Skip to main content

yang berkumpul dalam kepalaku.


aku bangun dimana tubuhku menyentuh rasa sakit dalam semua
ini tubuhku bukan tubuhku
namun nyeri yang tertanam telah tumbuh dalam batinku
aku menderita sakit dan semua sakit menuju pada Mu.

"..seorang pecinta sejati dibuktikan dengan rasa sakit dalam hatinya.." begitu syair Rumi
namun aku tak juga dapat melihatMu dalam rasa sakitku.

aku menangis tak pelak segala yang nampak
aku menangis karena tak kurasakan kewajaran
aku menangis karena tabir yang menjadi penghalang telah menutup mataku

aku tak melihatMu, tak juga melihatmu

jika cinta adalah misteri Illahi
maka aku ingin masuk dalam lumbung misteri Mu

tandus pada kerongkongku masih bisa dihapus dengan
air yang kuminum,
tapi tidak untuk tandus pada dadaku yang kemarau

Allah,
Allah kau adalah rasa
aku merasa kau tumbuh di setiap geletar doa
doaku muncul dalam tiap pori kulitku

aku merasa Kau adalah doa yang jauh, pun amat dekat, pun tak terlihat
aku menderita sakit, dan semua sakit menuju padaMu, menuju padamu

2014

Popular posts from this blog

Puisi untuk Keponakan-keponakanku

Puisi untuk keponakan-keponakanku.

Kais: Aku merasa menjadi ibu dengan dada yang tabah Mengajarkanmu mengucap kata, mengeja huruf demi huruf Vokal – konsonan - vokal, sampai kau berhasil menyebut namaku Mengajarkanmu menghitung anak-anak tangga Membiasakanmu shalat lima waktu, menjadi makmum di belakangku
Jo: Aku merasa menjadi ibu dengan dada yang begitu tabah Sabar mendengarmu bicara dengan suara yang cadel dan samar Berpura-pura tak melihat ketika kau sembunyi karena ingin dicari Mengajarkanmu sabar menunggu giliran di tempat permainan Berkali menghalau tak boleh membalas perbuatan kasar Berulangkali memberitahukanmu tak boleh makan permen terlalu banyak, meskipun engkau tak mengerti
Dio: Aku merasa menjadi seorang ibu dengan dada yang terlanjur tabah Menggambarkan untukmu puluhan burung dara, yang kelak barangkali bisa bebas kau terbangkan Berulang kali memberitahukanmu hal-hal yang salah Tak boleh minum sambil berdiri, Tak boleh makan pakai tangan kiri Berkali-kali mengingatkan tak boleh bicara ka…

Puisi untuk tukang las di depan rumahku

Percik-percik itu kau namakan sebagai sesuap nasi yang menambal lubang pada usus anak istrimu
Kadang kau pun tak ingin memikirkan tentang ketakutanmu bahwa bisa saja percik itu melahap salah satu atau kedua penglihatanmu
atau suatu hari, percik itu bisa saja menjelma menjadi luka bakar yang bekasnya terus ada--menjadi tatto kekal
tapi setidaknya, ada satu hal yang dapat menghiburmu tentang apa yang kau kerjakan dan itu adalah suatu hal yang sangat membanggakan yaitu, ketika istrimu menyapa di pagi hari, mencium punggung tanganmu, berdiri di ambang pintu sambil berbisik "Bapak ganteng sekali dengan kacamata hitam itu."
Lalu, sepanjang hari kau tersenyum-senyum sendiri menikmati percik-percik itu dengan sarung tanganmu yang tebal terisi oleh kenangan-kenangan saat kau menerima gaji pertama yang seluruhnya kau berikan pada istrimu yang setia menunggumu pulang di beranda rumah
Kau mulai mengganggap bahwa itu adalah pekerjaan paling keren karena beribu kecepatan cahaya mengiringi tubuh hitammu yang sering dibak…

Sajak Mesin Cuci

: Hamilthon Smith
Kepada Penemu Mesin Cuci

Mesin cuci,
tolong cuci sajakku
Sudah tiga hari sajakku belum ganti
Aromanya santer di hidung siapa-siapa
menyeruak kepada udara
melebihi wangi bumbu dapur,
wangi bawang dan selada,
atau wangi semprotan setrika

Nanti kubelikan senyum deterjen anti noda
atau
pelukan hangat air ledeng
yang mengguyur tubuhmu dan tubuh sajakku sekujur

Agar anyir tak lagi mampir
dan malam terkesima kembali pada sajakku yang kilau
yang silau karena kau
karena mesin cuci yang memeras habis segala keringat pada sajakku yang kotor

Setelah itu kan kujemur sajak di bawah selasar waktu di ruang tunggu
di bawah matahari yang berdiri menggagu

Takkan lupa kuangkat, jika mendung mengembun di matamu
agar tak jadi basah
agar mesin cuci tak menyesal telah mendandanimu resah

Terima kasih mesin cuci
di lain waktu akan kukunjungimu bersama sajakku (lagi)


Juni 2011