31.8.12

Rumah Penghabisan


Debur ombak, batu karang, 
dan angin pantai
Adalah halhal yang membikin kita lumrah
Adalah kesepakatan yang membuat kita parah

Sedang angan-angan akan pasrah
di bawah temaram lampukota 
Langit akan membantah
Untuk dilewatkan dan jatuh dengan telak
Di sepasang mata kita yang berjarak

Barangkali hidup hanyalah
Perkara meninggalkan dan ditinggalkan
Sedang senjata kita hanyalah
Kerinduan yang kita rebut
Dari piuh angin malam yang berdesir
Di pasirpasir bibir pantai

Namun jarak atau apapun itu
Tak akan sanggup menjelma amarah,
—Tanggaltanggal akan pecah
Dan kita adalah pemenang dari segala
Aku percaya itu sebagaimana
Aku mempercayai bahwa kau
Akan kembali menjadi sajaksajak
yang tabah memaklumi

Aku merasa tunai sejak mengenalmu
Dan kasmaran yang kulewati diamdiam
Adalah kesimpulan bahwa ini
Bukanlah mainmain kita yang sementara

Aku takkan kemana-mana
Kau selalu tahu harus mengunjungiku
Dimana. Sebab akulah rumahmu,
Akulah kepulangan dimana kau bisa
beristirahat lebih nyaman

Dan apabila kelak kau tersesat
Maka cukuplah aku sebagai mata angin
Yang tak pernah merubah arah


2012

27.8.12

Semacam Perayaan


Di penghujung tanggal yang kami
yakini adalah sebuah perayaan
Kami berusaha bahagia
Dan saling melupakan keburukan masingmasing

Ada yang menangis diantara kami
Barangkali sedang teringat kesalahan
Yang terlampau sulit dimaafkan

Kesalahan kecil, kesalahan besar
Mungkin hanya butuh ukuran keikhlasan yang berbeda

Di tubuh baru ini, barangkali masih ada sisa
Kekesalan atau sisa-sisa kepedihan yang belum mampu
dilenyapkan
Maka atas nama kemenangan
Biarlah masa silam mengering, tak perlu dihitung
Berapa dosa, beraba sebab dan akibat,
Kerugian dan remeh temeh salah ucap

Kami yang pernah saling menyakiti
Kelak akan tetap mengasihi

Tuhan selalu ada dimanapun kebaikan dirayakan


2012

Kalian Adalah Doa Masa Silam yang Tak Habis Diaminkan

Kita punya waktu bicara yang terbatas sebelum anganangan
Membawa kita lagi pada malam yang panjang
Atau kita bahkan punya kerinduan yang belum
Sempat diselesaikan, bahkan saat jarum jam
Telah menginjak angkaangka ganjil

Aku berharap tak disadarkan oleh kenyataan
Bahwa kesibukan adalah musuh paling nyata
Untuk kita tebas dengan punggung kita yang curam
Kalian adalah doa masa silam yang 
tak akan pernah habis kuaminkan

Ingin kudekap satusatu tubuh yang lampau itu
Yang pernah dan masih selalu baik padaku
Yang pernah dan masih tetap tertawa padaku
Lalu katakata barangkali adalah sebuah keengganan
Untuk kucairkan pada panorama di sebuah tempat yang 
Masih setia menyimpan nama kita

Aku barangkali hanya akan jadi daundaun 
Yang senantiasa gugur, tapi kalian adalah kesepakatan yang
Membuatku ingin terus hidup tanpa pernah luntur

Kita selalu mencari kesempatan bertemu yang tepat
Agar keberangkatan dan kepergian akan sepakat
Mensiasati keinginan yang barangkali kelewat egois, atau 
Harapan yang kelewat pesimis

Aku tak ingin selesai, aku tak ingin sebuah kenangan 
Punah oleh waktu yang tanggal di tahun-tahun perpisahan kita

Di luar dingin, aku ingin kita tak pernah sendirian






2012

9.8.12

sebuah tulisan yang menyimpan kau

kita pernah berkenalan di suatu musim yang sebelumnya tak pernah kita duga. kau datang dari kota yang teramat jauh jaraknya.

di ruang pameran, dengan cahaya lampu temaram; kau tanya siapa namaku,
aku menjawab dan tak balik bertanya,tapi kau menyebutkan namamu dengan nada bicara yang asing. aku merasa darisinilah cerita akan bermula.

malam itu dingin, aku merasa ingin selesai, namun kesibukan-kesibukan
adalah jadwal yang tak bisa sama sekali kulewatkan sampai akhirnya kau mulai menceritakan sejarah. aku bahkan tak tahu mengenai sejarah.
ingatanmu masih baik tentang berbagai muasal yang tumbuh di kotamu. sejarah, selalu ada yag tercatat dan mau tak mau dilupakan.
tapi begitulah pengalaman barangkali adalah hal-hal yang membuatmu bertahan.
diamdiam aku sedikit memujimu, kupikir itu perlu agar aku tak banyak membenci perkataanmu yang terkadang kupikir sok tahu.

lalu kerinduanmu terhadap sosok itu, aku mengerti, sungguh bilamana kulihat ia yang diam berdamai di ruang pameran. lagu pengantar, malam yang panjang, cahaya-cahaya lampu yang samar menerangi wajahku dan wajahmu. ah, kita seperti sedang berada pada masa depan, tanpa sebelumnya melewati masa lalu.
sungguh, aku tak ingin terlihat gugup tapi kudapati tanganku gemetar ketika memotong
berbagai peralatan. kau menangkap kecemasanku, lalu kau memberi tahu cara ini dan itu. aku mengangguk. maaf, mungkin akulah yang sok tahu.

kupikir malam benarbenar akan panjang dan pagi akan melarikan diri. aku terbiasa sendirian, dan tak perlu dibantu. kau bisa pergi dan tak usah kembali.
tapi entah atas apa, pamit yang kau ucapkan sedikit menyesakkan. mungkin kau bisa tinggal beberapa hari lagi disini, kau boleh menceritakan sejarah, sejarah apapun, tapi apa yang bisa diperbuat kenangan jika takdir sudah diciptakan.

di hari berikutnya kau berkata; suatu saat nanti kita pasti juga akan bertemu lagi. mungkin di kotamu, di kotaku, atau barangkali di kota lain.
aku belajar untuk punya ingatan yang baik setelah kepulanganmu. sebab seperti yang kita ketahui; yang melupakan akan juga dilupakan, bahkan lebih lama.


2012

1.8.12

Melankoli Pagi Hari

pagi ini adalah keheningan yang merangkak
dari bibir cangkir ke bibirku, melumerkan kelu
dalam sebuah waktu yang jarumnya berkejaran
dan angka-angka berhamburan.
sementara aku belum  juga beranjak.


tibatiba aku ingin bertanya entah pada siapa.
kerinduan macam apa yang kau inginkan?
yang biasabiasa atau yang dibiasakan
yang diamdiam atau yang didiamkan.


di langit aku melihat jelaga yang tak disengaja
buruburu kurampungkan doa sisa semalam
yang belum habis kurapalkan.
sepertinya nasib akan patuh pada waktu
:buku yang tergeletak dengan halaman terbuka,
udara yang hangat, dan siul burung parkit 
di luar beranda.
aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.


tiba-tiba aku hendak bertanya lagi, entah pada siapa
pertemuan macam apa yang kau inginkan?
yang biasa saja atau yang tidak biasa
yang diamdiam atau yang dibicarakan.


aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.


2012

Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...