tahun-tahun yang hilang

selamat untuk diriku sendiri karena bisa masuk lagi ke akun blog yang sudah bertahun-tahun, sejak mungkin anak pertamaku lahir aku tidak menulis lagi di blog ini. aku merasa senang dan bersyukur, seperti dipertemukan kembali dengan rumah yang dulu sering kusinggahi, kudekor sedemikian rupa, kuatur tata perabotannya. rumah lama yang menjadi tempat pelarianku.

aku memberi judul tahun-tahun yang hilang, karena aku tidak mencatat perjalananku di sini. aku lupa akun dan passwordnya dan tidak sempat untuk sekadar mengutak-atiknya. tapi percayalah, bahwa tahun-tahun itu tidak pernah hilang. waktu yang hilang di dalam diriku hanya berubah bentuknya menjadi anak laki-laki berusia 7 tahun yang tumbuh besar dan seorang anak perempuan berusia 1 tahun yang menggemaskan.

aku masih belum tahu hendak bagaimana aku mengisi kembali rumah lamaku ini. kalau dulu, aku sering merasakan keresahan sebab hidupku yang kosong dan kaku. sehingga dulu aku dapat menuliskan begitu banyak hal dari isi kepalaku secara tiba-tiba atau terencana. aku bisa menulis puluhan puisi dan beberapa cerita. tetapi sekarang aku bingung hendak menuliskan apa.

karena saat ini aku merasa hidupku sudah cukup, bahkan penuh. aku tidak merasakan kekurangan apapun, alhamdulillah. pernah mengalami kehilangan, betul. tapi kehilangan-kehilangan itu selalu Tuhan isi lagi dengan hal-hal yang baru dan lebih baik. aku mungkin bisa menyebut hidupku saat ini dengan sebutan; berkelimpahan. berkelimpahan bukan dalam segi uang atau materi. tapi, mungkin lebih tepatnya berkah, keberkahan. 

aku masih merasakan keresahan, tapi tidak begitu sering, itupun sedikit. hanya ketika aku kadang-kadang melihat kehidupan orang lain yang alurnya sekilas terasa cepat dalam pandanganku. keresahan karena aku lupa bersyukur, ya, disebabkan kelalaian diri sendiri. 

sampai ada moment ketika aku memiliki sedikit waktu luang dan aku menonton series drama yang berjudul we are all trying here. belakangan aku mengisi waktu luangku dengan menonton film. aku kurang membaca buku belakangan ini, kuakui karena alasannya adalah harganya. satu-satunya hal yang tidak aku sukai dari buku adalah harganya. 

mungkin aku bisa membeli buku, tapi tidak sering, itupun aku lebih pilih membeli buku untuk anak-anakku. dan semakin usiaku bertambah, ya, aku sudah cukup dewasa sekarang, dan aku merasa semakin banyak pertimbangan untuk memilih bacaan-bacaanku. kalaupun mau membaca, aku pilih dari perpustakaan digital, tetapi itupun sering bermasalah karena aplikasinya sering error. 

kembali lagi pada drama yang aku tonton, ada scene di mana female leadnya, byeon eun a, ditanya oleh kakak dwong man, saat makan siang bersama. ia bertanya begini "apa tujuan hidumu? bukan dalam soal kesuksesan. maksudnya apa yang kau inginkan dalam hidup ini?" 

byeon eun a agak kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba dan mendalam. setelah diam beberapa saat, dia pun menjawab, "aku ingin menjadi ibu yang tangguh. bukan soal uang atau koneksi. ibu yang tegar dan menjadi penengah, sehingga di sekitarnya merasa tenang. ya, aku ingin menjadi ibu yang tangguh." 

--

dialog eun a dan kakaknya sedikit banyak membuat aku sadar dan mengingat lagi, bahwa dulu keinginanku juga adalah menjadi seorang ibu yang baik, menjadi seorang ibu yang menenangkan seisi rumah. aku merasa ini bukanlah kebetulan, dialog pada scene ini muncul ketika pikiranku sedang ramai mempertanyakan, "aku ini lagi ngapain sih di rumah aja? kok kerjaanku seperti tidak ada habisnya?".

ketika aku meragukan masa depanku, aku lupa bahkan tidak sadar bahwa ternyata aku sudah berada di masa depan yang aku inginkan. tidak ideal, tetapi seperti yang sudah kutulis di awal, aku sudah merasa penuh dan dilimpahi oleh ribuan keberkahan. bukankah saat ini adalah masa depan yang dulu kuinginkan?

rasanya aku perlu lebih sering belajar dengan kata cukup. terima kasih kepada writernim park hae young, yang sudah menulis dialog seindah itu. bahkan di situ, eun a mengatakan bahwa kalau tidak ditanya oleh kakak dwong man, mungkin dia tidak akan tahu tujuan hidupnya. 

--

karena tidak ada yang bertanya padaku, aku rasanya perlu lebih sering bertanya dan berbicara kepada diriku sendiri. dan salah satu caranya adalah dengan menulis kembali. dengan menulis, aku seperti berbicara dengan diriku, bukan diriku yang di luar, tetapi diriku yang ada di dalam, yang tidak ada seorang pun bisa melihatnya, bahkan aku sendiri. 

aku menulis ini di hari jumat pukul 06.00 pagi, pagi yang cukup sunyi karena anak-anakku masih lelap tidur dan suamiku sedang bekerja di tempat yang jauh. cukup jauh sehingga belum tentu sebulan sekali suamiku bisa pulang ke rumah. untungnya, aku orang yang lumayan sabar dan kuat menanggung rindu. mungkin seperti yang dikatakan eun a, ibu yang tangguh. 

cuaca di sini dingin terlebih saat pagi hari. aku melarikan diri sebentar ke sini sebelum rumah kembali ramai dan penuh kembali. 


salam~~