23.5.17

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lewat beberama menit, suami menghidupkan televisi, waktu itu K**** TV menyiarkan berita adanya 2 ledakan di Konser Ariana Grande. Innalillahi wa inna ilahi roji’un.  Beberapa menit mengamati berita, lalu mengganti ke channel lainnya. Dan tidak disangka, beritanya sama, terjadi 2 ledakan di konser Ariana Grande.

Lalu apa kabar Palestina yang setiap hari diledakkan dan diserang oleh Israel. Dan tahukah kalian, kebanyakan yang diledakkan itu rumah-rumah belajar dan menghapal Al-Qur’an lho! Yang diledakkan itu bayi-bayi tak berdosa cikal bakal pejuang lho! Kok TV tidak heboh seperti berita ledakan di konser ya! Aneh aja, kok ledakan di konser dilebih-lebihkan beritanya sampai ditayangkan terus menerus dengan beberapa channel televisi. Walaupun saya juga mengecam keras siapapun pelaku bom-bom tersebut. Bagaimanapun saya berkabung dan mendoakan para korban.

Tapi televisi, ah saya semakin sedih saja dengan kalian. Saya sendiri juga masih belum berkecukupan untuk membantu mereka. Tapi tolonglah, jangan berlebihan dan berkekurangan seperti itu. Berpikir dan bersikap adillah terhadap korban-korban kemanusiaan, di belahan bumi manapun.  Hiks.. :( 

Tetangga

Hal yang sangat lumrah jika para ibu rumah tangga duduk bersama dan mengobrolkan perihal remeh temeh. Dan saya bukanlah tipikal ibu-ibu seperti itu. Bukan, bukan berarti saya tidak suka dengan mereka. Tapi memang sayanya saja yang kuper dan sulit bersosialisasi. Sebab saya selalu berpikir keras, jika sudah duduk-duduk dan kumpul begitu apa yang bisa saya bicarakan dan obrolkan dengan mereka. Saya bukan orang yang pandai mencari topik pembicaraan dan juga bukan orang yang pandai meresponnya. Sungguh, saya benar-benar kesulitan.

Ditambah lagi perbendaharaan kosa kata bahasa Jawa saya masih sangat minim. Tapi bukan berarti saya menutup diri sama sekali. Pelan-pelan saya mempelajari bahasa Jawa dari ceramah atau obrolan suami dengan kawan-kawannya, saya juga sering menanyakan artinya jika ada yang tidak saya mengerti. Kemudian tak jarang juga saya bergabung dengan ibu-ibu di lingkungan saya, saat belanja sayur misalnya. But, Believe it or not! Saat itu juga saya seperti sedang dalam ruangan berkaca yang kedap suara, dan mereka berada di luar ruangan yang berbeda dengan saya. Saya melihat mereka tapi mereka tidak melihat saya. Saya tidak mengerti apa-apa yang mereka bicarakan dan anehnya saya memang tidak benar-benar ingin mengerti. Dan ‘awkward moment’ tersebut sering terjadi di kehidupan saya belakangan ini. Saya pun hanya diam, tersenyum dan pura-pura mengamati.

Situasi yang saya alami memang terjadi bukan tanpa alasan. Pernah saya agak kecewa kepada orang yang saya sudah memiliki antusias untuk memiliki hubungan bertetangga yang lebih intim. Namun ia tidak pernah mengajak saya untuk berbicara lebih dalam dan menanggapi obrolan yang saya angkat dan kemumakan. Seolah-olah apa yang saya katakan kepadanya itu tidak ada artinya apa-apa. Saya pernah mengutarakan bahwa saya senang memiliki teman baru yang bisa saya ajak berdiskusi. Dengan pengakuan seperti itu, saya berharap ia bisa mengenalkan saya kepada lingkungan baru secara lebih intens lagi. Saya juga pernah sesekali minta diajak jika sewaktu-waktu ia ingin berbelanja ke pasar.

Tapi entah mengapa, ia sekalipun tidak pernah mengajak saya jika ia pergi ke pasar. Saat ada undangan untuk pengajian pun, hanya saya yang tidak diajak. Padahal sebelumnya saya sudah sempat mengatakan perihal apa-apa saja yang saya inginkan dari lingkungan baru tersebut. Jarak terdekat dan frekuensi sapaan yang tinggi tidak lantas membuatnya mengajak saya berbincang dengan lebih intim di beberapa pertemuan. Jujur, saya agak kecewa. Saat itu saya merasa tidak ditemani dan saya merasa ada sesuatu dalam diri saya yang tidak ia sukai. Beruntungnya, saya selalu berhasil menyingkirkan perasaan negatif tersebut dan membunuh kekecewaan saya.

Saya memang bukan orang yang supel yang bisa berbaur dengan mudah. Butuh proses yang cukup lama dan perasaan ‘klik’ untuk benar benar bisa berbaur. Fuih….. tapi saya bersyukur, setidaknya saya masih selalu dianugrahi keinginan untuk selalu asyik menyapa atau berbasa-basi jika menemui tetangga. Itulah penyebab kenapa saya lebih suka berjalan kaki daripada naik motor ketika pergi belanja. Bagi saya itu cara yang cukup bijaksana. Tidak terlalu lekat namun terlihat akrab membuka diri. Atau sekurang-kurangnya saya masih bisa melebihkan kuah makanan dan minuman untuk saya berikan kepada tetangga terdekat saya. Ya, saya pikir itu cukup aman dan tidak akan mengecewakan. 



Bantul, 23 Mei 2017

19.5.17

Menikmati Kemalasan

Hari ini, persisnya hari-hari yang kemarin juga adalah hari-hari yang diliputi kemalasan. Kemalasan untuk produktif karena pikiran rasanya kosong hendak melakukan apa-apa. Dimulai dari bangun tidur, hanya mengurus pekerjaan domestik yang sudah cukup membuat bahagia. Bahagia karena mengingat balasan-balasan pahala yang mengalir sehabis mendengarkan ceramah mengenai dahsyatnya seorang istri yang melayani suami. Iming-iming itu rasanya membuat saya menjadi malas untuk menjadi produktif di luar urusan pernikahan dan domestik. Pertanyaan mengapa sudah hendak saya luncurkan sejak jauh-jauh hari. Jauh dari ibu kota dan tinggal di desa yang sunyi dan sangat damai ini membuat saya merasa baik-baik saja tanpa perlu saya merasa bekerja lebih keras.

Proses adaptasi yang saya butuhkan memang sungguh lama sekali. Tetapi sekaligus, membuat saya merasa nyaman sehingga saya merasa aman. Namun tak jarang juga saya diliputi kebingungan-kebingungan, sebab sebelum menikah saya benar-benar merasa sibuk dan kelelahan setiap harinya. Dan weekend menjadi sesuatu yang mahal harganya, pada weekend, saya akan beristirahat sepuasnya sambil sesekali menyelesaikan pekerjaan untuk agenda di sekolah untuk satu minggu ke depan. Saya merasa telah meninggalkan seluruh diri saya di ibukota dan menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa di tanah Jogja ini.

Namun di luar itu semua sebenarnya, nyatanya sedang ada perjalanan dalam diri saya yang orang-orang tidak tahu dan bahkan diri saya yang tidak saya diri sendiri. Perjalanan itu mungkin adalah perjalanan terpanjang saya dan akan saya lakukan seumur hidup.  Perjalanan mencintai, dan saat itu juga saya mendapat mandat dari diri saya untuk berkomitmen dan memutuskan untuk mementingkan kebutuhan orang itu lebih dari kepentingan saya sendiri. Keputusan untuk mencintai seseorang lebih dari saya mencintai diri saya sendiri.

Kata seorang teman, mencintai tak pernah mudah. Karena kalau mudah namanya bukan cinta, tapi hanya ingin main-main saja. Sementara pernikahan bukanlah main-main sementara, pernikahan adalah keseriusan untuk selalu konsisten memberi dan menerima. Pemberian adalah satu-satunya yang saya punya saat ini, sebab bahkan orang yang saya cintai saat ini pun sebenarnya tidak saya punyai. Lalu penerimaan adalah sesuatu yang mesti saya bayar dengan hati ikhlas untuk mendapatkannya. Manusia bukan malaikat, bukan juga syaitan. Manusia bisa jadi baik dan sesekali bisa jadi seseorang yang tidak kita kehendaki.

Saya sedang belajar untuk meredam apapun dan menyingkirkan seluruh ego yang sudah tertanam dalam diri saya semenjak saya dilahirkan ke dunia ini oleh ibu saya. Pohon ego itu terus menerus besar dan sudah semakin kokoh sehingga selalu saja ada benteng yang membuat orang lain atau sekurang-kurangnya kehendak orang lain untuk masuk dan duduk behadap-hadapan dengan saya. Berulang kali saya minta tolong kepada pohon ego itu untuk segera melunak dan tak jarang saya patahkan rantingnya, saya gergaji batang-batangnya untuk membuat orang yang saya cintai ini merasa lebih nyaman dan bahagia. Kesemua itu memang tak mudah dan membutuhkan usaha keras. Adakalanya usaha saya itu membuahkan hasil dan adakalanya gagal begitu saja. Tapi saya percaya tidak ada yang sia-sia.   

Ya, saya sedang berjalan di jalan ini. Karena untuk saat ini hanya ini satu-satunya jalan  yang saya temui dan lalui, tentunya dengan kapasitas diri yang bisa saya nilai bahwa saya memang harus melewati jalur ini. Saya tidak tahu kapan akan sampai tapi saya sadar bahwa saya sudah memulai dan berangkat dengan hati yang lapang dan perbekalan yang mungkin tak akan pernah cukup. Bekal-bekal itu adalah mental yang terbuat dari kesulitan dan rasa sakit. Dan yang dapat melonggarkan dada serta meringankan nafas saya adalah saya tahu saya sudah tidak berjalan sendirian dan merasa kesepian lagi. Saya berjalan berdua dengan seseorang yang saya percaya bahwa ia bisa memandu saya melewati berbagai macam pernak pernik kehidupan baik yang profane maupun jangka panjang.


Kemalasan saya mudah-mudahan hanya kesementaraan, sebab saya amat sangat tahu esok hari akan ada sesuatu yang membuat saya merasa sibuk dan lebih produktif daripada saat ini. Saya hanya berusaha untuk menikmati bab hidup saya yang ini. Pengenalan akan tokoh-tokoh baru juga pemahaman atas latar belakang tempat adalah sesuatu yang tidak bisa saya elak lagi. Dan untuk kesemua itu waktu adalah penolong yang baik untuk diri saya. Saya pun mesti menabung banyak rasa syukur atas pemberian Tuhan yang tidak bisa saya hitung lagi jumlahnya. Setidaknya untuk yang satu ini saya tidak merasa malas.  

18.5.17

Setahun yang Lalu

Setahun yang lalu
Tuhan menciptakan perpisahan
Antara kehidupan dan kematian
Antara seorang anak dengan ibunya
Antara seorang istri dengan suaminya
Antara seorang nenek dengan cucu-cucunya

Aku merasa satu perpisahan terlalu banyak
Dan dua puluh enam tahun pertemuan terlalu sebentar
Aku pun menyesal
Sebab belum sempat membagi banyak hal padanya

Setahun yang lalu
Tuhan mengajariku perihal ketabahan dan keikhlasan
yang selalu ibu contohkan
dan hingga detik ini tidak pernah terlupakan

Setahun yang lalu
Tuhan memberiku kehilangan
Agar aku belajar menghargai
orang-orang baik yang masih tinggal

Setahun yang lalu
Sepasang mata yang menampung banyak rasa sakit itu
Telah terpejam
Dan aku selalu berdoa
Agar bisa menatap sepasang mata itu lagi, suatu hari

Meski bukan di dunia ini 



19 Mei 2016 - 19 Mei 2017

Hal Paling Romantis

Jika kau pulang ke rumah
Dengan seplastik makanan untukku
Itu adalah hal romantis
Sebab akulah yang kau ingat
Ketika di perjalanan

Jika aku terlelap
Dan kau membentangkan selimut untukku
Itu adalah hal yang romantis
Sebab engkau ingin memastikan
Aku terpejam dengan nyaman

Jika adzan berkumandang
Kemudian engkau mengingatkan shalat
Itu adalah hal yang romantis
Sebab engkau memikirkan kebahagiaankuu
Bukan hanya dunia

Tapi juga akhiratku

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...