Skip to main content

Buku Puisi



Pada hari rindu, kuturut payah ke kota
Naik dendam istimewa ku duduk di luka

Ku duduk samping pak gusar yang sedang gulana
Mengendarai kata supaya pahit deranya

Hei...!!
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk tik tak
Suara spatu duka..!

(Nyanyian Putus Asa, 2011)

Telah terbit buku antologi puisi JANUARI JERAMI.
Ini adalah buku kumpulan puisi tunggal pertama karangan Asmi Norma Wijaya. Dengan mengadopsi dari blognya JANUARI JERAMI yang dibuat pada tahun 2011. Buku ini menjadi sebuah langkah yang berarti dalam kegiatannya berpuisi. Dengan 75 puisinya dari tahun 2010 hingga tahun 2012.

Harga per-buku : Rp. 33.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Jumlah halaman : Rp. 126 halaman (hitam putih dengan kertas novel)

Pemesanan bisa melalui penulisnya langsung di wall/inbox akun facebook Asmi Norma Wijaya atau melalui admin@nulisbuku.com di Nulisbuku dengan mencantumkan nama dan alamat. Pengiriman buku melalui Pos atau JNE dengan membayar terlebih dahulu biaya transfer pembelian per-buku dengan ongkos kirim (menyesuaikan dengan alamat),

Suatu persembahan sederhana dari airmata kepada kata, dari sunyi kepada puisi, juga upaya untuk menjatuhkan rintikrintik sajak kepada dada yang mencintainya.
Sebuah rumah sederhana yang bisa dikunjungi oleh siapa saja yang merindukan puisi sebagai tempat kepulangan.
Selamat membaca, anggap saja rumah sendiri :)

**
BAGI saya, sebutlah saya seorang narablog, bertemu sebuah blog yang bagus itu seperti tersesat ke sebuah taman bunga. Saya pasti akan sering berkunjung ke sana, dan tentu di kali lain itu, saya tidak tersesat lagi. Saya - sebagaimana para narablog lain, sesekali mengajak orang lain juga menyesatkan diri ke taman bunga itu. Hari ini, saya temukan blog Januari Jerami. Sebuah blog yang diuraikan oleh Asmi Norma Wijaya pemiliknya dengan kalimat ini: Puisi dan cerita dan sebagainya tak akan pernah cukup, seperti bulan Januari yang mempertemukan aku pada nasib di tumpukan jerami. Apa alasan saya untuk tidak kembali ke taman bunga eh blog ini? (Hasan Aspahani - www.sejutapuisi.com)


Popular posts from this blog

Puisi untuk Keponakan-keponakanku

Puisi untuk keponakan-keponakanku.

Kais: Aku merasa menjadi ibu dengan dada yang tabah Mengajarkanmu mengucap kata, mengeja huruf demi huruf Vokal – konsonan - vokal, sampai kau berhasil menyebut namaku Mengajarkanmu menghitung anak-anak tangga Membiasakanmu shalat lima waktu, menjadi makmum di belakangku
Jo: Aku merasa menjadi ibu dengan dada yang begitu tabah Sabar mendengarmu bicara dengan suara yang cadel dan samar Berpura-pura tak melihat ketika kau sembunyi karena ingin dicari Mengajarkanmu sabar menunggu giliran di tempat permainan Berkali menghalau tak boleh membalas perbuatan kasar Berulangkali memberitahukanmu tak boleh makan permen terlalu banyak, meskipun engkau tak mengerti
Dio: Aku merasa menjadi seorang ibu dengan dada yang terlanjur tabah Menggambarkan untukmu puluhan burung dara, yang kelak barangkali bisa bebas kau terbangkan Berulang kali memberitahukanmu hal-hal yang salah Tak boleh minum sambil berdiri, Tak boleh makan pakai tangan kiri Berkali-kali mengingatkan tak boleh bicara ka…

Puisi untuk tukang las di depan rumahku

Percik-percik itu kau namakan sebagai sesuap nasi yang menambal lubang pada usus anak istrimu
Kadang kau pun tak ingin memikirkan tentang ketakutanmu bahwa bisa saja percik itu melahap salah satu atau kedua penglihatanmu
atau suatu hari, percik itu bisa saja menjelma menjadi luka bakar yang bekasnya terus ada--menjadi tatto kekal
tapi setidaknya, ada satu hal yang dapat menghiburmu tentang apa yang kau kerjakan dan itu adalah suatu hal yang sangat membanggakan yaitu, ketika istrimu menyapa di pagi hari, mencium punggung tanganmu, berdiri di ambang pintu sambil berbisik "Bapak ganteng sekali dengan kacamata hitam itu."
Lalu, sepanjang hari kau tersenyum-senyum sendiri menikmati percik-percik itu dengan sarung tanganmu yang tebal terisi oleh kenangan-kenangan saat kau menerima gaji pertama yang seluruhnya kau berikan pada istrimu yang setia menunggumu pulang di beranda rumah
Kau mulai mengganggap bahwa itu adalah pekerjaan paling keren karena beribu kecepatan cahaya mengiringi tubuh hitammu yang sering dibak…

Sajak Flu

Aku dilanda flu Tiga kali sehari  minum obat flu Minum vitamin untuk penghilang flu Tidur siang sebagai istirahatnya orang flu
Minum air putih, setiap hari Satu hari tidak cukup delapan gelas lagi Mungkin sampai gelas kedua puluh lalu minum ayem sari Karena ada setimbun sariawan di dekat gigi
Jangan lupa dengan tisu Untuk membuang lendir diantara bulu Menyedot dan menghisap suhu Ah benar-benar tidak enak hidungku!
Flu, jangan lagi mampir Aku sudah tiduk punya tisu untuk digilir Atau obat berpuluh butir Dan jika membuang lendir, temanku ketar-ketir