14.4.12

Sepanjang Jalan Kota Tua

Dari balik jendela transjakarta,
Aku melihat banyak harapan.
Seperti namanama jalan   
di sepanjang menuju kotatua
:kebahagiaan, kesejahteraan, dan
kesederhanaan.
Entah apa filosofinya,
Tapi mungkin aku akan bahagia jika
Tinggal di jalan kebahagiaan,
dan seterusnya
dan selamanya

Tapi bukankah tinggal dimanapun
Kita bisa menjelma apa saja?

Bahkan siapa yang tahu mungkin akan 
menjadi penyedih walaupun tinggal di jalan
kebahagiaan.

Sebab aku belum juga mengerti konsep kebahagiaan
seperti apa dan bagaimana.
Barangkali seperti hotelhotel, pijat refleksi,
atau tokobuku yang berada di sepanjang kota tua.
Mungkin sesekali waktu,
siapapun bisa melepas dukanya disana.



Hawa panas dan debudebu beterbangan.

Aku bisa menyimpulkan—siang ini
Matahari sedang mabuk cinta
Kepada langit, ia korbankan segala nafasnya
Kepada bumi, ia berikan segala energinya

Keringatkeringat membuncah dan hendak berserapah,
tapi segera kuingat—apapun cuaca adalah anugrah


:Melewati lorong
—seorang lelaki setengah baya
Bermain biola, menembangkan keceriaan,
Ia hamburhambur senyumnya—seolah hidupnya
hanya untuk hari itu saja

Remajaremaja berkumpul bermain kartu
menukar siasat—tertawatawa licik.
Dan sesekali mengaduh ketika
tahu nasibnya tak sebagus kartu As
di genggamannya

Di tepi air mancur,
seorang perempuan menyandarkan
kepala di bahu lelakinya.
Barangkali dengan begitu,
pikirannya yang rumit akan
tumpah di dada lelaki yang
yang lebih tabah—
dari waktu yang kian pasrah.

Bangunan moneychanger masih berdiri gagah
—mungkin aku
Bisa menukar banyak kenanganku
dengan kenangan di tempat lain--kenangan asing
dengan kurs yang lebih tinggi.

Museum-museum mengawetkan waktu
dalam ruang tak berpenghuni, memadatkan
sejarah di batubatu, di laci meja kayu,
bahhkan di mata seorang serdadu.

Di kota tua, orangorang hendak
Mengabadikan kenangannya—dalam ukiran tato
—dalam sebuah jepretan foto

Sementara aku masih juga bertanya
(bertanya dengan siapa saja atau yang bukan siapa-siapa).
"Apakah di kota tua, sebuah kenangan
bisa ditukar dengan masa depan?"

2012

11.4.12

Perempuan

: Dien Hanif,
  perempuan yang selalu menundukkan pandangan

Apa yang kau lihat dibawah sana perempuan?
Apakah hamparan surga yang rumput-rumputnya
Selalu berzikir menyebut Ia yang Maha Cinta
Ataukah sugai-sungai yang mengalir
Dikelilingi tembok yang amat tinggi?

Ceritakan padaku, perempuan
Ceritakan lagi tentang tempat itu
Dimana setiap nyawa adalah
Remaja dengan kecantikan dan
Ketampanan luar biasa
Dimana ada bidadari dan bidadara
Dengan paras yang sempurna

Sebab aku belum juga mengerti
--belum mampu mengerti
Tentang surga yang ada di pikiranmu

Ajarkan padaku bagaimana
Cara menundukkan pandangan
Agar di bawah sana dapat kutatap matamu
yang berisi tamantaman dengan sejuta gladiola

Ajarkan padaku agar mataku seperti matamu
--seperti mata penyair yang hendak
Menerjemahkan bahwa dunia
Hanya perandaian dengan segala fatamorgana

Oh, bagaimana takdir, kita takkan pernah tahu
Tapi kau selalu bisa menggambar surga
di bawah telapak kakimu

2012

6.4.12

Kereta

Di ujung gerbong itu, aku membayangkan kabut
menjadi matamu, dan alismu tercipta dari gerimisgerimis

Lantas apa yang begitu terasa asing, sementara kita rajin
Mengirim doadoa yang tak pernah ada aminnya?

Barangkali kepergianmulah yang akhirnya
Memberangkatkanku pada kehilangan

(Kenapa kau tinggalkan aku, sebelum kita bertemu?)

Aku hendak membayangkan lagi, namun kenangan
Tolol macam begini siapa sudi memungutnya?

Lantas siapa yang pantas dengan nasib begini?
Cuaca juga begini, seperti tahu aku tak
Juga beranjak dari kertaskertas kalenderku--
Melingkari angkaangkanya dengan kesedihan

Susah payah kurawat takdir di garistanganku

: Namun kau hanya menjawab dengan jenaka
Pohonpohon seperti diorama yang juga menertawakan kita
Menertawakanku lebih tepatnya,
Hingga aku bertanya, bagaimana kalau akhirnya
Akulah yang paling kau benci?

Sementara aku tak juga membencimu

Kemarahan adalah warna hitam pada lukisanku,
Dan percayakah kau, aku banyak menggambar
Hantu berparas ambigu seperti wajahmu

Mungkin kau ragu, jika suatu hari
Suara kereta terdengar sesekali di dinding kamarku
Dan menggetarkan poster beatles klasik
Atau menggetarkan cermin yang didalamnya
Banyak bayangan seperti peluru yang menghantam
Jantungku, pembuluhdarahku, ususku,
Dan retinamataku yang terlampau
Sering menelan airmata daripada
Menatap lebam cuaca

(Apakah ini cuma kebetulan?)

Nasib yang kebetulan, perbincangan kebetulan
Dan hubungan yang aneh. Barangkali tak seharusnya
Aku percaya padamu, barangkali aku tak pernah
mengucap sajak Chairil
“Aku pernah ingin benar padamu. Menjadi kanak kembali..”

Apa hubunganku dengan Chairil?
Ah, aku terlalu banyak bertanya, seharusnya kutiru saja 
peramal di ujung jalan sana, 
dengan jarijari yang tabah ia terka hidupnya,
Bahwa burung hantu, atau air rupa-rupa akan membawanya
Ke dalam surga pikirannya
Setidaknya, ya setidaknya
Ia tidak lebih bodoh dariku

Atau ia tak pernah naik kereta
Dengan gerbong yang selalu terbuka
Dengan mimpi-mimpi yang selalu ia bawa dalam kantung tidurnya

(Kau menundaku begitu lama)

Haruskah ada yang terus menunggu seperti tukang
sobek karcis yang muram--menghapal nomornomor
dan waktu keberangkatan

: Aku hendak membayangkan lagi
Bagaimana akhirnya jika kaulah yang paling kubenci?


Suara kereta semakin menderu,
menggetarkan dinding kusam kamarku

2012

Coca Cola

seperti saat kau buka tutupnya
ada yang lekas berteriak protes
pada udara

sebab apa hidup begitu sesak?

sebab soda seperti yang kita coba
adalah kerikilkerikil
kecil pada langitlangit mulut kita,

jika kita tak paham meredamnya 

2012

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...