Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2013

Megatruh

Subuh nyaris lelap di pipi lazuardi
Lalu pada rumput halaman itu, ada yang sempat terlewat atau mungkin takkan lewat
Raup angin mencubit lenganku hingga biru, kau cumbu Lalu kau mainkan tembang layu  Lamatlamat kawanan kumbang mengerubung bibirmu
Hendak kau rapalkan rangkai kata dan jalin suara Perihal rahasia yang lebih meyakinkan dari Sekadar angan pada kebun, Dari sekadar sauh layar pada ombak
Kelak karang berjanji pada selatan yang pasang Bahwa tuhan akan dekat di urat lehermu
Sebuah kaum larat di sebrang selat membisikkan : megatruh
Tapi apakah kau bisa menduga dari tangis tetangga Dan tanah yang terkulum nanti di pintal rambutmu
(apakah itu dosa? apakah kesepian juga sebuah dosa?)
Lalu kulihat tubuhmu berpaling ke arah hutan Arah mata angin selatan dan ranting yang terbelah itu mungkin tak lagi bisa menuntunmu pulang
2013

Dongeng yang tak ada

Kita pernah menanam mimpi perihal bangsa yang luhur dalam beton-beton dan kota yang terbelah. Seseorang memberikan dongeng di atas panggung, penonton tak tidur. Pendongeng itu mengajari kita untuk bermimpi tanpa tidur. Salad dalam mangkuk, stroberi yang pecah dalam timbunan es batu dan pelayan yang mengucapkan “silakan dan terimakasih” secara berulang tanpa pernah bosan. Sebab waktu adalah jembatan untuk menyebrang dari sebuah klise ke dalam klise yang lain. Pengabdian adalah klise yang tak akan luntur, klise yang selalu berarti.
Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati. Suara Widya membuat pendengarnya jatuh cinta meski jauh di ulu hati lirik itu terasa sakit. Sebab seorang ibu yang tak mampu lagi melindungi, ibu yang terlunta dalam rintihan.
Bagaimana reformasi akan menebus yang telah hilang? Tapi seorang perempuan berdendang, dari senar-senar pendeknya ia petikkan parodi, lantas tenda-tenda bergetar, tawa pecah pada diri yang tadi seolah-olah tak ada. Dengan atau tanpa metafora ia se…

Ilusi

Lalu siapa yang akan memberiku nasihat selain ibu yang menunggu di rumah, Atau bapak yang sedang membangun Puing-puing kenangan di kamar mandi dan tembok-tembok rumah Aku hanya tersesat pada keberangkatanku yang mungkin sia-sia Lalu tuhan adalah seperangkat doa dari subuh-subuhku yang gamang Masih adakah yang selamat dari ingatan-ingatanku yang terbang Rembulan telah penuh sejak kusimpan dalam saku baju yang robek dihancurkan hujan Lalu pada bunyi dentang jam tengah malam ada kepalamu muncul dari gerbong kereta sebrang ternyata tubuhmu semakin kurus dilawan arus dan kita sama-sama memandu perjalanan memapah sejarah, namun tak mengerti akan tujuan Kini pada hidup yang nyata aku sama sekali tak bisa menemukanmu aku hanya menyusun ulang segala yang bisa kukenang aku hanya bisa mengenang namun tak berani merindukan Sebagaimana aku hanya sanggup mendoakan mendoakanmu, mendoakan keselamatanmu Barangkali hidup memang begini hanya ilusi yang kita ciptakan sendiri 2013

Gambuh

Pada langit kamar penuh memar Ia tatap sepasang laba-laba yang tekun menenun Rumah sederhana seakan-akan tak takut, Bahwa yang telah susah payah dirajut akan kelut, akan kusut..
Apakah sepasang laba-laba itu sedang menenun dengan benang yang sama murungnya dengan kemurungan di angkasa?”
Penyair itu kembali menekuk lututnya, Ia goyang-goyangkan pena, Ia tulis sesuatu di jidatnya sendiri, Lalu utopia tentang sesuatu yang tak pernah dikeluhkannya Akhirnya tayang juga.
Sepuluh hari lagi, Plato, anak kita, berulangtahun Katanya ia ingin ke pantai, pak.” Ia seperti Mendengar kerinduan dilagukan dari derit jendela Dan desau gugur daun di beranda
Dari lubang kunci dengan diameter dua senti Penyair itu meniupkan kabar untuk anak dan istrinya “Kelak di suatu pagi yang tak murung dan Persembunyian telah lenyap, bapak akan pulang.”
Malam mendengus, dari kejauhan ia dengar gelombang balasan “Bapak sehat? Bagaimana cara menunggu agar tak menyesal? Bagaimana cara agar waktu tak merubah kita?”
Ia terdiam lalu kepalany…

Soliloqui

Suatu hari, perempuan itu jatuh cinta pada komputernya Ia memandangi komputer itu saban pagi Atau saat malam-malam menjelang tidur
Cicak di dinding berdecak, berbicara tentangku, Lalu iatahu pasti apa yang akan ditanyakannya : “Kenapa kau begitu betah? Kenapa begitu tabah?”
Sebab hanya disinilah aku bisa membayangkannya Aku membayangkan ia sedang tersenyum membayangkanku
Pepohonan bergerak, daun-daun jatuh di luar jendela Di bawah bulan tembaga dan malam yang mencair di matanya Perempuan itu tahu tak ada yang bisa dilakukannya
“Bagaimana kalau ia tidak membayangkanmu? Bagaimana kalau non sense?”
Ada debar yang sangat keras memecah dadanya Kemudian diikuti hening yang cukup panjang
Ia menjawab dengan setengah gumam, setengah diam “Tak apa, tak apa. Ini cinta yang tahu diri, rela tak berbalas.”
2013

Tiga bulan sepeninggal suaminya

Buat Tanteku; Astuti
Tiga bulan sepeninggal suaminya, Sang istri tidak pernah absen melakukan Ritual upacara peringatan kenangan, Kenangannya tak habis-habis, mulai dari Awal pernikahan sampai saat terakhir Sang suami pamit selamanya “Bu, aku pergi sebentar ke rumah Neil Amstrong, Sehabis itu kita bersama akan piknik ke bulan.”
Namun ia tak bisa sedikitpun membayangkan Bulan yang dimaksud oleh sang suami. Berkali-kali ia meminta penjelasan “Ayah, semalam aku bermimpi bulan itu Ternyata hanya sebesar bola mata anak kita.” Namun suami dalam foto itu hanya khusuk menatap Gurat otot lengannya sendiri.
Suami dalam foto itu konon seorang juara panco Yang berhasil mengalahkan juragan dan bandit Kenangan yang bolak-balik mengajaknya bertanding. Tak pernah satu kekalahan pun ia dapatkan, Kecuali ketika anaknya sakit dan bermimpi Dipermainkan oleh bola kesayangannya.
“Bola apa itu, bu?” “Entahlah, Nak, mungkin bola matamu sendiri.” Belakangan mereka tahu bahwa itu bulan Milik Neil Amstrong yang masuk ke mimpinya. Si i…

Roseta

Setelah demam, beberapa pukulan dan api yang membakar kedua belah tangannya, Perempuan itu berpikir tentang kemerdekaan Dalam bentuk yang lain Ia ingat-ingat bagaimana Jaya dan muara Ancol Selalu berhasil meredam pedihnya
:Maria, maria Kenapa kita tak boleh bahagia?
Lalu pada lengah yang lain, Ia lari ke utara, melupakan Tapak-tapaknya dengan perih dan luka yang biasa Namun jauh panggang dari api Harapan tinggal sisa bara, hitamnya Tercoreng di wajah sendiri
Perampok madat yang tak bisa mati itu Selalu berhasil membuat perayaan yang menyakitkan Tanah kelahiran takkan pernah ada, “Bali, aku ingin ke Bali Bertemu saudaraku yang tinggal seadanya..”
Airmata panas, pepohonan meranggas di dadanya Perempuan itu membesarkan perasaannya sendiri
Tiba-tiba Neptum seperti nasib yang serupa di garis tangannya :kenapa manusia semacam kita selalu tak punya pilihan, Roseta?
Kemerdekaan memilih takdirnya sendiri Neptum menemui naasnya, “Siman, budak macam dia jangan terlepas,

Di senja yang begitu

Di senja yang begitu, ia lihat kepak camar pada langit
Awan melipat sore, dan cahaya ungu, oranye, merah, pun biru: sebuah komposisi yang mirip kesedihan Namun ia takkan menangis Walau sesap pada jalan layang Klakson-klakson yang tak sabar Dan kaki yang perlahan layu Ia buat pertanyaan untuk dirinya sendiri Kenapa? Kenapa senja selalu memikat? Lalu ia ingat, Pada hasrat dan tirakat yang lain, Ia ingin segera sampai Ingin segera usai
2013

Dag

Mungkin beginilah harusnya, aku mengalah dan pergi Di bawah malam yang tinggal satu persoalan: Bagaimana cemas akan berangkat Dan perjumpaan akan selesai
Kini pasar-pasar malam mulai riuh, Menyanyikan rutinitas Dalam bayang-bayang tak berperasaan Lampu-lampu memainkan luruh Laron-laron memuat hal-hal sederhana Dalam kepak sayap, Dalam tuhan mendekap Lalu subuh mulai jauh Dan aku masih tersesat
Musim bulan ini memberi kabar Perihal hujan yang akan meninggalkanku
Tapi apakah kau masih percaya bahwa pantai masih ada? Dan mungkin suatu hari, Saat senja, Karang-karang akan menanggalkan semua ingatan Dan ombak mungkin telah menghanyutkan namamu, Mungkin juga mendamparkannya ke tepi
Namun pada cinta yang patah, Bila kau bertanya Apakah? Apakah aku menyerah?
Di antara kita tak bisa saling mengucap Tak bisa menjawab Lalu kembali beranjak Pada sepi masing-masing
2013