Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2012

Catatan Perjalanan

angin dari selatan bertiup ke utara
dan gemuruh menjelma mantra seperti dalam dongeng kuno: nestapa dan pertanda, firasat dan cuaca. (maka bagaimana mesti kutafsirkan hujan jika basahnya karena air mata)
sedang penyair telah pergi sedang penyihir telah mati aku merasa kepergian yang ditangiskan akan menjadi kutukan dan doa yang tak diaminkan akan karam sebelum terkabulkan
lalu sebuah saja frase dari sajak halaman itu barangkali bisa membuat kota telah kembali ke semula. namun lampulampu terlanjur padam, kota telah rapuh dan hujan terus menerus jatuh.
(maka dengan apa lagi harus kutamatkan kesepian, jika yang tersisa hanya piuh malam)
disini, di tempat begini cuaca mudah marah, perasaan mudah gerah. lalu mengapa semua tak ingin terjaga jika tidur adalah melupakan.
(maka dengan apakah harus kulunaskan  perjalanan,  jika satu-satunya cara hanya diam)
o waktu,  mengapa terburu-buru sedang hari depan  belum tampak juga di mataku

2012

Diorama

(Sebuah Sajak Coba-Coba)

Pada suatu pagi, sepasang mata nanar menatap diorama, lalu dengan berbisik ia berkata; kemarin aku linglung, aku membolakbalik daftar menu sarapan, tapi yang kujumpai hanya seekor kaki rubah bumbu asam manis. Aku beralih ke dapur, mencari roti isi atau sekaleng ikan segar, namun yang kujumpai adalah sebotol bir kadaluwarsa—kutenggak isinya—rasanya mirip airmata dari mulut buaya. Tibatiba perutku mual, kumuntahkan isinya, jangan heran bila muntahku berisi kentang, telur asin, atau lampu tidur. Kembali kususun diorama dari cangkang-cangkang kulitku dan kubangun rumah untukmu lengkap dengan besmen dan beranda. Sebab kuakui—aku memang pergi ke rumahmu tahun lalu, tapi kosong dan kotakposmu berjejalan suratsurat tanpa nama. Dari siapa?
Dengan gusar tangannya bergetar menekan tombol dan menelpon entah ke siapa, lalu lirih suaranya; maaf aku sibuk, hutangku banyak sekali dan janjiku jarang ditepati. Maaf, aku hibuk, aku lupa tanggal dan waktu. Ingin sekali kutuliskan …

Ode Buat Digdio

Dig, digdio Mengapa kau keras kepala? Jika tidur siang, perlu beberapa orang Untuk membujukmu, sekadar memberi ancangancang. Bahwa seorang kakek tua dengan badan berumur oli Gemar menculik anak nakal yang tak mau tidur siang  --Sembari membanting angan-angan, mobil-mobilan Puzzle, kau ngamuk seperti preman di persimpangan.
Dig, Digdio Hidup bukan hanya sebatas tatapan, setengah tubuh manusia Yang jika kau tahu bahwa nenek dan kakek, tante dan om Rela berpayah-payah menahanmu Untuk tak keluar rumah, jangan terlalu menjadi pemarah-- di luar panas dan sepi.
Dig, Digdio Jangan ngamuk lagi, tidur siang saban sebentar Setelah itu mandi, main air, main kecipak kecipak Karena kau senang sekali saat disiram dan Matamu berkedip-kedip, Bibirmu mencari udara, dan byur..byur.. Kau senang menyalakan kran Tapi untuk soal sikat gigi Dig susah sekali.
Dig, Digdio Ode apalagi selain Nina dan cicak di dinding? Barangkali nyanyian ibumu yang belum kau dengar, Ibumu belum pulang, bersabarlah lalu Lepas tak terjaga, Dig..
2012

Romansa Diri Sendiri

kau didepanku tudung merah senja
matamu membelah belantara dadaku

masuk ke dalam rimba yang hendak mendamba
sayup paling kuyup yang perlahan meredup

kau di depanku tudung merah senja
bibirmu mengalir zikir berbulirbulir
menghancur getir pada jiwaku yang anyir

kau di depanku tudung merah senja 
aku lapar dan kau di depanku
aku di depan diriku sendiri

2012

*catatan: sajak ini awalnya dibuat oleh Bu Hafni untuk saya
--lalu saya melanjutkannya. sepertinya kami akan jadi sahabat.