15.12.15

PERAN MASYARAKAT DALAM UPAYA MENCEGAH KORUPSI

“Masyarakat Sebagai Pengawas Kinerja Pemerintahan
dalam Upaya Memberantas dan Mencegah Korupsi di Indonesia”
Oleh: Asmi Norma Wijaya

Permasalahan korupsi di Indonesia merupakan permasalahan utama yang sudah terstruktur rapi dan sudah mengakar kuat seperti tradisi. Berdasarkan survey dari ICW (Indonesia Corruption Watch), negara sudah kehilangan lebih dari 6 triliun rupiah pada tahun 2014 silam akibat kasus korupsi. Dan tentu saja hal itu berdampak pada buruknya kesejahteraan rakyat. Karena itulah, persoalan korupsi ini harus ditindak secara serius dengan melibatkan Pemerintah, penegak hukum pemberantas korupsi, Polri, Kejaksaan, Pengadilan serta masyarakat untuk memberantas korupsi yang dapat menciptakan efek pencegahan munculnya kembali praktik korupsi di Indonesia.

Kredibilitas penegak hukum pemberantas korupsi di Indonesia juga dirasakan masih kurang maksimal dan perlu dipertanyakan lagi. Dari survey yang dilakukan oleh Tim Change.org Indonesia yang dilakukan dengan 40 ribu responden pada tanggal 9 Desember 2015 lalu, peran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih sangat kecil yakni 7,6 %, lalu Kejaksaan 4,7 %, dan Polri 4,22%. Kemudian peran masyarakat Indonesia dalam mencegah korupsi pun masih sangat rendah. Indonesia, rasanya perlu bercermin pada China yang berhasil membuat negaranya menjadi bersih dari korupsi yang tadinya sangat marak oleh praktik korupsi.

China, dalam empat dasawarsa yang lampau, telah banyak mengalami kerugian, triliunan uang negara yang diselewengkan oleh pejabat-pejabat korup dari semua lapisan pemerintahan, mulai dari pejabat kelas rendahan hingga pejabat kelas tinggi. Namun, itu semua telah jadi bagian kelam dari sejarah politik serta perekonomian di China. Selama 6 tahun terakhir, sebanyak 321.429 kasus pelanggaran disiplin sudah berhasil dibereskan dan 22.000 kasus korupsi sudah berujung dengan hukuman yang setimpal. Bahkan secara umum hanya dalam waktu 3 bulan saja kasus korupsi dapat terinvestigasi. Lantas bagaimana cara China dalam memberantas korupsi?

China memiliki penegak hukum pemberantas korupsi yang disebut dengan Komite Disiplin Partai Komunis China (PKC) dengan Nii YiFeng sebagai Direkturnya. Komite Disiplin PKC tersebut mendapat perlindungan hukum yang kuat dari konstitusi dan Pemerintah Pusat. Kinerjanya tersistem ke dalam 5 lingkup inti, yakni di dalam tubuh Partai, Pemerintahan, Pengadilan, Kongres Rakyat dan Konferensi Politik, kemudian Media dan Publik. Sistem kewenangan pengawasan dan perlindungan hukum yang kuat itulah yang membuat Komite Disiplin Pemberantas Korupsi dapat bekerja secara efisien dan optimal.

Sementara untuk kinerja Komite Disiplin ini, ada beberapa metode efektif untuk memberantas korupsi. Pertama, metode pencarian serta penangkapan koruptor melalui informan. Di sinilah pentingnya peran masyarakat China sebagai informan dalam upaya mencegah korupsi. Bahkan menurut survey yang dilakukan oleh People’s Diary, peran informan berpengaruh hingga 90 % dalam membantu Komite Disiplin KPC melakukan investigasi korupsi. Masyarakat bisa dengan bebas membocorkan kelakuan pejabat yang korup dengan cara mengirimkan surat tanpa nama ke kantor pemerintah setiap harinya.

Kedua, proses interogasi koruptor dari Komite Disiplin KPC dengan menerapkan metode Shuanggui. Shuanggui adalah pengadilan tersendiri di luar pengadilan resmi China. Sebuah cara kerja yang memadukan investigasi yang tepat dengan penyiksaan dan tekanan fisik maupun mental. Tujuannya ialah agar target mau mengaku dan membongkar kejahatan koruptor lain yang bekerja sama. Setelah target mengaku, maka PKC akan langsung mengumumkan pemecatan pelaku kepada publik. Dan hal itu telah jadi vonis awal bagi target secara tidak resmi. Metode Shuanggai ini dapat menjadi ancaman yang mengerikan untuk mencegah korupsi karena bisa membuat para pejabat takut untuk melakukan kejahatan korupsi.

Ketiga, aturan mengenai larangan gaya hidup mewah bagi para pejabat yang dicetuskan oleh Presiden China, Xi Jinping. Di awal pemerintahannya, Xi melarang anggota partai mendapat perlakuan khusus. Sebab gaya hidup mewah dapat menjadi pemicu tindakan korupsi dan dapat membuat jarak pemisah antara partai dan rakyat. Larangan gaya hidup mewah bagi para pejabat juga turut melibatkan kontribusi masyarakat secara aktif. Di era internet yang semakin berkembang cepat ini, masyarakat bisa memajang foto dan informasi seputar aksi kesewenang-wenangan serta gaya hidup mewah para pejabat. Terlebih bagi para blogger dan jurnalis yang sangat gencar dan aktif dalam gerakan anti korupsi. Dengan adanya informasi yang tersebar dari masyarakat di internet, maka bisa membantu pengungkapan gejala awal adanya praktik korupsi dari pejabat yang bersangkutan.

Keempat, hukuman yang setimpal bagi para pelaku korupsi tanpa tebang pilih. Hukuman untuk para koruptor pun beragam, mulai dari dipenjara, pengurasan harta benda untuk memulangkan uang negara, serta dieksekusi hukuman mati. Hukuman yang berat seperti itu, tentu saja dapat menimbulkan efek jera bagi para koruptor dan menimbulkan ancaman serta ketakutan bagi para pejabat yang berniat melakukan korupsi.  

Lantas bagaimana jika metode pemberantasan korupsi di China kemudian diterapkan di Indonesia? Bisakah Indonesia mengadopsi cara penindakan korupsi untuk mencapai negara yang bersih dari korupsi? Kemudian bagaimana peran aktif masyarakat dalam upaya mencegah korupsi? Nah, berikut ini adalah beberapa hambatan dan hal-hal yang seharusnya dilakukan bersama dalam upaya penindakan serta pencegahan korupsi.

Pertama, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang menggunakan jalur pemilihan umum dengan kampanye modal besar memicu adanya praktik korupsi yang berkelanjutan. Pemimpin yang menang dan sudah mengeluarkan banyak uang pasti berharap akan balik modal dan meraup keuntungan sebesar-besarnya ketika sudah menjabat. Peran masyarakat dalam hal ini sangatlah penting sebagai penentu siapa yang akan bertanggung jawab duduk di kursi pemerintahan. Masyarakat harus kritis terhadap informasi seputar calon-calon pemimpinnya agar tidak salah pilih. Jika perlu masyarakat meminta perjanjian hitam di atas putih terhadap calon-calon pemimpin untuk melakukan transparansi anggaran negara jika sudah terpilih kelak. Serta perjanjian yang berbunyi jika dalam kurun waktu tertentu korupsi tidak bisa dituntaskan atau malah semakin parah, maka pemimpin yang sudah menang harus berani mengundurkan diri dan mengganti kerugian negara akibat korupsi.

Kedua, lemahnya perlindungan hukum bagi penegak hukum pemberantas korupsi yang berakibat pada lemahnya kinerja KPK dalam memberantas korupsi. Keterbatasan personil KPK serta ketidaksolidan antara sesama penegak hukum pemberantas korupsi, yakni, KPK, Polri, Jaksa, dan Hakim juga menjadi penghambat sekaligus tantangan bagi KPK dalam memberantas korupsi. Polri seharusnya jadi pelindung bagi KPK, begitupun pada Pemerintah Daerah yang tidak boleh membatasi wewenang investigasi kasus korupsi. Pemerintah harus membuat perlindungan hukum yang kuat dan sistem wewenang yang jelas bagi para penegak hukum pemberantas korupsi. Masyarakat pun harus kembali berkontribusi melibatkan diri dalam membantu KPK. Masyarakat bisa bertindak sebagai informan yang melaporkan kasus korupsi. Dan KPK pun harus terbuka kepada masyarakat dalam memproses investigasi kasus korupsi yang terjadi di seluruh daerah di Indonesia.

Ketiga, lemahnya perlindungan hukum untuk masyarakat dalam melakukan pengaduan mengenai kasus korupsi. Lemahnya perlindungan hukum jangan sampai menjadi hambatan untuk takut bersuara. Jika pengaduan secara langsung kepada pihak berwenang kurang mendapat tanggapan, maka internet dan sosial media bisa menjadi alternatif yang diandalkan. Selain itu, masyarakat Indonesia juga perlu mengadakan kampanye-kampanye serta seminar anti korupsi secara menyeluruh dan kontinyu. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran secara kolektif untuk memberantas dan mencegah korupsi di Indonesia.

Jika Indonesia mau menerapkan cara pemberantasan korupsi seperti di China, maka bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara yang bersih dari korupsi, makmur, dan sejahtera. Tugas masyarakat adalah mengawasi jalannya pemerintahan agar tidak ada korupsi yang menyelewengkan uang negara. Karena itulah peran masyarakat dalam upaya mencegah korupsi sangat penting. Masyarakat pun jangan mudah disuap dan dibeli suaranya. Masyarakat harus senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila serta mempertahankan harkat dan derajat bangsa Indonesia. Adapun pemerintah bertugas untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. []



Daftar Pustaka

2.10.15

Rembulan Duduk di Sampingku

Di dalam pesawat, rembulan duduk di sampingku
Ia membisikkan sesuatu di telingaku
Sebuah suara yang aneh, suara yang belum pernah aku dengar
Tapi juga tak asing

Ia mengatakan padaku agar aku tak mengatakannya pada siapapun
Siapapun, tidak terkecuali pada malam di luar jendela yang sedari tadi
Duduk memandangi kita
Aku hanya berusaha mendekatkan telingaku lebih dekat lagi
Agar siapapun, agar siapapun tidak tahu apa yang tengah ia ucapkan padaku

Ia bilang bahwa cinta bukanlah sesuatu yang mudah dipahami
Aku mengerti itu dan kutangkap ujung mata rembulan yang beriak
Saat malam tak sengaja menerbitkan sedikit cahaya.
Lalu kukatakan pada rembulan,
“Tolong bisikkan sesuatu yang menyenangkan saja.
Apa kau pernah melihatnya belakangan ini?
Karena tahukah, aku lihat semburat senja dari balik jendela
Ada cahaya matahari yang perlahan hilang
Dan barang sebentar digantikan malam
Ia sedang dimana? Aku tengah menantinya dimana-mana
Tidak terkecuali disini.”

Kaki pesawat mulai bergetar menginjak awan – awan pucat
Kota tengah menyampaikan kehidupannya
Kabin kabin berguncang.

Ada yang tertahan di ujung tenggorokanku
Sebentuk rindu yang ingin kumuntahkan dalam kantung plastik di atas bangku

Tapi tak mampu

Aku hanya mampu menelannya kembali..
Dengan tabah kuterima semua yang diucapkan sepi
Dengan sabar kunikmati segala yang berjarak ini

Kaki pesawat kembali bergetar
Rembulan pergi, ia tak duduk di sampingku lagi

2015

27.9.15

Sahaja Senja di Pangkal Pinang

Di jejak kembara, barang barang dikemas
Kata kata dibungkus dalam kardus
Kita memang perlu limbung dalam  hal ini
Dan juga dalam banyak hal lainnya

Namun perantau mustahil pulang
Sebelum obor benar benar menyala
Dan sebelum jalan setapak ini menjadi terang

Kita punya teman yang sedikit saja
Embun pagi, cahaya matahari, suara angin, dan kicau burung
Rasanya itu sudah cukup untuk membuat hidup tetap terasa sederhana
Dan percayalah, Romy..

Kita akan selalu baik-baik saja dalam sahaja senja di Pangkal Pinang

(2015)

22.9.15

Di Ruang Tunggu Bandara

Aku teringat masa kanak-kanak 
yang begitu terasa lucu
Boneka beruang yang terlihat besar,
dan ternyata boneka beruang itu 
tak lebih pendek dari ukuran lututku.
Semua hanya soal sudut pandang bukan?

Lalu kakak laki laki dengan kacamata
berwarna emas
dan juga mimpi mengenai
hal-hal yang ia bawa pulang ke rumah.

Sebelum keberangkatan ke bandara
Nostalgia adalah salah satu kecintaanku
Aku tahu ini tak abadi
Tapi aku menempatkannya kembali
di dalam botol minyak kayu putih
kemudian kusimpan di saku kemejaku.

Sebagaimana ini tak abadi
Maka senyum ibu kujadikan jatah uang saku
untuk makan sehari-hari.
Senyum ibu abadi
dan aku jadi tersenyum senyum sendiri.

Ketinggian seperti kabut buram 
yang aku tak jelas melihatnya dengan warna apa
baunya apa, rupanya apa.
Aku tak pernah berani soal begini

Seantero diriku berusaha kutiupi dengan letupan
keajaiban dariNya. Aku ingin melihat
nikmat Tuhan yang banyak itu
selain dari apa yang tertanam
dalam urat urat nadiku.

Esok aku terbang menempuh 
kilometer perjalanan. Aku ingin berlabuh
dalam masa laluku. Untuk hendak
merindukan rumah itu dari jauh.

(2015)

20.9.15

KEBENCIAN DI BALIK HARAPAN ITU


Kau menuliskan kebencian dan menyimpannya
Di antara liapatan lipatan dompetmu
Menjadi satu tercampur dengan tanda pengenal,
Lembar lembar uang dan menempel
Menjadi keseharian yang tak bisa kau lepaskan
Kau bisa mengambilnya kapanpun kau mau

Kebencian juga kau letakkan di antara
Tumpukan baju di lemari
Menjadi sesuatu yang melekat dalam pakaianmu
Kau bisa memilihnya sambil berkata
“kebencian yang mana yang hendak kukenakan hari ini?”

Kebencian itu pun kau hidangkan
Di balik tudung saji
Kau campurkan ke dalam bakul nasi dan seteko air putih
Yang jika lapar kau rauk dan jika haus kau teguk
Kebencian masuk ke tubuhmu dan meracuni rongga rongga kehidupanmu

Kebencian telah menjadi teman baikmu

Hingga lupa ada harapan yang diam diam iri pada kebencian itu. 

2015.

17.9.15

Di bawah pohon ini

Di bawah pohon ini akar akar bergetar
Daun menggantung tak mampu mendengar
Sampai angin menakdirkan dirinya
Menjadi memoar yang terbang ke akar
Menyapa waktu yang kian memar

Di bawah pohon ini
Musafir tak lagi dahaga
Karena kenyang direguknya rindu yang hampa

Di bawah pohon ini
Ada dahan yang mengetahui, ada ranting yang memahami
Namun tidak pada siapapun

Dan esok bertemulah di bawah pohon ini
Kelak agar mengerti.

(2015)

7.9.15

Apa lagi yang bisa kita ingat?

Kita bisa mengenang apa saja,
pagi, hujan, beranda rumah
Kita juga bisa mengingat apa saja
Perjalanan, lagu, nama-nama

Lantas apa yang bisa kita kenang dari kota ini?
Apa yang bisa kita ingat dari sebuah kota yang tak pernah mengingat kita sebagai orang-orang yang begitu sahaja mengingatnya?

Atau kita cuma kumpulan orang mati
Yang tak patut diingat
Bahwa kita pernah singgah disini
Bahkan terluka disini

Apa yang bisa kita ingat?
Sementara ribuan kabar keluar masuk berhamburan dalam pikiran
Lalu mulutmu berbusa menyampaikannya
Kita hanya sabar mejadi pendengar
Kemudian maklum dan sepi berdebar, bertanya pada semesta?
Bisakah kita tak melakukan dosa?

Semakin kita takut pada dosa
Semakin mereka tekun contohkan bagaimana cara berdosa yang benar?

Apa itu yang bisa ingat?
Apa lagi yang bisa kita ingat?

2015.

24.8.15

KOTAK AMAL MASJID

Setiap hari selalu saja ada kabar buruk jika kita mau membuka lebar telinga kita, membuka langsung mata kita, memelototi besar-besar koran dan berita. Selalu ada yang nampak tidak sejalan dengan hati nurani. Namun kita kadang hanya berdecak, entah kesal, prihatin, atau merasa lelah, karena pusat berita hanya itu itu saja sebenarnya. Perihal keserakahan dan kerakusan manusia, kemanusiaan yang tidak adil dan tidak beradab, ketuhanan yang tidak diesakan. Betapa menyakitkannya mengetahui bahwa kita masih saja jauh dari angan-angan kita. Dari dasar negara yang kita sering sebut sebut sewaktu sekolah dasar dulu. Dasar yang kita pun menyadari bahwa kita sebenarnya sudah mengalami kebutaan itu sejak lama, ketulian mengenai cara menggunakan pijakan yang baik dan benar.

Pengetahuan sebenarnya sudah merupakan aspek yang paling besar dalam hidup kita yang hampa. Mengaku Dan tahu bertuhan satu, tapi cemas jika jumlah nominal tabungan di bank mulai menipis. Berusaha sekeras kerasnya agar yang didapatkan bisa lebih banyak dari apa yang kita kerjakan. Bahkan yang lebih parahnya memikirkan bagaimana merebut apa yang di tangan orang untuk masuk ke dalam kantong sendiri.
Kita menjadi kikir dan terlalu cinta akan dunia. Mencari - cari nominal yang paling kecil untuk pengamen yang datang di saat kita sedang asyik makan. Namun tak ragu mengeluarkan yang paling besar untuk membelanjakan produk jam tangan bermerk yang sudah menjadi idaman.

Lalu dengan mudah kita menunjuk-nunjuk pencuri, maling, rampok, jambret dan lainnya sebagai orang yang jahat dan tidak beradab. Padahal boleh jadi ada dosa kita di dalam dosanya. Bisa jadi karena ketidak sadaran kita untuk mau memperhatikan kebutuhan kebutuhan orang orang yang tidak kita kenal. Bisa jadi kita terlalu kikir dan berusaha membela diri bahwa kita juga memiliki banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.

Karena dorongan untuk berbuat jahat selalu didasari visi tertentu, ada latar belakang yang membuat seseorang bisa mencuri. Dan pusat dorongan bisa diyakini berasal dari perutnya yang meminta diisi. Sempitnya lapangan pekerjaan, keluarga yang membutuhkan naungan bisa dengan mudah memaksa seseorang untuk melakukan apa apa yang tidak ia sukai sekalipun itu bertentangan dengan hati nuraninya.

Teringat beberapa hari yang lalu, masjid di dekat rumahku telah kehilangan kotak amalnya. Kebanyakan komentar warga adalah "Kok ya berani banget, apa ga takut kena batunya..". Begitu kira-kira, kenyataan ini cukup menyedihkan. Apakah ini dosa kita juga? Yang terlalu menguras otak ketika memutuskan untuk bersedekah, baik harta, ilmu, dan tenaga kita. Adakah orang orang terdekat kita yang masih berpikir besok bisa makan apa tidak, sementara kita masih dengan untungnya berpikir nanti akan makan di restoran mana.

Seseorang tidak akan mencuri ketika semua kebutuhannya telah tercukupi.  Terlepas dari keputusannya untuk memperhitungkan apa yang akan ia dapat setelah berhasil mencuri, ketenangankah atau kecarutmarutan batinnya. Tingkat kemiskinan harta, ilmu, perilaku seseorang kerapkali merefleksikan seberapa tinggi tingkat kekayaan harta, ilmu, dan perilaku orang orang sekitarnya. Kapitalis telah memenuhi seluruh rongga kehidupan kita. Kita menjadi begitu akurat soal pendapatan, namun begitu lalai soal pengeluaran dan kemana harta kita dikeluarkan. Seperti kita tahu bahwa harga harga semakin meninggi, namun kita semakin boros terhadap apa apa yang kita belanjakan. Hanya untuk menenangkan pikiran pikiran kita bahwa hidup kita tidak akan baik baik saja tanpa ini, tanpa itu. Kita menjadi orang yang sangat egois namun di saat yang bersamaan menjadi orang yang paling pintar menghakimi.

2015.

19.7.15

Keranjang Sampah

Tak apalah jadi keranjang sampah. 
Asal itu bisa menentramkan hati tetangga yang sedang kesulitan ekonominya. 
Tak apalah jadi keranjang sampah,
asal itu bisa menenangkan hati kawan yang kelelahan batinnya. 
Tak apalah jadi keranjang sampah, 
asal itu bisa membantu saudara yang tak cukup kuat raganya. 
Tak apalah jadi keranjang sampah, selama kita tidak jadi sampah bagi orang lain. 

24.6.15

#MONOLOG 5

Allah selalu tahu kapan jiwamu sedang gersang, kapan hati sedang dahaga, dan kapan pikiran sedang membuntu. Namun tak ada yang kurang dari apa yang diberi-Nya, tak juga berlebih takarannya.
Allah selalu tahu setiap inchi kesedihanmu dan Allah pula yang menggembirakan hatimu. 

#MONOLOG 4

Pintu kebenaran memang kadang bisa terbuka dengan kunci kecurigaan. Tapi lebih sering terbuka dengan kunci pemahaman.
Lebih banyaklah memahami, ketimbang mencurigai. 

#MONOLOG 3

Cinta itu ibarat anak panah. Kau tak bisa menariknya terlalu kuat, jika kau tak ingin ia terlepas begitu jauh.
Kalau begitu dibalik saja, lepaslah ia, maka ia akan datang padamu.

#MONOLOG 2

Kita ini barangkali terlalu percaya diri. Rajin menumpuk-numpuk harta, walaupun tak tahu esok hari masih berpijakkah di bumi? Bersedekahlah seperti Yang Maha Memberi Kehidupan telah bersedekah padamu.