Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2012

ibuku sedang marah

langit kelam, meja makan suram
tak ada nasi atau roti isi
buat pengganjal sepi hari ini

barangkali ibu marah padaku
sebab kesalahan yang tak sengaja
atau disengajakan
sebab terlalu larut pulang
atau kamar berantakan

rumah bisu, tak ada perbincangan
sebab diam ibu yang terlampau
menjadi misteri
aku tahu ibu marah
tapi aku tahu ibu marah

buruburu kuamankan keadaan
dan suasana,
mendinginkan yang berapi
dalam diam, dalam sekam,
berjanji dosadosa yang terlampau
kelewatan takkan terulang

jangan marah
janganlah marah..

aku sangat sayang,
meski tak pernah kukatakan

2012

Balada Sesiapa

dari jendela bus kota, sepasang mata lelawa biru
tajam mengiris mataku yang lekat pada kaca dua sisi
aku bertanya "kau darimana datangnya?"
ia tak menjawab
semesta seakan tahu, malam ini
kota akan lumrah, kali-kali akan lebih basah
dari semula

gadis kecil di trotoar dengan punggungnya
yang kotor, dan setengah kakinya ia tumpahkan pada
kaleng-kaleng permen asam manis

perempuan paruh baya membawa bungkus-bungkus kerupuk bangka
dengan dada yang tumpah di mulut bayinya
sedang surga di telapak kakinya perlahan mengikis
perlahan terhempas aspal panas

aku mencerna kesedihan satu per satu
dua per dua, tiga per tiga, 
lalu seterusnya tak dapat dihitung 
seberapa kesedihan, pedih dan luka
tertanam di tanah, lalu naik ke langit
yang niscaya disebut hujan
padahal airmata
dua lelaki petantang petenteng berteriak;
"lebih baik tolong menolong, daripada todong menodong."
persetan! semua orang tahu
muak aku. orang begitu tahu apa soal ikhlas?
pergi kau ke biak, cari ajal dan kubur tubuhmu sendiri
bilamana…

aku sekarang tak bisa tidur

aku sekarang tak bisa tidur, sekarang pukul 02.10 dini hari buku sedang tidur, bantal sedikit mengantuk kudengarThe Beatles dengan In My Life campur bunyi saron lagu Sri Katon hidup bicara sungguh pelik tapi tertawa selalu biar tak dianggap pelit
dentum bonang terbayang menyayat tenggorokan hei radang tenggorokan setiap kutelan rasanya sakit aku pulang kelewat malam, bis pindah jalur, sepulangnya hampir tertabrak sepeda motor lawan arus kenek mengumpat, pengendara motor lari tanganku keseleo sedikit tapi tak apa aku membicarakan diri sendiri bodoh tak hati-hati.  tapi.. Some have gone and some remain All these places had their moments kata beatles, aku selalu percaya kata beatles
akan ada yang pergi dan membekas yang membekas silakan saja pergi juga tak apa
tadi ada empat pengamen singgah di kopaja,  mungkin ada empat jenis pengamen: yang muda dan pasrah, yang tua dan memaksa muda dan pemaksa, tua dan pasrah soal suara tak jadi soal

tentang apa saja

mengapa kau begitu kuyuh terlihat namun asap dari bibirmu terus melaju serta berbunyi kereta api pukul senja nanti kalau kupergoki matamu jadi abu nanti kalau jari tengahmu berhenti menjentikkan abu rokok akan kubilang hati-hati juga takdir itu lebih pahit dari yang kau duga
lantai yang dingin dan cerita perwayangan adalah gema. lalu ceritakanlah tentang pandawa atau werkudara sebab silsilah siapa tau sedikit menyesal tak gegabah menangkap maksud kayangan yang menurunkan arwah dan dewa dewi abadi
sebab abadi itu apa? matamu itu kendi tempat rahasia  malam ini indah ah kita bercerita saja tentang apa--tentang apa saja

2012

Sejejak Sajak

Yang Kutemukan Pada Sebuah Pertemuan dan Yang Tak Bisa Kuucapkan Pada Sebuah Percakapan
Aku menemukanmu pada malam yang geram; Piuh angin, cuaca bulan Juni, dan gerimis yang berbaris Di atas matamu adalah lindap jatuhnya bulan pada wajah yang mungkin asing—mungkin  juga tak asing. Pertemuan yang itu bisa jadi adalah bumerang bagi jantungku yang barangkali tak pernah kau tahu sudah lebam dan biru.
Tapi aku merasa lunas pada perjalanan yang lama mendamba Sebuah tiran hujan di seluruh sungai tubuhku. Disebabkan beberapa hal; aku tak pernah ingin lupa Dan tak pernah sepakat untuk mengingat suatu pekat nasib Yang diguratkan pada garisgaris di tanganku.
Apakah yang ada di pikiranmu tentang langit yang Menahan kantuk pada redupnya binar?—seperti sepasang pilar Di sepanjang trotoar—hingga nanti kuberikan Padamu sebotol percakapan, Untuk aku yang begini dan engkau yang begitu Agar suatu hari kita begitu lancar memotongmotong Bayangan kita sendiri yang kerap enggan dipersatukan.
Bukankah perkataan paling ind…

Sebab Pada Takdir Aku Khawatir

Bau tanah sehabis hujan dan udara yang berhembus kencang. Aku menikmati hawa yang lembab memasuki paruparuku yang sepi. Barangkali kekurangan oksigen atau bisa jadi karena jalan ini terlalu sempit untuk kulewati.
Aku teringat lagi sesobek adegan sabuncolek pada pertunjukkan teater tadi malam : sebuah omong kosong dicuci, got-got mampet meruapkan nyinyir berbau anyir. Seperti bangkai janji yang membusuk karena tak juga terbukti. Seperti itu memang, hidup adalah kecemasan.
(“Tuhan, siapa yang menciptakan pahala dan dosa? Apakah kita?”)
—Sebab pada takdir aku khawatir— Langit kelewat mendung, sepatu kumal, jeans belel terkena tumpahan cat, tubuh yang ringkih, dan malam begitu dingin. Aku merasa hidup terus begini. Selalu begini. Ingin sejenak Kurapalkan sajak kepada cuaca yang murung, yang mendung karena mungkin sedang berkabung.
Lalu pada cinta, aku tak lagi percaya. Selain diri sendiri, tak ada lagi yang paling setia.

2012