27.8.12

Semacam Perayaan


Di penghujung tanggal yang kami
yakini adalah sebuah perayaan
Kami berusaha bahagia
Dan saling melupakan keburukan masingmasing

Ada yang menangis diantara kami
Barangkali sedang teringat kesalahan
Yang terlampau sulit dimaafkan

Kesalahan kecil, kesalahan besar
Mungkin hanya butuh ukuran keikhlasan yang berbeda

Di tubuh baru ini, barangkali masih ada sisa
Kekesalan atau sisa-sisa kepedihan yang belum mampu
dilenyapkan
Maka atas nama kemenangan
Biarlah masa silam mengering, tak perlu dihitung
Berapa dosa, beraba sebab dan akibat,
Kerugian dan remeh temeh salah ucap

Kami yang pernah saling menyakiti
Kelak akan tetap mengasihi

Tuhan selalu ada dimanapun kebaikan dirayakan


2012

Kalian Adalah Doa Masa Silam yang Tak Habis Diaminkan

Kita punya waktu bicara yang terbatas sebelum anganangan
Membawa kita lagi pada malam yang panjang
Atau kita bahkan punya kerinduan yang belum
Sempat diselesaikan, bahkan saat jarum jam
Telah menginjak angkaangka ganjil

Aku berharap tak disadarkan oleh kenyataan
Bahwa kesibukan adalah musuh paling nyata
Untuk kita tebas dengan punggung kita yang curam
Kalian adalah doa masa silam yang 
tak akan pernah habis kuaminkan

Ingin kudekap satusatu tubuh yang lampau itu
Yang pernah dan masih selalu baik padaku
Yang pernah dan masih tetap tertawa padaku
Lalu katakata barangkali adalah sebuah keengganan
Untuk kucairkan pada panorama di sebuah tempat yang 
Masih setia menyimpan nama kita

Aku barangkali hanya akan jadi daundaun 
Yang senantiasa gugur, tapi kalian adalah kesepakatan yang
Membuatku ingin terus hidup tanpa pernah luntur

Kita selalu mencari kesempatan bertemu yang tepat
Agar keberangkatan dan kepergian akan sepakat
Mensiasati keinginan yang barangkali kelewat egois, atau 
Harapan yang kelewat pesimis

Aku tak ingin selesai, aku tak ingin sebuah kenangan 
Punah oleh waktu yang tanggal di tahun-tahun perpisahan kita

Di luar dingin, aku ingin kita tak pernah sendirian






2012

9.8.12

sebuah tulisan yang menyimpan kau

kita pernah berkenalan di suatu musim yang sebelumnya tak pernah kita duga. kau datang dari kota yang teramat jauh jaraknya.

di ruang pameran, dengan cahaya lampu temaram; kau tanya siapa namaku,
aku menjawab dan tak balik bertanya,tapi kau menyebutkan namamu dengan nada bicara yang asing. aku merasa darisinilah cerita akan bermula.

malam itu dingin, aku merasa ingin selesai, namun kesibukan-kesibukan
adalah jadwal yang tak bisa sama sekali kulewatkan sampai akhirnya kau mulai menceritakan sejarah. aku bahkan tak tahu mengenai sejarah.
ingatanmu masih baik tentang berbagai muasal yang tumbuh di kotamu. sejarah, selalu ada yag tercatat dan mau tak mau dilupakan.
tapi begitulah pengalaman barangkali adalah hal-hal yang membuatmu bertahan.
diamdiam aku sedikit memujimu, kupikir itu perlu agar aku tak banyak membenci perkataanmu yang terkadang kupikir sok tahu.

lalu kerinduanmu terhadap sosok itu, aku mengerti, sungguh bilamana kulihat ia yang diam berdamai di ruang pameran. lagu pengantar, malam yang panjang, cahaya-cahaya lampu yang samar menerangi wajahku dan wajahmu. ah, kita seperti sedang berada pada masa depan, tanpa sebelumnya melewati masa lalu.
sungguh, aku tak ingin terlihat gugup tapi kudapati tanganku gemetar ketika memotong
berbagai peralatan. kau menangkap kecemasanku, lalu kau memberi tahu cara ini dan itu. aku mengangguk. maaf, mungkin akulah yang sok tahu.

kupikir malam benarbenar akan panjang dan pagi akan melarikan diri. aku terbiasa sendirian, dan tak perlu dibantu. kau bisa pergi dan tak usah kembali.
tapi entah atas apa, pamit yang kau ucapkan sedikit menyesakkan. mungkin kau bisa tinggal beberapa hari lagi disini, kau boleh menceritakan sejarah, sejarah apapun, tapi apa yang bisa diperbuat kenangan jika takdir sudah diciptakan.

di hari berikutnya kau berkata; suatu saat nanti kita pasti juga akan bertemu lagi. mungkin di kotamu, di kotaku, atau barangkali di kota lain.
aku belajar untuk punya ingatan yang baik setelah kepulanganmu. sebab seperti yang kita ketahui; yang melupakan akan juga dilupakan, bahkan lebih lama.


2012

1.8.12

Melankoli Pagi Hari

pagi ini adalah keheningan yang merangkak
dari bibir cangkir ke bibirku, melumerkan kelu
dalam sebuah waktu yang jarumnya berkejaran
dan angka-angka berhamburan.
sementara aku belum  juga beranjak.


tibatiba aku ingin bertanya entah pada siapa.
kerinduan macam apa yang kau inginkan?
yang biasabiasa atau yang dibiasakan
yang diamdiam atau yang didiamkan.


di langit aku melihat jelaga yang tak disengaja
buruburu kurampungkan doa sisa semalam
yang belum habis kurapalkan.
sepertinya nasib akan patuh pada waktu
:buku yang tergeletak dengan halaman terbuka,
udara yang hangat, dan siul burung parkit 
di luar beranda.
aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.


tiba-tiba aku hendak bertanya lagi, entah pada siapa
pertemuan macam apa yang kau inginkan?
yang biasa saja atau yang tidak biasa
yang diamdiam atau yang dibicarakan.


aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.


2012

28.7.12

Seandainya Kita di Babylonia


bagaimana waktu bisa berjalan mundur
sedangkan seperti perang yang hendak kau
dengungkan di telinga Nimrud dan Nineveh
sesuatu telah terbakar pada masanya

burung-burung lalai meninggalkan sarangnya
kota telah punah, dan waktu akan lebih maju
dari perjanjian yang diciptakan manusia
bangunan-bangunan dihancurkan dan 
segala kenangan akan menunggu ditinggalkan

(lalu apa yang kau pelajari dari sejarah
selain kesedihan yang tak pernah punah)

namun sejarah digantikan oleh sejarah
sesuatu akan lahir
dan yang mati terbiarkan dengan suci
di masa itu, beribu-ribu tanaman tergantung di langit
dengan puisi yang dibacakan berkalikali

kita tak pernah tahu bagaimana bau krisan
dan kaktus menyembunyikan airmatanya
tapi sebuah catatan akan tabah menceritakan
gegap menakjubkan di salah satu dari tujuh keajaiban

2012

4.7.12

Pejalan Sepi

: Oleh Ajip Rosidi


ia tembus kesenyapan dini hari
sepatunya berat menunjam bumi
menempuh kota yang lelap terlena
dalam pelukan cahaya purnama


ia tembus kedinginan pagi
siulnya nyaring membelah sunyi
membangunkan insan agar bangkit
dalam pertarungan hidup yang sengit

di sebuah jembatan ia berhenti
dihirupnya udara sejuk dalam sekali:
bulan yang mengambang atas air kali
adalah gambaran hatinya sendiri

/1954/

Buat Marsiti



Senja telah berangkat petang
Di persimpangan, seorang perempuan tengah gamang,
—dimana Tuhanku? Aku ingin mencium tangannya

Panggilan datang, panggilan pun datang!
Langkahnya tergesa
Menuju kerumun manusia
Ia bertanya lagi seakan
Tak pernah ada pilihan untuknya
Orang-orang hanya mengernyitkan dahi
Kemudian beranjak pergi

Di lorong batas suci, ia lepaskan alas kaki
Ia ciumi kakinya sendiri,
—Sebab anak-anaknya yang kian merantau
Tak pernah terdengar kabar—
(Mungkin lupa bahwa alamat surga
ada di bawah telapak kakinya)

Wajahnya sumringah seperti biru
Di penghujung lazuardi
Tibatiba perempuan itu tertawa dengan keras,
Lalu menangis,
Lantas tersenyum.
Di pelataran masjid,
Diamdiam ia berdoa, doa yang rendah dan tabah
(Tuhan, jangan lupakan aku..)

2012

29.6.12

ibuku sedang marah


langit kelam, meja makan suram
tak ada nasi atau roti isi
buat pengganjal sepi hari ini

barangkali ibu marah padaku
sebab kesalahan yang tak sengaja
atau disengajakan
sebab terlalu larut pulang
atau kamar berantakan

rumah bisu, tak ada perbincangan
sebab diam ibu yang terlampau
menjadi misteri
aku tahu ibu marah
tapi aku tahu ibu marah

buruburu kuamankan keadaan
dan suasana,
mendinginkan yang berapi
dalam diam, dalam sekam,
berjanji dosadosa yang terlampau
kelewatan takkan terulang

jangan marah
janganlah marah..

aku sangat sayang,
meski tak pernah kukatakan

2012

22.6.12

Balada Sesiapa

dari jendela bus kota, sepasang mata lelawa biru
tajam mengiris mataku yang lekat pada kaca dua sisi
aku bertanya "kau darimana datangnya?"
ia tak menjawab
semesta seakan tahu, malam ini
kota akan lumrah, kali-kali akan lebih basah
dari semula

gadis kecil di trotoar dengan punggungnya

yang kotor, dan setengah kakinya ia tumpahkan pada
kaleng-kaleng permen asam manis

perempuan paruh baya membawa bungkus-bungkus kerupuk bangka
dengan dada yang tumpah di mulut bayinya
sedang surga di telapak kakinya perlahan mengikis

perlahan terhempas aspal panas

aku mencerna kesedihan satu per satu

dua per dua, tiga per tiga, 

lalu seterusnya tak dapat dihitung 
seberapa kesedihan, pedih dan luka
tertanam di tanah, lalu naik ke langit
yang niscaya disebut hujan
padahal airmata

dua lelaki petantang petenteng berteriak;
"lebih baik tolong menolong, daripada todong menodong."
persetan! semua orang tahu
muak aku. orang begitu tahu apa soal ikhlas?
pergi kau ke biak, cari ajal dan kubur tubuhmu sendiri
bilamana Tuhan pun mungkin enggan melirikmu

sepasang mata lelawa semakin tajam menatap
ia pun berkata akhirnya
"aku datang dari masa depan."


masa depan, masa depan..

aku takut menatap ke depan
takut airmata nanti bakal mahal harganya


2012

13.6.12

aku sekarang tak bisa tidur


aku sekarang tak bisa tidur,
sekarang pukul 02.10 dini hari
buku sedang tidur, bantal sedikit mengantuk
kudengar The Beatles dengan In My Life
campur bunyi saron lagu Sri Katon
hidup bicara sungguh pelik
tapi tertawa selalu
biar tak dianggap pelit

dentum bonang terbayang menyayat tenggorokan
hei radang tenggorokan
setiap kutelan rasanya sakit
aku pulang kelewat malam, bis pindah jalur,
sepulangnya hampir tertabrak
sepeda motor lawan arus
kenek mengumpat, pengendara motor lari
tanganku keseleo sedikit tapi tak apa
aku membicarakan diri sendiri bodoh
tak hati-hati. 
tapi.. Some have gone and some remain
All these places had their moments
kata beatles, aku selalu percaya kata beatles

akan ada yang pergi dan membekas
yang membekas silakan saja pergi juga tak apa

tadi ada empat pengamen singgah di kopaja, 
mungkin ada empat jenis pengamen:
yang muda dan pasrah, yang tua dan memaksa
muda dan pemaksa, tua dan pasrah
soal suara tak jadi soal
asal bisa beberapa nada
jadilah lagu
walau kadung lirik tak hapal
soal baju dan sandal lupakan
tak ada yang protes

seorang ibu di sebelah membelah apel dan mengupas 
dengan cerdas
si pengamen menelan ludah terpaksa
aku mendengar hari ini akan panjang
benar saja sekarang pukul 2:28
buku sudah tidur, bantal pun tak kalah,
nanti aku menyusul saja.


2012 

tentang apa saja

mengapa kau begitu kuyuh terlihat
namun asap dari bibirmu terus melaju
serta berbunyi kereta api pukul senja
nanti kalau kupergoki matamu
jadi abu
nanti kalau jari tengahmu berhenti
menjentikkan abu rokok
akan kubilang hati-hati juga
takdir itu lebih pahit dari
yang kau duga

lantai yang dingin dan cerita perwayangan
adalah gema. lalu ceritakanlah
tentang pandawa atau werkudara
sebab silsilah siapa tau
sedikit menyesal tak gegabah menangkap
maksud kayangan yang menurunkan
arwah dan dewa dewi abadi

sebab abadi itu apa?
matamu itu kendi tempat rahasia 
malam ini indah
ah kita bercerita saja
tentang apa--tentang apa saja


2012

6.6.12

Sejejak Sajak


Yang Kutemukan Pada Sebuah Pertemuan dan
Yang Tak Bisa Kuucapkan Pada Sebuah Percakapan

Aku menemukanmu pada malam yang geram;
Piuh angin, cuaca bulan Juni, dan gerimis yang berbaris
Di atas matamu adalah lindap jatuhnya bulan pada wajah
yang mungkin asing—mungkin  juga tak asing.
Pertemuan yang itu bisa jadi
adalah bumerang bagi jantungku yang barangkali
tak pernah kau tahu sudah lebam dan biru.

Tapi aku merasa lunas pada perjalanan yang lama mendamba
Sebuah tiran hujan di seluruh sungai tubuhku.
Disebabkan beberapa hal; aku tak pernah ingin lupa
Dan tak pernah sepakat untuk mengingat suatu pekat nasib
Yang diguratkan pada garisgaris di tanganku.

Apakah yang ada di pikiranmu tentang langit yang
Menahan kantuk pada redupnya binar?—seperti sepasang pilar
Di sepanjang trotoar—hingga nanti kuberikan
Padamu sebotol percakapan,
Untuk aku yang begini dan engkau yang begitu
Agar suatu hari kita begitu lancar memotongmotong
Bayangan kita sendiri yang kerap enggan dipersatukan.

Bukankah perkataan paling indah adalah yang tak pernah
Terucapkan? Maka atas nama kesunyian, kukatakan
padamu perihal yang begitu pendiam dan dendam. Lalu
kenangan yang jauh dan kecewa yang jenuh akan seketika lumpuh
bersimpuh pada segenggam tatapan yang utuh.


2012

2.6.12

Sebab Pada Takdir Aku Khawatir


Bau tanah sehabis hujan
dan udara yang berhembus kencang.
Aku menikmati hawa yang lembab
memasuki paruparuku yang sepi.
Barangkali kekurangan oksigen
atau bisa jadi karena jalan ini
terlalu sempit untuk kulewati.

Aku teringat lagi sesobek adegan
sabuncolek pada pertunjukkan
teater tadi malam
: sebuah omong kosong dicuci,
got-got mampet meruapkan nyinyir
berbau anyir.
Seperti bangkai janji
yang membusuk karena tak juga terbukti.
Seperti itu memang, hidup adalah kecemasan.

(“Tuhan, siapa yang menciptakan pahala dan dosa?
Apakah kita?”)

—Sebab pada takdir aku khawatir—
Langit kelewat mendung, sepatu kumal,
jeans belel terkena tumpahan cat,
tubuh yang ringkih, dan malam begitu dingin.
Aku merasa hidup terus begini.
Selalu begini.
Ingin sejenak
Kurapalkan sajak
kepada cuaca
yang murung, yang mendung
karena mungkin sedang berkabung.

Lalu pada cinta, aku tak lagi percaya.
Selain diri sendiri,
tak ada lagi yang paling setia.


2012