24.1.17

Migrain oh Migrain

Kutulis apa yang kurasakan untuk diriku yang sedang bersedih karena terkena migrain. Dan untuk diriku yang sedang berbahagia karena cicilan laptopku akhirnya lunas. 

Ini kali pertamanya aku terkena migrain dalam hidupku, seakan ada sesuatu yang hidup di kepala bagian kanan belakang. Hal ini tentu sangat mengganggu ketika migrainku sedang parah-parahnya, tapi aku sudah kadung janji dengan seorang teman untuk hadir sebagai juri lomba melukis di acaranya.

Sedang menjuri kepala berdenyut, sedang bicara kepala berdenyut. Sedikit kuhentak-hentakkan telapak tanganku ke kepala, berharap migrain itu akan reda. Namun bukannya menjinak, migrain itu seakan bertambah liar. Semakin aku melawannya, migrain itu seperti ikut melawan juga, malah galakan dia. 

Sepulang jadi juri, migrainku bertambah parah, obat yang kuminum pun tak mempan untuk mengatasi migrain ini. Kubawa shalat, itu pun tak khusyuk karena rasa sakit yang tak karuan. 

Lalu aku sedikit berpikir (karena jika terlalu banyak, aku khawatir migrain ini malah semakin menjadi.). Aku sedikit berpikir, bahwa ternyata aku lupa mengenai Law of Atrraction, hukum keikhlasan kuantum di alam semesta. Tidak seharusnya aku melawan dan bersedih atas apa yang telah Tuhan beri, walaupun itu dalam bentuk migrain. Karena ketika migrain itu berdenyut, sontak mulutku pasti langsung menyebut, istighfar-istighfar.. Bukankah itu bagus?

Lalu aku aplikasikan kemampuan berserahku dengan menantang migrain itu. Kali ini aku tidak melawannya, tapi aku persilahkan ia datang ke kepalaku. Migrain, datanglah.. Aku tidak takut. Akan kutanggung dirimu dengan keikhlasanku padaNya. Sang Maha Pemberi Migrain.

Benar saja, migrain itu semakin sering datang. Ternyata ia memenuhi panggilanku. Sudah 2 hari migrain masih singgah di kepala bagian kanan belakang. Ternyata ia tidak mempan oleh kepasrahanku. Barulah kusadari, mungkin aku belum benar-benar ikhlas dan pasrah. Toh nyatanya aku jadi berat berdiri melaksanakan shalat karena migrain itu. 

Lalu aku berpikir lagi, kali ini sedikit kuperbanyak pikiranku. Ya, sekarang aku tahu apa yang akan kulakukakan. Melawan migrain itu dan menyerahkan skornya kepada "sang Wasit". Allah Ta'Ala. 

Sebelum tidur di malam hari aku berdoa "Ya Allah terima kasih telah mengizinkan aku berbaring di malam ini untuk melepas lelah. Aku ikhlaskan migrain ini menimpaku, aku bahagia sebab jadi tahu bagaimana rasanya migrain itu. Tapi seandainya boleh memilih, tolong angkat migrain ini dari kepalaku dan jadikan sebagai penggugur dosa baginya. Serta bangunkan aku pada pukul 2 malam nanti, aku ingin sujud dan berdoa padaMu."

Pukul 02.00 tepat aku bangun. Luar biasa, Allah mengabulkan do'aku. Tapi rasanya aku tak sanggup menahan kantuk hingga aku pun tertidur lagi. Memang kurang ajar betul hambaMu yang satu ini. Sudah meminta dan dikabulkan, malah ngaret. Satu jam kemudian aku  baru benar-benar bangun, aku telat satu jam dari perjanjianku dengan Tuhan.

Dan di malam ini aku merasa benar-benar kurang ajar, dalam do'aku aku meminta banyak sekali. Shalat 4 rakaat, mintanya banyak sekali. Tapi malam itu, aku benar benar bahagia. 

Di pagi harinya, entah kenapa tidak ada yang berarti, kepalaku masih migrain, tapi aku mencoba untuk mengalihkan pikiranku pada hal hal yang menyenangkan dan melupakan bahwa aku sedang migrain. Siang harinya aku minum obat lagi, lalu sorenya migrainku pun akhirnya mulai mereda. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. Kini aku tahu rahasianya hidup ini : Semakin kuat keinginanku akan sesuatu, semakin kuat pula aku harus mengikhlaskan sesuatu itu. 

#Ditulis dari laptop yang cicilannya sudah lunas# 

Jakarta, 27 April 2015

23.1.17

Cermin dan Bayangan

Kata orang, jodoh kita itu adalah cerminan diri kita. Kata Tuhan pun begitu. Bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, juga sebaliknya. 

source image : https://id.pinterest.com/pin/102034747788177206/

Diri kita ibarat cermin, jodoh kita adalah bayangannya. Maka sederhana sekali rumusnya. Jika kita inginkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri kita. Semakin kita memperbaiki diri, maka jodoh kita semakin pula memperbaiki dirinya. 

Kesulitannya, kita sering tidak konsisten dalam upaya itu. Kita seringkali dipuaskan oleh sisi diri kita yang merasa sudah baik. Kita sering tidak menyadari atau tidak mencari tahu di luar perkara yang sudah kita ketahui. 

Kesulitan yang kedua, kita lebih mudah fokus terhadap kekurangan orang lain, bukan kepada diri kita sendiri. Refleksi diri menjadi asing, mengevaluasi orang lain adalah hobi kita. Dan tiba-tiba kita menjadi juri yang pintar menilai orang lain dan merupakan peserta yang bodoh dalam ajang intropeksi diri. Malah kita lupa, apakah dalam diri kita ada yang mesti diperbaiki? 

Untuk mempermudah dalam mengevaluasi diri, maka gunakanlah cermin. Siapa saja bisa menjadi cermin bagi diri kita. Atau jadikanlah diri kita sebagai cermin dan lihatlah bayangannya. Maka kita akan mudah memhamai apa yang masih salah dari keroposnya perilaku kita. 

Lalu jangan mudah kecewa soal apa-apa yang bayanganmu lakukan jika tidak sesuai harapanmu. Barangkali diri kita pun lebih banyak mengecewakan bayangan. Barangkali akhlak kita masih banyak yang berkarat. Barangkali janji kita masih banyak yang terabaikan. Barangkali masih banyak dusta dalam ucapan kita. 

Jadi, berusalah sekuat tenaga untuk menjadi seseorang yang kita rindu kehadirannya, dan kita pilu atas alpanya. Bersabarlah dan jangan menyerah, seolah menyerah adalah sesuatu yang terlarang di negeri ini. Bersemangatlah memperbaiki diri. Bukankah kita inginkah jodoh yang baik dan selalu terus menerus memperbaiki dirinya?

Jakarta, 22 November 2016
21:08

Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...