Mobil kami adalah mobil tua yang mesin pendinginnya hanya akan terasa saat pagi hari saja. Menjelang siang ketika di perjalanan pulang, keponakanku terus mengeluh gerah dan kepanasan. "Sabar" kataku. "Ini sudah sabar." Jawabnya. "Sabar itu disimpan di dalam hati." Kataku lagi. "Ini juga sudah disimpan di dalam muka." Jawabnya tak mau kalah.
12.6.15
4.6.15
Menjadi Anak Yang Baik Sebelum Menjadi Orang Tua Yang Baik
Bismillahirrahmanirrahim.
Saya awali hidup saya dengan
kesyukuran saya yang luar biasa pada Allah swt. Telah dilengkapilah kepada diri
saya saudara-saudara yang menemani dan menyayangi saya. Orang tua yang berpuluh
tahun merawat saya. Juga dikarunikan anak-anak yang mengajarkan saya ketabahan
dan kesyukuran. Sehingga sedikit demi sedikit saya pun mulai belajar tentang
ilmu parenting. Baik dari hikmah, pengalaman, maupun tindakan langsung.
Yang pertama, hikmah tentang
seorang keluarga dengan ibu dan ayah yang bekerja. Barangkali tak ada yang
menginginkan keadaaan semacam itu. Mengingat anak adalah titipan dari Allah,
yang tidak sepatutnya dititipkan lagi (baik kepada pengasuh maupun kepada
saudara). Seorang wanita yang sibuk bekerja, atau sibuk menuntut ilmu di luar
rumah, atau sibuk mengajarkan ilmu di luar rumah hingga waktunya lebih banyak
dihabiskan di luar rumah. Tidak akan jauh lebih baik dari seorang wanita yang
mampu mengurus rumah tangganya, dicintai suaminya, dan disayangi oleh
anak-anaknya.
Kebutuhan anak mungkin tercukupi
secara materiil, tetapi tidak tercukupi dalam memorinya mengenai kasih sayang
bersama orang tua. Selama ini yang terkenal di masyarakat hanya sebutan anak
durhaka, tapi tidak ada sebutan untuk orang tua durhaka. Sebenarnya kedurhakaan
orang tua bisa terjadi lebih dulu sebelum anak itu berdurhaka kepada orang
tuanya. Pertama ketika anak tidak tidak diberikan nama yang baik, kedua ketika tidak
diajarkan ilmu Al-Qur’an, ketiga tidak diberikan kasih sayang.
Sama halnya dengan tiga kewajiban
ayah pada anaknya. Pertama menanamkan tauhid, sampai anak mengucap dan
menghayati bahwa Tuhan yang disembah adalah Tuhan ayah. Kedua, menjauhkan anak
dari syirik, yaitu perbuatan menyembah sesuatu kepada selain Allah. Ketiga, mengajarkan
untuk tunduk dan patuh kepada syari’at. Teorinya seperti itu, tapi akan sulit
ketika menjalaninya langsung. Banyak fenomena ayah gagal, tidak bertanggung
jawab terhadap anaknya dan lebih mengikuti nafsu duniawinya. Sudahkah para ayah
mempertanyakan kepada dirinya apakah ia sudah bertanggung jawab kepada anaknya.
Ketika dua orang memutuskan untuk
menikah. Secara otomatis, mereka juga harus mampu bertanggung jawab terhadap
pilihannya. Bertanggung jawab untuk menjalani syari’at pernikahan dan bertanggung
jawab terhadap amanah Allah yang telah dianugerahkan kelak kepadanya. Memang tidak
ada yang salah dalam mengejar cita-cita. Yang salah adalah melupakan bahwa
orang tua juga semakin renta dan menua. Tidak ada yang salah dalam mencari
rizki. Yang salah adalah melupakan caranya mencari rizki dengan cara yang
diridhoi Allah swt.
Kedua, hikmah tentang seorang ibu yang merawat anaknya sendiri dan ayah yang menafkahi tanpa melupakan kecukupan untuk anak dan istrinya. Ibu yang bekerja akan lebih tidak bisa fokus dalam mengurus rumah tangga dan anaknya. Setengah pikirannya masih lelah karena pekerjaan di luar rumah. Hingga tidak mempersiapkan hal-hal yang benar dibutuhkan oleh anak. Yaitu masa keemasan (usia 0-2 tahun) yang sepatutnya diisi dengan edukasi. Mempersiapkan anak untuk hidup di masa yang akan datang, mengajak anak untuk berbicara, menceritakan segala sesuatu yang dialami atau dirasakannya.
Ibu yang fokus merawat anaknya
akan lebih mudah membentuk anaknya sesuai dengan ketentuan syari’at. Anak pun
tidak akan gampang rewel dan membangkang. Kasih sayangnya tercurah sepenuhnya
untuk anak sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap Allah. Berbeda dengan
seorang ibu yang menitipkan anak kepada pengasuh. Anak cenderung lebih dekat
kepada pengasuh daripada ibunya sendiri. Pengasuh pun belum jelas diketahui
apakah mempunyai edukasi unuk mengurus anak atau tidak. Bukan hanya soal lihai
memandikan, memberi makan atau mengajaknya tidur tepat waktu. Soal itu mungkin
sudah tidak perlu diragukan lagi. Tapi sudahkah pengasuh benar benar mengetahui
bagaimana cara membentuk perilaku anak yang berbudi luhur dan memberikan
pondasi agama sejak dini.
Barangkali itulah yang bisa saya
tulis dan saya coba pahami sedikit demi sedikit. Berbagi hikmah dan pengalaman
tanpa bermaksud menggurui atau mencari cela dalam hidup orang lain. Ada kalanya
kita perlu saling membuka diri, untuk mengoreksi kekurangan diri dan menerima
masukan yang baik. Saya hanya teringat kisah mengenai Uwais Al- Qorni yang
dikenal dan dikagumi oleh penduduk langit tapi jarang ada penduduk dunia yang
mengenal dirinya. Uwais sangat mencintai dan berbakti kepada ibunya. Kemana
mana ia menggendong ibunya yang lumpuh dan dengan telaten merawatnya. Sampai
ketika keinginannya untuk bertemu Nabi Muhammad saw telah memuncak dan ia pun izin kepada ibunya untuk menemui Rasul ke Madinah, namun sesampainya di Madinah ia tidak bertemu dengan Rasul karena Rasul sedang berperang kala itu.
Uwais pun kembali pulang kepada ibunya. Setelah itu Rasul mengatakan bahwa Uwais adalah penghuni langit walaupun tidak terkenal di bumi. Subhanallah. Sebelum
menjadi orang tua, cintailah dulu orang tua kita. Jika cinta mereka sudah kita
genggam, maka Allah akan mencintai kita bagaimanapun caranya. Namun kini banyak
yang salah mengartikan cintaNya Allah dan menganggap bahwa kasih sayang orang
tua hanya berupa benda benda saja, hanya berupa materiil saja. Tanpa menyadari
bahwa hidup kita adalah kelindan skenario terbaik yang telah dirancang Allah
sedemikian rupa karena kasih sayangNya.
Jika kita sendiri sukar merasa
bahwa kita adalah produk terbaik dari orang tua, maka maafkanlah mereka. Jangan
membalas dengan mendurhakainya. Orang memang jauh lebih mudah mengingat hal
buruk yang dilakukan orang tua ketimbang hal buruk yang sudah kita lakukan
kepada orang tua. Ingatlah kebaikannya, berapa tahun sudah ibu setia memasak
makanan untuk kita, memandikan, bangun malam di sela sela tidurnya ketika kita
menangis karena lapar atau digigit nyamuk. Berapa puluh tahun sudah doa doa
yang sudah dipanjatkan mereka untuk kebaikan kita. Tidak ada orang tua yang
sempurna, pun tak bisa kita bersikap sempurna.
Ingatlah Umar Bin Khattab yang
lahir tanpa edukasi dari orang tua yang muslim. Namun Islam mampu membentuk
kepribadiannya menjadi sahabat Rasul yang penuh teladan. Begitupun seharusnya,
Islam menjadi panduan yang sempurna untuk hubungan dengan Allah maupun dengan sesama.
Rasul pun menyuruh kita menghormati ibu sebanyak tiga kali lalu menghormati
ayah sebagai yang keempat, padahal Rasul dilahirkan dalam keadaan yatim piatu,
tanpa pernah merasakan kasih sayang dari ayah dan ibunya.
Tidak akan mendapat rezeki yag baik dari Allah jika seorang anak berhenti mendoakan ibu dan ayahnya. Semoga kita dicatat sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua
sehingga bisa dikumpulkan bersama ke dalam JannahNya. Aamiin..
HIJRAH
: Untuk mereka yang mencari dan terombang ambing dalam pencariannya.
Hijrah adalah perpindahan yang
bertujuan untuk suatu kebaikan. Pada umumnya hijrah dilakukan dengan
perpindahan dari satu tempat menuju ke tempat lain yang lebih baik. Seperti
yang dilakukan oleh Rasulullah saw yang hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rasul
bersama sebagian dari pengikutnya hijrah dengan tujuan menyelamatkan diri dari
tekanan Kaum Kafir Quraisy.
Hijrah juga dilakukan karena sebuah alasan yang
menyebabkan seseorang tidak menjadi lebih baik. Sehingga ia akhirnya memutuskan
untuk berhijrah. Dalam hal itu bisa juga disebut dengan transformasi hati. Transformasi hati adalah
perpindahan hati dari hati yang kotor menjadi hati yang bersih. Setidaknya
berusaha untuk selalu dan terus menerus membersihkan hati dari kotoran-kotoran
nafsu duniawi. Perjalanan untuk transformasi hati bukanlah perjalanan yang
mudah, melainkan dipenuhi kerikil hingga batu batu besar sepanjang perjalanan
hijrah ini.
Tidak mudah seseorang memutuskan untuk bisa berhijrah, melainkan dibutuhkan usaha-usaha untuk
terus mendekat kepada sesuatu yang lebih baik. Dibutuhkan niat yang kuat untuk
membentengi diri dari hal hal yang bisa merusak proses hijrah. Dibutuhkan
konsistensi terhadap komitmen yang telah dibuat dalam berhijrah.
Allah tidak akan mengubah keadaan
suatu kaum, kecuali kaum itu yang mengubah diri mereka sendiri. Lihatlah, bahwa
hidayah tidak datang dengan sendirinya, melainkan dari orang yang mencarinya.
Lantas apa yang menyebabkan seseorang bisa mulai melakukan pencarian terhadap
hidayah? Banyak hal yang melandasinya, seperti musibah yang tidak diduga-duga,
kekosongan hati, peristiwa alam, atau ilmu pengetahuan.
Seseorang yang berpikir tentu akan berbeda
dengan seseorang yang tidak berpikir. Seseorang yang mengambil pelajaran dari
suatu peristiwa juga tentu berbeda dengan seseorang yang berlalu begitu saja. Seseorang berpikir karena
merasakan ada sesuatu yang rasanya tidak pas di hatinya, tidak masuk di
akalnya, tidak selaras dengan pikirannya. Maka ia mulai berpikir tentang kebenaran yang mutlak,
kebenaran yang hakiki dan sejati. Seperti syair seorang sufi yang sudah
termahsyur, Jalaluddin Rumi:
“Biarlah akalmu melayang, menerawang segala realitas. Tentu pasti ia
akan mendarat di altar kebenaran. Biarlah hatimu menyelam, mendalami segala
kejadian. Niscaya ia akan berlabuh di dermaga kearifan.”
Namun tidak patut seseorang yang
sudah memutuskan untuk berhijrah dan terbolak balik hatinya lantas bersedih.
Sebab memang begitulah dinamika dari skenario Allah yang memberi ujian demi
ujian sebagai tanda kasih sayangNya. Allah mencintai hamba-hambanya dengan cara
memberikan ujian-ujian kepada hambaNya. Bisa berupa ujian yang nyaman
(kesehatan, kekayaan, banyak teman, jabatan), atau bisa berupa ujian
ketidaknyamanan (rasa lapar, takut, kehilangan). Apapun itu adalah untuk
kebaikan untuk diri kita.
Seseorang yang lemah adalah
seseorang yang tidak tahan terhadap ujian. Akan keluar dari mulutnya satu
persatu mengenai keluhan, menyalahkan orang lain dan menyalahkan takdir Allah. Orang
yang lemah akan lahir di hatinya kekecewaan, kemarahan yang dapat membinasakan
pikiran dan jiwanya.
Sementara orang yang kuat adalah
orang yang bersabar. Bersabar bukan pula hanya bersabar, melainkan bersabarlah
yang banyak. Orang orang yang sabar bukan berarti tak ada penolakan terhadap
takdir. Di hatinya bisa saja ada sedikit penolakan, namun ia memutuskan untuk
tidak mengekspresikan penolakan itu ke luar dirinya. Orang bersabar adalah ia
yang tidak mengeluh dan menyalahkan takdir Allah. Diibaratkan seperti seseorang
yang sedang melihat duri, lantas sudah membayangkan bunga mawar.
Jika sudah bersabar yang banyak,
maka akan lahir penerimaan. Sebuah sikap keridhaan atas apa yang telah Allah
tetapkan terhadap garis garis kehidupan yang manusia jalani.
“Pena – pena penulis takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran takdir
telah kering.” potongan hadist Rasulullah dalam riwayat Tirmidzi dan Ahmad tersebut
adalah tanda bahwa takdir Allah adalah sebaik-baik takdir.
Maka terimalah segala takdir yang
telah Allah rancang sedemikian baiknya. Karena penerimaan terhadap takdir Alah akan
menyuburkan rasa syukur, sehingga hari hari yang selama ini terasa kering akan
menjadi sejuk dengan rasa keberuntungan akan kasih sayangNya. Beruntunglah orang orang yang dilahirkan dengan keyakinan yang
sudah ditanamkan oleh ayah dan kakeknya. Beruntung pula orang – orang yang
diberi keinginan untuk mencari dan mengenal hakikat dirinya.
Ketika kamu terlalu lelah
mengejar dunia ini, sesekali tanyakan kepada hatimu, untuk apa aku diciptakan?
Siapa yang menciptakanku? Apa tujuanku hidup di dunia ini? Bayangkanlah, setiap
hari 360 sendi kita bergerak, setiap
hari paru paru kita menarik nafas sebanyak 23.000 kali. Pernahkah kita berpikir
siapa yang tengah mengurus dan memelihara kita tanpa pernah luput sedetikpun?
Dan di jalan yang bagaimana kita sedekahkan nikmat Allah yang banyak itu?
Mengenal diri bukan hanya sebatas
lancar menulis biodata, nama lengkap, tanggal lahir, agama, alamat, dan
lain-lain. Mengenal diri lebih dari itu semua. Belajarlah filosofi diri dan
temukanlah dirimu yang sebenarnya. Sirami jiwamu dengan nutrisi agama, sinari
pikiranmu dengan cahaya ilmu akhirat dan dunia, isi badaniahmu dengan berbagi
kepada sesama. Berhijrahlah dengan sesabar sabarnya perasaan dan sekuat-kuatnya
keyakinan. Barangsiapa yang mengenal dirinya, tentu pasti kenal juga akan
Tuhannya.
Dunia tak lain hanya tempat kita
menumpang sebentar. Bagaimana mungkin kita yang menumpang namun tidak mau
mengikuti peraturan dari yang punya tumpangan? Bagaimana mungkin kita hidup di
bumi Allah namun tidak mau mentaati peraturan Allah? Allah tak pernah
kemana-mana, ia selalu ada di hati kita. Kita lah yang selama ini meninggalkannya.
Wallahu ‘alam..
26.5.15
Persis Ketika Aku Hampir Pergi
Persis ketika aku hampir pergi
Melayangkan kayuhku ke permukaan air
Dan mencelupkannya bersama gelisahku yang terapung-apung
disana
Hendak kemanakah aku?
Atau lebih tepatnya hendak kemanakah arus akan membawaku?
Ke masa lalu atau kah ke masa depan yang belum juga
kumengerti
Namun telah tertuliskan dengan rapi
Ada atau tidak ada
Bukankah sama saja semuanya?
Ada adalah tiada
Dan ketiadaanlah yang menciptakan ada
Sebab itu..
Sebab itulah
Tiada yang pernah ada selain yang tiada
Tiada Tuhan selain Allah
Aku bersaksi
Persis ketika aku hampir saja pergi
Kau menarik tanganku
Sangat erat seperti tak mau kehilangan aku
Kurasakan tanganmu mengajakku kembali
Siapa aku?
Selalu peduli rupanya Engkau padaku
Yang telah kulupa sekian lama
Kenapa?
Oh aku tahu,
Mungkin karena Engkau MahaPengasih
Juga MahaPenyayang
Tak kau hukum aku
Melainkan mengasihi aku
Menyayangi Aku
Persis ketika aku hampir saja pergi
Kau mengajakku bicara dalam kitab suciMu
Dan aku bicara padaMu dalam malam-malamku
Persis ketika aku hampir saja pergi
Kau mengajakku kembali
Ke dermagaMu
27.4.15
Migrain oh Migrain
Kutulis apa yang kurasakan untuk diriku yang sedang bersedih karena terkena migrain. Dan untuk diriku yang sedang berbahagia karena cicilan laptopku akhirnya lunas.
Ini kali pertamanya aku terkena migrain dalam hidupku, seakan ada sesuatu yang hidup di kepala bagian kanan belakang. Hal ini tentu sangat mengganggu ketika migrainku sedang parah-parahnya, tapi aku sudah kadung janji dengan seorang teman untuk hadir sebagai juri lomba melukis di acaranya.
Sedang menjuri kepala berdenyut, sedang bicara kepala berdenyut. Sedikit kuhentak-hentakkan telapak tanganku ke kepala, berharap migrain itu akan reda. Namun bukannya menjinak, migrain itu seakan bertambah liar. Semakin aku melawannya, migrain itu seperti ikut melawan juga, malah galakan dia.
Sepulang jadi juri, migrainku bertambah parah, obat yang kuminum pun tak mempan untuk mengatasi migrain ini. Kubawa shalat, itu pun tak khusyuk karena rasa sakit yang tak karuan.
Lalu aku sedikit berpikir (karena jika terlalu banyak, aku khawatir migrain ini malah semakin menjadi.). Aku sedikit berpikir, bahwa ternyata aku lupa mengenai Law of Atrraction, hukum keikhlasan kuantum di alam semesta. Tidak seharusnya aku melawan dan bersedih atas apa yang telah Tuhan beri, walaupun itu dalam bentuk migrain. Karena ketika migrain itu berdenyut, sontak mulutku pasti langsung menyebut, istighfar-istighfar.. Bukankah itu bagus?
Lalu aku aplikasikan kemampuan berserahku dengan menantang migrain itu. Kali ini aku tidak melawannya, tapi aku persilahkan ia datang ke kepalaku. Migrain, datanglah.. Aku tidak takut. Akan kutanggung dirimu dengan keikhlasanku padaNya. Sang Maha Pemberi Migrain.
Benar saja, migrain itu semakin sering datang. Ternyata ia memenuhi panggilanku. Sudah 2 hari migrain masih singgah di kepala bagian kanan belakang. Ternyata ia tidak mempan oleh kepasrahanku. Barulah kusadari, mungkin aku belum benar-benar ikhlas dan pasrah. Toh nyatanya aku jadi berat berdiri melaksanakan shalat karena migrain itu.
Lalu aku berpikir lagi, kali ini sedikit kuperbanyak pikiranku. Ya, sekarang aku tahu apa yang akan kulakukakan. Melawan migrain itu dan menyerahkan skornya kepada "sang Wasit". Allah Ta'Ala.
Sebelum tidur di malam hari aku berdoa "Ya Allah terima kasih telah mengizinkan aku berbaring di malam ini untuk melepas lelah. Aku ikhlaskan migrain ini menimpaku, aku bahagia sebab jadi tahu bagaimana rasanya migrain itu. Tapi seandainya boleh memilih, tolong angkat migrain ini dari kepalaku dan jadikan sebagai penggugur dosa baginya. Serta bangunkan aku pada pukul 2 malam nanti, aku ingin sujud dan berdoa padaMu."
Pukul 02.00 tepat aku bangun. Luar biasa, Allah mengabulkan do'aku. Tapi rasanya aku tak sanggup menahan kantuk hingga aku pun tertidur lagi. Memang kurang ajar betul hambaMu yang satu ini. Sudah meminta dan dikabulkan, malah ngaret. Satu jam kemudian aku baru benar-benar bangun, aku telat satu jam dari perjanjianku dengan Tuhan.
Dan di malam ini aku merasa benar-benar kurang ajar, dalam do'aku aku meminta banyak sekali. Shalat 4 rakaat, mintanya banyak sekali. Tapi malam itu, aku benar benar bahagia.
Di pagi harinya, entah kenapa tidak ada yang berarti, kepalaku masih migrain, tapi aku mencoba untuk mengalihkan pikiranku pada hal hal yang menyenangkan dan melupakan bahwa aku sedang migrain.
Siang harinya aku minum obat lagi, lalu sorenya migrainku pun akhirnya mulai mereda. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. Kini aku tahu rahasianya hidup ini : Semakin kuat keinginanku akan sesuatu, semakin kuat pula aku harus mengikhlaskan sesuatu itu.
-Ditulis dari laptop yang cicilannya sudah lunas. Jakarta, 27 April 2015-
5.4.15
berharap Tuhan
Kutanggung penderitaan dan cobaan dunia karena kecintaanku
pada Engkau
Kulepas pula beban yang melekat di punggungku karena taatku
padaMu
Bukankah tiada surga kecuali surga yang dipagari oleh
ketidaksenangan?
Maka bahagiaku sebab pertahananku dari pedihku demi
menujuMu.
Jakarta, April 2015
Aku jatuh cinta pada tanganmu yang kotor tapi tak meminta
Beberapa waktu lalu aku pergi ke rumah sakit, menjemput kakakku yang bekerja
di sana. Pukul setengah dua aku berangkat dan tiba disana pukul dua. Sekitar
setengah jam aku menunggu kakakku di depan rumah sakit sambil memperhatikan sekeliling.
Lalu mataku menangkap seorang nenek dengan tubuh yang membungkuk, menghadap
tempat sampah.
Entah apa yang ia cari, barangkali seberkas botol atau gelas
plastik. Ingin kuhampiri tapi tak kubawa sepeserpun dalam saku. Kupandangi lekat-lekat
tubunya, semakin kupandangi aku semakin jatuh cinta dan sedih. Semoga ada orang
lain yang berbaik hati.
Keesokan harinya kujemput kakakku lagi tapi tak kutemui nenek itu. Esok lusanya lagi kujemput kakakku. Setengah jam kakakku belum keluar juga, aku
pergi sebentar ke tukang jus dan tak berapa lama akhirnya kakakku datang. Saat
ingin pulang, kakakku berbisik sambil memberi isyarat dengan matanya bahwa di
belakangku ada nenek pemungut sampah itu.
Kuberikan roti dan beberapa lembar
uang lalu diulurnya tangan hitam itu, tangan yang kotor karena sampah itu tak
digunakannya untuk meminta. Ia manfaatkan segala yang ia punya untuk mencari
rezeki yang halal.
Ia tak meminta.
Ia bekerja dengan apa yang orang lain anggap
sudah tak berguna. Seketika aku ingat ibuku di rumah, mungkin usianya tak
jauh beda dengannya. Ia ucap terima kasih lantas aku pun beranjak pergi. Ia
masih memandangku sambil terus mengucap beberapa kata yang aku tak sanggup
dengar. Aku mengingat ibuku lagi.
Aku kenang tangan yang kotor itu, tangan
kotor tapi tak meminta.
Sekarang aku kangen dan sepi. Terkenang tangan itu,
terkenang wajahnya yang sayu. Kusapa ia jadi doa di malam mini. Ibu sedang apa?
Sudah makan belum? Semoga selalu sehat, Tuhan melindungimu dengan cara yang tak
kita tahu.
April 2015
4.4.15
Tak Apalah
Tak apalah jika kau bungkam suaraku
Tuhanku Maha mendengar kata-kata yang bahkan tak kusuarakan
Tak apalah kau naikkan harga BBM sesukamu
Karunia Tuhanku tak pernah padam dan tak henti diturunkan padaku
Tak apalah kau tak adil padaku
Tuhanku Maha Adil dan pengadilanNya tak akan berat sebelah
Tak apalah kau tutup media-media bicara untukku
Toh telinga Tuhanku akan selalu terbuka termasuk hari Sabtu
dan Minggu
Tak apalah kau ambil uangku, tabunganku, dan pajakku
Rezeki dari Tuhanku selalu cukup bagiku untuk mengganjal
perut dan beli susu anakku
Namun..
Yang aku tak bisa berkata tak apa
Jika kau tak bolehkan aku cinta dan taat kepada Tuhanku
Yang aku tak bisa berkata tak apa
Jika kau tak bolehkan kami sesama manusia saling menyayangi
Yang aku tak bisa berkata tak apa
Jika kau jual bangku-bangku sekolah kepada kaum papa
Yang aku tak bisa berkata tak apa
Jika kau torehkan luka dan noda pada bumi pertiwi tercinta
April 2015
28.2.15
Nenekku Sedang Tidur
21 Februari 2015 pukul 06.15, tidak ada lagi denyut pada jantungnya, tidak ada lagi suara yang menghentak-hentak dadanya. Semuanya begitu sunyi, seperti kata Bodhi dalam novel ‘Akar’, tidak ada yang lebih merdu dari suara detak jantung. Dan detik ini untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merindukan suara detak jantung dari seseorang, detak jantung nenekku.
***
![]() |
| Mbahku Iyem dan Tetangannya Mbah Narni |
Aku tahu, sedari kemarin, saat duduk di bangku bus dalam
perjalanan menuju kampung, jutaan anak panah penyesalan seperti menyergap punggunggku.
Lagu dangdut yang mengalun dari televisi pak supir hanya seperti suara
bandul-bandul jam di telingaku yang terus menghitung mundur momen-momen ingatanku.
Setahun lalu saat aku pulang kampong dan pergi ke sawah,
membantu mbah memetik kacang panjang yang sudah tua. Lalu berisitirahat di
amben kayu beratap jerami di tengah sawah. Mbah memiliki tangan dan kaki kaki
yang kuat, aku tahu itu, jauh lebih kuat dariku. Saat mbah melahirkan mama yang
premature, waktu usia ke hamilan 7 bulan. Saat itu mama hanya berukuran sebesar
botol kecap, mama yang menceritakan padaku. Jaman dulu tak ada kotak inkubasi
yang biasa digunakan untuk tindakan bayi-bayi premature. Dulu, entah bagaimana
caranya, mbah bisa bertahan dan mempertahankan mamaku.
Bus masih melaju dengan kencangnya. Bibirku mengumamkan
lirih doa-doa yang pernah kuhapal saat pelajaran agama di sekolah, atau
shalawat-shalawat yang sering kudengar sehabis maghrib dari to’a masjid dekat
rumahku. Berharap doa-doa itu akan membangunkan nenekku dari
ketidaksadarannya selama beberapa jam belakangan. Berharap dan berharap mbah
akan baik-baik saja. Meski aku tahu, mbah tak lagi baik-baik saja semenjak
ditemukan jatuh tak sadarkan diri di dapur oleh Mbah Narni -tetangga mbah-kemarin.
Bus terus melaju kencang menembus kabut malam, seperti harapan-harapanku
yang tak tergenggam. Pikiranku berlarian antara mbah dan mama, mbah yang tak
sadarkan diri mungkin sedang menghadapi puluhan atau bahkan ratusan ‘makhluk
asing’ yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Mama dengan kesedihannya yang
tertinggal di rumah karena tak bisa ikut mengunjungi mbah, bahkan di saat
kritis seperti ini. Sepanjang jalan, hanya gelap dan pohon-pohon yang kulihat
dari kaca jendela bus. Hanya gelap dan pohon pohon, tak ada apa-apa lagi.
Aku lalu teringat pesan singkat dari kakakku 2 hari lalu,
bahwa ia bermimpi rambutnya dipotong menjadi pendek oleh mama lalu ia menangis
sedih sekali. Aku yang tak begitu menyukai mimpi hanya mengacuhkan pesan itu
dan tak membalasnya. Dan hari ini saat kukabarkan padanya bahwa mbah kritis, ia
langsung kembali membahas mimpinya, bahwa arti dari mimpi yang ia cari di
internet adalah akan berpisah dengan orang yang dikasihi (kekasih, orang tua,
kakek atau nenek).
Entahlah, semuanya seperti rangkaian peristiwa yang aku tak
mengerti. Takdir, akankah Tuhan menjawab doaku dengan mengubah takdir? Atau
lantas tidak mengubah doa tetapi menambah keikhlasan dalam hati? Tapi Tuhan,
apakah sekarang adalah waktunya?
Aku, Amir, Lek Tuti , lek No, dan Lek mi, malam itu penuh
dengan keheningan. Aku tahu, setiap dari pikiran kami pasti sedang memikirkan
hal yang sama. Bagaimana keadaan mbah? Adakah kami sempat? Adakah kami sempat?
Aku berusaha memecah keheningan dengan menawarkan potongan roti besar, tapi
semua menolak. Tak ada yang nafsu makan sejak sore tadi. Perut kami, seperti
pikiran kami, hampir kosong.
Pukul 01.40, kami tiba di terminal Wonogiri, dengan badan
yang beku. Ya, pendingin di bus kurasa disetel sangat rendah, selain itu cuaca
malam Wonogiri benar-benar membuat tubuh kami kaku. Lek no langsung berjalan ke
arah pertigaan, kami mengikutinya dari belakang. Rumah sakitnya berada sekitar 100
meter dari terminal dan kami berjalan menuju rumah sakit dengan perasaan yang
amat tak karuan.
Setibanya di depan Rumah Sakit, Lek Eem menelpon dan
mengabarkan bahwa kata dokter, pembuluh darah mbah telah pecah. Pecahlah juga tangis
kami sambil bergegas merangsek masuk ke dalam rumah sakit. Lek Mi terhuyung
seakan mau pingsan. Benar, ia lemas dan tak mampu berdiri. Lek tuti dan Lek No lantas
langsung masuk ke dalam ruang ICU diikuti aku. Aku dan Lek Tuti membaca doa-doa dengan suara yang terkadang hilang ditelan tangisan. Masih
dengan harapan yang sama, doa-doa itu akan dapat membangunkan mbah dari
kritisnya.
Detik-detik yang berjalan adalah hitungan tiap tetes tangis
dan doa kami, harapan dan kesedihan seperti nafas yang kami hirup dan buang.
Beberapa jam terlewati, mbah masih tak sadarkan diri, bahkan detak jantungnya
semakin melemah. Setidaknya itu yang dapat kulihat di monitor. Napasnya yang
kacau dan keras merupakan senjata biologis yang menyayat perasaan kami.
Harapan kami belum lekas terjawab dan perlahan doa-doa itu
pun hendak berganti harapan : doa-doa ini akan memberikan ketenangan padanya. Pukul
06.15 detak jantungnya berhenti, nafasnya habis, garis di monitor sudah
berjalan lurus. Mulut kami mengucapkan doa-doa panjang, sepanjang air mata
kami.
***
Rasanya tak percaya, kau yang kuat dan nyaris tak pernah
sakit kini benar-benar menjemput maut di tengah keheningan. Pernah kau berkata,
jika aku meninggal nanti, aku ingin meninggal tanpa menjadi beban. Dan sekarang
aku percaya, bahwa kau adalah orang yang benar-benar serius dengan ucapanmu.
Kau menepati janji, dan Tuhan merestui doamu. Tak ada tanda-tanda bahwa kau mengalami sakit, kau bahkan
masih pergi ke sawah setiap hari, bahkan sehari sebelum kau ditemukan jatuh di dapur. Dan buktinya kini hanya sehari, kau hanya memberikan waktu
kepada kami untuk melunaskan pertemuan, untuk benar-benar merawat dan mendoakanmu.
Aku mengamini hadits Nabi saw. bahwa sebaik baik nasihat
adalah kematian. Aku menangis entah untuk apa. Bukankah ini kabar bahagia untukmu? perjalanan panjang nan melelahkan dalam hidupmu telah usai, dan kini saatnya
kau tertidur.
Untuk kehilangankah aku menangis? Itu sudah pasti, setiap kehilangan
membekaskan kepiluan. Dan kuakui, ini kepiluan terbesarku sepanjang 25 tahun
aku menapaki bumi ini. Tapi apakah aku benar-benar kehilangan? Bagaimana caranya
hingga seseorang dianggap hak milik oleh seseorang yang lain? Bukankah
segalanya adalah milik Tuhan? Bahkan bakteri sekecil apapun tak pernah luput
dari kuasaNya.
"Mahasuci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu."
Semoga kelak kita berkumpul kembali di surgaNya, Aamiin.
Jakarta, 28 Februari 2015
17.2.15
Kais & Jo
Tibalah aku kini pada hari Minggu, hari kesukaanku, hari
kebebasanku, hari penebusanku. Membebaskan diriku dari berbagai macam gangguan kedua
keponakanku, Kais dan Jo. Hari penebusan segala kelelahanku, hari kesukaanku
melakukan berbagai macam hal-hal yang kuinginkan.
Walaupun aku memang menikmati segala bentuk kedekatanku pada
anak-anak, memeluk, mencium, berbincang, tertawa, dan bermain. Menikmati segala
kebodohanku sendiri, pura-pura mati ketika Jo mengarahkan pistol mainannya ke
arahku. Lalu Jo tertawa puas melihatku mati, Kais membangunkanku, dan aku pun
pura-pura hidup lagi. Jo kembali menembakkan pistol mainannya ke arahku, aku
berpura-pura mati lagi, Jo tertawa dan Kais membangunkanku hingga aku hidup
lagi. Begitu seterusnya dan berulang setidaknya sampai 10 kali. 10 kali tembakan,
10 kali pura-pura mati, dan 10 hidup lagi dan tawa mereka tidak berkurang
sedikitpun. Anak-anak memang setia, setia pada cara bahagianya sendiri.
Pernah Kais berkata kasar dan memukul Jo. Jo yang ukuran
tubuhnya lebih kecil dan setiap hari suhu tubuhnya selalu tinggi daripada Kais
memang terkadang lebih kuutamakan. Jangan sampai ia terluka atau sakit. Aku memarahi
dan menyentil bibir Kais. Ia diam, aku diam. Entah jenis diam bagaimana yang ia
rasakan padaku, tapi seakan ada bara yang tercekat di tenggorokanku, panas.
Kais menatapku, tatapan pasrah, aku harap dia menangis, tapi harapanku tidak
terjadi. Kais tak menangis, hanya pasrah. Aku peluk dia dan meminta maaf atas
sentilan tadi. Menasehatinya agar tak boleh memukul saudara, kuharap ia
mengerti apa yang kukatakan.
Aku memilih untuk menikmati bagaimana cara menahan amarah
dan akhirnya hanya bisa tertawa tipis sekaligus miris. Menikmati bagaimana
kesetiaan mereka padaku benar-benar teruji, dengan tetap tertawa padaku walaupun
aku hilang kendali, memarahi. Seringkali aku malu pada diriku yang tak bisa
memiliki keikhlasan seperti Kais dan Jo, bahkan 1 persen pun dari keikhlasan
mereka aku tak punya.
Sesekali jika bosan di rumah, aku ajak Jo dan Kais ke
lapangan luas bekas rumah-rumah gusuran. Di sore hari banyak anak-anak menarik
dan mengulur benang layang-layang, menerbangkannya ke langit. Puluhan layang-layang
mewarnai langit. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun tak segan turut menarik-ulur tali layangan. Aku
menunjuk-nunjuk beberapa layangan untuk dilihat mereka. Setelah puas melihat
anak-anak bermain layangan, ku ajak mereka pulang lalu makan. Perlu upaya keras
untuk membuat mereka akur dalam satu permainan atau dalam satu kebersamaan.
Sering sekali Kais dan Jo memperebutkan mainan, atau
makanan, atau apa saja atau siapa saja yang bisa mereka perebutkan, yang bisa
jadi alasan untuk pertengkaran mereka. Kadang-kadang pertengkaran mereka terasa
lucu tapi lebih sering mengenaskan. Kadang-kadang Jo yang menjadi korban, kadang
pula Kais yang menjadi korban. Tapi lebih sering Jo yang kalah, karena mungkin
ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Jo juga ompong tidak seperti Kais yang tumbuh
dengan gigi rapi dan putih. Deretan giginya sering ia tonjolkan dan dijadikan
senjata saat bertengkar. Kadang tangan, kadang leher atau bagian tubuh lain
dari Jo yang bisa digigit akan digigit. Aku pun tak jarang dijadikan sasaran
gitgitannya.
Suatu hari, aku menunjukkan foto wisudaku pada ibuku,
beberapa foto wisuda yang dibawakan temanku Ratih dengan sangat hati-hati, aku
pun membawa foto-foto itu ke rumah dengan sangat hati-hati pula. Tapi hari itu
Tuhan menguji kesabaranku lagi, Kais melecekkan semua foto-foto wisudaku,
patah, dan tak ada lagi foto yang tampak sempurna. Aku hampir menangis,
mengingat upayaku dalam kehati-hatianku yang luar biasa itu ambruk sudah.
Sesuatu yang panas lagi-lagi mengental di tenggorokanku. Pasrah dan kembali
kusimpan foto-foto itu di sebuah berkas file, kutempatkan di pojok rak buku,
rasanya aku tak ingin melihat foto-foto itu lagi untuk selamanya. Dan rasanya
sudah malas sekali untuk mencetak ulang foto-foto itu.
Seperti juga hari yang lalu, aku membeli sebuah meja kayu berkaki
besi dengan gambar kartun Sofia, setelah berminggu-minggu kutahan untuk menimbang-nimbang
dengan sangat lama, apakah aku
benar-benar membutuhkan meja itu. Hingga kemarin aku memutuskan untuk
benar-benar membelinya, Ya! Kupikir aku benar-benar membutuhkannya untuk menulis.
Sebuah meja yang apik, kulipat dan kuletakkan di sudut kamarku. Aku pergi
sebentar ke luar beberapa jam untuk menyelesaikan pekerjaanku.
Sekembalinya ke rumah, kudapati meja kayu berkaki besi dan
bergambar kartun Sofia itu sudah patah tak berdaya di tempat tidur. Pikiranku
langsung berlari kepada Kais dan Jo. Memang tak ada yang melihat dan terbukti
mereka pelakunya, tapi menurut dugaanku mereka duduk dan menggelendot di atas
meja kayu berkaki besi itu. Aku mengelap wajahku, menahan kekesalanku, lalu
menatap mereka, Kais dan Jo, secara bergantian. Dan mengajukan pertanyaan
serius kepada mereka “Siapa yang merusakkan meja kayu berkaki besi yang baru
kubeli itu?”. Mereka hanya diam melongo menatapku, tatapan yang sama ketika aku
memarahinya, tatapan polos yang membuatku selalu merasa bersalah. Tatapan
kesetiaan yang seolah menertawakan sifat kekanak-kanakanku.
Anak-anak memang membawaku untuk melupakan duniaku dan masuk
ke dalam dunia mereka, dunia yang hanya bisa dimengerti oleh mereka. Aku bukan
orang yang pandai membaca pikiran dan isi hati, tak pula mudah peka dengan
kebutuhan mereka. Pikiranku yang menyatakan bahwa aku sudah lebih dewasa dari
Jo dan Kais adalah sebuah kesalahan besar. Aku, nyatanya, lebih kanak-kanak
dibandingkan mereka. Aku, nyatanya, tak cukup pantas untuk diberi tatapan
kesetiaan yang luar biasa dari mata polos mereka.
---Di suatu siang yang
panas di bulan Februari, 2015
7.2.15
Selepas Membaca The Last Words Of Chrisye
..Setangkai anggrek
bulan yang hampir gugur layu
Kini segar kembali
entah mengapa
Bunga anggrek yang
kusayang kini tersenyum berdendang
Matahari kan bersinar
lagi..
**
Bait-bait di atas adalah secokol lirik dari salah satu deretan lagu memukau
Chrisye yang berjudul anggrek bulan yang dinyanyikan bersama Sophia Latjuba. Suaranya yang tipis dan syahdu selalu
berhasil menyentuh dan menyampaikan pesan terdalam sebuah lagu kepada
orang-orang yang mendengarnya. Mendadak saya ingin mencari dan mendengarkan
lantunan-lantunan indah Chrisye selepas membaca
The Last Word of Chrisye yang ditulis oleh Alberthiene Endah.
Buku yang beberapa bulan sempat saya acuhkan saja di rak dan hanya
sesekali saya lihat ini ternyata memiliki segudang pelajaran yang bisa dipetik
dari hikmah, getir, dan perjuangan seorang Chrisye. Baik perjuangan dalam karir
musikalitasnya mapun perjuangannya melawan paru-parunya yang "rusak". Ya, Chrisye
menderita kanker paru-paru stadium 4 di tahun 2005, saat itu usianya berada di
usia 56 tahun, usia dimana saat seorang laki-laki sedang menggenggam peranan
yang sangat penting sebagai seorang ayah, yaitu menemani keempat anaknya dalam
membuat keputusan.
Chrisye yang seorang introvert
ini memiliki kenangan masa kecil dan keluarga yang sangat indah. Itulah yang
membuat Chrisye seolah tidak bisa menerima kenyataan akan penyakitnya, akan
vonis hidupnya yang ia tahu takkan lama lagi. Chrisye tak lagi bisa menjadi ayah
yang sempurna seperti ayahnya dulu. Penyakitnya sudah kadung parah, pengobatan
hanya berguna untuk membuatnya lebih segar dan lebih baik dalam sisa usianya,
bukan untuk memperpanjang masa hidup.
The last words of Chrisye
merupakan buku yang ditulis AE dengan mengutarakan segala perasaan campur aduk
AE yang berhadapan dengan seorang artis sekaliber Chrisye. Dengan lugas dan
metaforanya yang dalam, AE menuntun pembaca untuk ikut merasakan nafas yang
dihirup oleh AE saat berhadapan dengan Chrisye. Nafas itu sesekali terasa sesak
namun juga mengisi relung-relung batin yang kosong dengan beribu makna.
Dengan plot cerita yang dibuat flashback, AE seolah ingin membuat
membaca penasaran bagaimana kisah masa lalunya Chrisye hingga beliau menjadi
seorang penyanyi legendaris yang diakui Indonesia. Jujur, tak banyak lagu-lagu
maupun perihal Chrisye yang lain yang saya ketahui. Saya menyukai lagu-lagunya tapi
tak begitu tau secara dalam juga tak pula ada upaya untuk mencari tahu. Sampai
saya menemukan buku ini di toko buku Gramedia Matraman yang disandingkan dengan
buku-buku biografi musisi lainnya.
Bukan hanya tentang rasa sakit
dari perjuangan melawan kanker, tapi Chrisye juga berupaya membagi apa yang
sudah dicapai dan bagaimana cara menggapai impiannya. Dan yang paling penting,
mengajak kita untuk mensyukuri hidup sebab betapa berharganya kesempatan dan
keleluasan untuk bisa bergerak, seperti yang dituturkan oleh Chrisye.
Di akhir sisa usianya, bahkan Chrisye
masih ingin bisa berguna. Walau sisa-sisa energinya mulai redup namun
semangatnya masih terang menyala. Chrisye ingin berbagi dengan membuat buku
biografi karena realitas di depan adalah bayangan kehidupan yang akan berakhir.
Tergugah. Satu kata yang mewakili saat membaca buku ini, baik dalam semangat,
rasa syukur, hikmah, dan inspirasi untuk tabah dan berjuang akan sesuatu yang
ingin kita capai. (ANW)
2015
1.1.15
Dongeng Ayah Sapi dan Anak Sapi
Ayah sapi adalah seekor sapi yang bijak dan sangat
berwibawa, tubuhnya gempal, gemuk, dan masih kuat walaupun di usianya yang
cukup tua. Setiap malam, sebelum tidur, ayah sapi selalu memainkan lagu
kesukaan anak sapi dengan gitar tuanya..
Hidup itu pendek..
Dan mimpimu panjang..
Hidup itu sederhana..
Tapi mimpimu rumit…
Jreng..jreng…jreng..jreng..
Setiap malam ayah sapi selalu menasihati anak sapi dalam
lagu-lagu yang ia mainkan. Anak sapi pun selalu mendendangkan lagu-lagu yang ia
dengar keesokan harinya.. Namun pada suatu hari yang cerah di awal bulan,
matahari sedang bersinar dan berkilau indah, burung-burung pun ikut bernyanyi
dengan ceria. Teman-teman anak sapi datang ke rumah anak sapi dan mengajak anak
sapi untuk pergi ke pesta tahun baru di tengah kota.
“Ayo, Anak sapi! Kabarnya pesta tahun baru itu akan diadakan
dengan sangat meriah. Di sana akan ada balon-balon, kembang api, kue-kue, dan
lagu-lagu yang membuat kita bisa bahagia sepanjang malam”. Ucap Dogie, salah satu
teman dari anak sapi.
Mendengar ajakan dari Dogie, anak sapi pun langsung tertarik
untuk datang ke pesta itu. Anak Sapi kemudian menghampiri ayahnya yang sedang
bekerja di sawah. Sawah itu sangat indah dan sedang mengalami musim panen. Dari
kejauhan hanya terlihat daun-daun padi yang menguning bak lapisan mentega.
Apalgi jika terkena kilauan dari cahaya matahari.
“Ayah, ayah.” Teriak anak sapi dengan sangat bersemangat
memanggil ayahnya. Ayah sapi pun menoleh lalu berhenti sejenak meletakkan alat
bajaknya.
“Ada apa anakku yang pintar? Kelihatannya kamu sedang
bergembira dan bersemangat sekali?” Tanya ayah sapi.
“Tentu ayah sapi, hari ini Dogie datang ke rumah mengabarkan
tentang pesta tahun baru nanti malam.”
“Dimana pesta tahun barunya?”
“Di alun-alun kota ayah, semua anak sapi dan hewan-hewan
lainnya akan pergi kesana. Disana ada kembang api, kue-kue, balon-balon, serta
lagu-lagu yang bisa membuat kita berdendang sepanjang malam.” Lanjut anak sapi
bercerita dengan tak kalah semangatnya.
“Anak sapi yang baik, kamu boleh merasa senang, tapi kamu
tidak boleh terlalu larut dalam kesenangan. Apalagi ketika ada tetangga dan
saudaramu yang sedang mengalami kesulitan.” Jawab ayah sapi dengan sangat
bijak.”
Anak sapi merasa sangat kecewa dan bersedih dengan jawaban
ayah sapi. Ayah sapi pun berusaha mencari cara untuk menghibur anaknya.
“Nanti malam bagaimana kalau kita main gitar bersama-sama di
depan kandang anak-anak bebek. Anak-anak bebek tetangga kita baru ditinggal
pergi oleh ayah ibunya. Jika tidak ada yang menjaga mereka, maka komplotan
serigala dari arah hutan akan bisa menyergap mereka.”
“Huh, ayah, tapi ini kan pesta setahun sekali. Aku ingin
kesana melihat kembang api dan menari bersama teman-teman.” Bujuk anak sapi
dengan wajah memelas.
Ayah sapi tetap tidak mengizinkan anak sapi dengan mencoba
memberinya nasihat berkali-kali. Tapi anak sapi tidak mau mengerti, ia kekeh
tetap ingin pergi walaupun tidak mendapat izin dari ayah sapi. Anak sapi itu
pun pergi dan berlari dari sawah, meninggalkan ayah sapi. Ayah sapi
memanggil-manggil anak sapi, tapi anak sapi itu pun tidak mau menoleh.
Sore bersambut malam, di alun-alun kota cahaya-cahaya lampu
dinyalakan dan mulai dinyalakan. Kembang api diluncurkan di atas langit yang
bertabur bintang sehingga menjadi komposisi malam yang sangat indah. Lagu-lagu
disetel dan dimainkan, para tamu yang hadir termasuk anak sapi pun mulai menari
dan mendendangkan lagu.
Sementara di tempat lain, ayah sapi sedang duduk di atas
batu, memainkan gitar tuanya sendirian..
Anak sapi.. anak
sapi..
Jadilah kuat dan
cerdas
Jadilah anak sapi yang
baik
Anak sapi kesayangan
ayah..
Dari kejauhan, ada komplotan serigala yang mengintip dari
semak-semak. Ia melihat kandang bebek itu sepi dan mereka pun masuk untuk
menculik serta memakan bebek-bebek itu. Kompotan serigala mendobrak paksa pintu
kandang bebek. Bebek-bebek yang sedang tertidur lelap pun akhirnya terbangun
dan sangat terkejut. Tangan serigala yang jahat mencekik leher bebek dan ingin
memasukkan kepala bebek itu ke dalam mulutnya.
“Wah ini sungguh santapan yang lezat.” Ucap serigala itu
sambil meneteskan air liur.
“Lepaskan bebek itu.” Tiba-tiba ada suara ancaman dari arah
belakang serigala. Ternyata pemilik suara itu adalah ayah sapi. Ayah sapi
datang untuk menolong bebek-bebek dan melawan serigala. Serigala-serigala itu
berhasil dikalahkan oleh ayah sapi. Tapi karena jumlah serigala itu lebih
banyak, maka ayah sapi pun kewalahan dan menderita luka-luka. Ayah sapi
terkapar lemas di kandang bebek-bebek.
Esok paginya anak sapi pulang dari alun-alun kota dan sangat
kaget menemukan ayahnya yang terkapar
dan dikerumuni oleh anak-anak bebek yang menangis.
“Ayah, ayah kenapa?”
“Ayahmu sudah meninggal dunia. Semalam ia berjuang melawan
para serigala untuk menolong kami.” Kata para bebek sambil menangis. Tangis
anak sapi itu pun meledak mengetahui ayah sapi telah tiada. Di sela tangisnya
ia berkata lirih “Ayah, seandainya aku mendengar nasihatmu...’’ (anw)
*****
30.12.14
Kanak-Kanak
Dunia anak-anak memang sangat aneh sekaligus menakjubkan. Mereka bisa melakukan apa saja tanpa takut akan risiko nantinya. Mereka dapat tertawa sepuasnya, memang dalam usia mereka belum ada beban hidup yang perlu ditanggung. Itu terbukti dari frekuensi tertawa anak-anak yang lebih sering dalam satu hari, dibandingkan orang dewasa.
Itu pun saya rasakan ketika saya sedang bersama anak-anak. Hidup rasanya cuma hari ini saja, melakukan berbagai aneka macam permainan untuk mengisi hari dengan penuh tawa. "Mereka adalah peniru ulung" Itu yang saya pelajari. Dan itu juga yang membuat saya jadi sering merefleksikan diri, Apakah perilaku dan kata-kata saya sudah cukup baik hari ini? Saya tidak mau "dicap" sebagai biang kerok atas perilaku dan kata-kata buruk yang dikeluarkan oleh anak.
Ketika saya bersama anak-anak, saya pun seakan berubah menjadi yang bukan diri saya. Melakukan hal-hal konyol yang tak pernah terpikir bahwa saya akan melakukannya. Anak-anak adalah sumber anugerah karena pada tawa mereka senantiasa membuat kita bahagia. Pernah saya terima kabar, bahwa kakak saya tidak akan menitipkan lagi anaknya di rumah karena suatu hal. Saya tersentak dihinggapi berbagai macam perasaan aneh, salah satu perasaan yang paling kuat adalah perasaan kehilangan.
Benak saya langsung pergi ke wajah keponakan saya yang sedang penuh tawa. Tak bisa sedikitpun tangis keluar karena rasanya terlalu pilu. Dua hari berlalu, keponakan saya pun kembali ke rumah untuk dititipkan. Saya langsung memeluknya erat, saya tak sanggup kehilangan tawa mereka. Saya tak ingin mengingat tentang tangis atau perilaku anak-anak yang juga sering menjengkelkan. Sebab cinta mengganggap penderitaan pun sebagai anugerah. (anw)
Jakarta, akhir tahun.
Itu pun saya rasakan ketika saya sedang bersama anak-anak. Hidup rasanya cuma hari ini saja, melakukan berbagai aneka macam permainan untuk mengisi hari dengan penuh tawa. "Mereka adalah peniru ulung" Itu yang saya pelajari. Dan itu juga yang membuat saya jadi sering merefleksikan diri, Apakah perilaku dan kata-kata saya sudah cukup baik hari ini? Saya tidak mau "dicap" sebagai biang kerok atas perilaku dan kata-kata buruk yang dikeluarkan oleh anak.
Ketika saya bersama anak-anak, saya pun seakan berubah menjadi yang bukan diri saya. Melakukan hal-hal konyol yang tak pernah terpikir bahwa saya akan melakukannya. Anak-anak adalah sumber anugerah karena pada tawa mereka senantiasa membuat kita bahagia. Pernah saya terima kabar, bahwa kakak saya tidak akan menitipkan lagi anaknya di rumah karena suatu hal. Saya tersentak dihinggapi berbagai macam perasaan aneh, salah satu perasaan yang paling kuat adalah perasaan kehilangan.
Benak saya langsung pergi ke wajah keponakan saya yang sedang penuh tawa. Tak bisa sedikitpun tangis keluar karena rasanya terlalu pilu. Dua hari berlalu, keponakan saya pun kembali ke rumah untuk dititipkan. Saya langsung memeluknya erat, saya tak sanggup kehilangan tawa mereka. Saya tak ingin mengingat tentang tangis atau perilaku anak-anak yang juga sering menjengkelkan. Sebab cinta mengganggap penderitaan pun sebagai anugerah. (anw)
Jakarta, akhir tahun.
Subscribe to:
Posts (Atom)




