga, bahwa kau sebenar-benarnya berputar penuh stau putaran selama sehari. namun diam telah menancapkan kakimu pada angkuh mahabumi hingga kau tak perlu takut terjauh atau terpelanting jauh pada semesta yang asing.

pukul 17.40, malam berubah menjadi benderang dan bintangbintang itu keluar dari bingkai mata, namun salah satu cahayanya berhasil sembunyi di kelopakmu dan mengantarkanmu pulang pada sebuah rasa syukur.


2011


di depan Taman Ismail Marzuki

sore ini, es kelapa dan bakso malang menjilati mulutku.
sekaligus asap dan bising meludahi mataku


(2011)

Dhuha'

tidak terlalu pagi
tidak terlalu siang

lalu tunaikanlah barang 2 atau 4 rakaat
lalu di surga, kau sudah membeli istana


2011

7.12.11

Doa Akhir Tahun

Dengan menyebut nama sajakmu yang maharindu dan mahasendu

sayup-sayup kalender berkata bahwa ia telah hampir habis masa kadaluwarsanya, namun kudengar sajakmu masih belum khatam juga, setia menunggu semacam titik atau koma untuk menamatkan bagian terakhirnya

lalu pertanda apa lagi yang kau dustakan? sementara kau, si penyair telah ribut bertitah "barangsiapa yang menuju sajakku di rintik-rintik hujan yang patah atau kilau matahari yang parah, maka akan kutempatkan namanya dalam nisanku dengan huruf merah jambu."

ombak, embun, atau waktu telah ikut berembuk di kepala penyair, menerobos dindingnya yang kelam bagai batu, mengetuk bahkan mendobrak agar apa saja bisa keluar dari sana. namun yang kau dapati, hanyalah sekelompok serangga yang berhamburan dari matamu, sembari bersenandung tentang teduhnya bulan desember mereka menggotong-gotong pupil, retina, dan kornea, berserapah bahwa kau akan berjalan doyong dengan kebutaan itu. namun sayang, kau tetap bersikeras menulis dengan dengan lidah yang sebelumnya telah kau belah dengan jemarimu.

wahai penyair, jika kelak kau temui seorang di luar sana yang patah hati, maka selesaikanlah rasa sakitnya dengan kenangan-kenangan itu, olesi wajahnya dengan selai kesukaanmu lalu taburi ia seperti sepotong roti yang mendamba pasangannya. tulislah sebaris, sebaris saja kalimat cinta, atau barangkali ucapkan saja rayuan "aku telah mencintaimu dengan sederhana, seperti airmata kepada mata yang telah menjadikannya ada."

atau bisa saja, jika nanti sudah tertambat waktu di akhir perbatasan, kau kumpulkan angka-angka itu ke dalam sebotol minyak wangi yang bisa kapan-kapan kau semprotkan ke tubuh sajakmu.
barangkali dengan begitu, malaikat akan menghapus dosa-dosamu lalu dengan rela mengucap amin di akhir doamu.

Mahabenar kata dengan segala rayuannya


2011

Hujan di Bendungan Hilir

sudah reda, namun kau tetap membawa hujan kemana-mana di dalam sakumu, menyimpannya, memberi nama, agar suatu hari, entah esok atau lusa kau bisa melahirkannya, melahirkan hujan di matamu yang kecoklatan, dan menamatkan seonggok buku-buku pelajaran yang melesakkan aritmatika dan beribu logaritma.

namun, si pemain ski itu tetap meluncur pada lehermu yang dingin, merampungkan salju yang meneteskan setiap katanya pada hujan yang akan muncul tahun depan. dan kau tak perlu terlalu khawatir sebab kau diam-diam punya cadangan air mata yang tanpa sepengetahuan kurcaci-kurcaci itu kau akan pergi ke kamar mandi  lalu menukarnya dnegan segala yang berbentuk cair.

di depan cermin itu, sebuah bayangan yang sangat kau kenal telah kuyup bahkan sangat lembab, kau butuh sesuatu untuk mengeringkan jemarimu yang telah dilumuti bedak tabur wangi melati atau kesturi barangkali

lalu tibalah, si pemain ski memainkan sepatu hujannya ke atas salju yang menguning seperti rambutmu yang lapuk karena dipatoki udara. ia, si pemain ski itu berteriak-teriak di sepanjang lorong dengan matanya yang buta. sementara hujan hanya mampu berbisik di kediamannya, di luar kulit rumah yang mengkilap keemasan. lalu dengan sedikit menangis kau meminta hujan agar jangan datang besok pagi.


2011

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...