senja bergegas membereskan paniknya
pintu pintu segera ditutup
daun jendela pamit dari nuansa
ibuibu penggosip.
anak anak telah diumumkan untuk berhenti
main, disebabkan matahari telah beranjak
pulang ke barat.
ini adalah pertanda bahwa
segala permainan harus ditunda
aktivitas tandas barang sebentar
ada yang memanggil lebih dari siapapun
ayah mengenakan pakaian terbaik
dan berangkat karena
tak mau ketinggalan shaf pertama
ibu menyiapkan mukena dan melipat
ingatan soal harga sayur dan
obrolan tetangga lalu menyimpannya
di tempat yang jauh dari jangkauan
angan angan
ada yang memanggil lebih dari siapapun
menyadari lagi kita hanya berasal
dari segumpal darah.
manifestasi dari mani yang kotor.
maka biarkan rasa lelah mengering
dan masa lalu berpaling.
bergegaslah untuk panggilan
yang lebih penting
dari apapun
26.1.13
3.12.12
Sisa Kuah Bakso
Seperti malam yang
hendak diterjemahkan
oleh sisa kuah bakso
; langkah yang dingin
dan bekas kelelahan
mengendap lamatlamat di
kelopak mata kita.
Adalah rempah bumbu yang
tak lagi merayu,
helaian bihun menenun
mantra dan tawa.
Ini semacam ulangan
peristiwa beberapa
menit sebelum potongan
hujan
benarbenar jatuh di
selokan.
Nikmat daging bakso
tinggal bayangbayang
yang tak rela dilupakan
Lalu biarkan denting
mangkok lenyap
dalam genangan ember
penjual bakso.
Ia pun tahu, ada
kenangan mengambang disitu.
4.11.12
Jemuran
Malammalam ku dengar lagu
Coldplay
Di beranda rumahku yang penuh jemuran
Penuh baju-baju basah, penuh rinduku yang resah
Going
back to the start..
Gadisku, kau dengarkah lagu Coldplay
itu
Kita akan memulai dari awal,
Aku akan menjawab segala pertanyaanmu
Menyelesaikan mozaik itu
I
was just guessing at numbers and figures
Pulling
the puzzles apart
Jemuran masih bergoyang
Menjuntai
Kemeja, celana dalam, kaoskaki
Kulengkapkan rinduku dan
kesalahanku
Kucuci sebersih jemuran di
beranda rumahku
Nobody said it
was easy..
Maka berikanlah aku waktu
Juga kepada udara yang berbaik
hati
Kepada jemuran untuk sesegera
mengering
Menggenapi tubuhku yang kosong
Yang alpa semata
Gadisku,
kita ini seperti ilmuwan bukan?
Menjawab, dan menjawab pertanyaan
Mengungkap tabir pengetahuan
Seperti rinduku yang tak mau
berkesudahan
Seperti mimpiku yang tak juga
selesai
Maka kita mulailah dari awal,
Seperti Coldplay bilang
Lalu ketika jemuran ini kering,
Ketika kemeja, celanadalam,
kaoskaki menjadi garing
kuharap kau telah kembali padaku
menjadi ilmuwan bersamaku
Jemuran masih bergoyang,
The
Scientist masih mendengung-dengung kencang
2012
23.10.12
yang disisakan hujan semalam
jendela yang berembun,
cangkir dengan sisa ampas kopi,
dan buku yang terbuka entah di halaman berapa
aku masuk ke dalam mimpi paling musykil;
ini adalah rintik hujan terakhir
yang kubenamkan di dadaku
(sebab, esok aku akan serupa hujan
yang jatuh tanpa dikenang siapapun)
2012
Mereka yang Membaca
sebab tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis amatir ketika tulisannya mulai dibaca orang-orang. dan tak ada kata yang paling ingin diucapkan diucapkan selain terimakasih yang begitu dalam.
terimakasih untuk mereka yang telah membaca, semoga bermanfaat :)
14.10.12
Malam Pelarian
Piringan hitam memutar Beethoven,
Ode to Joy
Hatiku terasa klasik,
terasa sudah hidup dari berpuluh tahun lalu
Mendengarnya telingaku payah
: Aku ngantuk sengantuk ngantuk ngantuknya
“Tidur adalah melarikan diri!” Celetuk seseorang di dalam jam dinding
Kurang ajar betul suara itu
Kucoba pejamkan mata lagi
“Tidur adalah melupakan!” Ketus seseorang di balik cahaya lampu
Bodoh betul yang berkata seperti itu
Aku tak melarikan diri, aku tak pernah melupakan!
Kalian tak tahu, hatiku sakit sesakit sakit sakitnya
Piringan hitam memutar Beethoven,
Memutar kesakitan yang klasik berulangulang
2011
8.10.12
melankoli kamar kos
: buat yulliza
piuh kipas angin, detak jam, dinding muram
sejauh tatapanku hanya langitlangit plafon
yang berderik. engkau dimana?
udara yang berhembus dari jendela
adalah kabar bahwa hujan tak turun,
jalanan akan kering dan
aku masih sibuk mencari tempat
dimana rindu akan disemayamkan
; di kolong meja, bawah bantal atau
dalam vas bunga. entah yang mana
tubuhku pernah berencana
untuk sampai padamu
namun jalan selalu pintas dan buntu
mengapa harus mencari
mengapa harus datang dan pergi--
sedang di luar --kucingkucing liar, sonet murahan,
pekikan anjing tetangga barangkali akan
membantah keimananku lagi pada kesunyian
waktu waktu berguguran
sedang masadepan kita tak satupun tertuliskan
2012
piuh kipas angin, detak jam, dinding muram
sejauh tatapanku hanya langitlangit plafon
yang berderik. engkau dimana?
udara yang berhembus dari jendela
adalah kabar bahwa hujan tak turun,
jalanan akan kering dan
aku masih sibuk mencari tempat
dimana rindu akan disemayamkan
; di kolong meja, bawah bantal atau
dalam vas bunga. entah yang mana
tubuhku pernah berencana
untuk sampai padamu
namun jalan selalu pintas dan buntu
mengapa harus mencari
mengapa harus datang dan pergi--
sedang di luar --kucingkucing liar, sonet murahan,
pekikan anjing tetangga barangkali akan
membantah keimananku lagi pada kesunyian
waktu waktu berguguran
sedang masadepan kita tak satupun tertuliskan
2012
28.9.12
Buku Antologi Puisi JANUARI JERAMI
Pada hari rindu, kuturut payah ke kota
Naik dendam istimewa ku duduk di luka
Ku duduk samping pak gusar yang sedang gulana
Mengendarai kata supaya pahit deranya
Hei...!!
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk tik tak
Suara spatu duka..!
(Nyanyian Putus Asa, 2011)
Telah terbit buku antologi puisi JANUARI JERAMI.
Ini adalah buku kumpulan puisi tunggal pertama karangan Asmi Norma Wijaya. Dengan mengadopsi dari blognya JANUARI JERAMI yang dibuat pada tahun 2011. Buku ini menjadi sebuah langkah yang berarti dalam kegiatannya berpuisi. Dengan 75 puisinya dari tahun 2010 hingga tahun 2012.
Harga per-buku : Rp. 33.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Jumlah halaman : Rp. 126 halaman (hitam putih dengan kertas novel)
Pemesanan bisa melalui penulisnya langsung di wall/inbox akun facebook Amee Widjaja atau melalui admin@nulisbuku.com dengan mencantumkan nama dan alamat. Pengiriman buku melalui Pos atau JNE dengan membayar terlebih dahulu biaya transfer pembelian per-buku dengan ongkos kirim (menyesuaikan dengan alamat),
ke nomor rekening BNI : 0152 7550 72 a.n Asmi Norma Wijaya
Suatu persembahan sederhana dari airmata kepada kata, dari sunyi kepada puisi, juga upaya untuk menjatuhkan rintikrintik sajak kepada dada yang mencintainya.
Sebuah rumah sederhana yang bisa dikunjungi oleh siapa saja yang merindukan puisi sebagai tempat kepulangan.
Selamat membaca, anggap saja rumah sendiri :)
**
BAGI saya, sebutlah saya seorang narablog, bertemu sebuah blog yang bagus itu seperti tersesat ke sebuah taman bunga. Saya pasti akan sering berkunjung ke sana, dan tentu di kali lain itu, saya tidak tersesat lagi. Saya - sebagaimana para narablog lain, sesekali mengajak orang lain juga menyesatkan diri ke taman bunga itu. Hari ini, saya temukan blog Januari Jerami. Sebuah blog yang diuraikan oleh Asmi Norma Wijaya pemiliknya dengan kalimat ini: Puisi dan cerita dan sebagainya tak akan pernah cukup, seperti bulan Januari yang mempertemukan aku pada nasib di tumpukan jerami. Apa alasan saya untuk tidak kembali ke taman bunga eh blog ini? (Hasan Aspahani - www.sejutapuisi.com)
Naik dendam istimewa ku duduk di luka
Ku duduk samping pak gusar yang sedang gulana
Mengendarai kata supaya pahit deranya
Hei...!!
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk tik tak
Suara spatu duka..!
(Nyanyian Putus Asa, 2011)
Telah terbit buku antologi puisi JANUARI JERAMI.
Ini adalah buku kumpulan puisi tunggal pertama karangan Asmi Norma Wijaya. Dengan mengadopsi dari blognya JANUARI JERAMI yang dibuat pada tahun 2011. Buku ini menjadi sebuah langkah yang berarti dalam kegiatannya berpuisi. Dengan 75 puisinya dari tahun 2010 hingga tahun 2012.
Harga per-buku : Rp. 33.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Jumlah halaman : Rp. 126 halaman (hitam putih dengan kertas novel)
Pemesanan bisa melalui penulisnya langsung di wall/inbox akun facebook Amee Widjaja atau melalui admin@nulisbuku.com dengan mencantumkan nama dan alamat. Pengiriman buku melalui Pos atau JNE dengan membayar terlebih dahulu biaya transfer pembelian per-buku dengan ongkos kirim (menyesuaikan dengan alamat),
ke nomor rekening BNI : 0152 7550 72 a.n Asmi Norma Wijaya
Suatu persembahan sederhana dari airmata kepada kata, dari sunyi kepada puisi, juga upaya untuk menjatuhkan rintikrintik sajak kepada dada yang mencintainya.
Sebuah rumah sederhana yang bisa dikunjungi oleh siapa saja yang merindukan puisi sebagai tempat kepulangan.
Selamat membaca, anggap saja rumah sendiri :)
**
BAGI saya, sebutlah saya seorang narablog, bertemu sebuah blog yang bagus itu seperti tersesat ke sebuah taman bunga. Saya pasti akan sering berkunjung ke sana, dan tentu di kali lain itu, saya tidak tersesat lagi. Saya - sebagaimana para narablog lain, sesekali mengajak orang lain juga menyesatkan diri ke taman bunga itu. Hari ini, saya temukan blog Januari Jerami. Sebuah blog yang diuraikan oleh Asmi Norma Wijaya pemiliknya dengan kalimat ini: Puisi dan cerita dan sebagainya tak akan pernah cukup, seperti bulan Januari yang mempertemukan aku pada nasib di tumpukan jerami. Apa alasan saya untuk tidak kembali ke taman bunga eh blog ini? (Hasan Aspahani - www.sejutapuisi.com)
31.8.12
Rumah Penghabisan
Debur ombak, batu karang,
dan angin pantai
Adalah halhal yang membikin kita lumrah
Adalah kesepakatan yang membuat kita parah
Sedang angan-angan akan pasrah
di bawah temaram lampukota
Langit akan membantah
Untuk dilewatkan dan jatuh dengan telak
Di sepasang mata kita yang berjarak
Barangkali hidup hanyalah
Perkara meninggalkan dan ditinggalkan
Sedang senjata kita hanyalah
Kerinduan yang kita rebut
Dari piuh angin malam yang berdesir
Di pasirpasir bibir pantai
Namun jarak atau apapun itu
Tak akan sanggup menjelma amarah,
—Tanggaltanggal akan pecah
Dan kita adalah pemenang dari segala—
Aku percaya itu sebagaimana
Aku mempercayai bahwa kau
Akan kembali menjadi sajaksajak
yang tabah memaklumi
Aku merasa tunai sejak mengenalmu
Dan kasmaran yang kulewati diamdiam
Adalah kesimpulan bahwa ini
Bukanlah mainmain kita yang sementara
Aku takkan kemana-mana
Kau selalu tahu harus mengunjungiku
Dimana. Sebab akulah rumahmu,
Akulah kepulangan dimana kau bisa
beristirahat lebih nyaman
Dan apabila kelak kau tersesat
Maka cukuplah aku sebagai mata angin
Yang tak pernah merubah arah
2012
27.8.12
Semacam Perayaan
Di penghujung tanggal yang kami
yakini adalah sebuah perayaan
Kami berusaha bahagia
Kami berusaha bahagia
Dan
saling melupakan keburukan masingmasing
Ada yang menangis diantara kami
Barangkali sedang teringat kesalahan
Yang terlampau sulit dimaafkan
Kesalahan kecil, kesalahan besar
Mungkin hanya butuh ukuran keikhlasan yang berbeda
Di tubuh baru ini, barangkali masih ada sisa
Kekesalan atau sisa-sisa kepedihan yang belum mampu
dilenyapkan
Maka atas nama kemenangan
Biarlah masa silam mengering, tak perlu dihitung
Berapa dosa, beraba sebab dan akibat,
Kerugian dan remeh temeh salah ucap
Kami yang pernah saling menyakiti
Kelak akan tetap mengasihi
Tuhan selalu ada dimanapun kebaikan dirayakan
Ada yang menangis diantara kami
Barangkali sedang teringat kesalahan
Yang terlampau sulit dimaafkan
Kesalahan kecil, kesalahan besar
Mungkin hanya butuh ukuran keikhlasan yang berbeda
Di tubuh baru ini, barangkali masih ada sisa
Kekesalan atau sisa-sisa kepedihan yang belum mampu
dilenyapkan
Maka atas nama kemenangan
Biarlah masa silam mengering, tak perlu dihitung
Berapa dosa, beraba sebab dan akibat,
Kerugian dan remeh temeh salah ucap
Kami yang pernah saling menyakiti
Kelak akan tetap mengasihi
Tuhan selalu ada dimanapun kebaikan dirayakan
2012
Kalian Adalah Doa Masa Silam yang Tak Habis Diaminkan
Kita punya waktu bicara
yang terbatas sebelum anganangan
Membawa kita lagi pada malam yang panjang
Atau kita bahkan punya kerinduan yang belum
Sempat diselesaikan, bahkan saat jarum jam
Telah menginjak angkaangka ganjil
Aku berharap tak disadarkan oleh kenyataan
Bahwa kesibukan adalah musuh paling nyata
Untuk kita tebas dengan punggung kita yang curam
Kalian adalah doa masa silam yang
tak akan pernah habis kuaminkan
Ingin kudekap satusatu tubuh yang lampau itu
Yang pernah dan masih selalu baik padaku
Yang pernah dan masih tetap tertawa padaku
Lalu katakata barangkali adalah sebuah keengganan
Untuk kucairkan pada panorama di sebuah tempat yang
Masih setia menyimpan nama kita
Aku barangkali hanya akan jadi daundaun
Yang senantiasa gugur, tapi kalian adalah kesepakatan yang
Membuatku ingin terus hidup tanpa pernah luntur
Kita selalu mencari kesempatan bertemu yang tepat
Agar keberangkatan dan kepergian akan sepakat
Mensiasati keinginan yang barangkali kelewat egois, atau
Harapan yang kelewat pesimis
Aku tak ingin selesai, aku tak ingin sebuah kenangan
Punah oleh waktu yang tanggal di tahun-tahun perpisahan kita
Di luar dingin, aku ingin kita tak pernah sendirian
Membawa kita lagi pada malam yang panjang
Atau kita bahkan punya kerinduan yang belum
Sempat diselesaikan, bahkan saat jarum jam
Telah menginjak angkaangka ganjil
Aku berharap tak disadarkan oleh kenyataan
Bahwa kesibukan adalah musuh paling nyata
Untuk kita tebas dengan punggung kita yang curam
Kalian adalah doa masa silam yang
tak akan pernah habis kuaminkan
Ingin kudekap satusatu tubuh yang lampau itu
Yang pernah dan masih selalu baik padaku
Yang pernah dan masih tetap tertawa padaku
Lalu katakata barangkali adalah sebuah keengganan
Untuk kucairkan pada panorama di sebuah tempat yang
Masih setia menyimpan nama kita
Aku barangkali hanya akan jadi daundaun
Yang senantiasa gugur, tapi kalian adalah kesepakatan yang
Membuatku ingin terus hidup tanpa pernah luntur
Kita selalu mencari kesempatan bertemu yang tepat
Agar keberangkatan dan kepergian akan sepakat
Mensiasati keinginan yang barangkali kelewat egois, atau
Harapan yang kelewat pesimis
Aku tak ingin selesai, aku tak ingin sebuah kenangan
Punah oleh waktu yang tanggal di tahun-tahun perpisahan kita
Di luar dingin, aku ingin kita tak pernah sendirian
2012
9.8.12
sebuah tulisan yang menyimpan kau
kita pernah berkenalan di suatu musim yang
sebelumnya tak pernah kita duga. kau datang dari kota yang teramat jauh jaraknya.
di ruang pameran, dengan cahaya lampu temaram; kau
tanya siapa namaku,
aku menjawab dan tak balik bertanya,tapi kau
menyebutkan namamu dengan nada bicara yang asing. aku merasa darisinilah cerita
akan bermula.
malam itu dingin, aku merasa ingin selesai, namun
kesibukan-kesibukan
adalah jadwal yang tak bisa sama sekali
kulewatkan sampai akhirnya kau mulai menceritakan sejarah. aku bahkan tak tahu mengenai sejarah.
ingatanmu masih baik tentang berbagai muasal
yang tumbuh di kotamu. sejarah, selalu ada yag tercatat dan mau tak mau
dilupakan.
tapi begitulah pengalaman barangkali adalah
hal-hal yang membuatmu bertahan.
diamdiam aku sedikit memujimu, kupikir itu
perlu agar aku tak banyak membenci perkataanmu yang terkadang kupikir sok tahu.
lalu kerinduanmu terhadap sosok itu, aku
mengerti, sungguh bilamana kulihat ia yang diam berdamai di ruang pameran. lagu
pengantar, malam yang panjang, cahaya-cahaya lampu yang samar menerangi wajahku
dan wajahmu. ah, kita seperti sedang berada pada masa depan, tanpa sebelumnya melewati
masa lalu.
sungguh, aku tak ingin terlihat gugup tapi
kudapati tanganku gemetar ketika memotong
berbagai peralatan. kau menangkap kecemasanku,
lalu kau memberi tahu cara ini dan itu. aku mengangguk. maaf, mungkin akulah yang sok
tahu.
kupikir malam benarbenar akan panjang dan pagi
akan melarikan diri. aku terbiasa sendirian, dan tak perlu dibantu. kau bisa
pergi dan tak usah kembali.
tapi entah atas apa, pamit yang kau ucapkan
sedikit menyesakkan. mungkin kau bisa tinggal beberapa hari lagi disini, kau
boleh menceritakan sejarah, sejarah apapun, tapi apa yang bisa diperbuat
kenangan jika takdir sudah diciptakan.
di hari berikutnya kau berkata; suatu saat
nanti kita pasti juga akan bertemu lagi. mungkin di kotamu, di kotaku, atau
barangkali di kota lain.
aku belajar untuk punya ingatan yang baik
setelah kepulanganmu. sebab seperti yang kita ketahui; yang melupakan akan juga
dilupakan, bahkan lebih lama.
2012
1.8.12
Melankoli Pagi Hari
pagi ini adalah keheningan yang merangkak
dari bibir cangkir ke bibirku, melumerkan kelu
dalam sebuah waktu yang jarumnya berkejaran
dan angka-angka berhamburan.
sementara aku belum juga beranjak.
tibatiba aku ingin bertanya entah pada siapa.
kerinduan macam apa yang kau inginkan?
yang biasabiasa atau yang dibiasakan
yang diamdiam atau yang didiamkan.
yang belum habis kurapalkan.
sepertinya nasib akan patuh pada waktu
:buku yang tergeletak dengan halaman terbuka,
udara yang hangat, dan siul burung parkit
di luar beranda.
aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.
tiba-tiba aku hendak bertanya lagi, entah pada siapa
pertemuan macam apa yang kau inginkan?
yang biasa saja atau yang tidak biasa
yang diamdiam atau yang dibicarakan.
aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.
2012
dari bibir cangkir ke bibirku, melumerkan kelu
dalam sebuah waktu yang jarumnya berkejaran
dan angka-angka berhamburan.
sementara aku belum juga beranjak.
tibatiba aku ingin bertanya entah pada siapa.
kerinduan macam apa yang kau inginkan?
yang biasabiasa atau yang dibiasakan
yang diamdiam atau yang didiamkan.
di langit aku melihat jelaga yang tak disengaja
buruburu kurampungkan doa sisa semalamyang belum habis kurapalkan.
sepertinya nasib akan patuh pada waktu
:buku yang tergeletak dengan halaman terbuka,
udara yang hangat, dan siul burung parkit
di luar beranda.
aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.
tiba-tiba aku hendak bertanya lagi, entah pada siapa
pertemuan macam apa yang kau inginkan?
yang biasa saja atau yang tidak biasa
yang diamdiam atau yang dibicarakan.
aku ingin pagi yang lain. aku ingin kesepakatan-
kesepakatan itu tidak lagi mangkir.
2012
Subscribe to:
Posts (Atom)




