Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2012

Rumah Penghabisan

Debur ombak, batu karang,  dan angin pantai Adalah halhal yang membikin kita lumrah Adalah kesepakatan yang membuat kita parah
Sedang angan-angan akan pasrah di bawah temaram lampukota Langit akan membantah Untuk dilewatkan dan jatuh dengan telak Di sepasang mata kita yang berjarak
Barangkali hidup hanyalah Perkara meninggalkan dan ditinggalkan Sedang senjata kita hanyalah Kerinduan yang kita rebut Dari piuh angin malam yang berdesir Di pasirpasir bibir pantai
Namun jarak atau apapun itu Tak akan sanggup menjelma amarah, —Tanggaltanggal akan pecah Dan kita adalah pemenang dari segala— Aku percaya itu sebagaimana Aku mempercayai bahwa kau Akan kembali menjadi sajaksajak yang tabah memaklumi
Aku merasa tunai sejak mengenalmu Dan kasmaran yang kulewati diamdiam Adalah kesimpulan bahwa ini Bukanlah mainmain kita yang sementara
Aku takkan kemana-mana Kau selalu tahu harus mengunjungiku Dimana. Sebab akulah rumahmu, Akulah kepulangan dimana kau bisa beristirahat lebih nyaman
Dan apabila kelak kau tersesat Maka cukuplah …

Semacam Perayaan

Di penghujung tanggal yang kami yakini adalah sebuah perayaan
Kami berusaha bahagia Dan saling melupakan keburukan masingmasing

Ada yang menangis diantara kami
Barangkali sedang teringat kesalahan
Yang terlampau sulit dimaafkan

Kesalahan kecil, kesalahan besar
Mungkin hanya butuh ukuran keikhlasan yang berbeda

Di tubuh baru ini, barangkali masih ada sisa
Kekesalan atau sisa-sisa kepedihan yang belum mampu
dilenyapkan
Maka atas nama kemenangan
Biarlah masa silam mengering, tak perlu dihitung
Berapa dosa, beraba sebab dan akibat,
Kerugian dan remeh temeh salah ucap

Kami yang pernah saling menyakiti
Kelak akan tetap mengasihi

Tuhan selalu ada dimanapun kebaikan dirayakan

2012

Kalian Adalah Doa Masa Silam yang Tak Habis Diaminkan

Kita punya waktu bicara yang terbatas sebelum anganangan
Membawa kita lagi pada malam yang panjang
Atau kita bahkan punya kerinduan yang belum
Sempat diselesaikan, bahkan saat jarum jam
Telah menginjak angkaangka ganjil

Aku berharap tak disadarkan oleh kenyataan
Bahwa kesibukan adalah musuh paling nyata
Untuk kita tebas dengan punggung kita yang curam
Kalian adalah doa masa silam yang 
tak akan pernah habis kuaminkan

Ingin kudekap satusatu tubuh yang lampau itu
Yang pernah dan masih selalu baik padaku
Yang pernah dan masih tetap tertawa padaku
Lalu katakata barangkali adalah sebuah keengganan
Untuk kucairkan pada panorama di sebuah tempat yang 
Masih setia menyimpan nama kita

Aku barangkali hanya akan jadi daundaun 
Yang senantiasa gugur, tapi kalian adalah kesepakatan yang
Membuatku ingin terus hidup tanpa pernah luntur

Kita selalu mencari kesempatan bertemu yang tepat
Agar keberangkatan dan kepergian akan sepakat
Mensiasati keinginan yang barangkali kelewat egois, atau 
Harapan yang kelewat pesimis

Aku ta…

sebuah tulisan yang menyimpan kau

kita pernah berkenalan di suatu musim yang sebelumnya tak pernah kita duga. kau datang dari kota yang teramat jauh jaraknya.

di ruang pameran, dengan cahaya lampu temaram; kau tanya siapa namaku, aku menjawab dan tak balik bertanya,tapi kau menyebutkan namamu dengan nada bicara yang asing. aku merasa darisinilah cerita akan bermula.
malam itu dingin, aku merasa ingin selesai, namun kesibukan-kesibukan adalah jadwal yang tak bisa sama sekali kulewatkan sampai akhirnya kau mulai menceritakan sejarah. aku bahkan tak tahu mengenai sejarah. ingatanmu masih baik tentang berbagai muasal yang tumbuh di kotamu. sejarah, selalu ada yag tercatat dan mau tak mau dilupakan. tapi begitulah pengalaman barangkali adalah hal-hal yang membuatmu bertahan. diamdiam aku sedikit memujimu, kupikir itu perlu agar aku tak banyak membenci perkataanmu yang terkadang kupikir sok tahu.
lalu kerinduanmu terhadap sosok itu, aku mengerti, sungguh bilamana kulihat ia yang diam berdamai di ruang pameran. lagu pengantar, ma…

Melankoli Pagi Hari

pagi ini adalah keheningan yang merangkak
dari bibir cangkir ke bibirku, melumerkan kelu
dalam sebuah waktu yang jarumnya berkejaran
dan angka-angka berhamburan.
sementara aku belum  juga beranjak.


tibatiba aku ingin bertanya entah pada siapa.
kerinduan macam apa yang kau inginkan?
yang biasabiasa atau yang dibiasakan
yang diamdiam atau yang didiamkan.


di langit aku melihat jelaga yang tak disengaja buruburu kurampungkan doa sisa semalam
yang belum habis kurapalkan.
sepertinya nasib akan patuh pada waktu
:buku yang tergeletak dengan halaman terbuka,
udara yang hangat, dan siul burung parkit 
di luar beranda.
aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.


tiba-tiba aku hendak bertanya lagi, entah pada siapa
pertemuan macam apa yang kau inginkan?
yang biasa saja atau yang tidak biasa
yang diamdiam atau yang dibicarakan.


aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.


2012