28.5.12

Catatan Perjalanan

angin dari selatan bertiup ke utara
dan gemuruh menjelma mantra
seperti dalam dongeng kuno:
nestapa dan pertanda, firasat dan cuaca.
(maka bagaimana
mesti kutafsirkan hujan
jika basahnya karena air mata)

sedang penyair telah pergi
sedang penyihir telah mati
aku merasa kepergian yang ditangiskan
akan menjadi kutukan
dan doa yang tak diaminkan
akan karam sebelum terkabulkan

lalu sebuah saja frase dari
sajak halaman itu barangkali
bisa membuat kota telah kembali
ke semula.
namun lampulampu terlanjur padam,
kota telah rapuh
dan hujan terus menerus jatuh.

(maka dengan apa lagi harus kutamatkan
kesepian,
jika yang tersisa hanya piuh malam)

disini, di tempat begini
cuaca mudah marah, perasaan mudah gerah.
lalu mengapa semua
tak ingin terjaga
jika tidur adalah melupakan.

(maka dengan apakah harus kulunaskan 
perjalanan, 
jika satu-satunya cara hanya diam)

o waktu, 
mengapa terburu-buru
sedang hari depan 
belum tampak juga di mataku


2012

25.5.12

Jembatan Benhil


Barangkali malam ini langit terbuat dari lemari es
Yang jika angin bertiup sedikit saja bisa memecahkan dada.

Pada sebuah jembatan, banyak luka yang belum disembuhkan,
Anak jalanan, pengemis tanpa kaki, pemain saksofon
Yang membawakan sonet nestapa dengan irama menyakitkan.
Meski tak ingin lagi kubicarakan tentang kesedihan
Namun  siapa yang sanggup menahan nyeri otot hati
Jika tahu bahwa seorang bayi yang belum genap
Satu bulan sudah belajar menanggung
Dingin dan debu yang panjang?

Pedagangpedagang menjajakan hidupnya atas nama
Melawan nasib. Digelarnya kacamata,
Obat kulit, perhiasan palsu, di atas jembatan yang macet
Karena setengah terisi, setengah pedestrian.

—Semacam ironi bukan?—

Barangkali sepulangnya ke rumah,
Akan kucium tangan ibuku dan kuusap wajahnya yang rumit
lalu berkata: terimakasih sebab memperlakukanku
Dengan amat baik, lalu aku masih begini, masih seperti ini.
Sementara yang susah, besok akan tetap susah.
Dan yang bersenang-senang akan semakin girang.

Malam yang cemas menjadi tekateki yang nyaris penuh terisi
Dengan gedung sebagai pelengkap kotakkotak yang berontak.
Aku semakin terasing dan sendiri, pada pikiranpikiran
Yang tak sanggup kuterjemahkan. Lebamnya cuaca dan
Sesaknya perjalanan begitu lengkap namun berlawanan.

Apa yang membuat kita alpa pada derita yang bukan
Milik kita? Ada yang menangis tak berhenti, ada juga
yang takut tercuri karena tak siap berbagi.

Kenapa?
Sebab apa?

Semakin aku sibuk bertanya,
Jawabannya semakin tak ada.


2012

8.5.12

Diorama

(Sebuah Sajak Coba-Coba)

Pada suatu pagi, sepasang mata nanar menatap diorama, lalu dengan berbisik ia berkata; kemarin aku linglung, aku membolakbalik daftar menu sarapan, tapi yang kujumpai hanya seekor kaki rubah bumbu asam manis. Aku beralih ke dapur, mencari roti isi atau sekaleng ikan segar, namun yang kujumpai adalah sebotol bir kadaluwarsa—kutenggak isinya—rasanya mirip airmata dari mulut buaya. Tibatiba perutku mual, kumuntahkan isinya, jangan heran bila muntahku berisi kentang, telur asin, atau lampu tidur. Kembali kususun diorama dari cangkang-cangkang kulitku dan kubangun rumah untukmu lengkap dengan besmen dan beranda. Sebab kuakui—aku memang pergi ke rumahmu tahun lalu, tapi kosong dan kotakposmu berjejalan suratsurat tanpa nama. Dari siapa?

Dengan gusar tangannya bergetar menekan tombol dan menelpon entah ke siapa, lalu lirih suaranya; maaf aku sibuk, hutangku banyak sekali dan janjiku jarang ditepati. Maaf, aku hibuk, aku lupa tanggal dan waktu. Ingin sekali kutuliskan beberapa patah kabar—tentang kota yang tinggi dan lampu yang cahayanya silau sekali, aku tak sanggup, aku ingin pergi tapi aku terlalu sibuk. Sedang kau masih ingat ucapan itu? Seperti saat Khidir meninggalkan Musa; kau takkan sanggup sabar bersamaku. Aku ingin kau menyebut mantra yang sama, lalu seperti bah yang menggulung perahu kertas Nuh. Byar.. Byaaar.. Byaaarr.. Aku selamat dan berlayar hingga untuk keduakalinya aku muntah di hadapanmu. Tak usah lagi heran, bila muntahku berisi kentang, telur asin, atau lampu tidur. Toh, kelak akan kuceritakan padamu, betapa perpisahan sungguh mengasyikan. Seperti sinema elektrik; musik yang mengguncang, iklan yang muncul tibatiba, sorort mata tajam—dengan itu adrenalinmu naik dari semula, bahkan diluar batas sangka.

Kemudian suatu hari—suatu saat dimana kau dan aku kembali pada ketunggalan—mungkin kau akan mengulang beberapa patah pepatah yang pernah kutitah, akupun tak pernah luput oleh diamdiam yang sengaja menyusun kembali diorama—yang jika kau tahu kuncinya adalah panorama sebuah musim dan beberapa rumah yang pernah kubuat adalah makam sebuah kenang.

2012

Ode Buat Digdio


Dig, digdio
Mengapa kau keras kepala?
Jika tidur siang, perlu beberapa orang
Untuk membujukmu, sekadar memberi ancangancang.
Bahwa seorang kakek tua dengan badan berumur oli
Gemar menculik anak nakal yang tak mau tidur siang
 --Sembari membanting angan-angan, mobil-mobilan
Puzzle, kau ngamuk seperti preman di persimpangan.

Dig, Digdio
Hidup bukan hanya sebatas tatapan, setengah tubuh manusia
Yang jika kau tahu bahwa nenek dan kakek, tante dan om
Rela berpayah-payah menahanmu
Untuk tak keluar rumah, jangan terlalu menjadi pemarah--
di luar panas dan sepi.

Dig, Digdio
Jangan ngamuk lagi, tidur siang saban sebentar
Setelah itu mandi, main air, main kecipak kecipak
Karena kau senang sekali saat disiram dan
Matamu berkedip-kedip,
Bibirmu mencari udara, dan byur..byur..
Kau senang menyalakan kran
Tapi untuk soal sikat gigi Dig susah sekali.

Dig, Digdio
Ode apalagi selain Nina dan cicak di dinding?
Barangkali nyanyian ibumu yang belum kau dengar,
Ibumu belum pulang, bersabarlah lalu
Lepas tak terjaga, Dig..

2012

4.5.12

Romansa Diri Sendiri

kau didepanku tudung merah senja
matamu membelah belantara dadaku

masuk ke dalam rimba yang hendak mendamba
sayup paling kuyup yang perlahan meredup

kau di depanku tudung merah senja
bibirmu mengalir zikir berbulirbulir
menghancur getir pada jiwaku yang anyir

kau di depanku tudung merah senja 
aku lapar dan kau di depanku
aku di depan diriku sendiri

2012

*catatan: sajak ini awalnya dibuat oleh Bu Hafni untuk saya
--lalu saya melanjutkannya. sepertinya kami akan jadi sahabat.

Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...