Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Dongeng Batu

Matahari melahirkan pagi Langit berganti kulit Udara menyusun percakapan dari embun dan mimpi
Api dalam bara, Juga kompor dalam cinta yang sederhana Maka kuracikkan padamu Kabut yang demam menyebutkan penantian Dari bijibiji kopi juga rebusan Kelopak bunga kenanga Yang jatuh pada rumput yang hijaunya Tak kalah dengan milik tetangga
Tak perlulah kau masuki tidurku, Cukup kau ukir namaku pada gading dadamu, Lalu bercakaplah Pada kenangan yang tak terbaca Maka ranumlah Pada musim panen yang tertanam dalam Kotakkotak surat juga tembang purba Yang dilagukan paduan suara di bukit Kurukhsetra
Kepada Bisma, kualamatkan seluruh anak-anak panahku Kuhunuskan tepat di palung jantungmu Maka tak usah kau gumamkan lagi keluhkesah Sebab akulah angin yang selalu ingin berkabung
Barangkali kau telah jadi hantu yang bergentayang Dalam kamartidurku Memasuki jelaga mimpi Menggoyahkan iman-iman Yang tercantol di belakang pintu
Telah kumakamkan derita dalam sumur tanpa dasar Namun mengapa kau masih mengigaukan Muara yang sama? Padaha…

Di tepi kali Manggarai

Di dalam pagi yang terbuat dari rasa cemas dan naas Di tepi kali Manggarai, Seorang lelaki bertubuh legam memar terkapar Satu nyawa mengambang bersama tumpukan sampah Dan kenangan hitam sejarah
Di dalam pagi yang terbuat dari rasa cemas dan ingin tahu Orang-orang memberi jeda pada rambu Mereka yang hendak pergi menyimpan Waktu dalam saku baju Lalu yang nyaris pulang menabung kesempatan menghentikan pandang
(kematian tak memilih dirinya sendiri)
Ajal terasa pejal, lalu waktu Adalah lelehan kabut pagi yang pundung Dalam tempurung matanya Adalah hitam air kali yang tak lagi punya muara
Di dalam pagi yang cemas dan langu kematian Orang-orang membereskan duka, Mengalamatkannya pada yang tak dikenal O, hidup ternyata bukan sesuatu yang sepenuhnya aman dan tak seutuhnya bahagia

2013