Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2012

Sepanjang Jalan Kota Tua

Dari balik jendela transjakarta, Aku melihat banyak harapan. Seperti namanama jalan    di sepanjang menuju kotatua :kebahagiaan, kesejahteraan, dan kesederhanaan. Entah apa filosofinya, Tapi mungkin aku akan bahagia jika Tinggal di jalan kebahagiaan, dan seterusnya dan selamanya
Tapi bukankah tinggal dimanapun Kita bisa menjelma apa saja?
Bahkan siapa yang tahu mungkin akan  menjadi penyedih walaupun tinggal di jalan kebahagiaan.
Sebab aku belum juga mengerti konsep kebahagiaan seperti apa dan bagaimana. Barangkali seperti hotelhotel, pijat refleksi, atau tokobuku yang berada di sepanjang kota tua. Mungkin sesekali waktu, siapapun bisa melepas dukanya disana.


Hawa panas dan debudebu beterbangan.
Aku bisa menyimpulkan—siang ini Matahari sedang mabuk cinta Kepada langit, ia korbankan segala nafasnya Kepada bumi, ia berikan segala energinya
Keringatkeringat membuncah dan hendak berserapah, tapi segera kuingat—apapun cuaca adalah anugrah

:Melewati lorong —seorang lelaki setengah baya Bermain biola, menembangkan keceri…

Perempuan

: Dien Hanif,   perempuan yang selalu menundukkan pandangan
Apa yang kau lihat dibawah sana perempuan? Apakah hamparan surga yang rumput-rumputnya Selalu berzikir menyebut Ia yang Maha Cinta Ataukah sugai-sungai yang mengalir Dikelilingi tembok yang amat tinggi?
Ceritakan padaku, perempuan Ceritakan lagi tentang tempat itu Dimana setiap nyawa adalah Remaja dengan kecantikan dan Ketampanan luar biasa Dimana ada bidadari dan bidadara Dengan paras yang sempurna
Sebab aku belum juga mengerti --belum mampu mengerti Tentang surga yang ada di pikiranmu
Ajarkan padaku bagaimana Cara menundukkan pandangan Agar di bawah sana dapat kutatap matamu yang berisi tamantaman dengan sejuta gladiola
Ajarkan padaku agar mataku seperti matamu --seperti mata penyair yang hendak Menerjemahkan bahwa dunia Hanya perandaian dengan segala fatamorgana
Oh, bagaimana takdir, kita takkan pernah tahu Tapi kau selalu bisa menggambar surga di bawah telapak kakimu
2012

Kereta

Di ujung gerbong itu, aku membayangkan kabut menjadi matamu, dan alismu tercipta dari gerimisgerimis
Lantas apa yang begitu terasa asing, sementara kita rajin Mengirim doadoa yang tak pernah ada aminnya?
Barangkali kepergianmulah yang akhirnya Memberangkatkanku pada kehilangan
(Kenapa kau tinggalkan aku, sebelum kita bertemu?)
Aku hendak membayangkan lagi, namun kenangan Tolol macam begini siapa sudi memungutnya?
Lantas siapa yang pantas dengan nasib begini? Cuaca juga begini, seperti tahu aku tak Juga beranjak dari kertaskertas kalenderku-- Melingkari angkaangkanya dengan kesedihan
Susah payah kurawat takdir di garistanganku
: Namun kau hanya menjawab dengan jenaka Pohonpohon seperti diorama yang juga menertawakan kita Menertawakanku lebih tepatnya, Hingga aku bertanya, bagaimana kalau akhirnya Akulah yang paling kau benci?
Sementara aku tak juga membencimu
Kemarahan adalah warna hitam pada lukisanku, Dan percayakah kau, aku banyak menggambar Hantu berparas ambigu seperti wajahmu
Mungkin kau ragu, jika …

Coca Cola

seperti saat kau buka tutupnya ada yang lekas berteriak protes pada udara
sebab apa hidup begitu sesak?
sebab soda seperti yang kita coba adalah kerikilkerikil kecil pada langitlangit mulut kita,
jika kita tak paham meredamnya 
2012