25.5.13

Megatruh

Subuh nyaris lelap di pipi lazuardi
Lalu pada rumput halaman itu, ada yang sempat terlewat
atau mungkin takkan lewat

Raup angin mencubit lenganku hingga biru, kau cumbu
Lalu kau mainkan tembang layu 
Lamatlamat kawanan kumbang mengerubung bibirmu

Hendak kau rapalkan rangkai kata dan jalin suara
Perihal rahasia yang lebih meyakinkan dari
Sekadar angan pada kebun,
Dari sekadar sauh layar pada ombak

Kelak karang berjanji pada selatan yang pasang
Bahwa tuhan akan dekat di urat lehermu

Sebuah kaum larat di sebrang selat membisikkan
: megatruh

Tapi apakah kau bisa menduga dari tangis tetangga
Dan tanah yang terkulum nanti di pintal rambutmu

(apakah itu dosa? apakah kesepian juga sebuah dosa?)

Lalu kulihat tubuhmu berpaling ke arah hutan
Arah mata angin selatan
dan ranting yang terbelah itu
mungkin tak lagi bisa menuntunmu pulang

2013

23.5.13

Dongeng yang tak ada


Kita pernah menanam mimpi perihal bangsa yang luhur dalam beton-beton dan kota yang terbelah. Seseorang memberikan dongeng di atas panggung, penonton tak tidur. Pendongeng itu mengajari kita untuk bermimpi tanpa tidur. Salad dalam mangkuk, stroberi yang pecah dalam timbunan es batu dan pelayan yang mengucapkan “silakan dan terimakasih” secara berulang tanpa pernah bosan. Sebab waktu adalah jembatan untuk menyebrang dari sebuah klise ke dalam klise yang lain. Pengabdian adalah klise yang tak akan luntur, klise yang selalu berarti.

Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati. Suara Widya membuat pendengarnya jatuh cinta meski jauh di ulu hati lirik itu terasa sakit. Sebab seorang ibu yang tak mampu lagi melindungi, ibu yang terlunta dalam rintihan.

Bagaimana reformasi akan menebus yang telah hilang? Tapi seorang perempuan berdendang, dari senar-senar pendeknya ia petikkan parodi, lantas tenda-tenda bergetar, tawa pecah pada diri yang tadi seolah-olah tak ada. Dengan atau tanpa metafora ia  senandungkan pagi yang elok, kicau burung, kluruk ayam, petani-petani yang tak punya airmata.

Pantaskah kita kenang miliaran barel batu bara yang sia-sia? Hujan peluru, air bah, barangkali Nuh telah menangis sebab kita bukan orang asing yang menyapa apakah visi kita berbeda?

Hari itu sudah gelap dan pendongeng itu kembali basah dalam hujan di matanya. Kita tahu, telah jadi sebuah gejala dan Musa akan bangun untuk memukul tongkatnya, lantas kita baca apa yang telah sirna dan terbelah itu. Kau mungkin akan berkata disini tak ada lagi Columbus yang menjatuhkan airmata hingga jadi peta Sumatera atau Samudera Hindia, disini adalah ladang yang akan habis buahnya, dan kita akan kembali sia-sia pada yang tak ada.

2013


22.5.13

Ilusi


Lalu siapa yang akan memberiku nasihat
selain ibu yang menunggu di rumah,
Atau bapak yang sedang membangun
Puing-puing kenangan di kamar mandi dan
tembok-tembok rumah
Aku hanya tersesat pada keberangkatanku
yang mungkin sia-sia
Lalu tuhan adalah seperangkat doa dari
subuh-subuhku yang gamang
Masih adakah yang selamat
dari ingatan-ingatanku yang terbang
Rembulan telah penuh sejak kusimpan
dalam saku baju yang robek dihancurkan hujan
Lalu pada bunyi dentang jam tengah malam
ada kepalamu muncul dari gerbong kereta sebrang
ternyata tubuhmu semakin kurus dilawan arus
dan kita sama-sama memandu perjalanan
memapah sejarah, namun tak mengerti akan tujuan
Kini pada hidup yang nyata
aku sama sekali tak bisa menemukanmu
aku hanya menyusun ulang segala yang bisa kukenang
aku hanya bisa mengenang namun tak berani merindukan
Sebagaimana aku hanya sanggup mendoakan
mendoakanmu, mendoakan keselamatanmu
Barangkali hidup memang begini
hanya ilusi yang kita ciptakan sendiri
  
2013
 

19.5.13

Gambuh


Pada langit kamar penuh memar
Ia tatap sepasang laba-laba yang tekun menenun
Rumah sederhana seakan-akan tak takut,
Bahwa yang telah susah payah dirajut
akan kelut, akan kusut..

Apakah sepasang laba-laba itu sedang menenun dengan
benang yang sama murungnya dengan
kemurungan di angkasa?”

Penyair itu kembali menekuk lututnya,
Ia goyang-goyangkan pena,
Ia tulis sesuatu di jidatnya sendiri,
Lalu utopia tentang sesuatu yang tak pernah dikeluhkannya
Akhirnya tayang juga.

Sepuluh hari lagi, Plato, anak kita, berulangtahun
Katanya ia ingin ke pantai, pak.” Ia seperti
Mendengar kerinduan dilagukan dari derit jendela
Dan desau gugur daun di beranda

Dari lubang kunci dengan diameter dua senti
Penyair itu meniupkan kabar untuk anak dan istrinya
Kelak di suatu pagi yang tak murung dan
Persembunyian telah lenyap, bapak akan pulang.”

Malam mendengus, dari kejauhan ia dengar gelombang balasan
Bapak sehat? Bagaimana cara menunggu agar tak menyesal?
Bagaimana cara agar waktu tak merubah kita?”

Ia terdiam lalu kepalanya lesap 
di antara siku dan lutut yang terlipat


2013

4.5.13

Soliloqui


Suatu hari, perempuan itu jatuh cinta pada komputernya
Ia memandangi komputer itu saban pagi
Atau saat malam-malam menjelang tidur

Cicak di dinding berdecak, berbicara tentangku,
Lalu ia tahu pasti apa yang akan ditanyakannya
: “Kenapa kau begitu betah? Kenapa begitu tabah?”

Sebab hanya disinilah aku bisa membayangkannya
Aku membayangkan ia sedang tersenyum membayangkanku

Pepohonan bergerak, daun-daun jatuh di luar jendela
Di bawah bulan tembaga dan malam yang mencair di matanya
Perempuan itu tahu tak ada yang bisa dilakukannya

“Bagaimana kalau ia tidak membayangkanmu?
Bagaimana kalau non sense?”

Ada debar yang sangat keras memecah dadanya
Kemudian diikuti hening yang cukup panjang

Ia menjawab dengan setengah gumam, setengah diam
“Tak apa, tak apa.
Ini cinta yang tahu diri, rela tak berbalas.”

2013

Tiga bulan sepeninggal suaminya


Buat Tanteku; Astuti

Tiga bulan sepeninggal suaminya,
Sang istri tidak pernah absen melakukan
Ritual upacara peringatan kenangan,
Kenangannya tak habis-habis, mulai dari
Awal pernikahan sampai saat terakhir
Sang suami pamit selamanya
“Bu, aku pergi sebentar ke rumah Neil Amstrong,
Sehabis itu kita bersama akan piknik ke bulan.”

Namun ia tak bisa sedikitpun membayangkan
Bulan yang dimaksud oleh sang suami.
Berkali-kali ia meminta penjelasan
“Ayah, semalam aku bermimpi bulan itu
Ternyata hanya sebesar bola mata anak kita.”
Namun suami dalam foto itu hanya khusuk menatap
Gurat otot lengannya sendiri.

Suami dalam foto itu konon seorang juara panco
Yang berhasil mengalahkan juragan dan bandit
Kenangan yang bolak-balik mengajaknya bertanding.
Tak pernah satu kekalahan pun ia dapatkan,
Kecuali ketika anaknya sakit dan bermimpi
Dipermainkan oleh bola kesayangannya.

“Bola apa itu, bu?”
“Entahlah, Nak, mungkin bola matamu sendiri.”
Belakangan mereka tahu bahwa itu bulan
Milik Neil Amstrong yang masuk ke mimpinya.
Si ibu menatap anaknya, kemudian beralih menangkap
mata sang ayah dalam foto itu sedang melirik mereka berdua.

2013


3.5.13

Roseta


Setelah demam, beberapa pukulan
dan api yang membakar kedua belah tangannya,
Perempuan itu berpikir tentang kemerdekaan
Dalam bentuk yang lain
Ia ingat-ingat bagaimana Jaya dan muara Ancol
Selalu berhasil meredam pedihnya

:Maria, maria
Kenapa kita tak boleh bahagia?

Lalu pada lengah yang lain,
Ia lari ke utara, melupakan
Tapak-tapaknya dengan perih dan luka yang biasa
Namun jauh panggang dari api
Harapan tinggal sisa bara, hitamnya
Tercoreng di wajah sendiri

Perampok madat yang tak bisa mati itu
Selalu berhasil membuat perayaan yang menyakitkan
Tanah kelahiran takkan pernah ada,
“Bali, aku ingin ke Bali
Bertemu saudaraku yang tinggal seadanya..”

Airmata panas, pepohonan meranggas di dadanya
Perempuan itu membesarkan perasaannya sendiri

Tiba-tiba Neptum seperti nasib yang serupa di garis tangannya
:kenapa manusia semacam kita selalu tak punya pilihan, Roseta?

Kemerdekaan memilih takdirnya sendiri
Neptum menemui naasnya,
“Siman, budak macam dia jangan terlepas,
Jangan sekalipun!”

Lelaki itu menagis, menggumamkan pemberontakan
Dalam hening yang amat panjang
Kemerdekaan, kemerdekaan.. kenapa aku tak
Dibiarkan saja mati?

Ada rencana yang amat besar telah berakar
Setan hinggap dimatanya
Esok malam, ketika bulan memanjang,
ketika dokter Kramer pergi,
Ketika rumah sepi
Seorang gadis diculiknya dan hendak dijadikan istri

Tidakkah kau ingat Roseta juga seorang perempuan?
Jaya, kenapa harus rakus pada kehidupan
Kenapa harus, seorang lelaki lebih mencintai kecantikan
Daripada kesetiaan hidup..

Lalu pada perang yang tak mampu diterka
Bedil dan tapal kuda telah melarikan tubuhnya ke arah empat penjuru
Kulitnya pecah, bandit-bandit musnah

O, Batavia yang tentram..
Kuterima kemerdekaanku

2013


2.5.13

Di senja yang begitu

Di senja yang begitu, ia lihat kepak camar pada langit
Awan melipat sore, dan cahaya ungu, oranye, merah,
pun biru: sebuah komposisi yang mirip kesedihan
Namun ia takkan menangis
Walau sesap pada jalan layang
Klakson-klakson yang tak sabar
Dan kaki yang perlahan layu
Ia buat pertanyaan untuk dirinya sendiri
Kenapa?
Kenapa senja selalu memikat?
Lalu ia ingat,
Pada hasrat dan tirakat yang lain,
Ia ingin segera sampai
Ingin segera usai

2013

Dag


Mungkin beginilah harusnya, aku mengalah dan pergi
Di bawah malam yang tinggal satu persoalan:
Bagaimana cemas akan berangkat
Dan perjumpaan akan selesai

Kini pasar-pasar malam mulai riuh,
Menyanyikan rutinitas
Dalam bayang-bayang tak berperasaan
Lampu-lampu memainkan luruh
Laron-laron memuat hal-hal sederhana
Dalam kepak sayap,
Dalam tuhan mendekap
Lalu subuh mulai jauh
Dan aku masih tersesat

Musim bulan ini memberi kabar
Perihal hujan yang akan meninggalkanku

Tapi apakah kau masih percaya bahwa pantai masih ada?
Dan mungkin suatu hari,
Saat senja,
Karang-karang akan menanggalkan semua ingatan
Dan ombak mungkin telah menghanyutkan namamu,
Mungkin juga mendamparkannya ke tepi

Namun pada cinta yang patah,
Bila kau bertanya
Apakah?
Apakah aku menyerah?

Di antara kita tak bisa saling mengucap
Tak bisa menjawab
Lalu kembali beranjak
Pada sepi masing-masing

2013

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...