22.7.13

Juni yang Berhujan


Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni,

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu..

-Sapardi Djoko Damono-



(1)

Hujan yang tabah selalu tahu dan tak pernah bertanya

“Berapakah jarak yang kita punya?” hingga tak berani juga

Mengakui bahwa rindu adalah rahasia yang disimpannya

Kepada pohon dengan sejuta bunga

Yang dilahirkan dari pucuk-pucuk dahan

Tak tahu dimana akan singgah dan

Akan menyentuh apa.



(2)

Juni mengajarkannya untuk setia pada musim 

Sekalipun mendung bergelayut pada awanawan kotor,

Patuh untuk jatuh serta pasrah untuk patah

Jika suatu hari ia tak sanggup untuk beranjak

menjadi hujan yang tetap bijak.



(3)

Hujan membikin doa dari udara yang menguap

Serta air yang telah akar serap

Kalau musim berganti, tebuslah rintik rindu
yang tak lelah kusimpan 

Dan tak mampu kuabaikan dengan

perisai yang lebih tajam melebihi runcing hujan,

Yang mampu membelah buih juga merapatkan

Lapisanlapisan tanah yang menyuburkan pohon itu

Hingga ia tetap berbunga.



2013

13.7.13

Aku datang bukan untuk sebagai pesaing


Aku datang bukan untuk sebagai pesaing,
Melainkan untuk mengalah dalam perang panjang
Tak ada kepak burung ababil atau
Batubatu yang mungkin terjungkil
Melewati nama serta yang menempel pada parasmu

Namun siapakah pesaing sebenarnya?
Seseorang dari sebrang menjegal langkahku
Ia berkata, tak ada pertanda bahwa masa depan
Akan menerima namaku sebagai pemenang

Ikanikan melakukan percakapan
Gelembung dari mulutnya pecah lalu terngiang suarasuara
: kau hanyalah usia yang sebentar lagi karam
Namun mereka tak benarbenar paham
bahwa amunisi adalah perasaan
yang berjalan ke depan,
Menyelamatkan yang hanyut itu

Segalanya sedikit mematahkan pikiran serta batinku
Tapi aku tetap berlari mengikuti arus, hendak mengeluarkanmu
Melewati deras yang tak urung reda

Kau tahu, pada muara ada seorang yang lain menjemputmu
Tapi tak berniat menanggalkan jubahnya dan
Menggendongmu keluar dari penderitaan

Dan di hanyut yang kesekian, aku berteriak padamu
yang tengah terengah, mencari sebilah napas dalam riak sungai
Pernahkah?
Pernahkah sekali saja kau sebut namaku?

Kau berdiam dalam satuan waktu yang membiaskan
Cahaya ke tepitepi sungai
Aku memperbaiki ucapanku,
: tak perlu kau sebut namaku
  sebab kesedihan mampu mencatat rencananya sendiri
  dan kehilangankehilangan akan merayakannya tanpa diminta 

Aku menanggalkan yang tersisa dari jatah hidupku
dengan gelombang yang menyandarkanmu ke tepian
Kau melenguh dan menelanjangiku dengan matamu yang lebam
Sebagian tubuhku digoyangkan angin dan
sebagian yang lain dirobekkan reranting

Di luar mataku yang terpejam,
Kudengar isakmu berulangkali menyebutkan penyesalan

2013

7.7.13

Perihal Pro dan Kontra Kontes Miss World


“Perempuan”
Oleh: Asmi Norma Wijaya



Sebelum memandang perihal pro dan kontra untuk suatu kasus, dengan kata lain kita berbicara mengenai kesepakatan dan ketidaksepakatan. Namun rasanya tidak bijak jika kita membicarakan itu tanpa sebelumnya memandang segala sesuatu berdasarkan substansi, bukan hanya berdasarkan atas aspek permukaannya saja. Satu hal yang barangkali sering kita lupakan adalah bagaimana kesepakatan dan kebenaran yang kadang bertukar tempat. Kesepakatan dianggap sebagai kebenaran mutlak, sementara kebenaran itu sendiri dilupakan wujudnya.

Jika membicarakan perempuan, yang paling bisa kita kenang di Indonesia adalah RA. Kartini. Seorang pejuang perempuan dari Jepara yang membawa visi dan misi untuk kemajuan perempuan dan kesaamaan kedudukan dalam keluarga juga pendidikan. Kartini tidak diizinkan untuk melanjutkan sekolahnya setelah lulus dari sekolah rendah. Keadaan ini tentulah berbeda dengan keadaan perempuan di zaman sekarang, perempuan sudah bisa melanjutkan pendidikan sampai tinggi dan meraih impian apapun, tidak ada yang perlu kita tuntut lagi. Lebihlah dari pada sebuah kata cukup dan yang mungkin kita perlu lakukan sekarang adalah menghargai perjuangan beliau dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam pengabdian kepada masyarakat secara langsung. 

Berangkat dari pemahaman kita terhadap kodrat perempuan, saya teringat akan perempuan pada zaman nabi, yang cerdas juga berani, Nailah binti Al-Farafishah, istri dari khalifah Ustman bin Affan. Nailah bukanlah seorang pendekar, bukan pula seorang petarung. Namun dengan gagah ia rebut pedang dari tangan musuhnya, tak juga ia khawatir dan cemas akan jemari cantiknya yang terputus karena sabetan pedang dari musuhnya. Ia tangisi dan usap jenazah suaminya dalam pangkuannya. Tak ada yang paling bisa ia lakukan lagi, selain berdoa dan Allah senantiasa mengabulkan doanya.

Perempuan adalah sesuatu yang rumit, kadangkala ia terasa lembut kadangkala ia adalah serigala yang siap menerkam jika terluka. Perempuan adalah dua mata pisau yang mempunyai sisi berbeda namun saling berdampingan. Begitu pula, ketika kita hendak bertanya apakah keistimewaan yang diberikan Allah kepada perempuan?

Sungguh bilamana kita mau sejenak merendahkan hati, memahami lebih dalam sebuah tujuan yang hendak disampaikan Allah untuk melindungi dan menaikkan derajat seorang perempuan itu sendiri. hal ini tentu sudah difirmankan Allah di Al-Qur’an:

            “Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (Al Ahzab:59)

Selain itu, perintah Allah mengenai kewajiban bertudung termaktub juga dalam ayat dan surat yang lain:

“Hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dada mereka” (An Nur:31)

            Dalam sebuah pernyataan yang mungkin sangat jelas, tidaklah bagi kita berhak untuk menawar pernyataan-Nya. Perempuan yang menutup auratnya dengan tudung sampai dada praktis seorang perempuan yang cerdas. Cerdas dalam ketaatannya, cerdas dalam emosionalnya juga tentu dalam sikapnya. Saya tidak hendak menggurui sesama perempuan lain. Namun, seorang perempuan yang cerdas akan “ngeh” terhadap anugrah tersebut. Dan ke “ngeh”an tersebut tidak cukup hanya disadari saja, melainkan ditindaklanjuti dengan menjaganya, melindungi dirinya sendiri sebab seorang perempuan harus tahu betul bagaimana merawat “permata” yang dimilikinya dengan ketaatan kepada pencipta.

            Hal ini tentu saja menjadi sebuah polemik, apalagi jika terkait persoalan pro dan kontra Miss World yang rencananya akan dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat mendatang. Pada wacananya, Miss World adalah sebuah ajang kontes kecantikan dengan tidak mengabaikan aspek kecerdasan intelektual dan aspek pandangan maupun pola pikir dari seorang perempuan untuk sebuah kemajuan dunia. Untuk mempersiapkan kontes ini, tentunya para kontestan dibekali oleh pengetahuan-pengetahuan dan sebuah produk attitude yang wajib dimiliki oleh seorang pemenang dari kontes Miss World tersebut.

            Kontes ini diikuti oleh perwakilan-perwakilan dari berbagai negara, misalnya Inggris, Belanda, Nigeria, India, dll. Namun coba tilik lebih dalam lagi, bagaimana pengetahuan mengenai pokok yang paling penting yang perlu dimiliki oleh seorang manusia, terutama perempuan. Pokok atau dasar yang perlu dimiliki oleh seorang manusia terutama perempuan adalah pengetahuan mengenai Pencipta dan nilai-nilai luhurnya sebagai manusia. Kita ambil contoh, dalam salah satu prosesi kegiatan Miss World, diadakannya kontes baju pantai.

 Seorang pejabat yang berasal dari Jawa Barat memberi tanggapan akan pro dan kontra Miss World yang akan diadakan di Indonesia, ia pernah mengatakan kepada media, bahwa “Tenang saja, dalam kontes baju pantai ini tidak akan mengundang nafsu kok, baju pantai ini akan menutup aurat.” Mungkin pernyataan pejabat tersebut akan terdengar lucu bagi seorang yang paham mengenai batas aurat seorang perempuan.

 Kontes baju pantai tidak ada korelasinya dengan prestasi seseorang dalam tingkat kecerdasannya. Meskipun sesi itu dilakukan di ruang tertutup dan tidak ditayangkan di televisi lokal. Tapi hal ini menjadi semacam bumerang untuk perempuan itu sendiri apalagi dalam rangka mengatasnamakan negaranya. Jika kita mau meluaskan pandangan, dan percaya, sesungguhnya konspirasi zionis itu sangat amat terasa dekat dengan kita. Ancaman-ancaman Israel menyergap dan lindap di berbagai aspek kehidupan, baik dalam teknologi, tayangan televisi, produk pangan, dan masih banyak lagi, salah satunya ajang kontes Miss World ini. Visi mereka adalah menjauhkan umat Islam dari Al-Quran, dari ajaran-ajaran Tuhan. Mereka akan lebih “menyerang” kepada kaum perempuan, disebabkan beberapa hal: pertama, perempuan adalah tonggak kehidupan, kelak seorang perempuan akan jadi ibu, sekolah pertama bagi generasi berikutnya. Kedua, penduduk Indonesia sebagian besar terdiri atas perempuan. Sederhananya, jika perempuan sudah rusak, maka rusaklah sebuah bangsa. Perlu digarisbawahi, Indonesia adalah ibu dari negara umat Islam, dengan penduduk yang mayoritas muslim. Bagaimanapun seorang perempuan perlu menjaga izzah dirinya, tidak bisa untuk tidak terhindar dari aturan agama.

Anggaplah kontes Miss World sebuah ajang yang positif bagi pemasukan devisa negara, karena secara praktis Indonesia akan lebih dilihat dan dipandang dunia, baik dari segi wisata, budaya, kesenian, dan masih banyak lagi. Namun ada baiknya, jika rentetan hal-hal positif tersebut kita alihkan ke dalam cara yang lebih terhormat di pandangan Tuhan, di hadapan Allah SWT, bukan di pandangan manusia. Perempuan masih bisa melestarikan hal-hal tersebut dengan upaya yang lain, yaitu dengan mempelajari dan melestarikan budaya yang dimiliki oleh bangsa ini, belajar dan melebarkan sayap untuk hal-hal yang lebih baik tentunya semua itu akan berjalan dengan lancar jika mendapat ridho-Nya. Apalah arti kecerdasan dan kecantikan jika Allah tidak suka.

Banyak hal yang bisa perempuan lakukan untuk meningkatkan kualitas diri, kualitas masyarakat, dan yang terpenting kualitas dalam berketuhanan, misalnya dalam lomba-lomba Tilawah Qur’an, lomba kaligrafi, dsb. Barangkali untuk sebagian orang, lomba-lomba tersebut dipandang kuno dan tidak mengglobal. Padahal lomba tersebut bisa diimbangi dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, yaitu seperti kaligrafi dalam bentuk digital. Atau ajaran-ajaran Islam yang aplikasikan ke dalam cara untuk melestarikan budaya yang sudah tersedia di negri tercinta ini, tanpa mengurangi toleransi perempuan terhadap saudari sebangsa.

Barangkali tepat, jika kontes tersebut dinamakan Miss World, yang mengandung kata “World”, dalam bahasa Indonesia berarti “Dunia”, tanpa mengingat bahwa dunia bersifat fana, tidak kekal, dan akan menjadi sia-sia jika ceroboh memaknainya, tanpa mencoba untuk mengingat bahwa dunia hanyalah kesementaraan tempat kita singgah dan bercengkrama sebentar, lalu ada yang mesti kita bawa untuk pulang, untuk kembali ke dalam kehidupan dimana perempuan adalah seorang makhluk Allah yang akan tetap cantik, tetap awet muda jika kita bisa membawa amal-amal yang baik, amal-amal yang diridhoi-Nya.

Kembali kepada perbedaan antara kesepakatan dan kebenaran. Sebagai umat islam, kebenaran tertinggi terletak pada Allah, sementara Al-Qur’an dan Hadist adalah pedomannya di negara manapun perempuan berada. Jika kebenaran tersebut sudah menjadi pedoman mutlak, maka akan terciptalah kesepakatan bersama mengenai penolakan terhadap sesuatu yang bisa merobohkan iman seorang perempuan, hal-hal yang menjauhkan perempuan dari bacaan-bacaan Al-Qur’an, dan kontes-kontes yang hanya terpaku pada materi duniawi saja.

Wallahu a'lam bis shawab..

Catatan: Tulisan ini menjadi pemenang Lomba Karya Tulis di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

4.7.13

Ia Mencari Namanya Sendiri dalam Daftar Orang Hilang



Pagi beringsut,
Tubuh tanpa selimut berbalut kalut
Langit berkabung pada mendung yang murung
Menusuk, rusuk-rusuk
Ia mengigau, meracau
Perihal atmosfir seorang musafir
Yang setia berjalan mencari tuhan
dan mencari namanya sendiri
dalam daftar orangorang hilang
Ia masih saja gemetar dalam dosa yang tak bisa ditawar
Mimpi memang tak berlari dank ehilangan patut diberi ganti
Tapi ia benci kenyataan
Bahwa ia masih saja bernyawa
dalam keadaan nestapa

2013

23.6.13

Dongeng Batu


Matahari melahirkan pagi
Langit berganti kulit
Udara menyusun percakapan dari embun dan mimpi

Api dalam bara,
Juga kompor dalam cinta yang sederhana
Maka kuracikkan padamu
Kabut yang demam menyebutkan penantian
Dari bijibiji kopi juga rebusan
Kelopak bunga kenanga
Yang jatuh pada rumput yang hijaunya
Tak kalah dengan milik tetangga

Tak perlulah kau masuki tidurku,
Cukup kau ukir namaku pada gading dadamu,
Lalu bercakaplah
Pada kenangan yang tak terbaca
Maka ranumlah
Pada musim panen yang tertanam dalam
Kotakkotak surat juga tembang purba
Yang dilagukan paduan suara di bukit Kurukhsetra

Kepada Bisma, kualamatkan seluruh anak-anak panahku
Kuhunuskan tepat di palung jantungmu
Maka tak usah kau gumamkan lagi keluhkesah
Sebab akulah angin yang selalu ingin berkabung

Barangkali kau telah jadi hantu yang bergentayang
Dalam kamar  tidurku
Memasuki jelaga mimpi
Menggoyahkan iman-iman
Yang tercantol di belakang pintu

Telah kumakamkan derita dalam sumur tanpa dasar
Namun mengapa kau masih mengigaukan
Muara yang sama?
Padahal, di tepi sungai Yamuna
Kau cuci selendangmu
Menghanyutkannya pada arus batu
Dan kabutkabut merah hutan itu

Barangkali kau adalah hantu yang bergentanyang di ruang tamu
Bukan disitu mengadu
Tapi disini tempatmu
Membereskan cemas dalam bingkai debu, bingkai batu
Lalu menyimpannya pada beludru di rusukmu.

2013

11.6.13

Di tepi kali Manggarai


Di dalam pagi yang terbuat dari rasa cemas dan naas
Di tepi kali Manggarai,
Seorang lelaki bertubuh legam memar terkapar
Satu nyawa mengambang bersama tumpukan sampah
Dan kenangan hitam sejarah

Di dalam pagi yang terbuat dari rasa cemas
dan ingin tahu
Orang-orang memberi jeda pada rambu
Mereka yang hendak pergi menyimpan
Waktu dalam saku baju
Lalu yang nyaris pulang menabung
kesempatan menghentikan pandang

(kematian tak memilih dirinya sendiri)

Ajal terasa pejal, lalu waktu
Adalah lelehan kabut pagi yang pundung
Dalam tempurung matanya
Adalah hitam air kali yang tak lagi punya muara

Di dalam pagi yang cemas dan langu kematian
Orang-orang membereskan duka,
Mengalamatkannya pada yang tak dikenal
O, hidup ternyata bukan sesuatu yang sepenuhnya aman
dan tak seutuhnya bahagia


2013

25.5.13

Megatruh

Subuh nyaris lelap di pipi lazuardi
Lalu pada rumput halaman itu, ada yang sempat terlewat
atau mungkin takkan lewat

Raup angin mencubit lenganku hingga biru, kau cumbu
Lalu kau mainkan tembang layu 
Lamatlamat kawanan kumbang mengerubung bibirmu

Hendak kau rapalkan rangkai kata dan jalin suara
Perihal rahasia yang lebih meyakinkan dari
Sekadar angan pada kebun,
Dari sekadar sauh layar pada ombak

Kelak karang berjanji pada selatan yang pasang
Bahwa tuhan akan dekat di urat lehermu

Sebuah kaum larat di sebrang selat membisikkan
: megatruh

Tapi apakah kau bisa menduga dari tangis tetangga
Dan tanah yang terkulum nanti di pintal rambutmu

(apakah itu dosa? apakah kesepian juga sebuah dosa?)

Lalu kulihat tubuhmu berpaling ke arah hutan
Arah mata angin selatan
dan ranting yang terbelah itu
mungkin tak lagi bisa menuntunmu pulang

2013

23.5.13

Dongeng yang tak ada


Kita pernah menanam mimpi perihal bangsa yang luhur dalam beton-beton dan kota yang terbelah. Seseorang memberikan dongeng di atas panggung, penonton tak tidur. Pendongeng itu mengajari kita untuk bermimpi tanpa tidur. Salad dalam mangkuk, stroberi yang pecah dalam timbunan es batu dan pelayan yang mengucapkan “silakan dan terimakasih” secara berulang tanpa pernah bosan. Sebab waktu adalah jembatan untuk menyebrang dari sebuah klise ke dalam klise yang lain. Pengabdian adalah klise yang tak akan luntur, klise yang selalu berarti.

Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati. Suara Widya membuat pendengarnya jatuh cinta meski jauh di ulu hati lirik itu terasa sakit. Sebab seorang ibu yang tak mampu lagi melindungi, ibu yang terlunta dalam rintihan.

Bagaimana reformasi akan menebus yang telah hilang? Tapi seorang perempuan berdendang, dari senar-senar pendeknya ia petikkan parodi, lantas tenda-tenda bergetar, tawa pecah pada diri yang tadi seolah-olah tak ada. Dengan atau tanpa metafora ia  senandungkan pagi yang elok, kicau burung, kluruk ayam, petani-petani yang tak punya airmata.

Pantaskah kita kenang miliaran barel batu bara yang sia-sia? Hujan peluru, air bah, barangkali Nuh telah menangis sebab kita bukan orang asing yang menyapa apakah visi kita berbeda?

Hari itu sudah gelap dan pendongeng itu kembali basah dalam hujan di matanya. Kita tahu, telah jadi sebuah gejala dan Musa akan bangun untuk memukul tongkatnya, lantas kita baca apa yang telah sirna dan terbelah itu. Kau mungkin akan berkata disini tak ada lagi Columbus yang menjatuhkan airmata hingga jadi peta Sumatera atau Samudera Hindia, disini adalah ladang yang akan habis buahnya, dan kita akan kembali sia-sia pada yang tak ada.

2013


22.5.13

Ilusi


Lalu siapa yang akan memberiku nasihat
selain ibu yang menunggu di rumah,
Atau bapak yang sedang membangun
Puing-puing kenangan di kamar mandi dan
tembok-tembok rumah
Aku hanya tersesat pada keberangkatanku
yang mungkin sia-sia
Lalu tuhan adalah seperangkat doa dari
subuh-subuhku yang gamang
Masih adakah yang selamat
dari ingatan-ingatanku yang terbang
Rembulan telah penuh sejak kusimpan
dalam saku baju yang robek dihancurkan hujan
Lalu pada bunyi dentang jam tengah malam
ada kepalamu muncul dari gerbong kereta sebrang
ternyata tubuhmu semakin kurus dilawan arus
dan kita sama-sama memandu perjalanan
memapah sejarah, namun tak mengerti akan tujuan
Kini pada hidup yang nyata
aku sama sekali tak bisa menemukanmu
aku hanya menyusun ulang segala yang bisa kukenang
aku hanya bisa mengenang namun tak berani merindukan
Sebagaimana aku hanya sanggup mendoakan
mendoakanmu, mendoakan keselamatanmu
Barangkali hidup memang begini
hanya ilusi yang kita ciptakan sendiri
  
2013
 

19.5.13

Gambuh


Pada langit kamar penuh memar
Ia tatap sepasang laba-laba yang tekun menenun
Rumah sederhana seakan-akan tak takut,
Bahwa yang telah susah payah dirajut
akan kelut, akan kusut..

Apakah sepasang laba-laba itu sedang menenun dengan
benang yang sama murungnya dengan
kemurungan di angkasa?”

Penyair itu kembali menekuk lututnya,
Ia goyang-goyangkan pena,
Ia tulis sesuatu di jidatnya sendiri,
Lalu utopia tentang sesuatu yang tak pernah dikeluhkannya
Akhirnya tayang juga.

Sepuluh hari lagi, Plato, anak kita, berulangtahun
Katanya ia ingin ke pantai, pak.” Ia seperti
Mendengar kerinduan dilagukan dari derit jendela
Dan desau gugur daun di beranda

Dari lubang kunci dengan diameter dua senti
Penyair itu meniupkan kabar untuk anak dan istrinya
Kelak di suatu pagi yang tak murung dan
Persembunyian telah lenyap, bapak akan pulang.”

Malam mendengus, dari kejauhan ia dengar gelombang balasan
Bapak sehat? Bagaimana cara menunggu agar tak menyesal?
Bagaimana cara agar waktu tak merubah kita?”

Ia terdiam lalu kepalanya lesap 
di antara siku dan lutut yang terlipat


2013

4.5.13

Soliloqui


Suatu hari, perempuan itu jatuh cinta pada komputernya
Ia memandangi komputer itu saban pagi
Atau saat malam-malam menjelang tidur

Cicak di dinding berdecak, berbicara tentangku,
Lalu ia tahu pasti apa yang akan ditanyakannya
: “Kenapa kau begitu betah? Kenapa begitu tabah?”

Sebab hanya disinilah aku bisa membayangkannya
Aku membayangkan ia sedang tersenyum membayangkanku

Pepohonan bergerak, daun-daun jatuh di luar jendela
Di bawah bulan tembaga dan malam yang mencair di matanya
Perempuan itu tahu tak ada yang bisa dilakukannya

“Bagaimana kalau ia tidak membayangkanmu?
Bagaimana kalau non sense?”

Ada debar yang sangat keras memecah dadanya
Kemudian diikuti hening yang cukup panjang

Ia menjawab dengan setengah gumam, setengah diam
“Tak apa, tak apa.
Ini cinta yang tahu diri, rela tak berbalas.”

2013