Hari ini genap sepuluh tahun ibu wafat. Bapakku juga sudah menikah lagi sejak tujuh tahun lalu. Dan cucu mendiang ibu dan bapakku sudah bertambah banyak. Anak-anakku tidak ada yang sempat melihat wajah neneknya secara langsung. Aku pun jarang melihat foto ibuku. Karena ketika melihat fotonya, aku langsung menangis. Menangis dengan tangisan yang sulit dihentikan.
Sejujurnya aku ingin sekali menangis, aku ingin merasakan kesedihan itu secara nyata, bukan hanya di dalam hati. Tapi ibu melarangku menangis, ibu memberiku mandat untuk mendoakannya. Itu pesan terakhir ibuku. Dan sejak itu aku tak suka menangisi ibuku.
Selain itu, aku memang tidak mau menangis, karena menangis membuatku sakit kepala, hidung meler, dan mataku sembab. Aku juga tidak punya waktu untuk menangis. Anak-anakku di rumah selalu membutuhkan pertolonganku. Mana mungkin aku bisa menangis, saat anakku ingin bermain cilukba. Mana mungkin aku menangis saat aku harus mengejar anakku untuk mandi dan makan.
Ketimbang menangis dan merasa sedih, aku lebih merasa lelah. Kelelahan yang mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan kelelahan yang ibuku rasakan dulu. Jadi, sebenarnya aku lebih merasa kasihan dan iba kepada ibuku di masa lalu dan aku di masa kini yang sudah menjadi ibu.
Di luar dugaanku, menjadi orang tua adalah sesuatu yang berat dan sulit. Maka dari itu, aku memaafkan semua kesalahan ibu dan bapakku. Semoga ibuku dan bapakku juga sudah memaafkan kesalahanku sebagai anak. Aku lebih sering berterima kasih kepada mereka, karena mereka sudah menjadi orang tuaku yang merawat dan membesarkanku. Aku yakin mereka sudah melakukan yang terbaik. Aku menangis hanya ketika mengingat kebaikan-kebaikan ibuku dan bapakku.
Betapa ibuku dengan sabar menggendongku, menyusuiku, menyuapiku, memandikanku. Betapa tangguhnya ibuku, apalagi aku anak terakhir. Ibuku merawat enam anak, dua anak bapakku, dan empat anak ibu dan bapakku. Aku kecil sering sakit-sakitan dan ibulah yang dengan sabar merawatku. Bapakku juga yang mengantarkan berobat ke dokter.
Ingatan yang paling melekat di kepalaku adalah ketika aku sakit lumayan parah pada tahun 2012. Aku sakit tukak lambung selama sekitar sebulan dan aku hanya berbaring di tempat tidur. Setiap malam ibu menyuapiku makan dan memberiku obat jamu yang dibuatnya sendiri. Tengah malam, aku melihat bapakku sholat dan mendoakan kesembuhanku.
Aku merasa jadi anak yang merepotkan. Bagian paling sedih saat ibuku meninggal sebenarnya adalah ketika aku belum bisa membahagiakan ibuku, membalas jasa dan kebaikannya. Aku belum sempurna merawatnya apalagi saat ibuku sakit hingga aku mendengar nafas terakhirnya. Ya, aku berada di sampingnya ketika ibu menutup mata untuk selamanya. Setidaknya hal itu membuatku sedikit lega, aku berada di sampingnya dan menggenggam tangannya. Aku juga melihat ibuku melafazkan Laa ilaaha ilallah untuk terakhir kalinya. Rasanya tidak percaya, meskipun itu kematian kedua yang kusaksikan. Kematian pertama yang kusaksikan adalah kematian nenekku dari garis ibu.
Ibuku, betapa aku mengagumi ibu. Ibu mengajariku aku menjadi ibu. Ibu juga sama sekali tidak pernah menuntutku. Ibuku selalu membuka kedua lengannya dan menerima keadaan diriku, selemah apapun aku. Ibuku jarang marah, sesekali saja ketika ibu mungkin merasa kelelahan dan ketika merasa sakit. Ya, saat seseorang sakit, emosi jadi tidak stabil. Aku mengerti itu. Jadi, aku melupakan semua kemarahan ibuku. Karena aku tahu, ibuku tidak marah padaku, tapi pada sakitnya.
Ibu menderita sakit cukup lama dan semoga sakit yang diderita ibuku menjadi penggugur dosa-dosa ibu. Semoga Allah senantiasa menerima amal kebaikan ibu. Semoga kelelahan ibu selama di dunia menjadi pemberat timbangan amal kebaikan ibu di akhirat. Aku berdoa agar Allah meridhoi ibu dan menempatkan ibu di surgaNya. Semoga kelak kita juga bisa berkumpul di surgaNya Allah bersama Nabi Muhammad saw.
Ibu, ketika mengenangmu, hanya kebaikan ibu yang teringat. Bahkan ketika sepuluh tahun berlalu, terasa bukan seperti sepuluh tahun. Aku jadi bergumam sendiri, ternyata sudah lama ya aku hidup tanpa ibu. Sudah lama juga aku tidak berkunjung ke makam ibu. Aku tidak ingin beranda-andai, aku hanya ingin hidup dengan baik agar bisa selalu mendoakan ibu.
19 Mei 2016 - 19 Mei 2026
