Skip to main content

puisi untuk seorang ayah yang ditinggal mati anaknya

rasanya terlalu pagi jika sulur sulur itu hanya berhenti sampai sini
dimakamkan dalam laci-laci kremasi yang berbau nyinyir
kita memang sama-sama tahu, bahwa tak ada yang dapat melawan usia
tapi begitu luka jika kuingat lagi bagaimana takdir memintamu moksa

anakku, buat apa aku begitu tabah bila kau sudah tak betah?
atau bisa saja betah tapi malaikat-malaikat itu merebutmu dari sisiku
mempermainkanmu dalam surga yang entah di telapak kaki siapa

rasanya baru sepersekian menit kita bermain kuda-kudaan tadi malam
kau berdiri di punggungku seolah terbuat dari baja
padahal ringkih jika kau temukan remah-remah tulang itu di dalam bajuku

lalu kau tertidur karena kelelahan bermain, aku menggotongmu lagi seolah
aku lupa kau sudah sekian puluh kilogram beratnya
seperti dalam film drama: sang ayah yang mengecup kening anaknya
yang sedang tertidur pulas lalu setelah itu kembali ke meja kerja
mengerjakan ini itu,
dan menyimpan- terpaksa menyimpan -cintaku yang kusut
itu dalam laci -menyimpannya lama- hingga membusuk tak pernah lagi terbuka


" Selamat tidur untuk anakku yang lebih dulu tertidur..."




2011

Popular posts from this blog

Puisi untuk Keponakan-keponakanku

Puisi untuk keponakan-keponakanku.

Kais: Aku merasa menjadi ibu dengan dada yang tabah Mengajarkanmu mengucap kata, mengeja huruf demi huruf Vokal – konsonan - vokal, sampai kau berhasil menyebut namaku Mengajarkanmu menghitung anak-anak tangga Membiasakanmu shalat lima waktu, menjadi makmum di belakangku
Jo: Aku merasa menjadi ibu dengan dada yang begitu tabah Sabar mendengarmu bicara dengan suara yang cadel dan samar Berpura-pura tak melihat ketika kau sembunyi karena ingin dicari Mengajarkanmu sabar menunggu giliran di tempat permainan Berkali menghalau tak boleh membalas perbuatan kasar Berulangkali memberitahukanmu tak boleh makan permen terlalu banyak, meskipun engkau tak mengerti
Dio: Aku merasa menjadi seorang ibu dengan dada yang terlanjur tabah Menggambarkan untukmu puluhan burung dara, yang kelak barangkali bisa bebas kau terbangkan Berulang kali memberitahukanmu hal-hal yang salah Tak boleh minum sambil berdiri, Tak boleh makan pakai tangan kiri Berkali-kali mengingatkan tak boleh bicara ka…

Puisi untuk tukang las di depan rumahku

Percik-percik itu kau namakan sebagai sesuap nasi yang menambal lubang pada usus anak istrimu
Kadang kau pun tak ingin memikirkan tentang ketakutanmu bahwa bisa saja percik itu melahap salah satu atau kedua penglihatanmu
atau suatu hari, percik itu bisa saja menjelma menjadi luka bakar yang bekasnya terus ada--menjadi tatto kekal
tapi setidaknya, ada satu hal yang dapat menghiburmu tentang apa yang kau kerjakan dan itu adalah suatu hal yang sangat membanggakan yaitu, ketika istrimu menyapa di pagi hari, mencium punggung tanganmu, berdiri di ambang pintu sambil berbisik "Bapak ganteng sekali dengan kacamata hitam itu."
Lalu, sepanjang hari kau tersenyum-senyum sendiri menikmati percik-percik itu dengan sarung tanganmu yang tebal terisi oleh kenangan-kenangan saat kau menerima gaji pertama yang seluruhnya kau berikan pada istrimu yang setia menunggumu pulang di beranda rumah
Kau mulai mengganggap bahwa itu adalah pekerjaan paling keren karena beribu kecepatan cahaya mengiringi tubuh hitammu yang sering dibak…

Sajak Flu

Aku dilanda flu Tiga kali sehari  minum obat flu Minum vitamin untuk penghilang flu Tidur siang sebagai istirahatnya orang flu
Minum air putih, setiap hari Satu hari tidak cukup delapan gelas lagi Mungkin sampai gelas kedua puluh lalu minum ayem sari Karena ada setimbun sariawan di dekat gigi
Jangan lupa dengan tisu Untuk membuang lendir diantara bulu Menyedot dan menghisap suhu Ah benar-benar tidak enak hidungku!
Flu, jangan lagi mampir Aku sudah tiduk punya tisu untuk digilir Atau obat berpuluh butir Dan jika membuang lendir, temanku ketar-ketir