4.5.13

Tiga bulan sepeninggal suaminya


Buat Tanteku; Astuti

Tiga bulan sepeninggal suaminya,
Sang istri tidak pernah absen melakukan
Ritual upacara peringatan kenangan,
Kenangannya tak habis-habis, mulai dari
Awal pernikahan sampai saat terakhir
Sang suami pamit selamanya
“Bu, aku pergi sebentar ke rumah Neil Amstrong,
Sehabis itu kita bersama akan piknik ke bulan.”

Namun ia tak bisa sedikitpun membayangkan
Bulan yang dimaksud oleh sang suami.
Berkali-kali ia meminta penjelasan
“Ayah, semalam aku bermimpi bulan itu
Ternyata hanya sebesar bola mata anak kita.”
Namun suami dalam foto itu hanya khusuk menatap
Gurat otot lengannya sendiri.

Suami dalam foto itu konon seorang juara panco
Yang berhasil mengalahkan juragan dan bandit
Kenangan yang bolak-balik mengajaknya bertanding.
Tak pernah satu kekalahan pun ia dapatkan,
Kecuali ketika anaknya sakit dan bermimpi
Dipermainkan oleh bola kesayangannya.

“Bola apa itu, bu?”
“Entahlah, Nak, mungkin bola matamu sendiri.”
Belakangan mereka tahu bahwa itu bulan
Milik Neil Amstrong yang masuk ke mimpinya.
Si ibu menatap anaknya, kemudian beralih menangkap
mata sang ayah dalam foto itu sedang melirik mereka berdua.

2013


3.5.13

Roseta


Setelah demam, beberapa pukulan
dan api yang membakar kedua belah tangannya,
Perempuan itu berpikir tentang kemerdekaan
Dalam bentuk yang lain
Ia ingat-ingat bagaimana Jaya dan muara Ancol
Selalu berhasil meredam pedihnya

:Maria, maria
Kenapa kita tak boleh bahagia?

Lalu pada lengah yang lain,
Ia lari ke utara, melupakan
Tapak-tapaknya dengan perih dan luka yang biasa
Namun jauh panggang dari api
Harapan tinggal sisa bara, hitamnya
Tercoreng di wajah sendiri

Perampok madat yang tak bisa mati itu
Selalu berhasil membuat perayaan yang menyakitkan
Tanah kelahiran takkan pernah ada,
“Bali, aku ingin ke Bali
Bertemu saudaraku yang tinggal seadanya..”

Airmata panas, pepohonan meranggas di dadanya
Perempuan itu membesarkan perasaannya sendiri

Tiba-tiba Neptum seperti nasib yang serupa di garis tangannya
:kenapa manusia semacam kita selalu tak punya pilihan, Roseta?

Kemerdekaan memilih takdirnya sendiri
Neptum menemui naasnya,
“Siman, budak macam dia jangan terlepas,
Jangan sekalipun!”

Lelaki itu menagis, menggumamkan pemberontakan
Dalam hening yang amat panjang
Kemerdekaan, kemerdekaan.. kenapa aku tak
Dibiarkan saja mati?

Ada rencana yang amat besar telah berakar
Setan hinggap dimatanya
Esok malam, ketika bulan memanjang,
ketika dokter Kramer pergi,
Ketika rumah sepi
Seorang gadis diculiknya dan hendak dijadikan istri

Tidakkah kau ingat Roseta juga seorang perempuan?
Jaya, kenapa harus rakus pada kehidupan
Kenapa harus, seorang lelaki lebih mencintai kecantikan
Daripada kesetiaan hidup..

Lalu pada perang yang tak mampu diterka
Bedil dan tapal kuda telah melarikan tubuhnya ke arah empat penjuru
Kulitnya pecah, bandit-bandit musnah

O, Batavia yang tentram..
Kuterima kemerdekaanku

2013


2.5.13

Di senja yang begitu

Di senja yang begitu, ia lihat kepak camar pada langit
Awan melipat sore, dan cahaya ungu, oranye, merah,
pun biru: sebuah komposisi yang mirip kesedihan
Namun ia takkan menangis
Walau sesap pada jalan layang
Klakson-klakson yang tak sabar
Dan kaki yang perlahan layu
Ia buat pertanyaan untuk dirinya sendiri
Kenapa?
Kenapa senja selalu memikat?
Lalu ia ingat,
Pada hasrat dan tirakat yang lain,
Ia ingin segera sampai
Ingin segera usai

2013

Dag


Mungkin beginilah harusnya, aku mengalah dan pergi
Di bawah malam yang tinggal satu persoalan:
Bagaimana cemas akan berangkat
Dan perjumpaan akan selesai

Kini pasar-pasar malam mulai riuh,
Menyanyikan rutinitas
Dalam bayang-bayang tak berperasaan
Lampu-lampu memainkan luruh
Laron-laron memuat hal-hal sederhana
Dalam kepak sayap,
Dalam tuhan mendekap
Lalu subuh mulai jauh
Dan aku masih tersesat

Musim bulan ini memberi kabar
Perihal hujan yang akan meninggalkanku

Tapi apakah kau masih percaya bahwa pantai masih ada?
Dan mungkin suatu hari,
Saat senja,
Karang-karang akan menanggalkan semua ingatan
Dan ombak mungkin telah menghanyutkan namamu,
Mungkin juga mendamparkannya ke tepi

Namun pada cinta yang patah,
Bila kau bertanya
Apakah?
Apakah aku menyerah?

Di antara kita tak bisa saling mengucap
Tak bisa menjawab
Lalu kembali beranjak
Pada sepi masing-masing

2013

1.4.13

Membayangkan Kehilangan


Ada yang begitu kelindan daripada
Angin yang memukul pepohonan
Cuaca mulai remang, burungburung pulang ke kandang
Sedang mataku memanjang
Ke bumbungan awan yang berarak
ke pulau seberang, lalu menerka
awan yang sintal dan kenyal
itu membentuk sebuah bayang yang mungkin kukenal.

Di bawah bulan tembaga,
aku ingin mengenangmu sebagai
sesuatu yang kurahasiakan
dalam baris-baris puisi atau instrumen dari Haydn.
Seperti sejarah, ingatan mungkin terbuat
Dari bahan-bahan yang mudah melayang.
Maka atas nama hari ini,
Aku berlatih tentang kehilangan,
Belajar membayangkan kematian
Orang-orang terdekat dan menuliskan
Kartu ucapan “turut berduka cita” atas
Kepergian yang belum terjadi.

Di Hebron, orang-orang lalu lalang
Mengaumkan kehilangan buat Ibrahim,
Mensucikan kenangan dalam makam oktagon,
Dalam benteng-benteng penjagaan.
O, Kadangkala kematian terasa ramai dan sebentar.

Namun aku masih sanggup mengenangmu
Sebagai sesuatu yang tak terbalas,
Kau mengambang di ujung-ujung dahan,
Mengembun di kaca jendela yang terkena hujan
Semalam, atau sebagai sesuatu yang terlipat
Dan menguning di sebuah halaman buku harian.
Atau kau sebagai sampan, dan aku gelembung dalam ribuan
Buih yang ingin rebah di kayu yang basah
Dan kita akhirnya sama-sama menyebrang, sama-sama mengambang.

Derit kursi di sebuah taman akibat gesekan
Udara dan kenyataan tibatiba menyadarkanku lagi.
Lalu kuamati cuaca yang kembali hening,
Pepohonan tak bergerak,
Dari balik daun telinga, lamat-lamat Chairil berbisik
“Nasib adalah kesunyian masing-masing..”

Barangkali kesunyian adalah doa yang pantas.
Dan engkau tak mengerti.

2013

23.3.13

Ode Buat Bapak


Cuaca mulai demam dan menggigil dengan kerdil.
Jalanan basah, kenangan kenangan mencair.

Kepalaku terus menoleh ke ujung jalan itu,
Berharap engkau datang dari
Balik nyala lampu sepeda motor.
Sementara cemas barangkali akan berkemas
Jika  kau terlambat dari waktuwaktu biasa,
Atau senyum lega ketiga kulihat dari kejauhan
Rambutmu yang mulai putih menyembul dari balik topi yang usang.

Tak ada kata-kata pengantar saat
Kau sampai di beranda penglihatan,
Hanya isyarat jas hujan dibuka
dan kau tak sedikitpun membiarkan aku basah.
Sementara puluhan ribu nafasku hari ini
Telah parah oleh dadaku yang gigil sebab
Flu yang tak kunjung mustahil.

Tibatiba ingin kudekap usia yang rebah di punggungmu
Dengan parau batuk yang tabah di dadaku.

Bapak, aku ingin terus memelukmu dari balik punggung
Dan melihat lipatan waktu di wajahmu
Dari spion yang cembung.

Sepanjang perjalanan  kita tak pernah  
membicarakan hal-hal yang lebih dalam
Dari sekadar bertanya tentang persoalan sehari hari saja.
Sebab aku tak pernah paham cara yang tepat
Meramu pembicaraan yang hangat.

Aku hanya ingin memelukmu dari balik punggung
Agar angin tak punya celah membikin jarak
Agar degup jantungku, meletup juga di dadamu.

2013

18.3.13

Dalam Percakapan Paling Sepi

Kemarin aku ziarah ke makam 
kenangan yang pernah kita tanam.

--masih tempat yang sama seperti dahulu, 
Lagu lagu dengan irama pelan, cahaya lampu
yang samarsamar menerpa wajahku

dan satu per satu
ingatanku terlepas kemudian tandas

Aku mulai merapal detik yang pernah kugenggam 
dan engkau yang sempat kusimpan dalam tulisan. 

Betapa tempat itu sebuah jalan pulang
Untuk mencatat yang telah lewat.

Di tempat itu, kau pernah melesakkan dadaku,
menceritakan sejarah yang tumbuh di kotamu,
menawarkan sesuatu yang mendebarkan
sebab oleh waktu dan jarak.

Aku membayangkan lagi bagaimana percakapan
bisa lahir dari sepi,
sementara dinding-dinding ruangan perlahan mengepungku
dan menghamburkanku menjadi bunga-bunga ek yang mekar.

Hingga tibalah kita pada
beberapa percakapan yang tak disengaja.
Kau mulai membicarakan tentang banyak hal ;
angan-angan hari depan, silsilah yang panjang,
perihal masa silam, dan kawan-kawan
yang lebur dalam khayalan.

(Sementara kau sibuk bercerita, 
aku sibuk mendengar detak jantungku sendiri).

Seperti suara kasmaran yang pilu,
aku merajut gelisah dari benang-benang sepi
yang tak bisa kau lihat dari sana
--karena aku tak berani lagi.


2013

7.3.13

Penunda


Malam telah melarikan diri
Beberapa menit yang lalu
Jam di kamarku mulai berdetak
Menyebutkan namaMu

Tuhan, aku capek melayani keramaian
Tubuhku memang sanggup
Menerima bising
Namun dadaku pangling,
Mataku hening

Setiap hendak menujuMu
Aku selalu dikalahkan oleh waktu

Maafkan aku yang sibuk
Dan membikin asing diriMu

Maafkan aku yang lengah
Dan terperangah pada entah

Maafkan aku yang penunda
Mengabaikan segala tanda

2013

1.3.13

Aku Ingin Punya Sepeda


Aku ingin punya sepeda
Yang pedalnya dari kayu
Dan setangnya dari bambu
Seperti sepeda pada
Masa kecilku dulu

Akan kukayuh udara kotor
Yang menyelubung di seputar
Roda roda. Kulawan terjal
Masa silam dan kubayangkan
Para ibu yang mencuci di kali,
Mencuci baju anakanak mereka
Dengan buih dari sampah
Dan limbah pabrik

Berapa kali orang harus mengeluh?
Berapa kali pedal harus kukayuh?
Sementara kalian diam
Merayakan kota yang semakin renta

Berapa kali orang mesti menyesal?
Berapa kali mesti kuayunkan pedal?
Supaya rantai kehidupan tak putus
Dan berkarat, lalu membayangkan
Sanak saudara di belakang
Mengucapkan selamat jalan

Aku ingin punya sepeda
Seperti masa kecilku dulu
Berjalan di setapak yang rindang,
Yang batang batang pohon itu telah
Kalian jadikan rumah rumah,
Meja dan bangku

Dunia memang tak mengajari kita
Menjadi pahlawan dan
Selalu bangun kesiangan

Dunia melahirkan kita menjadi
Orang mati yang dihidupkan kembali
Dibiarkannya kita mengayuh
Kecemasan tanpa seseorang yang
Mengucapkan selamat jalan

2013