Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

aku tak jera

bibirku pecah dilempar mainan besi
tulang keringku ditendang sewaktu di kamar mandi
waktu aku melarangnya jajan sembarangan, rambutku
dijambak hingga rontok
bahkan aku pernah hampir takut buta
saat mataku dipukul gagang kipas kayu

seperti para pejuang yang tak jera masuk bui
aku tak jera
aku tetap mengantarnya ke sekolah, mengamatinya dari balik pagar
memandikannya sembari mencontohkan cara sikat gigi yang benar
menemaninya mengerjakan pekerjaan rumah
saat ke toko buku, aku selalu ingat untuk sekadar membelikan buku-buku bergambar binatang kesukaannya

aku tak jera
seperti sebuah kalimat yang kutemukan di suatu pagi,
"aku rela dikatakan buta, lantaran aku memang tidak melihat lagi
suatu cacat pada yang aku cintai.."


september 2013


Hati-Hati Jaga Jarak

Bantal Anti Air Mata

Ada orang-orang yang memilih untuk menumpahkan kesedihannya di khalayak, dipublish di sosial media, atau bahkan dimanipulasi dengan tertawa terlalu banyak. Namun ada juga sebagian orang yang memilih untuk menyimpan kesedihannya di bawah bantal, memecahkan tangisnya di dalam dekapan malam, berharap hanya ia dan Tuhan saja yang tahu tentang itu, lalu seolah-olah air matanya bisa lunas dan piutang tentang kesedihannya telah tandas dengan ikhlas.
Bantal ini cocok untuk menangkal segala duka, lara, dendam, dan kecewa sebab cinta yang bertepuk sebelah tangan, pertengkaran dengan orang tersayang, kerisauan perihal masa depan, kesendirian tak berujung, atau bahkan nasib ekonomi yang diujung tanduk. Bantal ini mengajarkan kita untuk menjadi pejuang yang tangguh dan tak cengeng dalam mengahadapi persoalan mulai dari yang sepele sampai yang bertele-tele. Rasanya kita memang tak butuh airmata untuk hal-hal yang tak selesai, cukup bantal anti air mata yang akan menyelesaikan sega…

Sajak Pada Sebuah Melankoli

Malam menjahit gulita dari butiran bintang yang tercecer di padang matamu Sebagai musafir dalam perjalanan ini  mungkin bisa sekedar singgah Duduk melepas sandal, membuka kotak bekal berisi nasi dan ikan bawal Konon perut adalah hal yang sakral untuk diobral Maka kita berbisik saja pada angin pasang yang Melemparkan sauh itu hingga ke tepian, soal lapar yang barangkali tak tertangkap Oleh bengal tanggal-tanggal yang rontok di sepanjang pesisir tanpa dian penerang
Hingga kita menemu pagi lagi pada gumam pantai itu Maka aku kini adalah pasir yang menunggu ombak membawaku sampai ke tubuh laut Perahu layar, peluit kapal, dan terik matahari yang menghancurkanku Menjadi partikel terkecil, menjadi lahapan ikan-ikan lapar Dan ikan itu kini sampai tepat di padang matamu lagi
Barangkali aku pernah terlupa oleh masa, atau menjadi sebuah tokoh tanpa nama Maka jika malam kembali pamit berpijar, izinkan aku menjelma fajar Yang terbaring di pelataran langit itu Menunggu suara muadzin itu Sebab aku ingin sembahyan…

Langu Tahu

Yang membuatku langu Seperti aroma tahu yang kian Melonjak itu Buruh kini sebagai pepatah lama “Pahlawan tanpa tanda jasa”
Kini yang tersedia di meja Hanya taplak yang terjahit Dari lembar pagi yang muram Matahari saja sembunyi di balik Menara tinggi menjulang
Kita duduk saja sembari menunggu hujan Yang terbuat dari embun matamu Kudengar kemarau akan panjang Dan dompet kita akan kekeringan


2013

Sebentar lagi sampai

Sebab rumah adalah ibu yang merawat luka zaman dari peperangan panjang itu..

Melewati jalan-jalan panjang, tikungan-tikungan tajam, ada perasaan yang berulang dan seperti tidak dapat selesai. Kenangan mengenalkan dirinya lagi dari bau yang didenguskan udara, aku hendak mendesis seperti ular yang mengalami dejavu-dejavu. Tempat ini, tempat itu, tempat-tempat singgah yang pernah menjadi tumbal dalam segala laku, kesibukan, penat, dan tawa.
Moment yang pudar namun masih terekam sebagian dan sebagian. Imaji mengeliar, menjeratku pada pusaran waktu, memaksaku lagi untuk merindukan halhal yang dulu kuanggap begitu-begitu saja. namun aku ingin kembali, perasaan ingin kembali adalah perasaan yang kumaksud tak dapat kuselesaikan, tak bisa kuwujudkan dalam realitas meskipun dalam waktu dan ruang yang lain. Waktu berlari.. dunia berlari, banyak yang berubah, rumah kos-kosan yang dibangun dengan tembok tinggi, kamar-kamar yang diperbanyak, warung-warung makan yang mengganti pemilik, namun tak ada …