30.12.14

Kanak-Kanak

Dunia anak-anak memang sangat aneh sekaligus menakjubkan. Mereka bisa melakukan apa saja tanpa takut akan risiko nantinya. Mereka dapat tertawa sepuasnya, memang dalam usia mereka belum ada beban hidup yang perlu ditanggung. Itu terbukti dari frekuensi tertawa anak-anak yang lebih sering dalam satu hari, dibandingkan orang dewasa.

Itu pun saya rasakan ketika saya sedang bersama anak-anak. Hidup rasanya cuma hari ini saja, melakukan berbagai aneka macam permainan untuk mengisi hari dengan penuh tawa. "Mereka adalah peniru ulung" Itu yang saya pelajari. Dan itu juga yang membuat saya jadi sering merefleksikan diri, Apakah perilaku dan kata-kata saya sudah cukup baik hari ini? Saya tidak mau "dicap" sebagai biang kerok atas perilaku dan kata-kata buruk yang dikeluarkan oleh anak.

Ketika saya bersama anak-anak, saya pun seakan berubah menjadi yang bukan diri saya. Melakukan hal-hal konyol yang tak pernah terpikir bahwa saya akan melakukannya. Anak-anak adalah sumber anugerah karena pada tawa mereka senantiasa membuat kita bahagia. Pernah saya terima kabar, bahwa kakak saya tidak akan menitipkan lagi anaknya di rumah karena suatu hal. Saya tersentak dihinggapi berbagai macam perasaan aneh, salah satu perasaan yang paling kuat adalah perasaan kehilangan.

Benak saya langsung pergi ke wajah keponakan saya yang sedang penuh tawa. Tak bisa sedikitpun tangis keluar karena rasanya terlalu pilu. Dua hari berlalu, keponakan saya pun kembali ke rumah untuk dititipkan. Saya langsung memeluknya erat, saya tak sanggup kehilangan tawa mereka. Saya tak ingin mengingat tentang tangis atau perilaku anak-anak yang juga sering menjengkelkan. Sebab cinta mengganggap penderitaan pun sebagai anugerah. (anw)


Jakarta, akhir tahun.

26.12.14

Self Note

YOU ARE WHAT YOU EAT
YOU ARE WHAT YOU READ
YOU ARE WHAT YOU SEE
YOU ARE WHAT YOU DO
YOU ARE WHAT YOU THINK
etc................................................

Mulailah untuk makan makanan sehat. Membaca buku serta bacaan yang baik dan bermutu, Mendengarkan hal yang baik, sebisa mungkin jauhi membicarakan orang lain. Berbicara yang baik dan hindari bicara yang tidak penting, melakukan hal-hal yang baik dan berguna. Berpikir dan berprasangka baik pada apapun dan siapapun.

"Lakukanlah yang menurutmu itu sulit, jika marah itu mudah, maka janganlah marah. jika menghina itu mudah, maka jangan menghina." (anonim)

Tidak mudah tapi percayalah perjuangan selalu bernilai indah. 
Tuhan kuatkan janji.

---

Titik Temu

Engkau adalah kabut pagi hari yang menutup sebagian pandanganku
Engkau menjelma kanak-kanak dalam usia yang melekat zaman
Engkau bisa menjadi gemericik air dari lembah air mata

Apakah aku masih disini atau sebenarnya singgah ke kota lain?
Menempuh lapisan jarak yang membentengi benakku
Apakah aku masih menjelma udara malam yang berkabar
kepada sebuah hari di masa depan?

Barangkali aku telah kembali dari seorang ibu yang tabah menjadi kanak-kanak waktu

Aku pun akan pergi ke padang, ke gurun, lautan dan gunung
Membelah horison, menutup katub keangkuhan dengan mimpi yang biasa saja

Kelak engkau dan aku akan mengerti
Kelak waktu dan jarak akan menepi
Engkau melepas segala yang membelenggu titik temu
Aku menemu segala yang melepas tapal batas

Suatu hari di masa depan
Suatu waktu yang berada di ujung perasaan
Akan ada yang menggantikan keteguhan,
Maka jangan pernah merasa bosan

---Jakarta, 2014
Mencurigai hujan, selain untuk menyuburkan bumi jangan-jangan ia sengaja turun untuk membuat orang rindu. Perempuan memang begitu, selalu tak tahu apa yang diinginkan. bahkan ketika rindu tapi tak tahu harus apa. Saking tak tahunya apa yang harus dilakukan sampai-sampai melakukan begitu banyak hal untuk melupakan rindunya sendiri. Aneh. 

Kenapa harus ada rindu di dunia ini? Kenapa harus ada bagian-bagian yang terekam dan tak bisa dilupakan? Padahal ada hal yang mungkin lebih penting yang perlu diingat secara otomatis, seperti mematikan keran atau mematikan kompor dan mengangkat masakan yang sudah matang. Bukankah ini lebih penting dan bisa berbahaya kalau dilupakan?

Ah, ini gara-gara hujan. Tapi jangan salahkan hujan. Karena hujan pun turun atas takdir Allah. Apakah rindu juga termasuk takdir Allah? Jika iya, maka kunikmati kerinduanku dengan merindukanNya. Sebab Tuhan adalah ibu dari segala rindu. Hujanlah tak apa, semakin hujan, semakin rindu, semakin bersyukur sebab dianugerahi rindu.

Aku Ingin Dilupakan Orang

"Aku ingin dilupakan orang." -- Aisyah R.A

15.12.14

Amarah dan Doa

Tuhanku, Yang Maha Menemani Setiap Hambanya..
Tolong jangan pikulkan kepadaku apa yang tak sanggup aku memikulnya.
Aku ingin percaya bahwa setiap yang terjadi adalah baik
Maka ampunilah dosaku
Ampuni dosa saudara-saudaraku
Terangkanlah dada kami dengan cahayaMu

Ya Tuhanku, Yang Maha Memelihara
Peliharalah aku dari segala sakit
Gantikan rasa sakitku dengan keindahan kelak
Gantilah lelahku dengan kebaikan nanti

Ya Tuhanku, Yang Maha Kaya
Kayakanlah dadaku dengan kesabaran
Jagalah lisanku dari hal yang buruk
Peliharalah pikiranku dari pikiran yang buruk
Lindungi tanganku dari yang buruk
Giringlah langkahku hanya kepada jalan ketaatan padaMu

Ya Tuhanku, Yang Maha Pembuat Rencana
Aku berjalan mengikuti skenarioMu
Sebab skenarioMu lah yang paling baik
Aku ingin mempercayai itu
Maka teguhkanlah keyakinanku
Agar perjuanganku tak menjadi sia-sia

Ya Tuhanku, Pemilik Semesta
Jangan tinggalkan aku sendiri dengan kesakitanku
Sebab Kaulah sebaik-baik pelipur
Jika kau rindu suara doaku
Inilah doaku yang tertulis kepadaMu
Yang terekam dalam batinku

Sebab sebaik-baik marah adalah yang digantikan dengan doa
Maka redamlah amarahku dengan mengalirnya doa.
---



12.12.14

Tikungan yang Paling Krusial


Memutar kembali perjalanan yang telah kulewati tahun-tahun belakangan. Menurutku usia 20-an adalah usia yang paling krusial. Apalagi usia menjelang 25, ya! Aku mulai mendekati tikungan yang paling krusial dalam hidupku. Saatnya memutuskan pilihan, saatnya beranjak meninggalkan hal-hal yang tak perlu. Aku mulai menyadari, bahwa ternyata dewasa itu tidak semenarik yang kubayangkan.

Memikirkan pikiran…

Ini yang terakhir kali kupikirkan. Aku menjalani detik-detik dimana aku mencoba untuk mandiri. Mencoba membuat keputusan apa-apa yang tak aku senangi dan yang membentur segala idealismeku. Memutuskan berpisah dengan anak-anak didikku, walaupun sampai kini mereka masih saja bilang kangen. Ha-ha-ha. Itulah yang lucu dari hidup.

Kadangkala kita tidak menyadari betapa berartinya seseorang sebelum orang itu benar-benar hilang dari pandangan. Sebelum kita kehilangan. Tapi jika ditanya “Apa kehilangan terbesarku?” Kehilangan terbesarku adalah kesempatan melihat murid-muridku beranjak dewasa. Itu yang kusedihkan, tapi aku tidak mau terpaku oleh kesedihanku. Perpisahan akan selalu ada, sebagaimana adanya pertemuan. Itulah konsep dari kehidupan ini. Datang dan pergi, sehat dan sakit, sedih dan senang. Aku menyadari itu tanpa perlu memusuhinya

Lalu mencoba untuk produktif menulis dengan menjadi penulis artikel di salah satu web kesehatan. Tak pernah terbayangkan, tapi aku jadi tahu dan mulai membiasakan diri hidup sehat. Ini tentunya berguna bagi diri sendiri dan juga orang-orang terdekatku. Mulai bisa memilah milih makanan dengan gizi yang baik. Jujur saja, dulu aku orang yang cenderung cuek apalagi terhadap makanan. Malas makan dan jajanan seperti gorengan-gorengan itu adalah makanan kesukaan.


Semenjak mengetahui tentang kesehatan, aku menjadi lebih peduli dengan apa yang kumakan, apa yang orang lain makan. Ya, segala sesuatu itu berawal dari perut. Dan salah satu kepedulianku adalah dengan belajar memasak makanan yang sehat, ini penting. Aku menghitung-hitung dan menganalisa apa yang bisa kupelajari dari pekerjaanku. Pernah teringat dulu aku ingin kuliah jurusan ahli gizi lalu bekerja menjadi koki di rumah sakit. Ini tak terwujud, tapi aku melakukan semacam ini sekarang. Masih ingat konsep jawaban Tuhan? (Ya, belum, dan ada yang lebih baik). Ini juga semacam pengabulan doa Tuhan dalam bentuk yang lain. Dan aku mensyukuri itu.

Keuntungan lain bekerja di rumah adalah tak perlu repot melewati macet. Kapanpun dan bagian dari Jakarta yang manapun sebagian besar sudah padat dan macet. Namun entah kenapa, orang-orang tabah menerimanya. Itu yang masih menjadi kesalutanku, orang-orang Jakarta sanggup bertahan hidup bertahun-tahun dengan berdesak-desakkan dan menghabiskan waktunya di jalanan.

Kembali ke tikungan yang paling krusial. Aku mencoba membangun pola pikirku sendiri. Mengenai kedewasaan dan kemandirian. Serta tak ingin lagi merepotkan orang tua, malah sebaliknya. Aku yang mesti rela meluangkan waktuku mengurus rumah.


Dimulai dengan bangun lebih awal 3 jam dari biasanya. Sejam dipakai untuk merapikan diri dan beribadah. Lalu pergi belanja sayur dan lauk pauk, memasak air, masak nasi, dan membersihkan rumah. Kadang terpikir untuk olahraga sekadar jogging atau jalan-jalan pagi. Tapi sungguh tak sempat, toh dengan mengurus ini itu kaloriku sudah cukup terbakar :p Karena rasanya waktu 24 jam itu sehari rasanya tak cukup buatku. Terlalu banyak yang mesti kuselesaikan, pekerjaan-pekerjaan rumah, melakukan hobi, pekerjaan-pekerjaan untuk web, serta waktu untuk keluarga dan teman-teman. Yang terakhir itu yang sering kukorbankan, waktu untuk teman-teman.

Tahap kemandirian selanjutnya aku mulai menjaga barang-barang pribadi. Aku mulai senang menata kamarku, bagiku kamar adalah ruang kerja dan istirahat. Untuk itu kamar menjadi bagian yang terpenting dari rumah. Selanjutnya menata dapur (ruang kerjaku yang kedua). Ha ha. Lalu ingin sesekali menata ruang depan di loteng menjadi rooftop buatan dengan banyak tanaman. Semoga bisa segera terwujud. Kemudian memulai untuk memisahkan dan membeli remeh temeh perlengkapan makan atau mandi sendiri. Walaupun masih tinggal satu rumah dengan orang tua, tapi aku tak ingin bergantung lagi. Aku mencoba untuk tidak bergantung pada siapa-siapa lagi.

Aku juga mulai melancarkan mengendarai motor agar tidak lagi mengandalkan diantarkan atau dijemput. Selain itu bisa pergi kemana tempat yang ingin dituju sendiri. Setidaknya dapat bermanfaat juga untuk saudaraku jika ingin minta diantarkan kemana atau dijemput. Kelemahanku hanyalah tidak mengerti jalanan dan sulit sekali menghapal jalan. Tapi setidaknya aku mencoba untuk bisa diandalkan, bukan mengandalkan lagi. Itu tujuanku yang dinamakan kemandirian. Walaupun lebih sering bapak tidak mengijinkanku pergi. Aku menurutinya. Aku menerapkan apa yang kupelajari tentang konsep manusia dan hewani. Aku bisa pergi, tapi kata bapak tak boleh. Maka aku tak akan pergi.

Tingkat kedewasaan yang lain diuji ketika menghadapi orangtua dengan usianya yang sudah sangat senja. Serta menghadapi beberapa keponakan yang masih kecil dan sedang sangat aktif. Hidupku menarik, dan aku bersyukur setiap apa yang Tuhan berikan. Ujian kesabaran sesungguhnya justru terletak di saat menghadapi orang tua dan anak kecil sekaligus. Menghindari ngedumel dan mencoba menerima. Penerimaan itu bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.

Aku percaya setiap kebaikan yang dilakukan akan kembali ke diri sendiri. Sekarang aku menerima itu dengan sepenuhnya kesadaranku. Mencoba menjadi orang yang mudah untuk memaafkan walau tidak pernah ada kata maaf yang diterima. Aku belajar itu dari keponakan-keponakanku yang masih kecil. Aku tidak lagi marah dan menyimpan kemarahan. Aku bersyukur melewati bagian ujian ini. Kadang sering ingin menangis setalah menghitung-hitung berapa banyak yang Tuhan beri dan berapa banyak hutang-hutangku padaNya. Betapa miskinnya aku dan itu yang membuatku selalu bersyukur.

Sementara soal mimpi-mimpiku, biarlah Allah yang memeluknya...


CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...