Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2015

Sahaja Senja di Pangkal Pinang

Di jejak kembara, barang barang dikemas Kata kata dibungkus dalam kardus Kita memang perlu limbung dalam  hal ini Dan juga dalam banyak hal lainnya
Namun perantau mustahil pulang Sebelum obor benar benar menyala Dan sebelum jalan setapak ini menjadi terang
Kita punya teman yang sedikit saja Embun pagi, cahaya matahari, suara angin, dan kicau burung Rasanya itu sudah cukup untuk membuat hidup tetap terasa sederhana Dan percayalah, Romy..
Kita akan selalu baik-baik saja dalam sahaja senja di Pangkal Pinang
(2015)

Di Ruang Tunggu Bandara

Aku teringat masa kanak-kanak 
yang begitu terasa lucu
Boneka beruang yang terlihat besar,
dan ternyata boneka beruang itu 
tak lebih pendek dari ukuran lututku.
Semua hanya soal sudut pandang bukan?

Lalu kakak laki laki dengan kacamata
berwarna emas
dan juga mimpi mengenai
hal-hal yang ia bawa pulang ke rumah.

Sebelum keberangkatan ke bandara
Nostalgia adalah salah satu kecintaanku
Aku tahu ini tak abadi
Tapi aku menempatkannya kembali
di dalam botol minyak kayu putih
kemudian kusimpan di saku kemejaku.

Sebagaimana ini tak abadi
Maka senyum ibu kujadikan jatah uang saku
untuk makan sehari-hari.
Senyum ibu abadi
dan aku jadi tersenyum senyum sendiri.

Ketinggian seperti kabut buram 
yang aku tak jelas melihatnya dengan warna apa
baunya apa, rupanya apa.
Aku tak pernah berani soal begini

Seantero diriku berusaha kutiupi dengan letupan
keajaiban dariNya. Aku ingin melihat
nikmat Tuhan yang banyak itu
selain dari apa yang tertanam
dalam urat urat nadiku.

Esok aku terbang menempuh 
kilometer perjalanan. Aku ingin berlab…

KEBENCIAN DI BALIK HARAPAN ITU

Kau menuliskan kebencian dan menyimpannya Di antara liapatan lipatan dompetmu Menjadi satu tercampur dengan tanda pengenal, Lembar lembar uang dan menempel Menjadi keseharian yang tak bisa kau lepaskan Kau bisa mengambilnya kapanpun kau mau
Kebencian juga kau letakkan di antara Tumpukan baju di lemari Menjadi sesuatu yang melekat dalam pakaianmu Kau bisa memilihnya sambil berkata “kebencian yang mana yang hendak kukenakan hari ini?”
Kebencian itu pun kau hidangkan Di balik tudung saji Kau campurkan ke dalam bakul nasi dan seteko air putih Yang jika lapar kau rauk dan jika haus kau teguk Kebencian masuk ke tubuhmu dan meracuni rongga rongga kehidupanmu
Kebencian telah menjadi teman baikmu
Hingga lupa ada harapan yang diam diam iri pada kebencian itu. 
2015.

Di bawah pohon ini

Di bawah pohon ini akar akar bergetar
Daun menggantung tak mampu mendengar Sampai angin menakdirkan dirinya Menjadi memoar yang terbang ke akar Menyapa waktu yang kian memar
Di bawah pohon ini Musafir tak lagi dahaga Karena kenyang direguknya rindu yang hampa
Di bawah pohon ini Ada dahan yang mengetahui, ada ranting yang memahami Namun tidak pada siapapun
Dan esok bertemulah di bawah pohon ini Kelak agar mengerti.
(2015)

Apa lagi yang bisa kita ingat?

Kita bisa mengenang apa saja,
pagi, hujan, beranda rumah
Kita juga bisa mengingat apa saja
Perjalanan, lagu, nama-nama

Lantas apa yang bisa kita kenang dari kota ini?
Apa yang bisa kita ingat dari sebuah kota yang tak pernah mengingat kita sebagai orang-orang yang begitu sahaja mengingatnya?

Atau kita cuma kumpulan orang mati
Yang tak patut diingat
Bahwa kita pernah singgah disini
Bahkan terluka disini

Apa yang bisa kita ingat?
Sementara ribuan kabar keluar masuk berhamburan dalam pikiran
Lalu mulutmu berbusa menyampaikannya
Kita hanya sabar mejadi pendengar
Kemudian maklum dan sepi berdebar, bertanya pada semesta?
Bisakah kita tak melakukan dosa?

Semakin kita takut pada dosa
Semakin mereka tekun contohkan bagaimana cara berdosa yang benar?

Apa itu yang bisa ingat?
Apa lagi yang bisa kita ingat?

2015.