tiga puluh menit sehabis maghrib
kita berkumpul dengan niat baik
dan tujuan bahwa ada yang patut
kita jaga sampai musim yang
tak pernah kita sangka
masing masing menggenggam senjata
mengingat dan membuka lagi
catatan tentang not not,
larik larik tua, tembang tembang sakral
yang sempat menjadi binal
di jari jari yang pelupa
seorang guru yang penyabar
memindai masa mudanya di papan,
mencipta irama, menghentakkan tangan
mengajarkan bahwa hidup memang
proses menenun ketabahan yang panjang
seperti itulah kita tabah bertahan
walau kelak masa depan
akan tandas, akan meranggas dengan naas
lamat lamat kendang ditabuh
dari sinilah kisah bermula dan akan berlabuh
disusul bonang yang dipukul dengan
sibuk dan mabuk, seolah waktu berulang
lebih cepat dan banyak
lempengan logam milik saron
mengikuti jejak jejak yang pernah
ditinggalkan sejarah
lalu dentum gong adalah prajurit
yang siap menyerang pada sela-sela
pertahanan dan mengakhiri peperangan
pada akhirnya ada yang hendak kita ceritakan
pada malam tua
dan angin yang memukul dedaunan
ada yang ingin terus kita jaga
pada samar masa depan,
pada pudar kenangan masa silam
2013
29.1.13
26.1.13
aku menyetel radio

aku menyetel radio kemudian bertanya
pada antena;
nasib baik ada di frekuensi berapa?
2013
sesaat sebelum maghrib
senja bergegas membereskan paniknya
pintu pintu segera ditutup
daun jendela pamit dari nuansa
ibuibu penggosip.
anak anak telah diumumkan untuk berhenti
main, disebabkan matahari telah beranjak
pulang ke barat.
ini adalah pertanda bahwa
segala permainan harus ditunda
aktivitas tandas barang sebentar
ada yang memanggil lebih dari siapapun
ayah mengenakan pakaian terbaik
dan berangkat karena
tak mau ketinggalan shaf pertama
ibu menyiapkan mukena dan melipat
ingatan soal harga sayur dan
obrolan tetangga lalu menyimpannya
di tempat yang jauh dari jangkauan
angan angan
ada yang memanggil lebih dari siapapun
menyadari lagi kita hanya berasal
dari segumpal darah.
manifestasi dari mani yang kotor.
maka biarkan rasa lelah mengering
dan masa lalu berpaling.
bergegaslah untuk panggilan
yang lebih penting
dari apapun
pintu pintu segera ditutup
daun jendela pamit dari nuansa
ibuibu penggosip.
anak anak telah diumumkan untuk berhenti
main, disebabkan matahari telah beranjak
pulang ke barat.
ini adalah pertanda bahwa
segala permainan harus ditunda
aktivitas tandas barang sebentar
ada yang memanggil lebih dari siapapun
ayah mengenakan pakaian terbaik
dan berangkat karena
tak mau ketinggalan shaf pertama
ibu menyiapkan mukena dan melipat
ingatan soal harga sayur dan
obrolan tetangga lalu menyimpannya
di tempat yang jauh dari jangkauan
angan angan
ada yang memanggil lebih dari siapapun
menyadari lagi kita hanya berasal
dari segumpal darah.
manifestasi dari mani yang kotor.
maka biarkan rasa lelah mengering
dan masa lalu berpaling.
bergegaslah untuk panggilan
yang lebih penting
dari apapun
Subscribe to:
Posts (Atom)