orangorang dari tempat perbelanjaan
telah seraya menghadapkan
punggungnya ke arah malam
mereka mengenang tabungan
yang tandas dan
mengepung kenangan
dengan wajah pucat
kantongkantong berisi cinta yang berkarat,
cinta yang tak tepat dijinjing
dan dihempaskan ke dalam
dada yang tak pernah puas
angin malam menghembus,
udara menghapus
tak jauh dari bangunan tinggi itu,
yang cahayanya merah menyala itu,
seorang tua penyapu jalanan
membersihkan sisasisa keikhlasan.
dari wajahnya yang rumit,
derita belum juga pamit
namun dari matanya meneteskan
cinta yang nanar,
cinta yang mungkin benar
2013
14.2.13
Sudah Lama Aku Tak Menulis Puisi
Sudah lama
aku tak menulis puisi
Setelah
beberapa demam dan
Sejumlah
lebam yang menyelinap di tubuhku
Aku benar
mengerti bahwa kesedihan
akan tandas,
dan kenanganku yang malang
akan lupa
tercatat.
Sudah lama
aku tak menulis puisi
Sejak kotaku
tergenang dan kecemasan
Hanyut
dibawa oleh serdadu-serdadu
Bersepatu
lars. Aku menejelma
Ikanikan
kecil yang diburu sekelompok
Perompak
cilik. Siripku patah
Dan nafasku basah
sebab
Jala yang
mereka tebar telah
Menjerat
sampan-sampan yang kutinggalkan.
Aku pernah hendak
menulis puisi
Namun waktu
nyaris musnah
Sementara
hujan belum juga punah
Rumahrumah tergenang, penduduk mengungsi
Dan
mengangkut barang
Entah tangis
siapa dan untuk sedihnya siapa
Aku pernah
ingin menulis puisi
Sebagai
peringatan tentang beberapa kejadian,
Peristiwa,
dan sejarah yang tumbuh di kotaku
Namun ngilu
terlampau pedih untuk diberitahukan
Dan tanggal
akan pecah pada hari depan.
2013
Sajak Pesakitan
Setiap malam, selalu
kulewati
Berbagai macam mimpi
buruk,
Semacam adegan tembak
menembak dalam
film action atau prosesi sakratul
maut bahkan pernah
Melipat-lipat alam bawah
sadarku
Dan membuangnya ke jurang
Dengan kedalaman yang
Tak berani kuhitung.
Aku merasa ini tukak
lambung yang sudah
Dimakan usia, namun aku
tak pernah ingat
merayakannya
ulangtahunnya.
Tanggal-tanggal pecah di
kepalaku.
Aku lupa hari. Aku kacau
pada ruang, pada waktu.
Lalu kata ibu, kunyit
adalah jalan keluar
Bagi lambung yang lebam.
Saat matahari lengser,
dan
Bulan tengah pucat.
Ibu memarut kunyit dengan
tubuhnya
Yang perlahan menguning,
parutannya
Dicampur dengan airmata
hujan.
Aku meminumnya seperti
aku
Meminum kesedihan dan
Dadaku sebentar-sebentar
gerimis.
Mataku tergenang dan
lambungku kekuningan.
Sekadar ini pun tak
cukup,
Berbagai generik dan obat
sirup telah jadi
Temanbaikku, bahkan
saudara sepenanggungan.
Ini parodi yang
dipertontonkan Tuhan.
Aku jadi malu pada
kemerdekaanku.
Ibu berkata lagi—tak apa
Nak, ini cuma
Soal waktu dan rasa sakit.
Ibu, apakah yang lebih
merdeka dari waktu?
Adakah yang lebih tidak
merdeka dari rasa sakit?
(menjelang akhir tahun)
Subscribe to:
Posts (Atom)
