20.2.13

ironi

orangorang dari tempat perbelanjaan

telah seraya menghadapkan
punggungnya ke arah malam
mereka mengenang tabungan
yang tandas dan 
mengepung kenangan 
dengan wajah pucat

kantongkantong berisi cinta yang berkarat,
cinta yang tak tepat dijinjing 
dan dihempaskan ke dalam
dada yang tak pernah puas
angin malam menghembus,
udara menghapus

tak jauh dari bangunan tinggi itu,
yang cahayanya merah menyala itu,
seorang tua penyapu jalanan
membersihkan sisasisa keikhlasan.

dari wajahnya yang rumit,
derita belum juga pamit
namun dari matanya meneteskan
cinta yang nanar,
cinta yang mungkin benar

2013

14.2.13

Sudah Lama Aku Tak Menulis Puisi


Sudah lama aku tak menulis puisi
Setelah beberapa demam dan
Sejumlah lebam yang menyelinap di tubuhku
Aku benar mengerti bahwa kesedihan
akan tandas, dan kenanganku yang malang
akan lupa tercatat.

Sudah lama aku tak menulis puisi
Sejak kotaku tergenang dan kecemasan
Hanyut dibawa oleh serdadu-serdadu
Bersepatu lars. Aku menejelma
Ikanikan kecil yang diburu sekelompok
Perompak cilik. Siripku patah
Dan nafasku basah sebab
Jala yang mereka tebar telah
Menjerat sampan-sampan yang kutinggalkan.

Aku pernah hendak menulis puisi
Namun waktu nyaris musnah
Sementara hujan belum juga punah
Rumahrumah  tergenang, penduduk mengungsi
Dan mengangkut barang
Entah tangis siapa dan untuk sedihnya siapa

Aku pernah ingin menulis puisi
Sebagai peringatan tentang beberapa kejadian,
Peristiwa, dan sejarah yang tumbuh di kotaku
Namun ngilu terlampau pedih untuk diberitahukan
Dan tanggal akan pecah pada hari depan.

2013

Sajak Pesakitan


Setiap malam, selalu kulewati
Berbagai macam mimpi buruk,
Semacam adegan tembak menembak dalam
film action atau prosesi sakratul maut bahkan pernah
Melipat-lipat alam bawah sadarku
Dan membuangnya ke jurang
Dengan kedalaman yang
Tak berani kuhitung.

Aku merasa ini tukak lambung yang sudah
Dimakan usia, namun aku tak pernah ingat
merayakannya ulangtahunnya.
Tanggal-tanggal pecah di kepalaku.
Aku lupa hari. Aku kacau pada ruang, pada waktu.

Lalu kata ibu, kunyit adalah jalan keluar
Bagi lambung yang lebam.
Saat matahari lengser, dan
Bulan tengah pucat.
Ibu memarut kunyit dengan tubuhnya
Yang perlahan menguning, parutannya
Dicampur dengan airmata hujan.
Aku meminumnya seperti aku
Meminum kesedihan dan
Dadaku sebentar-sebentar gerimis.
Mataku tergenang dan lambungku kekuningan.

Sekadar ini pun tak cukup,
Berbagai generik dan obat sirup telah jadi
Temanbaikku, bahkan saudara sepenanggungan.

Ini parodi yang dipertontonkan Tuhan.
Aku jadi malu pada kemerdekaanku.
Ibu berkata lagi—tak apa Nak, ini cuma
Soal waktu dan rasa sakit.

Ibu, apakah yang lebih merdeka dari waktu?
Adakah yang lebih tidak merdeka dari rasa sakit?


(menjelang akhir tahun)

Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...