1.1.15

Dongeng Ayah Sapi dan Anak Sapi

Ayah sapi adalah seekor sapi yang bijak dan sangat berwibawa, tubuhnya gempal, gemuk, dan masih kuat walaupun di usianya yang cukup tua. Setiap malam, sebelum tidur, ayah sapi selalu memainkan lagu kesukaan anak sapi dengan gitar tuanya..

Hidup itu pendek..
Dan mimpimu panjang..
Hidup itu sederhana..
Tapi mimpimu rumit…
Jreng..jreng…jreng..jreng..

Setiap malam ayah sapi selalu menasihati anak sapi dalam lagu-lagu yang ia mainkan. Anak sapi pun selalu mendendangkan lagu-lagu yang ia dengar keesokan harinya.. Namun pada suatu hari yang cerah di awal bulan, matahari sedang bersinar dan berkilau indah, burung-burung pun ikut bernyanyi dengan ceria. Teman-teman anak sapi datang ke rumah anak sapi dan mengajak anak sapi untuk pergi ke pesta tahun baru di tengah kota. 

“Ayo, Anak sapi! Kabarnya pesta tahun baru itu akan diadakan dengan sangat meriah. Di sana akan ada balon-balon, kembang api, kue-kue, dan lagu-lagu yang membuat kita bisa bahagia sepanjang malam”. Ucap Dogie, salah satu teman dari anak sapi.

Mendengar ajakan dari Dogie, anak sapi pun langsung tertarik untuk datang ke pesta itu. Anak Sapi kemudian menghampiri ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Sawah itu sangat indah dan sedang mengalami musim panen. Dari kejauhan hanya terlihat daun-daun padi yang menguning bak lapisan mentega. Apalgi jika terkena kilauan dari cahaya matahari.

“Ayah, ayah.” Teriak anak sapi dengan sangat bersemangat memanggil ayahnya. Ayah sapi pun menoleh lalu berhenti sejenak meletakkan alat bajaknya.

“Ada apa anakku yang pintar? Kelihatannya kamu sedang bergembira dan bersemangat sekali?” Tanya ayah sapi.

“Tentu ayah sapi, hari ini Dogie datang ke rumah mengabarkan tentang pesta tahun baru nanti malam.”

“Dimana pesta tahun barunya?”

“Di alun-alun kota ayah, semua anak sapi dan hewan-hewan lainnya akan pergi kesana. Disana ada kembang api, kue-kue, balon-balon, serta lagu-lagu yang bisa membuat kita berdendang sepanjang malam.” Lanjut anak sapi bercerita dengan tak kalah semangatnya.

“Anak sapi yang baik, kamu boleh merasa senang, tapi kamu tidak boleh terlalu larut dalam kesenangan. Apalagi ketika ada tetangga dan saudaramu yang sedang mengalami kesulitan.” Jawab ayah sapi dengan sangat bijak.”

Anak sapi merasa sangat kecewa dan bersedih dengan jawaban ayah sapi. Ayah sapi pun berusaha mencari cara untuk menghibur anaknya.

“Nanti malam bagaimana kalau kita main gitar bersama-sama di depan kandang anak-anak bebek. Anak-anak bebek tetangga kita baru ditinggal pergi oleh ayah ibunya. Jika tidak ada yang menjaga mereka, maka komplotan serigala dari arah hutan akan bisa menyergap mereka.”

“Huh, ayah, tapi ini kan pesta setahun sekali. Aku ingin kesana melihat kembang api dan menari bersama teman-teman.” Bujuk anak sapi dengan wajah memelas.

Ayah sapi tetap tidak mengizinkan anak sapi dengan mencoba memberinya nasihat berkali-kali. Tapi anak sapi tidak mau mengerti, ia kekeh tetap ingin pergi walaupun tidak mendapat izin dari ayah sapi. Anak sapi itu pun pergi dan berlari dari sawah, meninggalkan ayah sapi. Ayah sapi memanggil-manggil anak sapi, tapi anak sapi itu pun tidak mau menoleh.

Sore bersambut malam, di alun-alun kota cahaya-cahaya lampu dinyalakan dan mulai dinyalakan. Kembang api diluncurkan di atas langit yang bertabur bintang sehingga menjadi komposisi malam yang sangat indah. Lagu-lagu disetel dan dimainkan, para tamu yang hadir termasuk anak sapi pun mulai menari dan mendendangkan lagu.
Sementara di tempat lain, ayah sapi sedang duduk di atas batu, memainkan gitar tuanya sendirian..

Anak sapi.. anak sapi..
Jadilah kuat dan cerdas
Jadilah anak sapi yang baik
Anak sapi kesayangan ayah..

Dari kejauhan, ada komplotan serigala yang mengintip dari semak-semak. Ia melihat kandang bebek itu sepi dan mereka pun masuk untuk menculik serta memakan bebek-bebek itu. Kompotan serigala mendobrak paksa pintu kandang bebek. Bebek-bebek yang sedang tertidur lelap pun akhirnya terbangun dan sangat terkejut. Tangan serigala yang jahat mencekik leher bebek dan ingin memasukkan kepala bebek itu ke dalam mulutnya.

“Wah ini sungguh santapan yang lezat.” Ucap serigala itu sambil meneteskan air liur.

“Lepaskan bebek itu.” Tiba-tiba ada suara ancaman dari arah belakang serigala. Ternyata pemilik suara itu adalah ayah sapi. Ayah sapi datang untuk menolong bebek-bebek dan melawan serigala. Serigala-serigala itu berhasil dikalahkan oleh ayah sapi. Tapi karena jumlah serigala itu lebih banyak, maka ayah sapi pun kewalahan dan menderita luka-luka. Ayah sapi terkapar lemas di kandang bebek-bebek.

Esok paginya anak sapi pulang dari alun-alun kota dan sangat kaget menemukan ayahnya  yang terkapar dan dikerumuni oleh anak-anak bebek yang menangis.

“Ayah, ayah kenapa?”

“Ayahmu sudah meninggal dunia. Semalam ia berjuang melawan para serigala untuk menolong kami.” Kata para bebek sambil menangis. Tangis anak sapi itu pun meledak mengetahui ayah sapi telah tiada. Di sela tangisnya ia berkata lirih “Ayah, seandainya aku mendengar nasihatmu...’’ (anw)


*****

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...