Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2012

televisi tak juga kumatikan

pukul 03.05 dini hari,
mata masih saja membuka
televisi masih menyala
menyuguhkan berita bola
kuperintah lewat cahaya, mengganti sekenanya
acara yang mungkin bisa melenakan mata

seberkas senyum palsu dan omong kosong
bahkan kutonton juga, siapa tahu
bisa membunuh waktu
yang terasa makin sendu

oh televisi,
ajarkan aku tentang hirukpikuk
hingga tubuhku tak mampu mengucap kehampaan
hingga tubuhku menyerupai siaran
yang tayang dua puluh empat jam

televisi tak juga kumatikan
aku takut kesepian mencekikku lagi pelanpelan

seseorang yang jauh disana
mungkin sedang bernyanyi ninabobo
untuk dirinya sendiri


2012

Narasi sebuah halte

Aku menemukan banyak sakit hati disini Bus yang tak kunjung datang Cuaca yang tanpa ampun memukul-mukul jalan dengan gerang Sementara keletihan Tak dapat diukur lagi Seberapa tinggi kadarnya
Barangkali tayangan televisi di halte Bisa sedikit menghibur Dengan iklaniklan yang menjual senyum manis para selebritis Atau juga sebotol cola Bisa juga menjadi penawar luka Bahwa tempat ini adalah tempat Menunggu yang tiada
Jam rasanya berhenti, dan waktu Berjalan semakin mundur Aku tak dapat bedakan lagi Kemana tujuan yang ingin kudaki: Keberangkatan atau kepulangan yang telah Lama menjadi kenangan -- yang teronggok di Bawahbawah kursi halte atau terkepit Diantara ketiak penjaga yang berwajah Seperti dewa tanpa silsilah
Namun, nyatanya Kepulangan adalah hal yang yang tabu Kutemukan banyak wajahku tertempel Di tembok-tembok,  di tiangtiang listrik Yang telah mengarat dilahap waktu
Di mulut gang, tetanggaku Seraya gembira menyambutku Seperti menunggu kelahiran bayi perempuan Atau menanti turunnya Malaikat kesebelas dari s…

Jakarta yang Pendiam

Pukul lima sampai pukul delapan Jakarta terlihat semakin pendiam Jangan sesekali kau ajak bicara Atau berlelucon barang sepatah atau dua patah
Sebab takkan kau temukan Jakarta yang gemar tertawa, memamerkan gigi, beramah tamah, atau bahkan tipis tersenyum
Kau maklumi saja, sebab di kota ini kebahagiaan sulit dicari Dan Jakarta telah menyimpan banyak dosa barangkali
Namun dari atas jalan layang dapat kau nikmati panorama seribu kunang-kunang yang menyala kunang-kunang yang ingin kau ajak terbang sampai ke puncak sebrang sembari mendengarkan lagulagu berirama pelan
Dari atas sini, rumah-rumah berhamburan kendaraan seperti semut berbaris dengan membawa sebatang obor sebagai pemandu atau sebagai malaikat pembawa jalan pulang
Gedung-gedung tinggi mulai mengantuk Pintupintu rapat mengatup, atapatap telah tertidur payah Sebab esok akan kau temui lagi Jakarta yang tak kalah pendiamnya

Jakarta, 2012

Nelayan

Kulihat tubuhku mengapung di laut Seperti fatamorgana—seperti ombak yang telah tiada dilenyapkan batu karang Seperti kenangan—pemberian yang telah kadaluwarsa diingatkan Tuhan
Hidupku bagai angin Sendiri bagai angan Sementara kabar yang kudengar adalah badai yang tertunda
Ada yang mesti diselamatkan Sebelum pada akhirnya ombak akan menggerus semua menjadi rata : Wajah pantai, perahu, dan, rumah-rumah pembaringan Nyatanya adalah harta satu-satunya
Seperti malam yang ingin segera menjadi siang Seperti teluk yang selalu diasingkan daratan Seperti laut yang mendamba garam sebagai pasangan
Aku tahu, jala dan sampan tinggal ini yang kupunya sebagai nafas terakhir sampai di pelabuhan
Ramalan mengatakan sehabis badai ini aku akan wafat Cuaca akan hitam terendam malam Namun aku bertahan seperti Yunus dalam perut paus Berzikir, seribu kali sebut atau sebanyak maut Melahirkanku lagi menjadi kabut
2012

Sajak Mandi

Barangkali hari ini aku ingin mandi dengan sukacita Serupa penyair yang bulan madu dengan katakata
Berbekal air yang kukira akan hancur di tubuhku Seperti luka yang lenyap melindap pada tubuh sajak Ke pangkal kata, ke lekuk rima Ke dalam genangan aksara yang kuguyurkan dengan Beratus spasi juga personifikasi
Namun bukan begitu kiranya, Bukan mengendap dan hancur Melainkan terus mengalir ke mata Ke tapak telapak, bahkan ke ranah berbagai arah
Kebahagiaan sabun mandi Adalah sebuah pengakuan dosa yang lebih dulu Menggelincir pada sekat ketiak Berseluncur di atas lengan yang patuh Hingga rela jejatuh Pada pori-pori jemari baik kanan maupun kiri
Begitu pula pasta gigi Yang dengan tabah melumat segala yang mengatup Pada rahang, gusi, serta ruang lain Tempat sisa yang pernah menjadi asa Sebelum tenggelam pada tempat penampungan Yang paling kasar, paling dasar
Kemudian gurat rambut yang sering kujadikan Hitungan tentang segala nasib baik dan buruk --Aku pun mengeramasi takdir sebagaimana Jasad yang dikremasi waktu k…

Chairil dan Rokok

Di atas meja belajarku, ada gambar Chairil sedang merokok (Joko Pinurbo) Tak sengaja kuhirup asapnya
Sudah kukatakan pada Chairil, “Berhentilah merokok di bukuku!”
Tapi Chairil diam saja Dan tetap merokok
Aku batuk-batuk Kamarku penuh asap sekarang

2012

Dalam Hujan

Aku memang tak punya kenangan yang berkunang dalam kepala tapi aku masih punya sekotak hujan untuk kunikmati jika bibirku terasa kerontang dan lambungku berbunyi “lekas datang--lekas datang!” Aku pun bisa merasakan hujan itu beradhesi di lidahku menyetubuhi segala duka kemudian menawarnya
Barangkali aku juga lupa bahwa diriku telah kelewat petang untuk menampung mimpi yang terlampau anyir sambil terus menghibur diri dengan  meminum hujan tanpa henti mereguknya lalu bersendawa tiap lima menit sekali Sendawa dengan aromanya yang aneh Namun aku hapal betul bahwa itu adalah wangi ketabahan yang akan selalu timbul pada urat-urat di jemari tanganku Setidaknya memaksaku untuk tetap tabah
Terkadang jika hujan berhenti, aku meletakkan semacam kain di sisi jendela sebagai pertanda bahwa aku berada disini, --masih di tempat ini di tempat pemberhentianku yang tak juga punya alamat ke rumahmu
Jangan berpikir bahwa aku sama sekali tak menunggu Tetapi ketabahanlah yang membuatku --untuk tak memaksa Meski kadang aku putus…