Aku merindukan saat-saat dimana aku sendirian dan mengingatMu..
8.6.14
25.4.14
yang berkumpul dalam kepalaku.
aku bangun dimana tubuhku menyentuh rasa sakit dalam semua
ini tubuhku bukan tubuhku
namun nyeri yang tertanam telah tumbuh dalam batinku
aku menderita sakit dan semua sakit menuju pada Mu.
"..seorang pecinta sejati dibuktikan dengan rasa sakit dalam hatinya.." begitu syair Rumi
namun aku tak juga dapat melihatMu dalam rasa sakitku.
aku menangis tak pelak segala yang nampak
aku menangis karena tak kurasakan kewajaran
aku menangis karena tabir yang menjadi penghalang telah menutup mataku
aku tak melihatMu, tak juga melihatmu
jika cinta adalah misteri Illahi
maka aku ingin masuk dalam lumbung misteri Mu
tandus pada kerongkongku masih bisa dihapus dengan
air yang kuminum,
tapi tidak untuk tandus pada dadaku yang kemarau
Allah,
Allah kau adalah rasa
aku merasa kau tumbuh di setiap geletar doa
doaku muncul dalam tiap pori kulitku
aku merasa Kau adalah doa yang jauh, pun amat dekat, pun tak terlihat
aku menderita sakit, dan semua sakit menuju padaMu, menuju padamu
2014
14.4.14
Sampai Padamu
subuh ini aku seperti menemukanMu dalam bentuk lain
gugusan awan berputar di atas kepalaku,
cahaya rembulan menembus barisan kabut di udara,
dan mata bintang yang menatap langsung ke dalam retina mataku.
tubuhku ingin sempat mendekapMu
ingin sampai padaMu
namun ketakberdayaanku adalah jarak yang tak ternilai
aku hanya bisa menyusuri keberadaanMu
dalam raut garis takdir yang Kau petakan
aku pun hendak ingin bermain dengan takdir
maka atas firasat-firasat ini,
kudekap tubuhku sendiri
menyampaikan pada dadaku
sebuah kata dan rahasia
akan kupahami juga pada akhirnya.
2014
gugusan awan berputar di atas kepalaku,
cahaya rembulan menembus barisan kabut di udara,
dan mata bintang yang menatap langsung ke dalam retina mataku.
tubuhku ingin sempat mendekapMu
ingin sampai padaMu
namun ketakberdayaanku adalah jarak yang tak ternilai
aku hanya bisa menyusuri keberadaanMu
dalam raut garis takdir yang Kau petakan
aku pun hendak ingin bermain dengan takdir
maka atas firasat-firasat ini,
kudekap tubuhku sendiri
menyampaikan pada dadaku
sebuah kata dan rahasia
akan kupahami juga pada akhirnya.
2014
11.3.14
Lord is my shepherd, I lack nothing.
Oh Allah, i fear to wake up everyday,
as i dont know what my eyes will see or what my mouth will say.
a new day is like a slate wiped clean,
waiting to be filled with my deeds and sins; a test of my deen.
but my sins will stain the slate black,
a permanent stain, not something i can take back.
the start of new day fears but amazes me at the same time,
to think that You have given me a new chance no matter what crime.
oh to lay here forever until I reunite with You,
if that were possible it would be my only dream come true.
but this dunya and everything in it is a test,
and i will fight everyday for my heart to be at rest.
a beautiful sinner is the only thing i can be.
to sin and than repent; purify my body.
so rather than living in fear.
i will rise every dawn with only one care;
my wudhu washing my sins away,
and bowing down to my Lord as the sun rises
and shines its rays.
for moment like this my heart will live:
Beating away the blessing You give.
---
7.3.14
yang tercatat dari sebuah monolog
angin membuncah
akar dalam jalinan pada tanah paling bawah
mengikat erat sendi-sendi organ dalam
ayah merangkul mataku
ibu menepuk rambutku
mataku basah sebab oleh hujan
yang tiba di depan rumah
dingin serta sunyi yang mengarat pada
lapisan dadaku larut terkelupas
aku pergi dalam waktu yang tak sepenuhnya aman
hanya untuk menyalakan api di perapian
bara menghitam dalam kelam malam
yang muncul di pertengahan bulan
aku kini menyusun sebuah komposisi
yang terbuat dari derit gerimis pada tanah
dan tekstur kabut yang halus
aku melihat suatu nyala
yang sangat terang namun amat jauh
sampai hilang dalam tatapanku
dalam deru pelarianku
2014
Diri
aku belajar mengenai lingkaran serta siklus kehidupan. bahwa manusia bukan hanya seorang saja melainkan bagian dari sistem kehidupan sosial bermasyarakat. manusia adalah diri yang dapat dilihat melalui pandangan orang lain terhadap diri tersebut. dengan kata lain, diri adalah sesuatu yang berada di pusat sekaligus sebagai pengamat dari tepi lingkaran. kadang ia bisa tersisihkan, kadang muncul mengambil peran.
![]() |
| Lukisan Seruni Bodjawati |
diri adalah suatu kesatuan antara badan dan jiwa. badan terdiri dari anggota-anggota tubuh yang diciptakan tuhan beserta panca indera yang dapat menuntun manusia dalam meniti perjalanan di dunia. jiwa merupakan titik sentral yang juga berkaitan dengan hardware penting manusia bernama otak. jiwa dan otak mempunyai fungsi serta peranannya masing-masing. otak mengatur urusan yang dapat dicerna secara rasional, masuk akal. sementara jiwa adalah sesuatu yang menempatkan dirinya dalam kondisi yang paling luhur, jiwa merupakan penentu dari budi serta laku manusia. jiwa kadangkala adalah bagian dari ketidaksaran yang tak dapat diidentifikasi secara teori. jiwa juga yang membimbing otak untuk menggerakkan badan, memaksimalkan fungsi dari sebuah raga.
:suatu malam, sehabis sakit.
Jakarta.
Sebuah ruang pada akhirnya mesti kita batalkan
: kepada Ibud Yusanti
Sebuah ruang pada akhirnya mesti
kita batalkan
Kita meminjam banyak benda, katamu
Sepatu kets, rok panjang,
meja, buku-buku
Segala yang tertangkap hanya ilusi
Mari kita ciptakan saja
dunia
yang lebih waras
dari hal-hal remeh
temeh macam begini.
Dengan tergagap, sungai yang
meluap
dari mulutmu
Menyembul kata-kata:
Aku mencium melankolia pada nafasmu
yang kacau
Mari kita bertukar sabar, sebentar
Aku tak menjadi sedih, aku mungkin hanya patah hati
Atas beberapa pemikiranku sendiri.
Sebuah ruang pada akhirnya harus kita batalkan
Benda-benda tak serupa semula,
hanya ornamen pada jagat
yang lekat kita tatap.
terimakasih telah bertamu
sebenarnya aku tak disini
aku disitu
di matamu
yang sedang menatapku.
2014
12.2.14
Sajak Gelas dan Kecoa
Ada kecoa yang hobinya masuk ke dalam gelas
Ada gelas yang hobinya dimasuki kecoa
Ini hari kedua dimana kecoa masuk ke dalam gelasku
setelah hari pertama ada kecoa yang nasibnya kurang bagus
Entah alur cerita serupa apa
kecoa mengambang dalam susu yang semalam lupa kuhabiskan
gelasnya kuletakkan di rak buku
aku membaca buku hingga ketiduran
lalu...
aku berpikir
Gelas saja dimasuki kecoa
Bagaimana gigiku yang lupa kusikat karena semalam ketiduran
untung mulutku tak dimasuki kecoa juga
untung mulutku tak terbuka ketika tidur
walaupun aku tak tahu bagaimana posisi mulutku ketika tidur
lebih gawat lagi kalau kecoa masuk ke dalam mimpiku
ah, pada kecoa aku enggan berbagi
esok aku takkan lupa lagi
susu dihabiskan
gelas dicuci
menyikat gigi
lalu boleh ketiduran lagi
2014
8.2.14
Aufklarung (2)
Saat segumpal daging telah hitam karena lumpur yang lumur
Mungkin aku telah menutup pintu, sedang Engkau tak juga berhenti
Mengetuk dan memanggil namaku.
Saat aku bersedih atas tangis yang serupa suara gerimis,
Mungkin aku telah pergi dalam beberapa jam, beberapa hari,
Beberapa bulan tanpa meninggalkan alamat
Tapi kau selalu ingat tempat dimana aku biasa singgah
Meminum sepi yang lahir dari rahim malam
Saat embun telah lepas dari sebuah daun,
Saat kabut hanya sekejap memenuhi pagi, aku berharap tak lagi
kehilanganmu
Sebab di pangkal dadaku yang ngilu,
Aku menghapal sembilan puluh sembilan namamu yang lain
Nama yang tak mampu satupun kusebutkan
Sebab pada legam lidahku hanya diam yang menyerupai diriku.
2014
9.1.14
Aufklarung (1)
Kali ini sesak dan kosong benar-benar menghimpit
dada. Leher yang tengadah pada langit mendengungkan bahwa pagi tetaplah pagi,
siang akan tetap menjelang. Namun gonggong iblis dan setan terus menusuk pikiran.
Berkali-kali waktu mengambang di atas kepalaku, berkali-kali
itu pula aku menafsir gejala sembari demam menyebutkan: bahwa aku akan terus
berjalan, selama arahnya ke depan.
Seperti yang terlalu tiba-tiba, laut merah itu
terbentuk dalam bayangan, menghempaskan makna juga sebuah tanya, apakah Fir’aun adalah korban? Seorang korban
yang terlambat untuk paham?
Jika memahami adalah perjalanan yang sangat panjang,
maka telah kubalut luka serta perih pada duri yang menancap daripada
kaki-kakiku. Jejak yang sebentar tercatat dan mungkin akan terhapus angin.
Namun dalam sebuah subuh, seseorang mesti benar-benar
mencari, lalu menerima. Kelak sesuatu yang telah membikin lubang di dadanya akan
benar-benar sirna.
Jika memahami adalah perjalanan yang sangat panjang,
maka waktu sebenarnya adalah jembatan yang sangat pendek, sebentar kita akan sampai di seberang, sebentar ajal akan mendarat dalam tabung kerongkong yang padam.
Januari 2014.
24.12.13
Di lorong rumah sakit
: kepada A. M. S
Di lorong yang menyebutkan banyak nama tentang kepulangan
Barangkali angin yang terperosok di mataku adalah kehilangan bertubi-tubi
Ada yang takut meraba perihal takdir
Ada pula yang takut membaca pertanda
Sementara aku mencoba berlari ke tanah terdalam saja
Mencari barangkali ada yang terpenggal dan masih tertinggal
Saat segalanya telah pucat dan pergi dalam waktu yang bengal
Aku mencoba paham atas berkali-kali kehilangan
Sebab dalam kesedihan masa lampau
Selalu ada yang ingin mengungkap kenangan dengan suara parau
Mimpi dan penglihatan yang tidak biasa entah kepada siapa
Aku mencatat itu dalam labirin yang membentuk sebuah tanya di dadaku
Kenapa seseorang mesti tak berani?
Kenapa harus berdebar pada sesuatu yang tak ada?
Aku mencoba paham atas berkali-kali kehilangan
Atas berkali-kali kesempatan yang direnggut paksa oleh kenangan.
2013
26.11.13
Tokoh-Tokoh dalam Cerita Kita
Tokoh-tokoh dalam cerita kita.
Diperankan oleh anak-anak berkepala mimpi dan guru-guru sabar yang welas asih.
Terimakasih sebab dalam begitu banyak ribut, kita masih sanggup percaya.
Kata Nafiz, Diman itu yang paling gigih.
aku tak tahu pasti siapa namaku, yang kutahu hanya ibu yang menyebutku dengan sebutan "Dirman".
bapak sudah lama tiada, ibu bekerja jadi pembantu. aku berhenti sekolah sejak kelas 1 Sekolah Dasar.
kau jangan menangis, tak ada yang boleh menangis, karena aku pun tak menangis.
"Mereka semua bicara bahwa yang selesai paling cepat adalah yang paling hebat.
tapi bagiku, yang paling hebat adalah yang masih gigih dan bersabar ketika semua orang telah menyerah."
Diperankan oleh anak-anak berkepala mimpi dan guru-guru sabar yang welas asih.
Terimakasih sebab dalam begitu banyak ribut, kita masih sanggup percaya.
aku tak tahu pasti siapa namaku, yang kutahu hanya ibu yang menyebutku dengan sebutan "Dirman".
bapak sudah lama tiada, ibu bekerja jadi pembantu. aku berhenti sekolah sejak kelas 1 Sekolah Dasar.
kau jangan menangis, tak ada yang boleh menangis, karena aku pun tak menangis.
"Mereka semua bicara bahwa yang selesai paling cepat adalah yang paling hebat.
tapi bagiku, yang paling hebat adalah yang masih gigih dan bersabar ketika semua orang telah menyerah."
Anak yang duduk paling belakang itu bernama Angga. Ia tak menulis, tak membaca.
ia asik dalam dunia goresannya. Kau bilang, kelak ingin menjadi artis.
aku tak mengerti. tapi kudoakan semoga kau capai segala mimpi yang kau buat
dalam hamparan garis-garis di tanganmu. barangkali kau belum mempercayai orang lain
sebagai temanmu. Tapi nanti kau akan tahu apa itu teman, kau akan mengerti kelak bila kau merasa sendiri.
bernyanyilah..
berdendanglah..
aku tak mengenal cara untuk berbahagia yang lain
selain bernyanyi
musik berputar di kepalaku
hatiku hilang lara
kau mungkin akan belajar dariku
kau, berdendanglah bersamaku
kan kubawakan untukmu lagu paling manis di dunia.
la..
la..
la....
Dalam mataku, tak ada penghalang yang paling kokoh selain diriku sendiri.
maka aku mengalahkannya.
aku berjanji akan menjadi pemenang dan akan menjadi peri penyembuh bagi mereka yang tak berdaya.
perkenalkan, namaku Ratna..
aku cuma berusaha semampuku untuk menyelesaikan segala tugasku.
ternyata ada manusia yang tak kenal lelah, kak Aira bilang esok datanglah lagi kesini.
esok datang lagi kesini
esok datang lagi..
terimakasih telah percaya.
saling percaya barangkali kata yang lebih tepat.
kita percaya bahwa hari depan masih panjang.
jangan ragu
pada terjal
pada potret kota yang gagal
gagal pun tak apa
masih ada waktu
untuk melompat
selama kau percaya
percaya
percaya
percaya
terimakasih kepada anak-anak rumah singgah Tebet dan Manggarai. Terimakasih kak Ria, Nafiz, Kak Aira, dan semua yang memberi semangat. Terimakasih untuk nama-nama yang tak sempat disebutkan.
6.11.13
Selamat Hari Ibu
Dini hari ketika kulerai selimut
dari mataku, aku berdoa supaya esok masih begini, supaya setiap hari adalah hari ibu, hingga masih bisa kutatap wajahmu
yang tua itu. Kau tak memalingkan tubuhmu, namun aku seringkali memalingkan wajahku.
Aku mengagumi caramu
memperhatikanku yang berlebihan. Pertanyaan demi pertanyaan justru semakin
mengosongkan pikiranku. Apakah yang hendak kuberi jawaban, jika tak ada lagi
yang mampu kuselamatkan dari surga di bawah telapak kakimu. Percayalah, kelak
jika kesedihan datang, akan kuterima sebagaimana aku menerima bahagia ke dalam
dadaku. Tak ada yang bisa menghentikan takdir yang berjalan di lingkar kepala
kita, bukan?
Terimakasih sebab malamku tak
pernah kelaparan, selalu ada wangi dari balik tudung saji ketika aku hampir tak
bisa terjaga untuk meramu perjamuanku sendiri. Kau duduklah di hadapanku. Tanyakan
apa saja yang kau mau, pisang susu atau keping dadaku yang dilumuri madu?
Barangkali akan ada dosa yang
terjadi begitu saja, namun apalah cintaku ini yang tak lebih kuat dari sisa
tenaga putaran mesin cuci? Aku hanya tak ingin melihatmu lelah dalam renta. Aku
ingin kau terjaga dan menyapa pagi dengan tawa yang lebar, meyakini bahwa
segala yang benar tak akan sia-sia terbakar.
Lambungku ini belum terkena semua
getah. Aku mungkin takkan jera. Tapi akan kuhentikan kebiasaanku yang
semena-mena agar kau tak kecewa. Agar tak lagi ada seseorang yang terbangun di
tengah malam untuk menanam obat di perutku, dan menuainya ketika musim sudah
berbuah. Aku hanya ingin mencintaimu, namun aku sering bersedih sebab tak bisa
melakukannya dengan cara yang wajar.
Lalu aku menyimpulkan dari dongeng-dongeng
tua yang kau kisahkan lewat mata itu: tak ada yang masuk akal dari cinta
seorang perempuan kepada anaknya.
November 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)





