Skip to main content

Tentang Penulis



ASMI NORMA WIJAYA. Lahir di Jakarta, 20 Januari 1990. Lulus dari Universitas Negeri Jakarta Jurusan Pendidikan Seni Rupa pada tahun 2014. Aktif menulis puisi di blog pribadinya sejak tahun 2011. Pernah menjadi pengajar di berbagai lembaga pendidikan. Selain itu pernah menjadi penulis di media online. Sekarang ia menetap di Jogja dan masih menulis puisi. 

Email  
Normaasmi00@gmail.com

Asmi Norma Wijaya

@asminormawijaya






Popular posts from this blog

Puisi untuk Keponakan-keponakanku

Puisi untuk keponakan-keponakanku.

Kais: Aku merasa menjadi ibu dengan dada yang tabah Mengajarkanmu mengucap kata, mengeja huruf demi huruf Vokal – konsonan - vokal, sampai kau berhasil menyebut namaku Mengajarkanmu menghitung anak-anak tangga Membiasakanmu shalat lima waktu, menjadi makmum di belakangku
Jo: Aku merasa menjadi ibu dengan dada yang begitu tabah Sabar mendengarmu bicara dengan suara yang cadel dan samar Berpura-pura tak melihat ketika kau sembunyi karena ingin dicari Mengajarkanmu sabar menunggu giliran di tempat permainan Berkali menghalau tak boleh membalas perbuatan kasar Berulangkali memberitahukanmu tak boleh makan permen terlalu banyak, meskipun engkau tak mengerti
Dio: Aku merasa menjadi seorang ibu dengan dada yang terlanjur tabah Menggambarkan untukmu puluhan burung dara, yang kelak barangkali bisa bebas kau terbangkan Berulang kali memberitahukanmu hal-hal yang salah Tak boleh minum sambil berdiri, Tak boleh makan pakai tangan kiri Berkali-kali mengingatkan tak boleh bicara ka…

Sajak Mesin Cuci

: Hamilthon Smith
Kepada Penemu Mesin Cuci

Mesin cuci,
tolong cuci sajakku
Sudah tiga hari sajakku belum ganti
Aromanya santer di hidung siapa-siapa
menyeruak kepada udara
melebihi wangi bumbu dapur,
wangi bawang dan selada,
atau wangi semprotan setrika

Nanti kubelikan senyum deterjen anti noda
atau
pelukan hangat air ledeng
yang mengguyur tubuhmu dan tubuh sajakku sekujur

Agar anyir tak lagi mampir
dan malam terkesima kembali pada sajakku yang kilau
yang silau karena kau
karena mesin cuci yang memeras habis segala keringat pada sajakku yang kotor

Setelah itu kan kujemur sajak di bawah selasar waktu di ruang tunggu
di bawah matahari yang berdiri menggagu

Takkan lupa kuangkat, jika mendung mengembun di matamu
agar tak jadi basah
agar mesin cuci tak menyesal telah mendandanimu resah

Terima kasih mesin cuci
di lain waktu akan kukunjungimu bersama sajakku (lagi)


Juni 2011

puisi untuk seorang ayah yang ditinggal mati anaknya

rasanya terlalu pagi jika sulur sulur itu hanya berhenti sampai sini dimakamkan dalam laci-laci kremasi yang berbau nyinyir kita memang sama-sama tahu, bahwa tak ada yang dapat melawan usia tapi begitu luka jika kuingat lagi bagaimana takdir memintamu moksa
anakku, buat apa aku begitu tabah bila kau sudah tak betah? atau bisa saja betah tapi malaikat-malaikat itu merebutmu dari sisiku mempermainkanmu dalam surga yang entah di telapak kaki siapa
rasanya baru sepersekian menit kita bermain kuda-kudaan tadi malam kau berdiri di punggungku seolah terbuat dari baja padahal ringkih jika kau temukan remah-remah tulang itu di dalam bajuku
lalu kau tertidur karena kelelahan bermain, aku menggotongmu lagi seolah aku lupa kau sudah sekian puluh kilogram beratnya seperti dalam film drama: sang ayah yang mengecup kening anaknya yang sedang tertidur pulas lalu setelah itu kembali ke meja kerja mengerjakan ini itu, dan menyimpan- terpaksa menyimpan -cintaku yang kusut itu dalam laci -menyimpannya lama- hingga memb…