Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2012

Pelipur

: kepada pelipur lara, Chaerunnisa


Tahukah kau sebab apa kita begitu saling sayang? Sebab kita menyukai hal yang sama Jika kau tertawa, kau lah pemancar suara, Dan aku menikmati pancarannya
Tak ada yang lebih melipurkan hati Selain aku yang berdiri di ambang pintumu Memintamu membuat satu atau dua lelucon Lalu talitali yang mengikat dadaku Seakan kendur satu persatu
Tak ada yang pernah kita lupakan, selain Kita mengingat halhal yang pedih itu Sebagai suatu kenangan Ketika nanti waktu akan menghapus Masingmasing dari kita
Jagalah renyah tawa itu, hingga senja memberangkatkan Kau, kita, menjadi sebuah rahasia
Aku mendoakanmu kawan, Sebagaimana kau yang mendoakan --aku untuk melawan kesedihan
2012

Kapal Nuh di atas Gunung Judi

“..wahai bumi telanlah airmu dan wahai langit berhentilah! Dan air pun disurutkan dan perintah pun diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi..” (Hud:44)


Aku berlindung dari godaan dunia dan segala isinya Dengan menyebut nama Engkau yang Maha Dicinta lagi Maha Pemberi Cinta Sesekali ajarkan tubuhku untuk mengimani Engkau Dan mengamini kitabMu, seperti Nuh
Seperti kapal Nuh, yang dibangun atas Puingpuing ketabahan, atas rasa percaya Bahwa sesuatu yang bernama azab itu Akan menggelembung dalam perutperut Yang naif, dan Bah yang bergelombang itu Akan menenggelamkan. Dan hari yang pedih? Sesungguhnya tiaptiap nyawa patut khawatir
Ketika Qan’an berpaling menyelimuti dirinya Dengan kain kesombongan yang amat tebal Namun Nuh tak sesekali meninggalkan-- Sesungguhnya Nuh tak pernah meninggalkan Begitu pula pada Sam, begitu pula Ham dan Jafis
Dari ketinggian gunung Judi ini, kau mengenang Qan’an sebagai kecemasan dan doa terusmenerus berangkat dari mulutmu yang haus Dahaga yang kau baringkan dalam k…

aku ingin meminum kopi dengan sederhana

hari ini aku minum lima cangkir kopi aku tak sedih, sungguh aku sedang tak sedih hanya saja aku tak juga mampu mengerti darimana rasa pahit itu dari ampas hitam yang berbentuk seperti buih di dasar gelas atau dari mataku yang selalu perih ketika mengingat engkau
dari lima cangkir kopi, satu cangkir kopi terakhir rasanya tak getir tetapi asin bukan main ternyata airmataku meleleh mengaduk rasanya memanipulasi muasalnya
namun aku tak sedih sungguh aku sedang tak sedih aku hanya sedang menunggu waktu dimana aku akan menyanyikan sajak di cangkir kopimu : aku ingin meminum kopi dengan sederhana seperti cangkir kepada kopi yang menjadikannya puisi seperti engkau kepada aku yang menjadikan rindu
2012

Selamat Malam

selamat malam pada lampulampu kota yang resah menyinari segala luka ibukota
selamat malam pada tulangtulang yang ringkih menangung segala kekanak-kanakan waktu
selamat malam pada halhal yang tak selesai, yang belum selesai dan yang tak mampu selesai
selamat malam pada kota yang semakin pendiam dan semakin pemurung
selamat malam  pada beribu rasa kantuk yang bersemayam pada pelupuk mata yang lelah
selamat malam pada langit yang hitam-yang ditabur dengan nyalanyala bintang yang baik
selamat malam pada angin yang membisikkan kedamaian di antara helai rambut dan telinga yang kusut
selamat malam untuk kepulangan yang telah lama--sangat lama didamba-dambakan
2012

Selamat Siang

Selamat siang pada matahari yang patuh untuk tetap bersinar dengan wattnya yang tinggi
Selamat siang pada deru roda kendara dan bergumpalgumpal karbondioksida yang menyempitsesakkan paruparu
Selamat siang pada butirbutir debu yang riang menari dengan irama yang tanpa rencana
Selamat siang pada setumpuk berkas, pada selaksa tugas yang meminta untuk diselesaikan tanpa bekas
Selamat siang pada apa yang memecahkan kepala
Selamat siang untuk yang terlanjur terburu-buru Melahap hidangan tanpa selera
Selamat siang untuk yang meriang merayakan siang sebagai tempat kesibukan paling luang 
2012

Selamat Pagi

Selamat pagi kepada lekum ayam yang setia bersenandung merayakan lahirnya kelamin matahari
Selamat pagi kepada ibu yang tabah menyalakan tungku kehidupan dan memasak hidup dalam matanya yang teduh
Selamat pagi kepada dada ayah yang tegar ditempa segala kelelahan yang bernama waktu
Selamat pagi kepada udara dan segala energi Yang bersikeras menahan sepi agar tak datang lagi hari ini
Selamat pagi pada keberangakatan yang tergesa-gesa Meninggalkan kenangan di dalam laci sebuah meja di rumah
Selamat pagi pada rutinitas tanpa batas yang mesti Terselesaikan tanpa ada yang tersisa
Selamat pagi pada apa yang ditinggalkan kemarin Dan diharapkan hari ini dan esoknya lagi
2012

Barangkali Aku Telah Lupa Cara Jatuh Cinta

Kiranya aku sadar, sedari dulu Sesuatu yang menggelembung dalam otakku Yang mengganggu tiap malam itu Meminta untuk segera dienyahkan Untuk kemudian dicatat pada bukubuku dosa
Seperti musim saat pohonpohon khuldi telah panen Hawa memanjatkan doa untuk adam Seperti Zulaikha yang tak berdaya menatap Yusuf Seperti aku perempuan yang lemah terhadap rasa Ah, barangkali aku telah lupa Bagaimana cara jatuh cinta
Untuk itu susah payah kutamatkan perasaan Seperti katakata yang bersikeras menempuh perjalanan Hingga akhirnya menjadi sebuah sajak
Sajak yang barangkali terlampau sederhana Namun aku masih mampu mengerti Sangat mengerti Bahwa setiap pecinta haruslah menderita Setiap kehilangan adalah juga pemberian Tuhan
Seperti dahulu, seperti Al-Ghazali yang memutuskan untuk Berserah dengan meninggalkan hiruk pikuk kuasa Seperti juga Chairil pada kelimbungan cinta Yang mabuk juga pada Mirat, pada Ida
Tetapi di kamar ini Sesuatu yang berbentuk seperti tatapan itu Masih saja membayang di pilu mataku Di kamar ini, masih saj…

Kamuflase Kesedihan

telah masuk minggu ke-delapan
ketika kita samasama mencemaskan 
hari depan yang kita tahu 
bahwa segalanya adalah fluktuasi kesedihan 
pasang yang surut
surut yang lelah
dan lelah yang sunyi

kita menamakan ini sebagai kamuflase
semacam berpurapura tak menderita
dengan alasan ia adalah raja
raja dari segala penderitaan: the king of pain
--katamu menyela katanya
ia raja yang punya ladang kesakitan
dengan bibit-bibit unggul perih 
pedih, dan kita pun muak
tapi tetap tak dapat bicara

kita semakin miskin kata
ia semakin kaya akan panorama dirinya
kita budak, boneka, atau kurcaci
yang diberikan nama semau-maunya
kita menurut, karena ia the king of pain
kita marah tetapi ramah
kita tak berteriak padahal muak
kita tak menangis padahal bersedih 


2011

Rawamangun

setelah lama tak membuat puisi
setelah seratus dua puluh menit yang kita jalani
tanpa pernah berkata apa-apa-- tersesatlah kita pada labirin waktu
pada luka malam dan juga pada hal-hal yang tak selesai
kita menghimpun beribu peristiwa untuk ditertawakan meski ada yang terlanjur merana  untuk dimaklumi bahwa ini akan terasa lama, sangat lama
kita duduk-duduk memakan waktu meminum hujan dan menghirup aromanya yang aneh menghabiskan tawa sampai  akhirnya menangis seolah
tak punya mata--hanya punya airmata
kita cuma batangbatang korek api. sekali menyala sudah itu mati. (Austi Bhakta)
tapi di tempat ini, setelah matraman, dukuh atas, dan pemberhentian-pemberhentian berikutnya --ikut juga mengekalkan kita pada kegalauan yang tak putus-putusnya
kita menghapal mantra untuk sesekali