21.10.16

Dari anak perempuanmu

/ Untuk Bapak /

Nyaris saja tak sanggup kuungkapkan apapun kepadamu. Karena memang rasanya aku tak mampu meninggalkanmu di hari senjamu. Bapak, ah, tidak terbayang dalam benak. Belum sampai kepada inti dari pesan, airmataku sudah berurai. Tuhan, ampunkan kesalahan bapakku yang tinggal satu-satunya yang kupunya, liputi ia selalu dalam kebaikan dan kesehatan.



#Jakarta, Jum'at malam. 

Dari anak perempuanmu (2)

/ Untuk Ibu /

Aku mungkin bukan lagi seorang yang mudah meneteskan air mata ketika teringat akan kenangan tentang ibu. Air mataku kini menjelma lantunan doa yang mengiringi hari hari sepeninggalmu. Jiwaku berkaca kaca tetapi mataku memancar harapan bahwa aku akan menjadi anak perempuan kebanggaan ibu, yang bersabar dalam ujian dan berjuang dalam kesulitan.

Ibu, dua bulan lagi aku akan menikah. Tanggal sudah ditetapkan, berbagai persiapan telah disikusikan. Seandainya engkau masih duduk di sampingku. Ah tidak, karena engkau sudah berbahagia, semoga, dan tidak merasakan sakit lagi.

Ibu, mohon restumu agar aku bisa menjadi seorang istri yang baik. Doakan aku, agar keluarga kecilku kelak diliputi kebaikan dan kedamaian, akhirat maupun dunia. Dulu, engkau selalu mengajarkanku bagaimana caranya menjadi seorang ibu rumah tangga. Mulai dari cara memasak ini dan itu. Memasak perkedel, sayur sop, soto ayam atau apapun itu, aku masih keras kepala hingga tak jarang beradu argument denganmu. Kini tanpa kusadari, aku bisa memasak apa saja. Kepandaianku memasak tidak lepas kaitannya dari kebaikanmu mengajariku. Engkau, bu, chef terbaik bagiku melebihi chef-chef di restoran mahal dan terkenal.

Engkau pun mengajariku cara mencuci, memisahkan pakaian putih dan berawrna, cara mencuci bagaimana bisa menghemat air tapi pakaian tetap bersih dan wangi. Pun kau ajarkan kepadaku cara memenej keuangan dengan cermat dan teliti. Engkau, bu, dosen manajemen ekonomi terhebat bagiku melebihi dosen-dosen terbaik yang mengajar di universitas ternama.

Ibu, terlalu banyak kenangan tentangmu di setiap sudut rumah ini. Wajah tuamu selalu terbayang ketika aku masuk ke dapur, ketika aku ke kamarmu untuk merapikan sprei dan bantalnya, dan aku ingin bicara denganmu lagi melalui doa-doaku. 

Sebentar lagi, aku akan meninggalkan kenangan-kenangan di rumah ini. Lalu hidup bersama seorang yang akan menjadi penggenap imanku, yang aku akan mengabdi padanya, yang aku akan ingat kebaikannya dan aku lupakan keburukannya.

Ibu, aku tengah merasakan debar yang kencang memenuhi dadaku. Barangkali sama seperti debarmu dulu ketika akan menikah dengan Bapak. Aku tidak tahu perjalananku menjadi tua. Tapi aku telah menyerap banyak hikmah dari jutaan peristiwa yang terjadi di hidupmu dan Bapak.

Ibu, kelak akan lahir dari rahimku anak-anak zaman. Cucumu akan mengunjungiku dan memberi salam kepadamu. Tersenyum dan berbahagialah. Aku selalu mendoakanmu dan takkan pernah melupakanmu, Insyaa Allah.   


Seperti pesan terakhirmu, “Jangan menangis, doakan saja ibu.” 


#Jakarta, malam hari. Saat lelah tapi semoga lillah dan berkah. 

28.3.16

Mendekati Hidup

Semenjak matahari surut, semenjak laut mengabarkan
bahwa telah banyak yang luput

Engkau berlari menuju cahaya yang sebentar lagi atau
mungkin telah padam

Tak ada lagi cahaya maupun suara
yang bergumam dalam dada ataupun telinga

Engkau hanya cinta pada mekar mawar
tapi tak cinta pada dahan kering

Engkau hanya ingin pada musim semi
Tapi tak inginkan musim salju yang beku


Jakarta, Maret 2016

25.3.16

Mengakali Amarah

kemarahan adalah serigala yang menggerogoti batinmu
mengoyak ngoyak darahmu, memburai jiwamu
namun kemarahan itu puncaknya bukan pada akhir
bukan pada tengah, kemarahan ada dan tiba pertama kali
pada goncangan yang pertama

kau akan dapatkan kemenangan dan ketenangan
jika kesabaran dalam dirimu mampu meredam,
memfilter, mengakali kemarahan dengan ekspresi yang baik
yang indah dan tenang

namun tak banyak orang yang menyanggupi
untuk serta merta mengalah pada kenyataan
yang bisa jadi tak sesuai dengan semestinya,
tak seperti harapan yang benar

memang ada sesuatu yang bisa saja kita ubah 
tentunya ke arah yang lebih baik
dengan cara tidak diam, tidak menerima begitu saja
melainkan bisa melalui argumen argumen logis 
dan efektif bahwa semestinya benarnya indahnya jika begini.


-pukul 07.22 saat sudah kembali ke rumah-



14.3.16

Kilau Mimpi

Malam menggelayuti dadaku
Dingin dari lantai lantai rumah sakit menembus kulitku

Aku tak bisa bedakan lagi mana ngilu yang berasal dari cuaca
Mana ngilu yang berasal dari pilu sebenarnya
Hanya saja aku terpukau ada bayang bayang
Yang lekat pada langit langit
Ada cahaya matahari pagi terbit disana
Menyilaukan mimpiku

Cahaya itu menuntunku ke suatu rumah
Di rumah itu aku lihat apa yang belum pernah kulihat
Pun mendengar suara suara yang belum pernah aku dengar
Merasakan hal yang sebelumnya tak pernah aku rasa

Hingga aku berjalan jalan dalam rumah itu
Menyuguhi pandangku dengan sesuatu yang tak biasa saja
Lalu aku tak lagi ingin pulang

Sepilah yang membawaku kesini…


2016

Nokturno

tidur dalam rasa khawatir adalah gelombang keniscayaan bagi tiap insan
sebagaimana mimpi mimpi membawa manusia dalam pelangi dan doa
dalam pembaringan ini, manusia berlomba menjadi bijak,
mengasup hikmah, mencoba mempercayai bahwa takdir akan hening saja
sebagaimana langit akan putih dan bersih saat pagi tiba

esok, doa mungkin sama
mungkin pula akan tak sama

esok, mungkin kita akan sunyi
mungkin pula akan bunyi

esok, mungkin hati akan buta
mungkin pula akan terbuka

kecemasan menuntun pada harapan
harapan bermuara pada keikhlasan
untuk menerima apa yang akan tiba
dan apa yang akan tiada.....

Jakarta, Maret 2016

19.2.16

Mengucap Syahadat Lagi

Ya Allah, sapaanku padaMu barangkali tidaklah cukup sebagai pengantar pintaku.
Suduh cukuplah lagi kelindan dari rasa ingin yang semu dalam jalur hidup duniaku.
Duka ataupun gembira bagiku terasa sama saja.
Aku pun tengah berjalan dimana tujuanku adalah penantian pada keikhlasan serta kepasrahanku.
Kuserahkan mimpi-mimpiku ntuk membubung setinggi-tingginya dan biarlah Engkau yang memeluknya.
Aku tahu diri, ya Rabb.
Kelakuanku tak cukup indah untuk membuat wajahMu tersenyum padaku.
Lisanku tak cukup manis untuk menjadikanmu bahagia telah menciptakan aku.
Tapi Engkau Yang Maha Baik selalu berkenan membukakan pintu-pintu maafMu untuk insan yang naïf dan hina ini.
Ya Rabb, biarlah diriku saja yang menjadi tanggunggan asalkan bisa mengurangi ataupun meringankan sakit-sakit dan luka-luka orang lain.
Biarlah penderitaanku dipercepat di dunia ini asalkan Engkau ridho terhadap diriku.
Bukan, bukan aku meminta nasib yang buruk.
Tapi mesti nikmat apa lagi yang kuminta? Jika Engkau sudah memberikanku segala-galanya tanpa pernah aku mengucapkan satu katapun dari permintaanku yang bahkan tidak aku sadari.
Aku mencintaiMu, rasulMu, nabi-nabiMu, para Ummul Mukminin, sahabiyah dan permohonan untukku agar aku bisa belajar mencintai dengan sejati.
Tidak apa jika itu harus kumulai dari nol lagi.
Mengucap syahadat lagi dan lagi.


Jakarta, 17 Februari 2016


6.2.16

Kebaikan dalam Rangka

Cerita Caknun mengenai kebaikan--Sahabat saya dari luar kota pada suatu larut malam di Malioboro Yogya menjumpai seorang penjual gudeg yang tampak agak menggigil karena kedinginan. Orang ini berjualan gudeg setiap malam sampai dinihari. Ia membayangkan dalam beberapa tahun paru-parunya akan basah, keseluruhan badannya akan sakit-sakitan, dan akan cepat tua. 
Maka jaket yang ia pakai, langsung ia berikan kepada si penjual gudeg.Yang sahabat saya tak sadari adalah bahwa penjual gudeg ini seorang gadis, perawan, yang wajahnya cukup manis. Maka esoknya tersebar berita dalam komunitas gudeg Yogya bahwa sahabat saya itu naksir si penjual gudeg, sehingga memberinya jaket dalam rangka melakukan pendekatan.Si perawan ini sendiri beranggapan demikian sehingga ia merasa sahabat saya ini sedang menjanjikan sesuatu yang akan dikembangkannya lebih lanjut. 
Maka ketika kemudian sahabat saya tidak melakukan apa-apa lebih lanjut, si perawan merasa kecewa, sakit hati, sementara warga komunitas gudeg yang lain menganggap bahwa sahabat saya ini mempermainkan si perawan gudeg. Mungkin ini contoh dari  “budaya dalam rangka” yang sudah  memasyarakat. Kalau seseorang memberi, menyumbang, melakukan kebaikan, dipahami sebagai upaya untuk menggapai sesuatu di luar kebaikan itu. Kebaikan sukar berdiri sendiri dan murni sebagai kebaikan itu sendiri.**
Mungkin memang benar esensi kebaikan yang diargumentasikan oleh Cak Nun. Saya mengalaminya sebagai manusia juga. Begini, saya mempunyai tetangga yang sudah cukup tua, 40 tahun usianya. Dia tidak menikah dan juga tidak bekerja. Malangnya lagi ia tidak bisa pergi kemana-mana (jika sudah 5 meter keluar dari rumah ia akan merasakan sakit di tubuhnya). Alibinya di dalam tubuhnya ada jin yang sudah bercokol lama. Bukan hanya saya yang merasa kasian, kakak laki-laki saya pun juga.
Suatu hari tetangga saya datang kepada kakak laki-laki saya, memohon bantuan dicarikan seorang kiai yang bisa mengobati penyakit ‘tak logis’ yang dimilikinya itu. Ia memohon sampai menangis dan berkata bahwa ia sangat rindu pergi ke Masjid. Mendengar alasannya yang begitu menyentuh, akhirnya kakak saya pun menyetujui untuk membantunya.
Dibawalah oleh kakak saya, seorang Kiai dari Pandeglang. Jauh-jauh Kiai itu merelakan datang untuk menolong tetangga saya. Dilakukan pengobatan sakral itu di rumah saya selama hampir 2 jam. Kiai itu mengatakan, bahwa Jin di dalam dirinya sudah berhasil diusir sebagian, karena ternyata sudah banyak sekali jin yang menggelayut dalam dirinya. Tentunya itu semua dengan kehendak dan pertolongan dari Allah. Terlepas dari itu, tetangga saya pun juga harus melawan jin-jin itu dari kekuatan dan tekad dalam dirinya.
Setidaknya kakak saya sudah mencoba membantunya karena kasihan. Saya pun membayangkan betapa malangnya tetangga saya ini. Tidak ada relasi, tidak punya kegiatan yang berarti, tidak punya penghasilan baik tetap maupun tidak tetap. Jadi saya bersedia membantunya jika ia minta tolong dibelikan sesuatu, saya belikan di luar rumah. Jika ada sedikit makanan atau kue, saya berikan kepadanya dan tetangga lainnya. Jika dia minta obat-obat tradisional yang ditanam di rumah saya, saya ambilkan obat untuknya. Saya membayangkan betapa kesepiannya tetangga saya ini, sudah 40 tahun perjaka, sakit-sakitan, dan saya pikir menjadi tetangga yang siap membantu termasuk bagian dari hablum minannas.
Celakanya semua itu disalahartikan oleh tetangga saya. Berkali kali tetangga saya mengirimkan sms yang isinya menurut saya terlalu berlebihan. Dia pun sempat mengambil foto saya tanpa seizin saya ketika saya sedang berada di beranda rumah saya. Saya marah dan menyuruh dia menghapusnya. Lalu saya mengadukan itu kepada kakak saya. Kakak saya mengatakan bahwa saya mungkin harus memaklumi dan memaafkannya karena dia tidak punya teman dan hiburan lain.
Mendengar itu, saya pun kembali kasihan. Saya memaklumi, memaafkan, dan melupakan kejadian itu. Dan saya kembali bersikap baik sebagai tetangga dan membantu jika dia minta pertolongan. Namun lagi-lagi kebaikan itu dianggap sebagai sebuah tindakan ‘dalam rangka’ olehnya. Lagi dia mengirimi sms yang isinya sangat kurang ajar. Marah betul saya, saya tidak menanggapi smsnya. Dan ketika keluar rumah, saya melewatinya dan tidak lagi menegurnya sebagaimana biasa. Hal itu saya lakukan agar dia menyadari keasalahannya dan saya tidak lagi dianggap menjanjikan sesuatu kepadanya. Pada akhirnya, kebaikan memang sukar berdiri sendiri dan murni sebagai kebaikan itu sendiri. []




Bermuatan Rindu PadaNya

Tauhid berati engkau atau aku melebur diri kepadaNya. Metodenya adalah peniadaan diri, dan itu ditempuh dengan terus-menerus mengikis kepentingan diri sendiri.
Sebab bagaimana cintaku kepada-Nya akan bisa bermutu, jika masih tergoda oleh kejayaanku sendiri, padahal diriku ini aslinya tak ada.
Bagaimana Ia akan percaya kepada cintaku jika perhatian dan energi kepentingan padaku tak sepenuhnya bermuatan rindu kepadaNya.
(Emha Ainun Najib)

4.2.16

Allah dan Ketenangan

Malam memutar alarmnya kembali. Semesta gelap dan apakah yang lebih tinggi dari awan? Apakah yang lebih tinggi dari bulan? Apakah yang lebih tinggi dari matahari? Apakah mimpi? Dan kini apakah mimpi mimpi itu masih bisa membubung tinggi?

Pada saat itu bukan sore lagi, hanya menjelang tengah malam. Macam-macam puisi mengantarkan saya kembali untuk mencari perwakilan dalam soal begini. Beberapa saya temukan puisi, tapi tak kunjung bisa terhayati dan diresap dengan keutuhan. Pun mencoba berbagai macam cara tidur; telentang, tengkurap, miring ke samping kiri, miring ke samping kanan, tapi mata tak juga mau terpejam. Saya tidak tahu apa yang  saya pikirkan, tapi puluhan burung gagak seperti menyerbu kepala saya, berputar dan beradu mencari makanan yang tak mungkin ia dapatkan disitu. Kupikir saya harus lebih banyak lagi mengingat tuhan. Karena ayat suci tuhan mengatakan jika mengingatNya hati akan menjadi tenang.

Jadi saya simpulkan yang sebenarnya perlu dicari manusia adalah ketenangan, bukan harta, tahta ataupun kuota, (kuota internet yang selalu kita anggap sebagai penyelamat eksistensi kita di kehidupan modern ini). Jika ketenangan yang kita cari apakah kita perlu sering sering pergi ke gunung, pantai atau tempat-tempat sunyi yang dimana kita akan sanggup menemukan ketenangan diri. Atau jika tidak, kita perlu membuat gunung hati kita, membuat pantai hati kita, membuat tempat-tempat menenangkan dalam hati kita sendiri. Jika dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Artinya Allah harus selalu terkait dalam setiap langkah kita, membiarkan Allah menyelesaikan segala permasalahan kita dan membersihkan sampah-sampah dalam hati kita. Membiarkan Allah  yang menenangkan hati kita.

Kita ini pun pada hakikatnya saya akui tidak diciptakan untuk diri kita sendiri. Melainkan amanat untuk supaya mampu menyampaikan perintah Allah kepada diri dan orang-orang. Al-Qur’an jika dirangkum, keseluruhan isinya lebih banyak menyampaikan Hablum minannas dari Hablum Minallah. Nabi Muhammad s.a.w pun diturunkan oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Jika ada orang rajin shalat, rajin puasa, tapi kelakukan terhadap sesama masih ‘kok ya ga enak banget’, berarti bukan shalatnya yang salah, bukan puasanya yang salah, bukan jilbabnya yang salah. Bisa jadi niatnya beribadahlah yang salah. Omong kosong orang yang nyuruh bertaubat orang lain, tapi dirinya sering ingkar janji, merugikan orang lain, tidak merawat lingkungan, bohong sana-sini bahkan bohong terhadap dirinya sendiri.

Jadi kalau manusia sudah hidup dengan tanggung jawab terhadap manusia lain, manusia itu sudah mencapai batas mampu mengalahkan egonya sendiri. Jika manusia sudah berhasil melakukan apa yang tidak ia sukai, maka sudah mampu disebut manusia dewasa. Jika manusia sudah belajar memahami apa saja yang sia-sia dan memilih keabadian yang sejati itulah manusia yang sudah menguasai ilmu orang tua. Jika manusia sudah tidak mudah kecewa dan mampu memaafkan orang lain maka sudah percaya bahwa Allah itu Ghoffar. Jika manusia sudah bisa merelakan harta-hartanya untuk kemashlahatan itu artinya manusia sudah yakin bahwa Allah itu Ar-Rozak. Jika manusia sudah bisa mencintai dan mengasihi sesama tanpa mengharap balasan dan terima kasih itu artinya manusia sudah bisa menyebut-nyebut dalam hatinya Al-Waduud. Jika sudah yakin dan percaya terhadap sifat-sifat Allah maka sudah mengalirlah ketenangan dalam diri kita. Sayangnya, keyakinan ini tidak cuma bisa kita lakukan sekali-sekali saja, tetapi terus menerus, mengalir seperti sungai yang tenang dan lancar arusnya. Kontinyu seperti orang bernafas, tidak pernah berhenti walau dalam tidur sekalipun. []

  

2.2.16

Hati yang Mulia

Hati yang mulia barangkali patut diberikan kepada seseorang yang tidak pernah meminta-minta, selalu memberi dan tidak menampakan kesulitan yang dialami. Ada seorang janda beranak satu, ditinggal mati suaminya 3 tahun silam. Alhasil, wanita itu pun menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi buruh di pabrik kacamata. Ia tidak pernah meminta-minta pun tidak mau diberi sesuatu yang materiil sifatnya. Kemudian ada seorang dermawan yang ingin bersedekah terhadapnya namun tidak pernah diterima.

Hingga pada suatu hari dermawan itu memberikan makanan serta pakaian untuk wanita itu dengan meletakkannya di pintu rumah. Tapi janda berhati mulia itu tidak mengambilnya hingga makanan dan pakaian itu pun dicuri oleh orang lain. Sang dermawan itu pun agaknya geram tapi tak lantas menyurutkan semangat sedekahnya. Sang dermawan berpikir ngalor  ngidul hingga akhirnya ia menemukan sebuah metode memberi yang tepat dan kecil kemungkinan janda berhati mulia itu akan menolaknya. 

Suatu pagi, seperti biasa, janda berhati mulia itu pergi ke pasar untuk membeli sayur dan lauk-pauk. Karena sudah tahu kebiasaannya, sang dermawan mengikutinya hingga ke pasar. Tiba di depan gerobak penjual tempe, sang dermawan itu menepuk pundak janda tersebut. Sang dermawan berkata, "Bu, ini uangnya jatuh tadi di jalan. Saya melihat dari belakang saat ibu berjalan tadi, uang ini terjatuh dari dompet ibu." 

Sambil bengong dan melihat kembali isi dompetnya, janda itu pun menerima dua lembar uang lima puluh ribuan dari tangan dermawan itu. Ragu-ragu ia ucapkan terima kasih kepada sang dermawan yang kemudian pergi berlalu. Kepada kakek penjual tempe, janda berhati mulia itu membayarkan uang lima puluh ribuan untuk satu buah tempe sambil berkata, "Uang kembalinya ambil saja ya, Kek."  []


Guru Honor

Salah satu persoalan besar dalam hidup adalah determinasi antara yang 'diinginkan' dan yang 'dibutuhkan'. Perspektif seperti ini hanya mampu dan sanggup kita jelajahi jika kita sudah benar berusaha membersihkan pikiran-pikiran kita dari unsur negatif bahwa Tuhan selalu salah memberi dan memberi tidak tepat sasaran. 

Seringkali, seorang guru honor yang sudah lebih dari 10 tahun mengabdi di sebuah sekolah mengeluh karena tak kunjung mendapatkan upah yang sesuai dengan pengabdiannya selama ini. Saat petang guru honor itu datang ke rumah, mengadukan beban-beban yang ditanggungnya.

"Sedih deh, anakku mau beli mainan ga bisa. Pengen gitu rasanya beliin mainan baru, ngajak anak jalan-jalan ke mall, dan makan ayam di restoran cepat saji. Kenapa ya orang-orang yang sudah berusaha berbuat baik itu kayaknya gak pernah habis ujiannya? Orang-orang jahat selalu dikasih hidup enak dan kayanya gampang mau ngapa-ngapain aja."

Ya, konsekuensi hidup memang begitu. Hakikatnya hidup adalah ujian. Firman Allah kan kita ini belum beriman jika belum diuji. Memangnya mau kita dikasih nikmat terus sama Allah tapi konsekuensinya kita tidak akan menjadi manusia yang sepatutnya manusia? Yang kamu ingin tidak terwujud. Tapi diri dan anakmu sehat, suamimu sehat, keluargamu rukun. Bukannya itu yang paling kamu butuhkan? Ketika nikmat itu -misalnya- tidak terjadi. Contoh anakmu sakit dan sakitnya berat, doa'mu pasti selalu menyebut-nyebut "Ya Allah.. sembuhkanlah anakku, berikanlah kesehatan. Tak jalan ke mall pun tidak apa, asalkan penyakitnya sembuh dan bisa sehat seperti semula." []