Semenjak menikah sembilan tahun lalu, aku merasa menjadi manusia yang lebih tenang dan stabil. Lalu aku mulai berpikir, kenapa pernikahan itu menenangkan hatiku?
Barangkali, karena pada akhirnya hanya suamiku yang mengetahui sisi terburukku.
Seseorang akan merasa sangat khawatir ketika sisi terburuknya diketahui orang lain. Tapi ketika menikah, sisi terburuk manusia sepanjang hidup akan disaksikan oleh pasangannya.
Aku bisa berlagak tenang di luar. Tapi bisa juga serampangan dan ceroboh ketika bersama pasanganku di rumah.
Jadi selepas menikah, aku tidak perlu lagi merasa cemas dan khawatir. Aku merasa tenang karena semua sisi terburukku dalam diriku sudah ada yang mengetahuinya.
Di hadapan pasangan, aku bisa menjadi diriku sendiri. Itulah cinta, ketika seseorang merasa aman melakukan apapun. Sebab bagaimanapun, cinta akan selalu mendukung.
Bagiku, level tertinggi dari cinta setelah kesetiaan, adalah dukungan. Ketika kau memutuskan untuk mencintai seseorang, itu berarti kau harus siap mendukungnya, tentu dalam lingkup kebaikan.
Mendukung seseorang sama saja membuka diri untuk mendapatkan dukungan yang sama. Dengan kata lain, jika itu mimpimu, maka bagiku itu juga mimpiku.
Aku akan mendukungmu meskipun semua orang pergi. Dan kamu akan mendukungku ketika aku tak punya siapa-siapa lagi.
---
Kemarin aku membaca sebuah utas tentang himbauan mencantumkan nomor telepon darurat di layar ponsel. Hal itu dilakukan agar jika terjadi hal hal darurat yang tidak diinginkan, maka orang lain yang menemukan ponsel kita akan bisa menghubungi orang terdekat kita.
Setelah membaca utas tersebut, aku memutuskan untuk mencantumkan nomor ponsel suamiku di lockscreen ponselku, aku juga menjadikan foto kami sebagai wallpaper. Aku tidak bisa memikirkan nama lain dari orang terdekatku yang kira-kira bisa dengan segera menolongku jika terjadi sesuatu padaku.
Sejak tinggal di perantauan, aku tidak terbiasa melekatkan hidupku pada apapun dan siapapun. Sepenuhnya, aku meminta pertolongan Allah, barulah aku meminta tolong suamiku. Aku merasa sudah berusaha sendirian sekeras ini.
Sekarang, meskipun aku dan suamiku tinggal berjauhan, aku tetap merasa tenang. Aku merasa cemas dan khawatir hanya sesekali saja, tidak sering. Mungkin hanya dua atau tiga kali dalam sebulan. itu terjadi hanya ketika malam hari ketika aku kelelahan atau saat anakku sakit.
Aku lebih merasa cemas ketika tidak ada yang bisa dilakukan oleh suamiku di sini. Ya, melihat pasanganku tidak melakukan apapun adalah hal yang menakutkan. Punya atau tidak punya uang, bagiku urusan belakangan. Tapi, melihatnya tidak bisa melakukan yang diinginkannya adalah hal yang membuatku khawatir.
Jadi, aku akan selalu mendukungnya. Ketika didukung, seseorang akan merasa tenang dan merasa bahwa hidup ke depannya akan berjalan dengan baik.
Di usia pernikahan yang hampir sepuluh tahun, cinta tidak lagi menggebu-gebu. Cinta berubah bentuk menjadi penerimaan.
Singosari, 19 Mei 2026






