27.9.15

Sahaja Senja di Pangkal Pinang

Di jejak kembara, barang barang dikemas
Kata kata dibungkus dalam kardus
Kita memang perlu limbung dalam  hal ini
Dan juga dalam banyak hal lainnya

Namun perantau mustahil pulang
Sebelum obor benar benar menyala
Dan sebelum jalan setapak ini menjadi terang

Kita punya teman yang sedikit saja
Embun pagi, cahaya matahari, suara angin, dan kicau burung
Rasanya itu sudah cukup untuk membuat hidup tetap terasa sederhana
Dan percayalah, Romy..

Kita akan selalu baik-baik saja dalam sahaja senja di Pangkal Pinang

(2015)

22.9.15

Di Ruang Tunggu Bandara

Aku teringat masa kanak-kanak 
yang begitu terasa lucu
Boneka beruang yang terlihat besar,
dan ternyata boneka beruang itu 
tak lebih pendek dari ukuran lututku.
Semua hanya soal sudut pandang bukan?

Lalu kakak laki laki dengan kacamata
berwarna emas
dan juga mimpi mengenai
hal-hal yang ia bawa pulang ke rumah.

Sebelum keberangkatan ke bandara
Nostalgia adalah salah satu kecintaanku
Aku tahu ini tak abadi
Tapi aku menempatkannya kembali
di dalam botol minyak kayu putih
kemudian kusimpan di saku kemejaku.

Sebagaimana ini tak abadi
Maka senyum ibu kujadikan jatah uang saku
untuk makan sehari-hari.
Senyum ibu abadi
dan aku jadi tersenyum senyum sendiri.

Ketinggian seperti kabut buram 
yang aku tak jelas melihatnya dengan warna apa
baunya apa, rupanya apa.
Aku tak pernah berani soal begini

Seantero diriku berusaha kutiupi dengan letupan
keajaiban dariNya. Aku ingin melihat
nikmat Tuhan yang banyak itu
selain dari apa yang tertanam
dalam urat urat nadiku.

Esok aku terbang menempuh 
kilometer perjalanan. Aku ingin berlabuh
dalam masa laluku. Untuk hendak
merindukan rumah itu dari jauh.

(2015)

20.9.15

KEBENCIAN DI BALIK HARAPAN ITU


Kau menuliskan kebencian dan menyimpannya
Di antara liapatan lipatan dompetmu
Menjadi satu tercampur dengan tanda pengenal,
Lembar lembar uang dan menempel
Menjadi keseharian yang tak bisa kau lepaskan
Kau bisa mengambilnya kapanpun kau mau

Kebencian juga kau letakkan di antara
Tumpukan baju di lemari
Menjadi sesuatu yang melekat dalam pakaianmu
Kau bisa memilihnya sambil berkata
“kebencian yang mana yang hendak kukenakan hari ini?”

Kebencian itu pun kau hidangkan
Di balik tudung saji
Kau campurkan ke dalam bakul nasi dan seteko air putih
Yang jika lapar kau rauk dan jika haus kau teguk
Kebencian masuk ke tubuhmu dan meracuni rongga rongga kehidupanmu

Kebencian telah menjadi teman baikmu

Hingga lupa ada harapan yang diam diam iri pada kebencian itu. 

2015.

17.9.15

Di bawah pohon ini

Di bawah pohon ini akar akar bergetar
Daun menggantung tak mampu mendengar
Sampai angin menakdirkan dirinya
Menjadi memoar yang terbang ke akar
Menyapa waktu yang kian memar

Di bawah pohon ini
Musafir tak lagi dahaga
Karena kenyang direguknya rindu yang hampa

Di bawah pohon ini
Ada dahan yang mengetahui, ada ranting yang memahami
Namun tidak pada siapapun

Dan esok bertemulah di bawah pohon ini
Kelak agar mengerti.

(2015)

7.9.15

Apa lagi yang bisa kita ingat?

Kita bisa mengenang apa saja,
pagi, hujan, beranda rumah
Kita juga bisa mengingat apa saja
Perjalanan, lagu, nama-nama

Lantas apa yang bisa kita kenang dari kota ini?
Apa yang bisa kita ingat dari sebuah kota yang tak pernah mengingat kita sebagai orang-orang yang begitu sahaja mengingatnya?

Atau kita cuma kumpulan orang mati
Yang tak patut diingat
Bahwa kita pernah singgah disini
Bahkan terluka disini

Apa yang bisa kita ingat?
Sementara ribuan kabar keluar masuk berhamburan dalam pikiran
Lalu mulutmu berbusa menyampaikannya
Kita hanya sabar mejadi pendengar
Kemudian maklum dan sepi berdebar, bertanya pada semesta?
Bisakah kita tak melakukan dosa?

Semakin kita takut pada dosa
Semakin mereka tekun contohkan bagaimana cara berdosa yang benar?

Apa itu yang bisa ingat?
Apa lagi yang bisa kita ingat?

2015.

Peluk.

Source image:Pinterest.com Lelahkah ia yang jauh disana? Menungguku untuk mengetuk pintu dan berkata ”aku pulang!” Sampai kerut menggero...