25.9.13
aku tak jera
bibirku pecah dilempar mainan besi
tulang keringku ditendang sewaktu di kamar mandi
waktu aku melarangnya jajan sembarangan, rambutku
dijambak hingga rontok
bahkan aku pernah hampir takut buta
saat mataku dipukul gagang kipas kayu
seperti para pejuang yang tak jera masuk bui
aku tak jera
aku tetap mengantarnya ke sekolah, mengamatinya dari balik pagar
memandikannya sembari mencontohkan cara sikat gigi yang benar
menemaninya mengerjakan pekerjaan rumah
saat ke toko buku, aku selalu ingat untuk sekadar membelikan buku-buku bergambar binatang kesukaannya
aku tak jera
seperti sebuah kalimat yang kutemukan di suatu pagi,
"aku rela dikatakan buta, lantaran aku memang tidak melihat lagi
suatu cacat pada yang aku cintai.."
september 2013
22.9.13
Hati-Hati Jaga Jarak
Bantal Anti Air Mata
Ada orang-orang yang memilih untuk
menumpahkan kesedihannya di khalayak, dipublish di sosial media, atau bahkan dimanipulasi
dengan tertawa terlalu banyak. Namun ada juga sebagian orang yang memilih untuk
menyimpan kesedihannya di bawah bantal, memecahkan tangisnya di dalam dekapan
malam, berharap hanya ia dan Tuhan saja yang tahu tentang itu, lalu seolah-olah
air matanya bisa lunas dan piutang tentang kesedihannya telah tandas dengan
ikhlas.
Bantal ini cocok untuk menangkal segala
duka, lara, dendam, dan kecewa sebab cinta yang bertepuk sebelah tangan,
pertengkaran dengan orang tersayang, kerisauan perihal masa depan, kesendirian
tak berujung, atau bahkan nasib ekonomi yang diujung tanduk. Bantal ini
mengajarkan kita untuk menjadi pejuang yang tangguh dan tak cengeng dalam mengahadapi
persoalan mulai dari yang sepele sampai yang bertele-tele.
Rasanya kita memang tak butuh airmata
untuk hal-hal yang tak selesai, cukup bantal anti air mata yang akan
menyelesaikan segala lara dan nestapa. Semoga..
#
Apa yang biasa kita lakukan saat merasa
sakit hati? Menyendiri? Nulis diary? Atau atau lari pagi?
Kursi anti sakit hati ini, sangat cocok
buat kamu-kamu yang dadanya sering merasa sesak dan sakit seperti dicubit
gorila. Di kursi ini kamu bisa merenung dan menggunakan intuisi untuk berpikir
mengikuti alur dan memfilosofikan hidup sebagai benda-benda mati atau yang yang
tak dapat bergerak. Bayangkan jika kamu adalah sebuah marka jalan yang dicorat
coret oleh anak-anak sekolah atau anak punk. Tubuh kamu diperlakukan seperti
tak berguna dengan tulisan yang tak berbobot. Dilihat tak anggun lagi oleh para
pengguna jalan. Kamu merasa sakit hati tapi tak ada yang dapat kamu lakukan
selain menunggu petugas yang membersihkan dan mengembalikan tubuhmu seperti
semula. Itulah, sebelum merasa sakit hati pikirkanlah apa yang menyebabkanmu
begitu merasa sakit hati dan apa saja hal hal yang membuatmu untuk merasa tidak
sakit hati.
Namun jika kebahagiaan sudah sulit dicari,
maka tersenyum saja sendiri.
#
Monitor Anti Bikin Males
Sebelum memulai mengerjakan tugas di depan
komputer, ada baiknya kita menyeduh kopi dahulu agar mata terasa segar dan
badan segera bugar. Jika kopi sudah siap, maka kita boleh kembali duduk menghadap layar
komputer dan kembali berkutat dengan proposal. Tapi ah rasanya kurang afdol
kopi tanpa cemilan. Mungkin kita bisa mengambil satu atau dua snack di kulkas
sebagai teman biar tak jenuh, biar bosan tak penuh. Untungnya masih ada cemilan
yang kita sediakan buat persiapan seminggu kedepan. Akhirnya kopi siap, cemilan
siap. Saatnya kembali ke proposal yang sedari tadi sudah mengemis-ngemis
meminta dikerjakan. Lalu mulai memikirkan satu kalimat yang tepat untuk diketik
di halaman pertama. Satu menit, lima menit. Melihat jam di dinding. Oh iya, baru
ingat. Pukul segini ada film korea yang
bagus. Sayang kalo dilewatkan. Nonton tv dulu barang sejam. Barangkali tak apa,
proposal masih bisa dikerjakan sehabis nonton tv, dan nanti malam juga masih
banyak waktu.
Cuplikan di atas bukan lagi sekadar basa
basi, dan sudah jadi hal yang sangat basi. Karena gejala-gejala tersebut, maka
proyek ini membuat monitor anti malas. Monitor ini membuat si penunda menjadi
tidak tidak lagi membuat alasan-alasan yang merasa perlu dimaklumi untuk
menyepelekan waktu luang dan pekerjaan. Segala macam pekerjaan akan terasa
memiliki bom waktu, yang jika kita menundanya maka bom itu akan meledak dan
memecahkan kita berkeping-keping dan lebur dalam lelehan kesia-siaan. Waktu
adalah bom, yang siap meledak.
#
Cermin Anti Lupa Diri
Dahulu kala, ada sebuah kisah tentang
seseorang yang bernama Narcissus. Ia adalah orang yang jatuh cinta pada dirinya
sendiri ketika melihat bayangannya di sungai yang airnya sangat jernih. Kadar
jatuh cinta pada diri sendiri sungguh beragam. Hal itu bisa disebabkan oleh
faktor ketampanan dan kecantikan di dalam seseorang, atau tidak sama sekali.
Ada yang tampangnya biasa-biasa saja namun terlihat sangat percaya diri melihat
bayangannya sendiri ketika melewati sebuah rumah yang kaca jendelanya dari
riben, padahal pemilik rumah yang berada di dalamnya sangat heran bahkan tertawa
memperhatikan orang yang mondar mandir lewat di depan rumahnya. Hal tersebut
adalah gejala-gejala lupa diri.
Cermin ini mengajarkan kita untuk tak lupa
diri namun selalu tetap bersyukur. Sebab kita adalah jiwa-jiwa yang dikemas
Tuhan dalam bentuk yang sangat beragam. Apa yang nampak hanya kemasan belaka,
yang bisa dikamuflase dengan berbagai produk brand ternama atau barang-barang
yang sedang trend. Isi yang sebenarnya ada di dalam hati, sikap, dan pikiran
anak manusia. Cermin ini memiliki kendali, sebab kendali adalah senjata
terampuh agar tak lupa diri.
#
Kacamata
Anti Iri
Rumput di halaman tetangga
memang selalu kelihatan lebih hijau. Walaupun jaman sekarang ini sudah sangat
sedikit tetangga yang punya halaman berumput, tapi tetap saja selalu kelihatan
lebih hijau, entah apanya yang hijau.
Rasa iri muncul
dari alam bawah sadar kita yang sebenarnya tidak menghendaki kita menjadi iri.
Rasa iri muncul dari kurangnya rasa syukur, empati, kepedulian terhadap orang
lain yang nasibnya kurang beruntung. Rasa iri juga bisa disebabkan oleh
keinginan yang tidak berbanding lurus dengan realita. Frekuensi keinginan yang
lebih tinggi dengan frekuensi realita, sehingga kita sering berkata bahwa hidup
itu kejam. Bisa disimpulkan keinginan adalah sumber penderitaan. Semesta memang
sengaja berkonspirasi untuk menciptakan hal semacam ini. Keinginan untuk
menjadi orang lain. ketahuilah, orang yang paling menyedihkan di dunia ini
adalah orang yang ingin menjadi orang lain.
Untuk itulah, proyek ini
menciptakan sebuah terobosan terbaru yakni sebuah kacamata yang bisa mengubah
kita menjadi pribadi-pribadi yang percaya dengan kompetensi masing-masing. Ucapkan
selamat tinggal pada apa yang sebenarnya tidak kita butuhkan. hijaukan rumput sendiri dan katakan “Selamat
datang saya!” Masa depan tanpa rasa iri akan lebih mengagumkan sepertinya.
#
Ilustrasi gambar: Farhanaz Rupaidha
12.9.13
Sajak Pada Sebuah Melankoli
Malam menjahit gulita dari butiran bintang yang
tercecer di padang matamu
Sebagai musafir dalam perjalanan ini mungkin
bisa sekedar singgah
Duduk melepas sandal, membuka kotak bekal berisi nasi dan ikan bawal
Konon perut adalah hal yang sakral untuk diobral
Maka kita berbisik saja pada angin pasang yang
Melemparkan sauh itu hingga ke tepian, soal lapar yang barangkali tak
tertangkap
Oleh bengal tanggal-tanggal yang rontok di sepanjang pesisir tanpa dian penerang
Hingga kita menemu pagi lagi pada gumam pantai itu
Maka aku kini adalah pasir yang menunggu ombak membawaku sampai ke tubuh
laut
Perahu layar, peluit kapal, dan terik matahari yang menghancurkanku
Menjadi partikel terkecil, menjadi lahapan ikan-ikan lapar
Dan ikan itu kini sampai tepat di padang matamu lagi
Barangkali aku pernah terlupa oleh masa, atau menjadi sebuah tokoh tanpa
nama
Maka jika malam kembali pamit berpijar, izinkan aku
menjelma fajar
Yang terbaring di pelataran langit itu
Menunggu suara muadzin itu
Sebab aku ingin sembahyang, menjadi makmum di belakangmu
Belajar mengucap amin pada akhir lirih doamu
2013
Langu Tahu
Yang
membuatku langu
Seperti aroma
tahu yang kian
Melonjak itu
Buruh kini
sebagai pepatah lama
“Pahlawan
tanpa tanda jasa”
Kini yang
tersedia di meja
Hanya taplak
yang terjahit
Dari lembar
pagi yang muram
Matahari saja
sembunyi di balik
Menara
tinggi menjulang
Kita duduk
saja sembari menunggu hujan
Yang terbuat
dari embun matamu
Kudengar
kemarau akan panjang
Dan dompet
kita akan kekeringan
2013
9.9.13
Sebentar lagi sampai
Sebab rumah adalah ibu
yang merawat luka zaman dari peperangan panjang itu..
Melewati jalan-jalan panjang, tikungan-tikungan tajam, ada
perasaan yang berulang dan seperti tidak dapat selesai. Kenangan mengenalkan
dirinya lagi dari bau yang didenguskan udara, aku hendak mendesis seperti ular
yang mengalami dejavu-dejavu. Tempat ini, tempat itu, tempat-tempat singgah
yang pernah menjadi tumbal dalam segala laku, kesibukan, penat, dan tawa.
Moment yang pudar namun masih terekam sebagian dan sebagian.
Imaji mengeliar, menjeratku pada pusaran waktu, memaksaku lagi untuk merindukan
halhal yang dulu kuanggap begitu-begitu saja. namun aku ingin kembali, perasaan
ingin kembali adalah perasaan yang kumaksud tak dapat kuselesaikan, tak bisa
kuwujudkan dalam realitas meskipun dalam waktu dan ruang yang lain. Waktu
berlari.. dunia berlari, banyak yang berubah, rumah kos-kosan yang dibangun
dengan tembok tinggi, kamar-kamar yang diperbanyak, warung-warung makan yang
mengganti pemilik, namun tak ada yang berubah pada kenanganku dan hanya aku seorang
yang mampu melihatnya.
Beberapa kali mengalami kepindahan, membereskan perabotan,
pakaian, buku-buku, dan berharap menemukan tempat yang lebih nyaman, yang bisa
menerimaku dalam keadaan bagaimanapun. Meninggalkan kenangan dan sahabat-sahabat
yang pernah bersama dalam lelap dan terjaga, perbincangan-perbincangan mulai
dari yang tak penting, semi penting, penting, dan sangat penting pernah mengisi
tahun-tahun dalam masa mencari jati dari itu. Segalanya terekam, kemudian
sedikit demi sedikit terbang, lalu masih adakah yang selamat dari ingatanku
yang terbang itu? Masih dan akulah yang menyelamatkannya sendiri dengan kembali
memberinya nama satu-satu. Aku pernah tinggal disini, disini, disini, dan
disini. Kamar-kamar yang pernah menjadi rumah kepulangan; saksi dari
malam-malam kantuk, teman dari sepi-sepi yang menyakitkan, penawar dari
penyakit tukak lambung yang memarah, juga riuh tawa yang pernah menjadi lagu
pengiring kehidupan disini, disana, disitu.
Malam memanjang, burung-burung pulang ke sarangnya, tapi aku
entah kemana. Rumah bagiku seperti barang langka yang mesti kutemui dengan
susah payah, dengan jerih yang tak biasa. Aku jadi ingin punya banyak rumah,
memulangkan diriku sendiri ke tempat berbeda setiap hari, yang tak perlu
melalui perjalanan panjang, antrian-antrian pahit, dan dingin yang menjeram
badan.
Namun ada seseorang yang menunggu dirumah dengan cemas yang
tak bisa ditawar, jam malam diberlakukan, lewat dari peraturan senjata
disingsingkan ke pinggang, benteng-benteng mengerahkan pertahanan, wajah dengan
tampang garang dipasang, pertanyaan-pertanyaan tanpa jeda dilepaskan dari
busur, aku seperti tawanan yang sudah kehabisan tenaga tapi masih harus
menjawab berapa pasukan perang yang tersisa, dimana tempat persembunyian,
berapa sisa harta rampasan dan sebagainya, dan sebagainya.
Aku ingin dipercaya seperti induk elang yang melepas
elangnya mengembara, suatu saat jika makanan sudah terkumpul, dan perjalanan
telah habis, aku akan merindukan rumahku sendiri, komposisi rumah yang
sebenarnya: rumah beserta keluarga di dalamnya. Aku berjanji akan
pulang tepat waktu, aku akan pulang tepat waktu, aku mengucap janji ini sebanyak dua kali, yang satu untuk ibu yang menunggu, satu lagi sebagai pengingat untuk diri sendiri.
Angin menyelinap dari jendela bus kota, mengusap wajahku. Malam yang temaram dan kota masih saja sedingin ini. Kurapatkan lelah dalam balik jaket, mendekapnya erat hingga lengket ke dalam tulang.. Sebentar lagi sampai..
September 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)






