19.5.26

Kenapa Pernikahan Menenangkan Hati?

Semenjak menikah sembilan tahun lalu, aku merasa menjadi manusia yang lebih tenang dan stabil. Lalu aku mulai berpikir, kenapa pernikahan itu menenangkan hatiku? 

Barangkali, karena pada akhirnya hanya suamiku yang mengetahui sisi terburukku. 

Seseorang akan merasa sangat khawatir ketika sisi terburuknya diketahui orang lain. Tapi ketika menikah, sisi terburuk manusia sepanjang hidup akan disaksikan oleh pasangannya. 

Aku bisa berlagak tenang di luar. Tapi bisa juga serampangan dan ceroboh ketika bersama pasanganku di rumah. 

Jadi selepas menikah, aku tidak perlu lagi merasa cemas dan khawatir. Aku merasa tenang karena semua sisi terburukku dalam diriku sudah ada yang mengetahuinya. 

Di hadapan pasangan, aku bisa menjadi diriku sendiri. Itulah cinta, ketika seseorang merasa aman melakukan apapun. Sebab bagaimanapun, cinta akan selalu mendukung. 

Bagiku, level tertinggi dari cinta setelah kesetiaan, adalah dukungan. Ketika kau memutuskan untuk mencintai seseorang, itu berarti kau harus siap mendukungnya, tentu dalam lingkup kebaikan.

Mendukung seseorang sama saja membuka diri untuk mendapatkan dukungan yang sama. Dengan kata lain, jika itu mimpimu, maka bagiku itu juga mimpiku. 

Aku akan mendukungmu meskipun semua orang pergi. Dan kamu akan mendukungku ketika aku tak punya siapa-siapa lagi. 

---

Kemarin aku membaca sebuah utas tentang himbauan mencantumkan nomor telepon darurat di layar ponsel. Hal itu dilakukan agar jika terjadi hal hal darurat yang tidak diinginkan, maka orang lain yang menemukan ponsel kita akan bisa menghubungi orang terdekat kita. 

Setelah membaca utas tersebut, aku memutuskan untuk mencantumkan nomor ponsel suamiku di lockscreen ponselku, aku juga menjadikan foto kami sebagai wallpaper. Aku tidak bisa memikirkan nama lain dari orang terdekatku yang kira-kira bisa dengan segera menolongku jika terjadi sesuatu padaku. 

Sejak tinggal di perantauan, aku tidak terbiasa melekatkan hidupku pada apapun dan siapapun. Sepenuhnya, aku meminta pertolongan Allah, barulah aku meminta tolong suamiku. Aku merasa sudah berusaha sendirian sekeras ini. 

Sekarang, meskipun aku dan suamiku tinggal berjauhan, aku tetap merasa tenang. Aku merasa cemas dan khawatir hanya sesekali saja, tidak sering. Mungkin hanya dua atau tiga kali dalam sebulan. itu terjadi hanya ketika malam hari ketika aku kelelahan atau saat anakku sakit. 

Aku lebih merasa cemas ketika tidak ada yang bisa dilakukan oleh suamiku di sini. Ya, melihat pasanganku tidak melakukan apapun adalah hal yang menakutkan. Punya atau tidak punya uang, bagiku urusan belakangan. Tapi, melihatnya tidak bisa melakukan yang diinginkannya adalah hal yang membuatku khawatir. 

Jadi, aku akan selalu mendukungnya. Ketika didukung, seseorang akan merasa tenang dan merasa bahwa hidup ke depannya akan berjalan dengan baik. 

Di usia pernikahan yang hampir sepuluh tahun, cinta tidak lagi menggebu-gebu. Cinta berubah bentuk menjadi penerimaan. 


Singosari, 19 Mei 2026

Sepuluh Tahun Sepeninggal Ibuku

Hari ini genap sepuluh tahun ibu wafat. Bapakku juga sudah menikah lagi sejak tujuh tahun lalu. Dan cucu mendiang ibu dan bapakku sudah bertambah banyak. Anak-anakku tidak ada yang sempat melihat wajah neneknya secara langsung. Aku pun jarang melihat foto ibuku. Karena ketika melihat fotonya, aku langsung menangis. Menangis dengan tangisan yang sulit dihentikan.

Sejujurnya aku ingin sekali menangis, aku ingin merasakan kesedihan itu secara nyata, bukan hanya di dalam hati. Tapi ibu melarangku menangis, ibu memberiku mandat untuk mendoakannya. Itu pesan terakhir ibuku. Dan sejak itu aku tak suka menangisi ibuku. 

Selain itu, aku memang tidak mau menangis, karena menangis membuatku sakit kepala, hidung meler, dan mataku sembab. Aku juga tidak punya waktu untuk menangis. Anak-anakku di rumah selalu membutuhkan pertolonganku. Mana mungkin aku bisa menangis, saat anakku ingin bermain cilukba. Mana mungkin aku menangis saat aku harus mengejar anakku untuk mandi dan makan.

Ketimbang menangis dan merasa sedih, aku lebih merasa lelah. Kelelahan yang mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan kelelahan yang ibuku rasakan dulu. Jadi, sebenarnya aku lebih merasa kasihan dan iba kepada ibuku di masa lalu dan aku di masa kini yang sudah menjadi ibu. 

Di luar dugaanku, menjadi orang tua adalah sesuatu yang berat dan sulit. Maka dari itu, aku memaafkan semua kesalahan ibu dan bapakku. Semoga ibuku dan bapakku juga sudah memaafkan kesalahanku sebagai anak. Aku lebih sering berterima kasih kepada mereka, karena mereka sudah menjadi orang tuaku yang merawat dan membesarkanku. Aku yakin mereka sudah melakukan yang terbaik. Aku menangis hanya ketika mengingat kebaikan-kebaikan ibuku dan bapakku. 

Betapa ibuku dengan sabar menggendongku, menyusuiku, menyuapiku, memandikanku. Betapa tangguhnya ibuku, apalagi aku anak terakhir. Ibuku merawat enam anak, dua anak bapakku, dan empat anak ibu dan bapakku. Aku kecil sering sakit-sakitan dan ibulah yang dengan sabar merawatku. Bapakku juga yang mengantarkan berobat ke dokter. 

Ingatan yang paling melekat di kepalaku adalah ketika aku sakit lumayan parah pada tahun 2012. Aku sakit tukak lambung selama sekitar sebulan dan aku hanya berbaring di tempat tidur. Setiap malam ibu menyuapiku makan dan memberiku obat jamu yang dibuatnya sendiri. Tengah malam, aku melihat bapakku sholat dan mendoakan kesembuhanku. 

Aku merasa jadi anak yang merepotkan. Bagian paling sedih saat ibuku meninggal sebenarnya adalah ketika aku belum bisa membahagiakan ibuku, membalas jasa dan kebaikannya. Aku belum sempurna merawatnya apalagi saat ibuku sakit hingga aku mendengar nafas terakhirnya. Ya, aku berada di sampingnya ketika ibu menutup mata untuk selamanya. Setidaknya hal itu membuatku sedikit lega, aku berada di sampingnya dan menggenggam tangannya. Aku juga melihat ibuku melafazkan Laa ilaaha ilallah untuk terakhir kalinya. Rasanya tidak percaya, meskipun itu kematian kedua yang kusaksikan. Kematian pertama yang kusaksikan adalah kematian nenekku dari garis ibu. 

Ibuku, betapa aku mengagumi ibu. Ibu mengajariku aku menjadi ibu. Ibu juga sama sekali tidak pernah menuntutku. Ibuku selalu membuka kedua lengannya dan menerima keadaan diriku, selemah apapun aku. Ibuku jarang marah, sesekali saja ketika ibu mungkin merasa kelelahan dan ketika merasa sakit. Ya, saat seseorang sakit, emosi jadi tidak stabil. Aku mengerti itu. Jadi, aku melupakan semua kemarahan ibuku. Karena aku tahu, ibuku tidak marah padaku, tapi pada sakitnya.

Ibu menderita sakit cukup lama dan semoga sakit yang diderita ibuku menjadi penggugur dosa-dosa ibu. Semoga Allah senantiasa menerima amal kebaikan ibu. Semoga kelelahan ibu selama di dunia menjadi pemberat timbangan amal kebaikan ibu di akhirat. Aku berdoa agar Allah meridhoi ibu dan menempatkan ibu di surgaNya. Semoga kelak kita juga bisa berkumpul di surgaNya Allah bersama Nabi Muhammad saw.

Ibu, ketika mengenangmu, hanya kebaikan ibu yang teringat. Bahkan ketika sepuluh tahun berlalu, terasa bukan seperti sepuluh tahun. Aku jadi bergumam sendiri, ternyata sudah lama ya aku hidup tanpa ibu. Sudah lama juga aku tidak berkunjung ke makam ibu. Aku tidak ingin beranda-andai, aku hanya ingin hidup dengan baik agar bisa selalu mendoakan ibu. 


19 Mei 2016 - 19 Mei 2026

7.5.26

tahun-tahun yang hilang

selamat untuk diriku sendiri karena bisa masuk lagi ke akun blog yang sudah bertahun-tahun, sejak mungkin anak pertamaku lahir aku tidak menulis lagi di blog ini. aku merasa senang dan bersyukur, seperti dipertemukan kembali dengan rumah yang dulu sering kusinggahi, kudekor sedemikian rupa, kuatur tata perabotannya. rumah lama yang menjadi tempat pelarianku.

aku memberi judul tahun-tahun yang hilang, karena aku tidak mencatat perjalananku di sini. aku lupa akun dan passwordnya dan tidak sempat untuk sekadar mengutak-atiknya. tapi percayalah, bahwa tahun-tahun itu tidak pernah hilang. waktu yang hilang di dalam diriku hanya berubah bentuknya menjadi anak laki-laki berusia 7 tahun yang tumbuh besar dan seorang anak perempuan berusia 1 tahun yang menggemaskan.

aku masih belum tahu hendak bagaimana aku mengisi kembali rumah lamaku ini. kalau dulu, aku sering merasakan keresahan sebab hidupku yang kosong dan kaku. sehingga dulu aku dapat menuliskan begitu banyak hal dari isi kepalaku secara tiba-tiba atau terencana. aku bisa menulis puluhan puisi dan beberapa cerita. tetapi sekarang aku bingung hendak menuliskan apa.

karena saat ini aku merasa hidupku sudah cukup, bahkan penuh. aku tidak merasakan kekurangan apapun, alhamdulillah. pernah mengalami kehilangan, betul. tapi kehilangan-kehilangan itu selalu Tuhan isi lagi dengan hal-hal yang baru dan lebih baik. aku mungkin bisa menyebut hidupku saat ini dengan sebutan; berkelimpahan. berkelimpahan bukan dalam segi uang atau materi. tapi, mungkin lebih tepatnya berkah, keberkahan. 

aku masih merasakan keresahan, tapi tidak begitu sering, itupun sedikit. hanya ketika aku kadang-kadang melihat kehidupan orang lain yang alurnya sekilas terasa cepat dalam pandanganku. keresahan karena aku lupa bersyukur, ya, disebabkan kelalaian diri sendiri. 

sampai ada moment ketika aku memiliki sedikit waktu luang dan aku menonton series drama yang berjudul we are all trying here. belakangan aku mengisi waktu luangku dengan menonton film. aku kurang membaca buku belakangan ini, kuakui karena alasannya adalah harganya. satu-satunya hal yang tidak aku sukai dari buku adalah harganya. 

mungkin aku bisa membeli buku, tapi tidak sering, itupun aku lebih pilih membeli buku untuk anak-anakku. dan semakin usiaku bertambah, ya, aku sudah cukup dewasa sekarang, dan aku merasa semakin banyak pertimbangan untuk memilih bacaan-bacaanku. kalaupun mau membaca, aku pilih dari perpustakaan digital, tetapi itupun sering bermasalah karena aplikasinya sering error. 

kembali lagi pada drama yang aku tonton, ada scene di mana female leadnya, byeon eun a, ditanya oleh kakak dwong man, saat makan siang bersama. ia bertanya begini "apa tujuan hidumu? bukan dalam soal kesuksesan. maksudnya apa yang kau inginkan dalam hidup ini?" 

byeon eun a agak kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba dan mendalam. setelah diam beberapa saat, dia pun menjawab, "aku ingin menjadi ibu yang tangguh. bukan soal uang atau koneksi. ibu yang tegar dan menjadi penengah, sehingga di sekitarnya merasa tenang. ya, aku ingin menjadi ibu yang tangguh." 

--

dialog eun a dan kakaknya sedikit banyak membuat aku sadar dan mengingat lagi, bahwa dulu keinginanku juga adalah menjadi seorang ibu yang baik, menjadi seorang ibu yang menenangkan seisi rumah. aku merasa ini bukanlah kebetulan, dialog pada scene ini muncul ketika pikiranku sedang ramai mempertanyakan, "aku ini lagi ngapain sih di rumah aja? kok kerjaanku seperti tidak ada habisnya?".

ketika aku meragukan masa depanku, aku lupa bahkan tidak sadar bahwa ternyata aku sudah berada di masa depan yang aku inginkan. tidak ideal, tetapi seperti yang sudah kutulis di awal, aku sudah merasa penuh dan dilimpahi oleh ribuan keberkahan. bukankah saat ini adalah masa depan yang dulu kuinginkan?

rasanya aku perlu lebih sering belajar dengan kata cukup. terima kasih kepada writernim park hae young, yang sudah menulis dialog seindah itu. bahkan di situ, eun a mengatakan bahwa kalau tidak ditanya oleh kakak dwong man, mungkin dia tidak akan tahu tujuan hidupnya. 

--

karena tidak ada yang bertanya padaku, aku rasanya perlu lebih sering bertanya dan berbicara kepada diriku sendiri. dan salah satu caranya adalah dengan menulis kembali. dengan menulis, aku seperti berbicara dengan diriku, bukan diriku yang di luar, tetapi diriku yang ada di dalam, yang tidak ada seorang pun bisa melihatnya, bahkan aku sendiri. 

aku menulis ini di hari jumat pukul 06.00 pagi, pagi yang cukup sunyi karena anak-anakku masih lelap tidur dan suamiku sedang bekerja di tempat yang jauh. cukup jauh sehingga belum tentu sebulan sekali suamiku bisa pulang ke rumah. untungnya, aku orang yang lumayan sabar dan kuat menanggung rindu. mungkin seperti yang dikatakan eun a, ibu yang tangguh. 

cuaca di sini dingin terlebih saat pagi hari. aku melarikan diri sebentar ke sini sebelum rumah kembali ramai dan penuh kembali. 


salam~~