29.6.12

ibuku sedang marah


langit kelam, meja makan suram
tak ada nasi atau roti isi
buat pengganjal sepi hari ini

barangkali ibu marah padaku
sebab kesalahan yang tak sengaja
atau disengajakan
sebab terlalu larut pulang
atau kamar berantakan

rumah bisu, tak ada perbincangan
sebab diam ibu yang terlampau
menjadi misteri
aku tahu ibu marah
tapi aku tahu ibu marah

buruburu kuamankan keadaan
dan suasana,
mendinginkan yang berapi
dalam diam, dalam sekam,
berjanji dosadosa yang terlampau
kelewatan takkan terulang

jangan marah
janganlah marah..

aku sangat sayang,
meski tak pernah kukatakan

2012

22.6.12

Balada Sesiapa

dari jendela bus kota, sepasang mata lelawa biru
tajam mengiris mataku yang lekat pada kaca dua sisi
aku bertanya "kau darimana datangnya?"
ia tak menjawab
semesta seakan tahu, malam ini
kota akan lumrah, kali-kali akan lebih basah
dari semula

gadis kecil di trotoar dengan punggungnya

yang kotor, dan setengah kakinya ia tumpahkan pada
kaleng-kaleng permen asam manis

perempuan paruh baya membawa bungkus-bungkus kerupuk bangka
dengan dada yang tumpah di mulut bayinya
sedang surga di telapak kakinya perlahan mengikis

perlahan terhempas aspal panas

aku mencerna kesedihan satu per satu

dua per dua, tiga per tiga, 

lalu seterusnya tak dapat dihitung 
seberapa kesedihan, pedih dan luka
tertanam di tanah, lalu naik ke langit
yang niscaya disebut hujan
padahal airmata

dua lelaki petantang petenteng berteriak;
"lebih baik tolong menolong, daripada todong menodong."
persetan! semua orang tahu
muak aku. orang begitu tahu apa soal ikhlas?
pergi kau ke biak, cari ajal dan kubur tubuhmu sendiri
bilamana Tuhan pun mungkin enggan melirikmu

sepasang mata lelawa semakin tajam menatap
ia pun berkata akhirnya
"aku datang dari masa depan."


masa depan, masa depan..

aku takut menatap ke depan
takut airmata nanti bakal mahal harganya


2012

13.6.12

aku sekarang tak bisa tidur


aku sekarang tak bisa tidur,
sekarang pukul 02.10 dini hari
buku sedang tidur, bantal sedikit mengantuk
kudengar The Beatles dengan In My Life
campur bunyi saron lagu Sri Katon
hidup bicara sungguh pelik
tapi tertawa selalu
biar tak dianggap pelit

dentum bonang terbayang menyayat tenggorokan
hei radang tenggorokan
setiap kutelan rasanya sakit
aku pulang kelewat malam, bis pindah jalur,
sepulangnya hampir tertabrak
sepeda motor lawan arus
kenek mengumpat, pengendara motor lari
tanganku keseleo sedikit tapi tak apa
aku membicarakan diri sendiri bodoh
tak hati-hati. 
tapi.. Some have gone and some remain
All these places had their moments
kata beatles, aku selalu percaya kata beatles

akan ada yang pergi dan membekas
yang membekas silakan saja pergi juga tak apa

tadi ada empat pengamen singgah di kopaja, 
mungkin ada empat jenis pengamen:
yang muda dan pasrah, yang tua dan memaksa
muda dan pemaksa, tua dan pasrah
soal suara tak jadi soal
asal bisa beberapa nada
jadilah lagu
walau kadung lirik tak hapal
soal baju dan sandal lupakan
tak ada yang protes

seorang ibu di sebelah membelah apel dan mengupas 
dengan cerdas
si pengamen menelan ludah terpaksa
aku mendengar hari ini akan panjang
benar saja sekarang pukul 2:28
buku sudah tidur, bantal pun tak kalah,
nanti aku menyusul saja.


2012 

tentang apa saja

mengapa kau begitu kuyuh terlihat
namun asap dari bibirmu terus melaju
serta berbunyi kereta api pukul senja
nanti kalau kupergoki matamu
jadi abu
nanti kalau jari tengahmu berhenti
menjentikkan abu rokok
akan kubilang hati-hati juga
takdir itu lebih pahit dari
yang kau duga

lantai yang dingin dan cerita perwayangan
adalah gema. lalu ceritakanlah
tentang pandawa atau werkudara
sebab silsilah siapa tau
sedikit menyesal tak gegabah menangkap
maksud kayangan yang menurunkan
arwah dan dewa dewi abadi

sebab abadi itu apa?
matamu itu kendi tempat rahasia 
malam ini indah
ah kita bercerita saja
tentang apa--tentang apa saja


2012

6.6.12

Sejejak Sajak


Yang Kutemukan Pada Sebuah Pertemuan dan
Yang Tak Bisa Kuucapkan Pada Sebuah Percakapan

Aku menemukanmu pada malam yang geram;
Piuh angin, cuaca bulan Juni, dan gerimis yang berbaris
Di atas matamu adalah lindap jatuhnya bulan pada wajah
yang mungkin asing—mungkin  juga tak asing.
Pertemuan yang itu bisa jadi
adalah bumerang bagi jantungku yang barangkali
tak pernah kau tahu sudah lebam dan biru.

Tapi aku merasa lunas pada perjalanan yang lama mendamba
Sebuah tiran hujan di seluruh sungai tubuhku.
Disebabkan beberapa hal; aku tak pernah ingin lupa
Dan tak pernah sepakat untuk mengingat suatu pekat nasib
Yang diguratkan pada garisgaris di tanganku.

Apakah yang ada di pikiranmu tentang langit yang
Menahan kantuk pada redupnya binar?—seperti sepasang pilar
Di sepanjang trotoar—hingga nanti kuberikan
Padamu sebotol percakapan,
Untuk aku yang begini dan engkau yang begitu
Agar suatu hari kita begitu lancar memotongmotong
Bayangan kita sendiri yang kerap enggan dipersatukan.

Bukankah perkataan paling indah adalah yang tak pernah
Terucapkan? Maka atas nama kesunyian, kukatakan
padamu perihal yang begitu pendiam dan dendam. Lalu
kenangan yang jauh dan kecewa yang jenuh akan seketika lumpuh
bersimpuh pada segenggam tatapan yang utuh.


2012

2.6.12

Sebab Pada Takdir Aku Khawatir


Bau tanah sehabis hujan
dan udara yang berhembus kencang.
Aku menikmati hawa yang lembab
memasuki paruparuku yang sepi.
Barangkali kekurangan oksigen
atau bisa jadi karena jalan ini
terlalu sempit untuk kulewati.

Aku teringat lagi sesobek adegan
sabuncolek pada pertunjukkan
teater tadi malam
: sebuah omong kosong dicuci,
got-got mampet meruapkan nyinyir
berbau anyir.
Seperti bangkai janji
yang membusuk karena tak juga terbukti.
Seperti itu memang, hidup adalah kecemasan.

(“Tuhan, siapa yang menciptakan pahala dan dosa?
Apakah kita?”)

—Sebab pada takdir aku khawatir—
Langit kelewat mendung, sepatu kumal,
jeans belel terkena tumpahan cat,
tubuh yang ringkih, dan malam begitu dingin.
Aku merasa hidup terus begini.
Selalu begini.
Ingin sejenak
Kurapalkan sajak
kepada cuaca
yang murung, yang mendung
karena mungkin sedang berkabung.

Lalu pada cinta, aku tak lagi percaya.
Selain diri sendiri,
tak ada lagi yang paling setia.


2012

28.5.12

Catatan Perjalanan

angin dari selatan bertiup ke utara
dan gemuruh menjelma mantra
seperti dalam dongeng kuno:
nestapa dan pertanda, firasat dan cuaca.
(maka bagaimana
mesti kutafsirkan hujan
jika basahnya karena air mata)

sedang penyair telah pergi
sedang penyihir telah mati
aku merasa kepergian yang ditangiskan
akan menjadi kutukan
dan doa yang tak diaminkan
akan karam sebelum terkabulkan

lalu sebuah saja frase dari
sajak halaman itu barangkali
bisa membuat kota telah kembali
ke semula.
namun lampulampu terlanjur padam,
kota telah rapuh
dan hujan terus menerus jatuh.

(maka dengan apa lagi harus kutamatkan
kesepian,
jika yang tersisa hanya piuh malam)

disini, di tempat begini
cuaca mudah marah, perasaan mudah gerah.
lalu mengapa semua
tak ingin terjaga
jika tidur adalah melupakan.

(maka dengan apakah harus kulunaskan 
perjalanan, 
jika satu-satunya cara hanya diam)

o waktu, 
mengapa terburu-buru
sedang hari depan 
belum tampak juga di mataku


2012

25.5.12

Jembatan Benhil


Barangkali malam ini langit terbuat dari lemari es
Yang jika angin bertiup sedikit saja bisa memecahkan dada.

Pada sebuah jembatan, banyak luka yang belum disembuhkan,
Anak jalanan, pengemis tanpa kaki, pemain saksofon
Yang membawakan sonet nestapa dengan irama menyakitkan.
Meski tak ingin lagi kubicarakan tentang kesedihan
Namun  siapa yang sanggup menahan nyeri otot hati
Jika tahu bahwa seorang bayi yang belum genap
Satu bulan sudah belajar menanggung
Dingin dan debu yang panjang?

Pedagangpedagang menjajakan hidupnya atas nama
Melawan nasib. Digelarnya kacamata,
Obat kulit, perhiasan palsu, di atas jembatan yang macet
Karena setengah terisi, setengah pedestrian.

—Semacam ironi bukan?—

Barangkali sepulangnya ke rumah,
Akan kucium tangan ibuku dan kuusap wajahnya yang rumit
lalu berkata: terimakasih sebab memperlakukanku
Dengan amat baik, lalu aku masih begini, masih seperti ini.
Sementara yang susah, besok akan tetap susah.
Dan yang bersenang-senang akan semakin girang.

Malam yang cemas menjadi tekateki yang nyaris penuh terisi
Dengan gedung sebagai pelengkap kotakkotak yang berontak.
Aku semakin terasing dan sendiri, pada pikiranpikiran
Yang tak sanggup kuterjemahkan. Lebamnya cuaca dan
Sesaknya perjalanan begitu lengkap namun berlawanan.

Apa yang membuat kita alpa pada derita yang bukan
Milik kita? Ada yang menangis tak berhenti, ada juga
yang takut tercuri karena tak siap berbagi.

Kenapa?
Sebab apa?

Semakin aku sibuk bertanya,
Jawabannya semakin tak ada.


2012

8.5.12

Diorama

(Sebuah Sajak Coba-Coba)

Pada suatu pagi, sepasang mata nanar menatap diorama, lalu dengan berbisik ia berkata; kemarin aku linglung, aku membolakbalik daftar menu sarapan, tapi yang kujumpai hanya seekor kaki rubah bumbu asam manis. Aku beralih ke dapur, mencari roti isi atau sekaleng ikan segar, namun yang kujumpai adalah sebotol bir kadaluwarsa—kutenggak isinya—rasanya mirip airmata dari mulut buaya. Tibatiba perutku mual, kumuntahkan isinya, jangan heran bila muntahku berisi kentang, telur asin, atau lampu tidur. Kembali kususun diorama dari cangkang-cangkang kulitku dan kubangun rumah untukmu lengkap dengan besmen dan beranda. Sebab kuakui—aku memang pergi ke rumahmu tahun lalu, tapi kosong dan kotakposmu berjejalan suratsurat tanpa nama. Dari siapa?

Dengan gusar tangannya bergetar menekan tombol dan menelpon entah ke siapa, lalu lirih suaranya; maaf aku sibuk, hutangku banyak sekali dan janjiku jarang ditepati. Maaf, aku hibuk, aku lupa tanggal dan waktu. Ingin sekali kutuliskan beberapa patah kabar—tentang kota yang tinggi dan lampu yang cahayanya silau sekali, aku tak sanggup, aku ingin pergi tapi aku terlalu sibuk. Sedang kau masih ingat ucapan itu? Seperti saat Khidir meninggalkan Musa; kau takkan sanggup sabar bersamaku. Aku ingin kau menyebut mantra yang sama, lalu seperti bah yang menggulung perahu kertas Nuh. Byar.. Byaaar.. Byaaarr.. Aku selamat dan berlayar hingga untuk keduakalinya aku muntah di hadapanmu. Tak usah lagi heran, bila muntahku berisi kentang, telur asin, atau lampu tidur. Toh, kelak akan kuceritakan padamu, betapa perpisahan sungguh mengasyikan. Seperti sinema elektrik; musik yang mengguncang, iklan yang muncul tibatiba, sorort mata tajam—dengan itu adrenalinmu naik dari semula, bahkan diluar batas sangka.

Kemudian suatu hari—suatu saat dimana kau dan aku kembali pada ketunggalan—mungkin kau akan mengulang beberapa patah pepatah yang pernah kutitah, akupun tak pernah luput oleh diamdiam yang sengaja menyusun kembali diorama—yang jika kau tahu kuncinya adalah panorama sebuah musim dan beberapa rumah yang pernah kubuat adalah makam sebuah kenang.

2012

Ode Buat Digdio


Dig, digdio
Mengapa kau keras kepala?
Jika tidur siang, perlu beberapa orang
Untuk membujukmu, sekadar memberi ancangancang.
Bahwa seorang kakek tua dengan badan berumur oli
Gemar menculik anak nakal yang tak mau tidur siang
 --Sembari membanting angan-angan, mobil-mobilan
Puzzle, kau ngamuk seperti preman di persimpangan.

Dig, Digdio
Hidup bukan hanya sebatas tatapan, setengah tubuh manusia
Yang jika kau tahu bahwa nenek dan kakek, tante dan om
Rela berpayah-payah menahanmu
Untuk tak keluar rumah, jangan terlalu menjadi pemarah--
di luar panas dan sepi.

Dig, Digdio
Jangan ngamuk lagi, tidur siang saban sebentar
Setelah itu mandi, main air, main kecipak kecipak
Karena kau senang sekali saat disiram dan
Matamu berkedip-kedip,
Bibirmu mencari udara, dan byur..byur..
Kau senang menyalakan kran
Tapi untuk soal sikat gigi Dig susah sekali.

Dig, Digdio
Ode apalagi selain Nina dan cicak di dinding?
Barangkali nyanyian ibumu yang belum kau dengar,
Ibumu belum pulang, bersabarlah lalu
Lepas tak terjaga, Dig..

2012

4.5.12

Romansa Diri Sendiri

kau didepanku tudung merah senja
matamu membelah belantara dadaku

masuk ke dalam rimba yang hendak mendamba
sayup paling kuyup yang perlahan meredup

kau di depanku tudung merah senja
bibirmu mengalir zikir berbulirbulir
menghancur getir pada jiwaku yang anyir

kau di depanku tudung merah senja 
aku lapar dan kau di depanku
aku di depan diriku sendiri

2012

*catatan: sajak ini awalnya dibuat oleh Bu Hafni untuk saya
--lalu saya melanjutkannya. sepertinya kami akan jadi sahabat.

14.4.12

Sepanjang Jalan Kota Tua

Dari balik jendela transjakarta,
Aku melihat banyak harapan.
Seperti namanama jalan   
di sepanjang menuju kotatua
:kebahagiaan, kesejahteraan, dan
kesederhanaan.
Entah apa filosofinya,
Tapi mungkin aku akan bahagia jika
Tinggal di jalan kebahagiaan,
dan seterusnya
dan selamanya

Tapi bukankah tinggal dimanapun
Kita bisa menjelma apa saja?

Bahkan siapa yang tahu mungkin akan 
menjadi penyedih walaupun tinggal di jalan
kebahagiaan.

Sebab aku belum juga mengerti konsep kebahagiaan
seperti apa dan bagaimana.
Barangkali seperti hotelhotel, pijat refleksi,
atau tokobuku yang berada di sepanjang kota tua.
Mungkin sesekali waktu,
siapapun bisa melepas dukanya disana.



Hawa panas dan debudebu beterbangan.

Aku bisa menyimpulkan—siang ini
Matahari sedang mabuk cinta
Kepada langit, ia korbankan segala nafasnya
Kepada bumi, ia berikan segala energinya

Keringatkeringat membuncah dan hendak berserapah,
tapi segera kuingat—apapun cuaca adalah anugrah


:Melewati lorong
—seorang lelaki setengah baya
Bermain biola, menembangkan keceriaan,
Ia hamburhambur senyumnya—seolah hidupnya
hanya untuk hari itu saja

Remajaremaja berkumpul bermain kartu
menukar siasat—tertawatawa licik.
Dan sesekali mengaduh ketika
tahu nasibnya tak sebagus kartu As
di genggamannya

Di tepi air mancur,
seorang perempuan menyandarkan
kepala di bahu lelakinya.
Barangkali dengan begitu,
pikirannya yang rumit akan
tumpah di dada lelaki yang
yang lebih tabah—
dari waktu yang kian pasrah.

Bangunan moneychanger masih berdiri gagah
—mungkin aku
Bisa menukar banyak kenanganku
dengan kenangan di tempat lain--kenangan asing
dengan kurs yang lebih tinggi.

Museum-museum mengawetkan waktu
dalam ruang tak berpenghuni, memadatkan
sejarah di batubatu, di laci meja kayu,
bahhkan di mata seorang serdadu.

Di kota tua, orangorang hendak
Mengabadikan kenangannya—dalam ukiran tato
—dalam sebuah jepretan foto

Sementara aku masih juga bertanya
(bertanya dengan siapa saja atau yang bukan siapa-siapa).
"Apakah di kota tua, sebuah kenangan
bisa ditukar dengan masa depan?"

2012

11.4.12

Perempuan

: Dien Hanif,
  perempuan yang selalu menundukkan pandangan

Apa yang kau lihat dibawah sana perempuan?
Apakah hamparan surga yang rumput-rumputnya
Selalu berzikir menyebut Ia yang Maha Cinta
Ataukah sugai-sungai yang mengalir
Dikelilingi tembok yang amat tinggi?

Ceritakan padaku, perempuan
Ceritakan lagi tentang tempat itu
Dimana setiap nyawa adalah
Remaja dengan kecantikan dan
Ketampanan luar biasa
Dimana ada bidadari dan bidadara
Dengan paras yang sempurna

Sebab aku belum juga mengerti
--belum mampu mengerti
Tentang surga yang ada di pikiranmu

Ajarkan padaku bagaimana
Cara menundukkan pandangan
Agar di bawah sana dapat kutatap matamu
yang berisi tamantaman dengan sejuta gladiola

Ajarkan padaku agar mataku seperti matamu
--seperti mata penyair yang hendak
Menerjemahkan bahwa dunia
Hanya perandaian dengan segala fatamorgana

Oh, bagaimana takdir, kita takkan pernah tahu
Tapi kau selalu bisa menggambar surga
di bawah telapak kakimu

2012