25.9.13
aku tak jera
bibirku pecah dilempar mainan besi
tulang keringku ditendang sewaktu di kamar mandi
waktu aku melarangnya jajan sembarangan, rambutku
dijambak hingga rontok
bahkan aku pernah hampir takut buta
saat mataku dipukul gagang kipas kayu
seperti para pejuang yang tak jera masuk bui
aku tak jera
aku tetap mengantarnya ke sekolah, mengamatinya dari balik pagar
memandikannya sembari mencontohkan cara sikat gigi yang benar
menemaninya mengerjakan pekerjaan rumah
saat ke toko buku, aku selalu ingat untuk sekadar membelikan buku-buku bergambar binatang kesukaannya
aku tak jera
seperti sebuah kalimat yang kutemukan di suatu pagi,
"aku rela dikatakan buta, lantaran aku memang tidak melihat lagi
suatu cacat pada yang aku cintai.."
september 2013
22.9.13
Hati-Hati Jaga Jarak
Bantal Anti Air Mata
Ada orang-orang yang memilih untuk
menumpahkan kesedihannya di khalayak, dipublish di sosial media, atau bahkan dimanipulasi
dengan tertawa terlalu banyak. Namun ada juga sebagian orang yang memilih untuk
menyimpan kesedihannya di bawah bantal, memecahkan tangisnya di dalam dekapan
malam, berharap hanya ia dan Tuhan saja yang tahu tentang itu, lalu seolah-olah
air matanya bisa lunas dan piutang tentang kesedihannya telah tandas dengan
ikhlas.
Bantal ini cocok untuk menangkal segala
duka, lara, dendam, dan kecewa sebab cinta yang bertepuk sebelah tangan,
pertengkaran dengan orang tersayang, kerisauan perihal masa depan, kesendirian
tak berujung, atau bahkan nasib ekonomi yang diujung tanduk. Bantal ini
mengajarkan kita untuk menjadi pejuang yang tangguh dan tak cengeng dalam mengahadapi
persoalan mulai dari yang sepele sampai yang bertele-tele.
Rasanya kita memang tak butuh airmata
untuk hal-hal yang tak selesai, cukup bantal anti air mata yang akan
menyelesaikan segala lara dan nestapa. Semoga..
#
Apa yang biasa kita lakukan saat merasa
sakit hati? Menyendiri? Nulis diary? Atau atau lari pagi?
Kursi anti sakit hati ini, sangat cocok
buat kamu-kamu yang dadanya sering merasa sesak dan sakit seperti dicubit
gorila. Di kursi ini kamu bisa merenung dan menggunakan intuisi untuk berpikir
mengikuti alur dan memfilosofikan hidup sebagai benda-benda mati atau yang yang
tak dapat bergerak. Bayangkan jika kamu adalah sebuah marka jalan yang dicorat
coret oleh anak-anak sekolah atau anak punk. Tubuh kamu diperlakukan seperti
tak berguna dengan tulisan yang tak berbobot. Dilihat tak anggun lagi oleh para
pengguna jalan. Kamu merasa sakit hati tapi tak ada yang dapat kamu lakukan
selain menunggu petugas yang membersihkan dan mengembalikan tubuhmu seperti
semula. Itulah, sebelum merasa sakit hati pikirkanlah apa yang menyebabkanmu
begitu merasa sakit hati dan apa saja hal hal yang membuatmu untuk merasa tidak
sakit hati.
Namun jika kebahagiaan sudah sulit dicari,
maka tersenyum saja sendiri.
#
Monitor Anti Bikin Males
Sebelum memulai mengerjakan tugas di depan
komputer, ada baiknya kita menyeduh kopi dahulu agar mata terasa segar dan
badan segera bugar. Jika kopi sudah siap, maka kita boleh kembali duduk menghadap layar
komputer dan kembali berkutat dengan proposal. Tapi ah rasanya kurang afdol
kopi tanpa cemilan. Mungkin kita bisa mengambil satu atau dua snack di kulkas
sebagai teman biar tak jenuh, biar bosan tak penuh. Untungnya masih ada cemilan
yang kita sediakan buat persiapan seminggu kedepan. Akhirnya kopi siap, cemilan
siap. Saatnya kembali ke proposal yang sedari tadi sudah mengemis-ngemis
meminta dikerjakan. Lalu mulai memikirkan satu kalimat yang tepat untuk diketik
di halaman pertama. Satu menit, lima menit. Melihat jam di dinding. Oh iya, baru
ingat. Pukul segini ada film korea yang
bagus. Sayang kalo dilewatkan. Nonton tv dulu barang sejam. Barangkali tak apa,
proposal masih bisa dikerjakan sehabis nonton tv, dan nanti malam juga masih
banyak waktu.
Cuplikan di atas bukan lagi sekadar basa
basi, dan sudah jadi hal yang sangat basi. Karena gejala-gejala tersebut, maka
proyek ini membuat monitor anti malas. Monitor ini membuat si penunda menjadi
tidak tidak lagi membuat alasan-alasan yang merasa perlu dimaklumi untuk
menyepelekan waktu luang dan pekerjaan. Segala macam pekerjaan akan terasa
memiliki bom waktu, yang jika kita menundanya maka bom itu akan meledak dan
memecahkan kita berkeping-keping dan lebur dalam lelehan kesia-siaan. Waktu
adalah bom, yang siap meledak.
#
Cermin Anti Lupa Diri
Dahulu kala, ada sebuah kisah tentang
seseorang yang bernama Narcissus. Ia adalah orang yang jatuh cinta pada dirinya
sendiri ketika melihat bayangannya di sungai yang airnya sangat jernih. Kadar
jatuh cinta pada diri sendiri sungguh beragam. Hal itu bisa disebabkan oleh
faktor ketampanan dan kecantikan di dalam seseorang, atau tidak sama sekali.
Ada yang tampangnya biasa-biasa saja namun terlihat sangat percaya diri melihat
bayangannya sendiri ketika melewati sebuah rumah yang kaca jendelanya dari
riben, padahal pemilik rumah yang berada di dalamnya sangat heran bahkan tertawa
memperhatikan orang yang mondar mandir lewat di depan rumahnya. Hal tersebut
adalah gejala-gejala lupa diri.
Cermin ini mengajarkan kita untuk tak lupa
diri namun selalu tetap bersyukur. Sebab kita adalah jiwa-jiwa yang dikemas
Tuhan dalam bentuk yang sangat beragam. Apa yang nampak hanya kemasan belaka,
yang bisa dikamuflase dengan berbagai produk brand ternama atau barang-barang
yang sedang trend. Isi yang sebenarnya ada di dalam hati, sikap, dan pikiran
anak manusia. Cermin ini memiliki kendali, sebab kendali adalah senjata
terampuh agar tak lupa diri.
#
Kacamata
Anti Iri
Rumput di halaman tetangga
memang selalu kelihatan lebih hijau. Walaupun jaman sekarang ini sudah sangat
sedikit tetangga yang punya halaman berumput, tapi tetap saja selalu kelihatan
lebih hijau, entah apanya yang hijau.
Rasa iri muncul
dari alam bawah sadar kita yang sebenarnya tidak menghendaki kita menjadi iri.
Rasa iri muncul dari kurangnya rasa syukur, empati, kepedulian terhadap orang
lain yang nasibnya kurang beruntung. Rasa iri juga bisa disebabkan oleh
keinginan yang tidak berbanding lurus dengan realita. Frekuensi keinginan yang
lebih tinggi dengan frekuensi realita, sehingga kita sering berkata bahwa hidup
itu kejam. Bisa disimpulkan keinginan adalah sumber penderitaan. Semesta memang
sengaja berkonspirasi untuk menciptakan hal semacam ini. Keinginan untuk
menjadi orang lain. ketahuilah, orang yang paling menyedihkan di dunia ini
adalah orang yang ingin menjadi orang lain.
Untuk itulah, proyek ini
menciptakan sebuah terobosan terbaru yakni sebuah kacamata yang bisa mengubah
kita menjadi pribadi-pribadi yang percaya dengan kompetensi masing-masing. Ucapkan
selamat tinggal pada apa yang sebenarnya tidak kita butuhkan. hijaukan rumput sendiri dan katakan “Selamat
datang saya!” Masa depan tanpa rasa iri akan lebih mengagumkan sepertinya.
#
Ilustrasi gambar: Farhanaz Rupaidha
12.9.13
Sajak Pada Sebuah Melankoli
Malam menjahit gulita dari butiran bintang yang
tercecer di padang matamu
Sebagai musafir dalam perjalanan ini mungkin
bisa sekedar singgah
Duduk melepas sandal, membuka kotak bekal berisi nasi dan ikan bawal
Konon perut adalah hal yang sakral untuk diobral
Maka kita berbisik saja pada angin pasang yang
Melemparkan sauh itu hingga ke tepian, soal lapar yang barangkali tak
tertangkap
Oleh bengal tanggal-tanggal yang rontok di sepanjang pesisir tanpa dian penerang
Hingga kita menemu pagi lagi pada gumam pantai itu
Maka aku kini adalah pasir yang menunggu ombak membawaku sampai ke tubuh
laut
Perahu layar, peluit kapal, dan terik matahari yang menghancurkanku
Menjadi partikel terkecil, menjadi lahapan ikan-ikan lapar
Dan ikan itu kini sampai tepat di padang matamu lagi
Barangkali aku pernah terlupa oleh masa, atau menjadi sebuah tokoh tanpa
nama
Maka jika malam kembali pamit berpijar, izinkan aku
menjelma fajar
Yang terbaring di pelataran langit itu
Menunggu suara muadzin itu
Sebab aku ingin sembahyang, menjadi makmum di belakangmu
Belajar mengucap amin pada akhir lirih doamu
2013
Langu Tahu
Yang
membuatku langu
Seperti aroma
tahu yang kian
Melonjak itu
Buruh kini
sebagai pepatah lama
“Pahlawan
tanpa tanda jasa”
Kini yang
tersedia di meja
Hanya taplak
yang terjahit
Dari lembar
pagi yang muram
Matahari saja
sembunyi di balik
Menara
tinggi menjulang
Kita duduk
saja sembari menunggu hujan
Yang terbuat
dari embun matamu
Kudengar
kemarau akan panjang
Dan dompet
kita akan kekeringan
2013
9.9.13
Sebentar lagi sampai
Sebab rumah adalah ibu
yang merawat luka zaman dari peperangan panjang itu..
Melewati jalan-jalan panjang, tikungan-tikungan tajam, ada
perasaan yang berulang dan seperti tidak dapat selesai. Kenangan mengenalkan
dirinya lagi dari bau yang didenguskan udara, aku hendak mendesis seperti ular
yang mengalami dejavu-dejavu. Tempat ini, tempat itu, tempat-tempat singgah
yang pernah menjadi tumbal dalam segala laku, kesibukan, penat, dan tawa.
Moment yang pudar namun masih terekam sebagian dan sebagian.
Imaji mengeliar, menjeratku pada pusaran waktu, memaksaku lagi untuk merindukan
halhal yang dulu kuanggap begitu-begitu saja. namun aku ingin kembali, perasaan
ingin kembali adalah perasaan yang kumaksud tak dapat kuselesaikan, tak bisa
kuwujudkan dalam realitas meskipun dalam waktu dan ruang yang lain. Waktu
berlari.. dunia berlari, banyak yang berubah, rumah kos-kosan yang dibangun
dengan tembok tinggi, kamar-kamar yang diperbanyak, warung-warung makan yang
mengganti pemilik, namun tak ada yang berubah pada kenanganku dan hanya aku seorang
yang mampu melihatnya.
Beberapa kali mengalami kepindahan, membereskan perabotan,
pakaian, buku-buku, dan berharap menemukan tempat yang lebih nyaman, yang bisa
menerimaku dalam keadaan bagaimanapun. Meninggalkan kenangan dan sahabat-sahabat
yang pernah bersama dalam lelap dan terjaga, perbincangan-perbincangan mulai
dari yang tak penting, semi penting, penting, dan sangat penting pernah mengisi
tahun-tahun dalam masa mencari jati dari itu. Segalanya terekam, kemudian
sedikit demi sedikit terbang, lalu masih adakah yang selamat dari ingatanku
yang terbang itu? Masih dan akulah yang menyelamatkannya sendiri dengan kembali
memberinya nama satu-satu. Aku pernah tinggal disini, disini, disini, dan
disini. Kamar-kamar yang pernah menjadi rumah kepulangan; saksi dari
malam-malam kantuk, teman dari sepi-sepi yang menyakitkan, penawar dari
penyakit tukak lambung yang memarah, juga riuh tawa yang pernah menjadi lagu
pengiring kehidupan disini, disana, disitu.
Malam memanjang, burung-burung pulang ke sarangnya, tapi aku
entah kemana. Rumah bagiku seperti barang langka yang mesti kutemui dengan
susah payah, dengan jerih yang tak biasa. Aku jadi ingin punya banyak rumah,
memulangkan diriku sendiri ke tempat berbeda setiap hari, yang tak perlu
melalui perjalanan panjang, antrian-antrian pahit, dan dingin yang menjeram
badan.
Namun ada seseorang yang menunggu dirumah dengan cemas yang
tak bisa ditawar, jam malam diberlakukan, lewat dari peraturan senjata
disingsingkan ke pinggang, benteng-benteng mengerahkan pertahanan, wajah dengan
tampang garang dipasang, pertanyaan-pertanyaan tanpa jeda dilepaskan dari
busur, aku seperti tawanan yang sudah kehabisan tenaga tapi masih harus
menjawab berapa pasukan perang yang tersisa, dimana tempat persembunyian,
berapa sisa harta rampasan dan sebagainya, dan sebagainya.
Aku ingin dipercaya seperti induk elang yang melepas
elangnya mengembara, suatu saat jika makanan sudah terkumpul, dan perjalanan
telah habis, aku akan merindukan rumahku sendiri, komposisi rumah yang
sebenarnya: rumah beserta keluarga di dalamnya. Aku berjanji akan
pulang tepat waktu, aku akan pulang tepat waktu, aku mengucap janji ini sebanyak dua kali, yang satu untuk ibu yang menunggu, satu lagi sebagai pengingat untuk diri sendiri.
Angin menyelinap dari jendela bus kota, mengusap wajahku. Malam yang temaram dan kota masih saja sedingin ini. Kurapatkan lelah dalam balik jaket, mendekapnya erat hingga lengket ke dalam tulang.. Sebentar lagi sampai..
September 2013
31.8.13
Surat Untuk Euis
Jakarta, 30 Agustus 2013
Assalamualaikum,
wr wb,
Euis, sahabatku yang baik, aku
tulis surat ini dengan terburu-buru sebab jadwal keberangkatanmu yang sedikit
aku lupa, namun aku bersyukur masih sempat menuliskannya untukmu, jadi maaf
jika isinya agak berantakan.
Ketika membaca pesan singkatmu
bahwa kamu akan pamit untuk waktu yang lama, aku seketika jadi teringat sebuah
sajak “..hanya seorang pecinta yang tak
pernah bersedih, karena tahu ia akan ditinggalkan..” (Cecep Syamsul H). Mungkin
bukan hal yang baru bila kamu meninggalkan aku, Is, teringat moment saat ingin
ke Pare :D Namun percayalah, anugrah ini adalah sebuah kebahagiaan Allah
untukku yang dititipkanNya kepadamu. Maka tularkanlah kebahagianmu, dengan
kembali membawa catatan-catatanmu tentang negri itu.
Kamu yang akan menemukan banyak
teman baru disana. Ketahuilah, ada banyak jenis teman dalam hidup ini, ada
teman yang selalu ingin bicara, ada teman yang selalu ingin mendengarkan, ada
teman yang takut untuk ditinggalkan, ada juga teman yang selalu ingin menerima.
Namun mungkin aku bukanlah salah satu dari itu semua. Adakah persahabatan yang
lebih manis selain persahabatan yang dilandaskan karena kecintaan kita terhadap
Tuhan? Bukankah “kecanduan”nya Jalaluddin Rumi kepada Syamsi atas
manifestasinya kepada cahaya Illahi? Barangkali kita tidaklah sanggup
seperti itu, tapi aku telah mengambil banyak pelajaran dari seseorang
sepertimu, Is. Belajar untuk lebih baik diam daripada bicara buruk, belajar
untuk menjadi pendengar yang baik, belajar untuk selalu mendoakan dalam diam,
belajar tentang kebersahajaan yang sesungguhnya.
Jika ada sebuah nasihat, memberilah
lebih banyak daripada apa yang kamu terima. Maka apalah yang mampu kuberikan
untukmu? Sedangkan kamu begitu sederhana, keinginanmu mungkin tidak punya
keinginan. Aku mungkin hanya bisa mendoakanmu sembari tersenyum mengenang bertahuntahun
perkenalan kita hingga detik ini. Detik dimana kamu mencapai jalan menuju
impianmu. Begitu cepat waktu berlari, sejarah memahat ingatan kita membentuk
pola yang sulit dimengerti. Ketika berbincang denganmu, aku sering berdialog
dalam hatiku, Is. Dialognya begini “Apakah yang ada di pikiranmu saat sedang
diam begitu?” Aku sering penasaran dan selalu ingin masuk ke dalamnya,
menelusuri setiap detail isi pikiranmu yang tak terpecahkan itu. Pastilah kamu
sedang mengaitkan antara kejadian yang satu dengan yang lain, tentulah dalam
setiap kerja otakmu Allah selalu bersamamu.
Euis, menulislah apa yang ingin
kamu tulis, di saat lengang maupun sibuk, atau di tiap malam-malam menjelang
tidur. Ceritakan padaku tentang negri dengan alam yang kaya akan minyak dan gas
itu, tentang perjalananmu mencari jejak-jejak pengetahuan. Pramoedya menulis
begitu banyak buku di dalam jeruji penjara, dalam keadaan terkukung di satu
tempat yang sempit dan gelap, maka bukankah lebih banyak yang akan ditulis oleh
seseorang yang melakukan perjalanan? menembus horison dan cakrawala yang
membentang?
Suatu hari, jika bukumu berhasil
terbit, aku berjanji akan menjadi pembeli pertama yang membeli bukumu itu. Maka
bersemangatlah dalam pengembaraanmu. Jika tujuanmu adalah untuk mendalami
bidangmu kini, seperti Ibnu Batuta dengan tujuan awalnya ke Mekkah untuk
menunaikan haji namun perjalananya itu membawanya ke dalam 30 tahun yang
gemilang. Jadikan tujuanmu ini sebagai batu pertama pijakanmu untuk penjelajahan
yang lebih mempesona lagi.
Jika sewaktu-waktu sepi datang ke
hatimu, terimalah ia dengan lapang dan jangan suruh ia pergi. Sebab sepilah
yang akan memberimu jarak pada kebosanan, hingga kamu mampu bersabar sampai
Allah-lah yang menentukan dibatas mana kamu akan bisa kembali belajar. Saat
ini, akulah mungkin yang sedang sibuk menata pikiranku bahwa sepeninggalmu,
siapa lagi yang akan memberiku nasihat? Ini mungkin hanya ketakutanku saja.
Akulah kosong yang mendamba diisi, engkau isi yang selalu ingin berbagi. Maka
berangkatlah dengan suka cita, dan kembalilah menjadi seseorang yang berbeda.
Begitulah is, semoga surat ini
setidaknya bisa memberikan semangat kepadamu. Konon jika kita menyulutkan
semangat, maka kitalah yang akan paling berkobar dalam api semangat itu. Allah
SWT selalu bersama kita yang telah menuliskan nasib dan menggariskan takdir. Salawat serta salam aku haturkan kepada Muhammad Saw,
pembawa cahaya bagi kita semua. Kamu berdoa untuk yang lain saja, biar
aku yang berdoa untukmu, Is..
Wassalamualaikum,
wr, wb.
29.8.13
Dalam Kemarau
(untuk tubuh yang tak pernah goyah oleh peradaban)

Kini
kau berjalan di setapak itu,
Setapak yang lebih
sepi dari jalan ke golgota
Juga tak lebih
lebar dari lembah kalvari
Saban pagi, kau
titipkan usia di jalan itu
Barangkali kabut dari
mulutmu masih menyimpan peta menuju ladang
Barangkali bau
bekas sisa pembakaran semalam,
akan
menuntunmu tabah soal kemarau yang bermusim di tengah kebun
Burung-burung
melantunkan kasmaran dan sunyi secara bersamaan
Hinggap di
ujung-ujung dahan kelopak matamu,
Melipat kesedihanmu
lalu berkicau begini;
“Di perapian
matamu, bara menyala dengan gigih
Dan kau menunggu
surga dalam cawan itu mendidih.”
Kelindan angin
mengulum rambutmu jadi isyarat
Daun jati, tajam kerikil, bunga kamboja, tanah gersang, adalah surat
yang dikirimkan
masa lalu ke dalam batang tubuhmu
Mengantarkanmu lagi
Pada musim-musim
tua; musim dimana aku bertahun meninggalkanmu
Pada batu-batu tua;
yang dikutuk menjadi aku.
(2013)
Yang Tertinggal
pada akhirnya,
perempuan itu harus turun dan berhenti
sebelum benar sampai di halte tujuan.
merelakan bus itu pergi
dan mengangkut penumpang lain..
(2013)
17.8.13
Ketika malam dengan takbir berkumandang
Di
bawah langit yang bertabur bintang ini, aku tak lagi ingin dihibur oleh apapun.
Derit jangkrik, piuh angin, gesekan daundaun, dan takbir yang bergema dari
pengeras suara masjid cukup mampu menggantikan komposisi musik yang paling
mengagumkan sekalipun. Segalanya mampu menciptakan sebuah suasana yang tak
kalah dari megah kota. Tempat ini, membangunkanku dari tidur panjang, tidur
yang sangat panjang. Aku ingin yang pernah redup kembali menyala dan yang
terasa lelah kembali bergairah. Malam ini aku ingin terjaga di dadaMu,
menyerahkan yang tak pernah kupunya dan melepaskan mimpimimpi liar yang
terdekap dalam kerangkeng hawa nafsu. Aku melamun sembari lirih mengumamkan
takbir.
Aku
ingin mencari apa yang belum juga kutemukan, dalam tanda-tanda yang Allah
ciptakan, angin, matahari, manusia, batu. Sejak Jibril turun ke Gua Hira,
mewahyukan kepada rasul sebuah ayat pertama: Iqra! Bacalah.. Maka tugas pertama
manusia adalah membaca, secara implisit adalah membaca tanda dan jejak
kekuasaan Allah. Membaca seperti Rasul, mencari seperti Ibrahim, bertanya
seperti Musa, menganalisis seperti Khawarizmi, mengembara seperti Ibnu Batuta. Lalu sebagai manusia yang tak
berdaya dan lemah, manusia yang penuh
dengan keterbatasan, adakah kita mampu “membaca” seperti itu?
Namun
Allah berbicara dengan banyak bahasa, tak ada alasan untuk tak “membacanya”, hal
sederhana yang mungkin bisa kita lakukan adalah menggunakan perasaan sebagai
sensor untuk menangkap pertanda, melalui syariat sebagai pemandu untuk mengenal
Tuhannya. Lalu apakah kita sudah benarbenar mengenal Allah? Pertanyaan itu selalu
mengikutiku ketika aku hendak berupaya mengakui keimanan sendiri. Apakah aku
sudah benarbenar mengenal Tuhan? Atau hanya berpura-pura kenal? Barangkali kita
belum benar serius bertafakkur, melainkan hanya menyusun ulang pikiran-pikiran
orang lain tanpa pernah benar-benar mengerti. Sesungguhnya tak ada yang benar
kumengerti.
Aku
jadi ingin belajar lagi melafadzkan namaMu, tertatih mengejanya huruf demi
huruf, hingga menjadi utuh, lengkap terbaca di batinku. Padahal langit sudah berzikir,
malam telah mengukir kerajaan dan memahat istana Tuhan dengan megah. Namun mengapa
kita masih saja terpejam dan merasa kesepian? Mencari-cari cahaya untuk sekadar
merasakan terang, merasakan nyaman. Padahal aku merasa Kau memperhatikanku dari
berbagai arah, arah yang tak pernah kuketahui. Adakah aku benar membalas
perhatianMu?
Rasionalku
terbatas dalam menafsirkan arsyMu yang agung, namun aku percaya, sebagai
makhluk, apalah yang bisa kulakukan selain percaya. Tetapi kadangkala aku merasa
seperti Santiago dalam Sang Alkemis, memilih menjadi pengembara dari gurun Andalusia
hingga ke Mesir, sibuk menduga hartakarun yang pada akhirnya toh tiada,
membodohi akidah sendiri. Waktu-waktu telah kulewati dengan abai, aku berpijak
pada lelah yang tak kunjung terbayar, terhanyut dalam lautan tanpa dasar. Hingga
di malam ini, aku ingin benar-benar terbang menyusuri segala liku naunganMu,
menyampaikan tubuhku dalam keyakinan yang tak lagi goyah. Waktu berlarian
mengejarku, aku mengejar angan yang berlarian mengejar waktu. Apakah kita
sanggup berkejaran dalam sebuah masa yang pasti akan ada batasnya, apakah kita
sanggup berkejaran dalam ketidakpastian. Adakah yang lebih pasti daripada
kematian?
Kematian
tak pernah meminta izin akan kepada siapa ia datang, termasuk para syuhada yang
tak tahu apakah kematian akan sampai saat sedang di medan pertempuran. Bukankah
Sultan Muhammad Al-Fatih pun tak tahu bahwa kematian akan sampai padanya saat rencana
sudah terbentuk dan teluk Bosporrus sudah berhasil disebrang. Namun Tuhan memberikan
gejala yang bisa ditangkap oleh akal, buah pikir, maupun perasaan. Seperti yang
diwasiatkan kepada generasinya sebelum Sultan itu wafat: Aku sudah diambang kematian. Tapi aku berharap aku tidak kawatir,
karena aku meninggalkan seseorang sepertimu.
Nasib
terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Begitukah, Gie? Apakah mati adalah hal
yang buruk? Bukankah manusia tak pernah bisa berkehendak, bahkan Nietzsche yang
seorang atheis pun berkata untuk terus mencintai takdir, takdir untuk dilahirkan,
takdir menjalani usia, mengalami ketuaan dan takdir akan ruh dimatikan. Jasad
hanyalah medium untuk menjalankan kehidupan, kita tak bisa memilih akan
dilahirkan atau tidak, akan dilahirkan oleh siapa dan dalam keadaan bagaimana. Kematian
hanyalah ketiadaan hidup di dunia.
Yang
pernah lahir pasti akan mati..
Adakah
yang sudah kita persiapkan untuk menyambut tamu agung tersebut jika kelak ia
datang? Mungkin tak ada. Maka naiflah, aku memang mengaku mencintai Allah
beserta rasulNya. Tapi apakah cinta itu sebenarnya..
Dari
kejauhan, takbir masih berkumandang. Subuh masih jauh, ingin kubaringkan tubuh
pada rumput yang membentang, membiarkan bintang-bintang berjatuhan ke mataku,
memecahkan embun di dalamnya, menunggu hari esok dan memastikan apakah kita
masih beriman atau mungkin sudah melupakan?
2013
29.7.13
Balada Bawang Merah
Aku menangis bukan sebab aku bersedih. Melainkan karena tak paham kenapa kau membuatku menangis, apakah karena kulitmu yang tega kukupas atau karena kau memang tak sanggup untuk melepas.
Aku menangis bukan karena tak mengerti kenapa aku menangis, melainkan
nasib yang telah menukar kesedihan kita menjadi penawar dalam rasa yang dicerap
indera. Engkau memberi perih, aku memberi airmata yang kelak akan jadi gurih.
Ketika kudengar tangis dari tubuhmu yang teriris, engkau
menatap juga betapa mataku telah tipis.
Aku menangis sebab kau yang tak mampu bertanya: bolehkah aku ikut menangis?
2013
26.7.13
saat pertama kali belajar puasa
sahur kita ini dengan menu yang sederhana saja
: selembar langit yang diselipkan di lapis roti dan secawan susu pemberian tetangga
nikmatilah ini sebagai kenyataan yang tak meredupkan semangatmu untuk merayakan puasa pertama. jika matahari telah berjalan di atas kepalamu, maka bolehlah kau teguk terjun sejuk yang akan menuntaskan dahaga, mengairi tandus terowong pangkal mulutmu.
namun alangkah baik jika kau bisa merawat ketabahan dengan detakdetak jam yang kian melambat itu, memapah imanmu yang baru tumbuh hingga sampai kepada maghrib itu, petang itu, yang kau nantikan dengan gigimu yang sebagian kopong, lapar yang tinggal di perutmu dan keroncong nyaring itu menjelma musik pengiring, menyambut tuhan yang terbayang dalam gelas teh hangat dan tiga butir kurma kesukaanmu.
2013
22.7.13
Juni yang Berhujan
“Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni,
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu..”
-Sapardi Djoko Damono-
(1)
Hujan yang
tabah selalu tahu dan tak pernah bertanya
“Berapakah
jarak yang kita punya?” hingga tak berani juga
Mengakui bahwa
rindu adalah rahasia yang disimpannya
Kepada pohon
dengan sejuta bunga
Yang dilahirkan
dari pucuk-pucuk dahan
Tak tahu
dimana akan singgah dan
Akan menyentuh
apa.
(2)
Juni mengajarkannya
untuk setia pada musim
Sekalipun mendung
bergelayut pada awanawan kotor,
Patuh untuk
jatuh serta pasrah untuk patah
Jika suatu
hari ia tak sanggup untuk beranjak
menjadi
hujan yang tetap bijak.
(3)
Hujan membikin
doa dari udara yang menguap
Serta air
yang telah akar serap
Kalau musim
berganti, tebuslah rintik rindu
yang tak lelah kusimpan
Dan tak
mampu kuabaikan dengan
perisai yang
lebih tajam melebihi runcing hujan,
Yang mampu
membelah buih juga merapatkan
Lapisanlapisan
tanah yang menyuburkan pohon itu
Hingga ia
tetap berbunga.
2013
13.7.13
Aku datang bukan untuk sebagai pesaing
Aku datang bukan
untuk sebagai pesaing,
Melainkan untuk
mengalah dalam perang panjang
Tak ada kepak
burung ababil atau
Batubatu yang
mungkin terjungkil
Melewati nama serta
yang menempel pada parasmu
Namun siapakah
pesaing sebenarnya?
Seseorang dari
sebrang menjegal langkahku
Ia berkata, tak ada
pertanda bahwa masa depan
Akan menerima
namaku sebagai pemenang
Ikanikan melakukan
percakapan
Gelembung dari
mulutnya pecah lalu terngiang suarasuara
:
kau hanyalah usia yang sebentar lagi karam
Namun mereka tak
benarbenar paham
bahwa amunisi adalah
perasaan
yang berjalan ke depan,
Menyelamatkan yang
hanyut itu
Segalanya sedikit mematahkan
pikiran serta batinku
Tapi aku tetap
berlari mengikuti arus, hendak mengeluarkanmu
Melewati deras yang
tak urung reda
Kau tahu, pada
muara ada seorang yang lain menjemputmu
Tapi tak berniat
menanggalkan jubahnya dan
Menggendongmu keluar
dari penderitaan
Dan di hanyut yang
kesekian, aku berteriak padamu
yang tengah
terengah, mencari sebilah napas dalam riak sungai
Pernahkah?
Pernahkah
sekali saja kau sebut namaku?
Kau berdiam dalam
satuan waktu yang membiaskan
Cahaya ke tepitepi
sungai
Aku memperbaiki ucapanku,
:
tak perlu kau sebut namaku
sebab
kesedihan mampu mencatat rencananya sendiri
dan
kehilangankehilangan akan merayakannya tanpa diminta
Aku menanggalkan yang
tersisa dari jatah hidupku
dengan gelombang
yang menyandarkanmu ke tepian
Kau melenguh dan menelanjangiku
dengan matamu yang lebam
Sebagian tubuhku
digoyangkan angin dan
sebagian yang lain dirobekkan reranting
Di luar mataku
yang terpejam,
Kudengar isakmu
berulangkali menyebutkan penyesalan
2013
Subscribe to:
Posts (Atom)









