19.5.26

Kenapa Pernikahan Menenangkan Hati?

Semenjak menikah sembilan tahun lalu, aku merasa menjadi manusia yang lebih tenang dan stabil. Lalu aku mulai berpikir, kenapa pernikahan itu menenangkan hatiku? 

Barangkali, karena pada akhirnya hanya suamiku yang mengetahui sisi terburukku. 

Seseorang akan merasa sangat khawatir ketika sisi terburuknya diketahui orang lain. Tapi ketika menikah, sisi terburuk manusia sepanjang hidup akan disaksikan oleh pasangannya. 

Aku bisa berlagak tenang di luar. Tapi bisa juga serampangan dan ceroboh ketika bersama pasanganku di rumah. 

Jadi selepas menikah, aku tidak perlu lagi merasa cemas dan khawatir. Aku merasa tenang karena semua sisi terburukku dalam diriku sudah ada yang mengetahuinya. 

Di hadapan pasangan, aku bisa menjadi diriku sendiri. Itulah cinta, ketika seseorang merasa aman melakukan apapun. Sebab bagaimanapun, cinta akan selalu mendukung. 

Bagiku, level tertinggi dari cinta setelah kesetiaan, adalah dukungan. Ketika kau memutuskan untuk mencintai seseorang, itu berarti kau harus siap mendukungnya, tentu dalam lingkup kebaikan.

Mendukung seseorang sama saja membuka diri untuk mendapatkan dukungan yang sama. Dengan kata lain, jika itu mimpimu, maka bagiku itu juga mimpiku. 

Aku akan mendukungmu meskipun semua orang pergi. Dan kamu akan mendukungku ketika aku tak punya siapa-siapa lagi. 

---

Kemarin aku membaca sebuah utas tentang himbauan mencantumkan nomor telepon darurat di layar ponsel. Hal itu dilakukan agar jika terjadi hal hal darurat yang tidak diinginkan, maka orang lain yang menemukan ponsel kita akan bisa menghubungi orang terdekat kita. 

Setelah membaca utas tersebut, aku memutuskan untuk mencantumkan nomor ponsel suamiku di lockscreen ponselku, aku juga menjadikan foto kami sebagai wallpaper. Aku tidak bisa memikirkan nama lain dari orang terdekatku yang kira-kira bisa dengan segera menolongku jika terjadi sesuatu padaku. 

Sejak tinggal di perantauan, aku tidak terbiasa melekatkan hidupku pada apapun dan siapapun. Sepenuhnya, aku meminta pertolongan Allah, barulah aku meminta tolong suamiku. Aku merasa sudah berusaha sendirian sekeras ini. 

Sekarang, meskipun aku dan suamiku tinggal berjauhan, aku tetap merasa tenang. Aku merasa cemas dan khawatir hanya sesekali saja, tidak sering. Mungkin hanya dua atau tiga kali dalam sebulan. itu terjadi hanya ketika malam hari ketika aku kelelahan atau saat anakku sakit. 

Aku lebih merasa cemas ketika tidak ada yang bisa dilakukan oleh suamiku di sini. Ya, melihat pasanganku tidak melakukan apapun adalah hal yang menakutkan. Punya atau tidak punya uang, bagiku urusan belakangan. Tapi, melihatnya tidak bisa melakukan yang diinginkannya adalah hal yang membuatku khawatir. 

Jadi, aku akan selalu mendukungnya. Ketika didukung, seseorang akan merasa tenang dan merasa bahwa hidup ke depannya akan berjalan dengan baik. 

Di usia pernikahan yang hampir sepuluh tahun, cinta tidak lagi menggebu-gebu. Cinta berubah bentuk menjadi penerimaan. 


Singosari, 19 Mei 2026

Sepuluh Tahun Sepeninggal Ibuku

Hari ini genap sepuluh tahun ibu wafat. Bapakku juga sudah menikah lagi sejak tujuh tahun lalu. Dan cucu mendiang ibu dan bapakku sudah bertambah banyak. Anak-anakku tidak ada yang sempat melihat wajah neneknya secara langsung. Aku pun jarang melihat foto ibuku. Karena ketika melihat fotonya, aku langsung menangis. Menangis dengan tangisan yang sulit dihentikan.

Sejujurnya aku ingin sekali menangis, aku ingin merasakan kesedihan itu secara nyata, bukan hanya di dalam hati. Tapi ibu melarangku menangis, ibu memberiku mandat untuk mendoakannya. Itu pesan terakhir ibuku. Dan sejak itu aku tak suka menangisi ibuku. 

Selain itu, aku memang tidak mau menangis, karena menangis membuatku sakit kepala, hidung meler, dan mataku sembab. Aku juga tidak punya waktu untuk menangis. Anak-anakku di rumah selalu membutuhkan pertolonganku. Mana mungkin aku bisa menangis, saat anakku ingin bermain cilukba. Mana mungkin aku menangis saat aku harus mengejar anakku untuk mandi dan makan.

Ketimbang menangis dan merasa sedih, aku lebih merasa lelah. Kelelahan yang mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan kelelahan yang ibuku rasakan dulu. Jadi, sebenarnya aku lebih merasa kasihan dan iba kepada ibuku di masa lalu dan aku di masa kini yang sudah menjadi ibu. 

Di luar dugaanku, menjadi orang tua adalah sesuatu yang berat dan sulit. Maka dari itu, aku memaafkan semua kesalahan ibu dan bapakku. Semoga ibuku dan bapakku juga sudah memaafkan kesalahanku sebagai anak. Aku lebih sering berterima kasih kepada mereka, karena mereka sudah menjadi orang tuaku yang merawat dan membesarkanku. Aku yakin mereka sudah melakukan yang terbaik. Aku menangis hanya ketika mengingat kebaikan-kebaikan ibuku dan bapakku. 

Betapa ibuku dengan sabar menggendongku, menyusuiku, menyuapiku, memandikanku. Betapa tangguhnya ibuku, apalagi aku anak terakhir. Ibuku merawat enam anak, dua anak bapakku, dan empat anak ibu dan bapakku. Aku kecil sering sakit-sakitan dan ibulah yang dengan sabar merawatku. Bapakku juga yang mengantarkan berobat ke dokter. 

Ingatan yang paling melekat di kepalaku adalah ketika aku sakit lumayan parah pada tahun 2012. Aku sakit tukak lambung selama sekitar sebulan dan aku hanya berbaring di tempat tidur. Setiap malam ibu menyuapiku makan dan memberiku obat jamu yang dibuatnya sendiri. Tengah malam, aku melihat bapakku sholat dan mendoakan kesembuhanku. 

Aku merasa jadi anak yang merepotkan. Bagian paling sedih saat ibuku meninggal sebenarnya adalah ketika aku belum bisa membahagiakan ibuku, membalas jasa dan kebaikannya. Aku belum sempurna merawatnya apalagi saat ibuku sakit hingga aku mendengar nafas terakhirnya. Ya, aku berada di sampingnya ketika ibu menutup mata untuk selamanya. Setidaknya hal itu membuatku sedikit lega, aku berada di sampingnya dan menggenggam tangannya. Aku juga melihat ibuku melafazkan Laa ilaaha ilallah untuk terakhir kalinya. Rasanya tidak percaya, meskipun itu kematian kedua yang kusaksikan. Kematian pertama yang kusaksikan adalah kematian nenekku dari garis ibu. 

Ibuku, betapa aku mengagumi ibu. Ibu mengajariku aku menjadi ibu. Ibu juga sama sekali tidak pernah menuntutku. Ibuku selalu membuka kedua lengannya dan menerima keadaan diriku, selemah apapun aku. Ibuku jarang marah, sesekali saja ketika ibu mungkin merasa kelelahan dan ketika merasa sakit. Ya, saat seseorang sakit, emosi jadi tidak stabil. Aku mengerti itu. Jadi, aku melupakan semua kemarahan ibuku. Karena aku tahu, ibuku tidak marah padaku, tapi pada sakitnya.

Ibu menderita sakit cukup lama dan semoga sakit yang diderita ibuku menjadi penggugur dosa-dosa ibu. Semoga Allah senantiasa menerima amal kebaikan ibu. Semoga kelelahan ibu selama di dunia menjadi pemberat timbangan amal kebaikan ibu di akhirat. Aku berdoa agar Allah meridhoi ibu dan menempatkan ibu di surgaNya. Semoga kelak kita juga bisa berkumpul di surgaNya Allah bersama Nabi Muhammad saw.

Ibu, ketika mengenangmu, hanya kebaikan ibu yang teringat. Bahkan ketika sepuluh tahun berlalu, terasa bukan seperti sepuluh tahun. Aku jadi bergumam sendiri, ternyata sudah lama ya aku hidup tanpa ibu. Sudah lama juga aku tidak berkunjung ke makam ibu. Aku tidak ingin beranda-andai, aku hanya ingin hidup dengan baik agar bisa selalu mendoakan ibu. 


19 Mei 2016 - 19 Mei 2026

7.5.26

tahun-tahun yang hilang

selamat untuk diriku sendiri karena bisa masuk lagi ke akun blog yang sudah bertahun-tahun, sejak mungkin anak pertamaku lahir aku tidak menulis lagi di blog ini. aku merasa senang dan bersyukur, seperti dipertemukan kembali dengan rumah yang dulu sering kusinggahi, kudekor sedemikian rupa, kuatur tata perabotannya. rumah lama yang menjadi tempat pelarianku.

aku memberi judul tahun-tahun yang hilang, karena aku tidak mencatat perjalananku di sini. aku lupa akun dan passwordnya dan tidak sempat untuk sekadar mengutak-atiknya. tapi percayalah, bahwa tahun-tahun itu tidak pernah hilang. waktu yang hilang di dalam diriku hanya berubah bentuknya menjadi anak laki-laki berusia 7 tahun yang tumbuh besar dan seorang anak perempuan berusia 1 tahun yang menggemaskan.

aku masih belum tahu hendak bagaimana aku mengisi kembali rumah lamaku ini. kalau dulu, aku sering merasakan keresahan sebab hidupku yang kosong dan kaku. sehingga dulu aku dapat menuliskan begitu banyak hal dari isi kepalaku secara tiba-tiba atau terencana. aku bisa menulis puluhan puisi dan beberapa cerita. tetapi sekarang aku bingung hendak menuliskan apa.

karena saat ini aku merasa hidupku sudah cukup, bahkan penuh. aku tidak merasakan kekurangan apapun, alhamdulillah. pernah mengalami kehilangan, betul. tapi kehilangan-kehilangan itu selalu Tuhan isi lagi dengan hal-hal yang baru dan lebih baik. aku mungkin bisa menyebut hidupku saat ini dengan sebutan; berkelimpahan. berkelimpahan bukan dalam segi uang atau materi. tapi, mungkin lebih tepatnya berkah, keberkahan. 

aku masih merasakan keresahan, tapi tidak begitu sering, itupun sedikit. hanya ketika aku kadang-kadang melihat kehidupan orang lain yang alurnya sekilas terasa cepat dalam pandanganku. keresahan karena aku lupa bersyukur, ya, disebabkan kelalaian diri sendiri. 

sampai ada moment ketika aku memiliki sedikit waktu luang dan aku menonton series drama yang berjudul we are all trying here. belakangan aku mengisi waktu luangku dengan menonton film. aku kurang membaca buku belakangan ini, kuakui karena alasannya adalah harganya. satu-satunya hal yang tidak aku sukai dari buku adalah harganya. 

mungkin aku bisa membeli buku, tapi tidak sering, itupun aku lebih pilih membeli buku untuk anak-anakku. dan semakin usiaku bertambah, ya, aku sudah cukup dewasa sekarang, dan aku merasa semakin banyak pertimbangan untuk memilih bacaan-bacaanku. kalaupun mau membaca, aku pilih dari perpustakaan digital, tetapi itupun sering bermasalah karena aplikasinya sering error. 

kembali lagi pada drama yang aku tonton, ada scene di mana female leadnya, byeon eun a, ditanya oleh kakak dwong man, saat makan siang bersama. ia bertanya begini "apa tujuan hidumu? bukan dalam soal kesuksesan. maksudnya apa yang kau inginkan dalam hidup ini?" 

byeon eun a agak kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba dan mendalam. setelah diam beberapa saat, dia pun menjawab, "aku ingin menjadi ibu yang tangguh. bukan soal uang atau koneksi. ibu yang tegar dan menjadi penengah, sehingga di sekitarnya merasa tenang. ya, aku ingin menjadi ibu yang tangguh." 

--

dialog eun a dan kakaknya sedikit banyak membuat aku sadar dan mengingat lagi, bahwa dulu keinginanku juga adalah menjadi seorang ibu yang baik, menjadi seorang ibu yang menenangkan seisi rumah. aku merasa ini bukanlah kebetulan, dialog pada scene ini muncul ketika pikiranku sedang ramai mempertanyakan, "aku ini lagi ngapain sih di rumah aja? kok kerjaanku seperti tidak ada habisnya?".

ketika aku meragukan masa depanku, aku lupa bahkan tidak sadar bahwa ternyata aku sudah berada di masa depan yang aku inginkan. tidak ideal, tetapi seperti yang sudah kutulis di awal, aku sudah merasa penuh dan dilimpahi oleh ribuan keberkahan. bukankah saat ini adalah masa depan yang dulu kuinginkan?

rasanya aku perlu lebih sering belajar dengan kata cukup. terima kasih kepada writernim park hae young, yang sudah menulis dialog seindah itu. bahkan di situ, eun a mengatakan bahwa kalau tidak ditanya oleh kakak dwong man, mungkin dia tidak akan tahu tujuan hidupnya. 

--

karena tidak ada yang bertanya padaku, aku rasanya perlu lebih sering bertanya dan berbicara kepada diriku sendiri. dan salah satu caranya adalah dengan menulis kembali. dengan menulis, aku seperti berbicara dengan diriku, bukan diriku yang di luar, tetapi diriku yang ada di dalam, yang tidak ada seorang pun bisa melihatnya, bahkan aku sendiri. 

aku menulis ini di hari jumat pukul 06.00 pagi, pagi yang cukup sunyi karena anak-anakku masih lelap tidur dan suamiku sedang bekerja di tempat yang jauh. cukup jauh sehingga belum tentu sebulan sekali suamiku bisa pulang ke rumah. untungnya, aku orang yang lumayan sabar dan kuat menanggung rindu. mungkin seperti yang dikatakan eun a, ibu yang tangguh. 

cuaca di sini dingin terlebih saat pagi hari. aku melarikan diri sebentar ke sini sebelum rumah kembali ramai dan penuh kembali. 


salam~~



3.4.18

Hubungan Malaikat Dengan Mukmin

Bismillahirrahmanirrahim...

Postingan kali ini adalah review kajian tanggal 4 Februari 2018 oleh Ustadzah Munawaroh di Perpustakaan Masjid Gede Khauman. Tujuannya supaya lebih mudah dipahami ya, sekalian buat diri saya sendiri biar ga gampang lupa :) Maafkan kalau tulisannya masih amat sangat berantakan, karena ngumpulin tekad buat nulis aja masya Allah beratnya :( Tapi semoga masih bisa dipahami ya.

Kajian perdana yang saya ikuti ini temanya tentang Hubungan Malaikat Dengan Mukmin. Jadi dimulai dari pengertian mukmin dulu. Mukmin itu artinya orang yang beriman. Definisi iman itu sendiri menurut Rasulullah Saw ada 3: 
1. Keyakinan di dalam hati 
2. Diikrarkan dengan lisan 
3. Diamalkan dengan perbuatan (anggota badan) 


Jadi, belum dikatakan beriman orang yang cuma ngucap syahadat atau ngaku beriman cuma di bibir aja. Hatinya juga harus yakin bahwa Allah SWT adalah Tuhan Semesta Alam dan Nabi Muhammad adalah Rasul Utusan Allah. Buktinya apa? Dibuktikan dengan 5 rukun islam (Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji jika mampu). Terus udah itu aja? Nah kalo kita udah ngelaksanain itu kita bisa disebut Muslim, tapi belum bisa disebut Mukmin. Mukmin itu wajib memenuhi 6 rukun, yakni; Iman kepada Allah SWT, Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab, Iman kepada Rasul, Iman Kepada Hari AKhir, dan Iman kepada Qada dan Qadar. 

Lalu gimana sebenernya "Hubungan Malaikat dengan Mukmin?" Dalilnya ada di Qur'an Surat ke 40 Ayat 7 posisi paling bawah sebelah kiri (Udah kaya Ustadz Adi Hidayat aja ya pake posisi :D )
Langsung aja ke terjemahannya ya...

"Malaikat-malaikat yang memikul 'Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepadaNya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada padaMu meliputi segala sesuatu, maka berikanlah ampuanan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan agamaMu dan peliharalah mereka dari azab neraka"
 
Masya Allah, merindingggg ga sih baca terjemahannya. Banyak banget doa-doa yang malaikat curahkan buat orang-orang yang beriman. Itu kan artinya hubungan malaikat sama orang mukmin itu luar biasa sekali. Malaikat minta sama Allah supaya orang-orang yang beriman itu dikasih rahmat dan ilmu, dikasih ampunan, dan diharamkan dari azab neraka. Tau sendiri kan  kalo malaikat itu makhluk Allah yang bersih sama dosa? Malaikat ga punya salah dan dosa barang secuil pun. Jadi apa artinya kalo malaikat yang berdoa? Pasti, pasti insya Allah akan dikabulkan dan langsung diijabah. 

Oia, tadi ada dalam terjemahnya yang menyebutkan kalau malaikat akan memohonkan ampun kepada orang yang bertaubat. Syarat taubat itu sendiri dibagi dua ya, ada yang taubat ke Allah (kalau dosanya sama Allah), dan ada taubat yang kepada sesama (kalau salahnya sama manusia).

Dijabarin syarat taubat yang kepada Allah dulu ya: 
1. Melepaskan diri dari maksiat. Jadi kalau kita udah berniat mau melakukan taubat, kita harus tinggalin hal-hal maksiat. Hal itu kita lakuin supaya dosa kita ga makin nambah. Maksiat itu artinya hal-hal yang dilarang Allah. Contoh; seorang perempuan yang belum memakai jilbab. Lalu ia bertaubat dan mulai untuk memakai jilbab. Jadi maksiat itu bisa aja dosa-dosa yang kita ngerasa hal itu biasa biasa aja kalo dilakuin, padahal bisa menjauhkan kita dari ampunan Allah.
2. Menyesali perbuatannya. Habis melepaskan diri dari maksiat yang dulu pernah kita lakuin, kita harus sadar bahwa yang dulu kita lakuin adalah salah dengan cara menyesalinya.
3. Bertekad supaya tidak mengulangi
Kalau sudah melepaskan diri dari maksiat lalu menyesali. Nah setelah itu harus punya tekad yang bulat untuk tidak mengulangi perbuatan buruk itu lagi. Yahh, bisa dibilang fase inilah yang mungkin paling sulit. Karena berubah itu mudah tapi istiqomah itu swusssaaah. Apalagi kalo kita ga pinter-pinter ngejaga pergaulan. Kita bakalan gampang bangeeeet terpengaruh untuk berbuat yang ngga baik.
4. Beramal shalih
Langkah taubat yang keempat inilah yang bisa memenej perilaku dan keimanan kita, beramal shalih juga bisa nutup dosa-dosa kita dan menambah tabungan pahal. Yang kesemua itu pada dasarnya untuk mengundang ridho dan pertolongan Allah.

 Itu dia 4 langkah taubat kepada Allah. Beda lagi lho kalau salahnya ke manusia, terus gimana caranya?
1. Kembalikan nama baliknya. Maksudnya?
Maksudnya adalah kita bicarain kalo permasalahannya kita pernah ngomongin aib orang lain. Udah tau kan gimana ibaratnya kalo ngomongin kejelekan orang lain? Yap, kaya makan bangkai mayit saudara kita sendiri. Naudzubillah... Tapi kalo kita udah terlanjur ngelakuin itu, selain kita harus taubat kepada Allah, kita juga harus kembalikan nama baik orang yang kita omongin itu. Misalnya kita ngomongin aib A ke B. Nah kita harus ngejelasin atau klarifikasi ke B dengan mengembalikan nama baik A.

2. Jika berupa harta, maka kembalikan
Untuk yang nomor 2 ini kalo permasalahannya soal hutang piutang. Setelah kita taubat ke Allah, coba inget-inget kita masih punya utang ga ke orang. Kalo kita pernah punya utang, terus lupa bayar walaupun itu cuma 500 perak. 500 perak itu bakal dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Jadi hukum membayar hutang itu lebih utama lho daripada sedekah.

3. Minta Maaf
Mungkin bagi segelintir orang, minta maaf itu adalah sebuah hal yang butuh perjuangan untuk dilakuin. Apalagi kalo kita orang yang gengsian berat. Tapi jangan ragu minta maaf kalo kita punya salah, apalagi kalo kita pernah ngomong yang nyakitin orang tersebut. Luka fisik itu bisa disembuhin, tapi kalo luka batin karena omongan itu sulit banget disembuhin. Jadi jangan sungkan untuk minta maaf dengan setulus-tulusnya. Setelah itu berbuat baiklah. Tapi kalo orang itu masih juga ga mau maafin kita, nah itu bukanlah urusan kita lagi. Tapi sudah urusan orang itu dengan Allah. Jadi jangan sedih, yang penting kita udah setulus hati meminta maaf atas perilaku kita yang lalu. 

Jadi intinya kita harus jadi sebenar-benarnya mukmin niscaya malaikat ikut serta mendoakan setiap langkah kita agar kita bisa selamat dari kehidupan dunia ini. 

Kayanya segitu dulu yang bisa saya sampaikan. Harap maklum jika ada yang salah *pasti banyak yg salahnya :( Masih dan selalu masih fakir ilmu. Semoga kita tetep bisa istiqomah untuk berjalan berusaha menggapai ridho Allah. Semoga Allah kasih kita hati yang lembut dan selalu dijaga dari keburukan supaya ilmu mudah masuk de dalam hati dan akal kita. Aamiin.

Uhsiikum wa iyya nafsi bitakwallah :)

31.3.18

Cita Cita Yang Dimulai Dari Diri Sendiri



Belakangan ini kurang bisa menulis dengan imajinasi sendiri karena, jujur, kurangnya asupan bacaan. Lebih banyak berselancar di dunia mayanya daripada membaca buku bacaan yang bergizi. Dan baiklah saya akan menebus dosa untuk itu. Yakni dengan berikrar kepada diri sendiri untuk lebih banyak membaca buku lagi :D Selain itu rasanya perlu membagi sediiiiiiiikit yang saya ketahui tentang apa-apa yang bisa memenej hati agar lebih mendekat dan mengingat Ilahi Robbi. 

Awalnya semenjak saya mengandung, doa yang paling saya hapal adalah "Robbi habli minas sholihin".. dengan maknanya "Ya Allah karuniakanlah kepada hamba anak yang sholeh/ah." Setelah berdoa seperti itu, meluncurlah saya ke youtube, nyari kajian tentang cara supaya bisa punya anak yang sholeh. Kenapa mesti anak yang sholeh? Karena doa anak sholeh kepada orang tuanya akan terus bisa nyampe walaupun orang tuanya udah meninggal dan beda dunia T.T dan bisa nolong orang tuanya ketika di akhirat kelak. (Untuk haditsnya cari sendiri aja ya :D) 

Balik lagi ke pencarian di youtube, tentang gimana caranya punya anak sholeh. Dan dari sekian banyak hasil pencarian, jawabannya adalah... "Jadilah orang tua yang sholeh terlebih dahulu." #JLEEEEEBBBBB T_T Ngerasa kaya ketampar terus abis itu dijorokin banget, karena selama ini saya juga ibadah cuma seadanya, ilmu agama juga ga ada. Terus mau punya anak yang sholeh/sholeha? NGACA! Hiks!

Akhirnya setelah itu mulai berusaha berbenah diri. Tapi masih belum tahu harus mulai berbenah dari apanya, bagian apa dulu. Selama ini juga ga punya guru/ustadzah yang bisa ditanya ini itu soal hidup yang lurus itu seperti apa ilmunya. Sebenarnya, nggak perlu nyari jauh kemana-mana karena di deket rumah banget ada Kajian Fiqih setiap hari sehabis subuh. Cuma kajiannya itu masih pakai Bahasa Jawa yang halus sehalus kasih ibu. Jadi otak ini masih agak males untuk nranslet dulu terus baru kemudian memahami dan memasukkannya ke dalam hati. (Manusia memang banyak dalihnya ya). 

Dan saya pun mulai mencari info kajian di internet untuk lokasi yang ngga terlalu jauh dari rumah. Yap! What you seek is seeking you (Jalaluddin Rumi's Quote). Alhamdulillah ketemu banyak banget dan jadi mikir kenapa ga saya cari dari dulu?? Sebenernya dari dulu udah dateng kajian tapi masih milih-milih kalau ustadznya ga terkenal maka ga mau dateng. Astaghfirullahal adziiim...Pencarian pertama itu nyari kajian yang diadain secara rutin dan temanya tematik. Kenapa? Supaya bisa diikutin secara rutin dan bisa memperbaiki ibadah yang compang-camping ini. (Semoga niat nulis ini bener-bener karena Allah dan untuk membagi rasa manis iman itu). 

Soal iman? Fitrahnya memang iman manusia itu naik dan turun. Pagi hari bisa aja iman itu menggebu-ngebu dalam jiwa, sore hari? iman itu kadang ga tau ada dimana. Jadi ikut majelis ilmu itu menurut saya tujuannya untuk ngecas iman. Biar kalo drop seenggaknya ga drop-drop banget, biar kalo kita melenceng, seenggaknya ga melenceng-melenceng banget. 

Balik lagi soal nyari kajian rutin mana yang bisa didatengin. Ketemulah kajian yang bertempat di Ruang Perpustakaan Masjid Gede Khauman. Awalnya kesana diantar suami karena belum tau tempatnya. Dan pertama kali datang kesana, Masya Allaah... Alhamdulillah.. Tabarakallah... Masih kaku dan takut untuk masuk, akhirnya ngeberaniin diri untuk nyapa orang yang lagi sama-sama mau masuk ke dalam gedung. 

Foto Masjid Khauman tampak depan dan diambil dari pinterest.. Karena kalau sedang di luar saya jarang megang hape apalagi untuk foto :D

Pas masuk langsung disambut beberapa akhwat dengan ucapan salam hangat dan wajah yang menyejukkan (ini saya artikan sebagai rezeki yang ga bisa saya dapetin kalau saya cuma di rumah aja). Lalu saya diarahkan dimana saya harus duduk, dan ternyata ruangannya nyaman banget, seperti kelas di sekolah yang ada meja sama kursinya (karena di bayangan sebelumnya, kajiannya duduk rapi berbaris di lantai sambil dengerin ustadzahnya), selain itu ruangannya juga full AC jadi bumil ini ga kegerahan.

Di tengah kajian berlangsung, ada akhwat-akhwat yang bagiin teh satu-satu dianterin ke meja masing-masing dan nawarin dengan ramahnya. (Berasa di pesawat terus ditawarin makan minum sama pramugari). Sempet ada perasaan ga enakan karena dilayanin segini ramahnya. Saya dibagiin teh jahe hangat, untuk camilannya baso tahu dan kue bolu. Ini nikmat Allah dan harus disyukuri :) Nah, selama kajian juga sempet kepikiran nanti pulang naik gojeknya darimana ya. Dan ternyata rezeki lagi, teman yang tadi saya sapa pertama kali di luar gedung menawarkan dengan baiknya untuk nganterin saya pulang sampai rumah. Kebaikan Allah langsung saya rasakan ketika saya berusaha mencari ilmu Allah setelah sekian lama saya merasa dahaga

*Untuk cerita isi kajiannya bersambung di postingan selanjutnya ya :)
......

24.3.18

Wisata Ujian


Jarak antara kerinduan terbentang dari satu sujud ke sujud lainnya. Aku yakini itu, sebab doa pada saat tahajjud seperti panah yang tepat mengenai sasaran. Jika tujuan itu masih seputar duniawi, maka maklumi saja, sebab kadar iman barangkali masih serupa debu yang mudah tersapu angin. Tapi bukankah kita tidak boleh menyerah pada keadaan? Berkali-kali diingatkan bahwa jalan keluar dari segala permasalahan pangkalnya adalah sabar. Aku mencari makna sabar berulang kali pada persoalan yang berusaha kuyakini hanya singgah sebentar saja.

Sabar tak berbatas, jiwa harus luas menampung segala cemas, lalu lepaslah dengan ikhlas. Untuk melatih hati agar selalu lapang maka berwisatalah pada ujian-ujian yang tiba. Jangan takut, setiap masalah pasti datang satu paket bersama solusinya. Setiap kesulitan akan datang bersama dengan kemudahan. Bukankah seperti itu yang diucapkan Tuhan pada surat cintaNya untuk manusia?

Terkadang kita hanya belum paham saja. Atau rasa percaya kita lebih mudah ditumpahkan pada sesuatu yang nampak baik-baik saja. Padahal, kebun yang indah luar biasa barangkali menyimpan jurang yang dapat menjerumuskan. Dan ombak yang besar barangkali dapat melahirkan seorang pelaut yang hebat. Kita memang selalu mudah tertipu oleh kesenangan, tapi lebih mudah mendekat jika ditimpa beban.

Maka ubahlah segala ucapan yang mengandung keluhan menjadi rasa syukur yang mampu diucapkan dalam sempit maupun lapang. Barangkali kita masih belum paham, tapi keyakinan selalu bisa membuat tenang.


-Dari dan untuk diri sendiri-
Bantul, 24 Maret 2018

20.2.18

Janin

Aku merayakan kesedihan dan kepenatanku
dengan mengajak janin dalam rahimku ini jalan-jalan
memandang gumpalan awan
menghirup aroma padi yang berterbangan

Aku tau bahwa tidak ada satupun dari semesta ini
yang tidak diciptakan tanpa ada guna
Salah satu fungsi adanya sawah dan pepohonan
adalah untuk melukis guratan senyum di wajahmu

Duhai janin, engkau pasti sudah rindu ingin bertemu ibu
sebagaimana ibu yang tak henti meraba denyut jantungmu
Jangan sedih nak, hidup ini bukan perkara benda-benda saja
Kelak akan kujelaskan padamu maksud Tuhan mengirimmu ke dunia


Bantul, Yogyakarta
21 Februari 2018

29.12.17

Mukjizat Kami


Sebelum menuliskan ini, aku ingin menegaskan bahwa..
Hanya dengan kebesaran dan kebaikan Allah kami bisa merasakan kebahagiaan ini.

Seseorang akan hadir sebagai pelengkap kehidupan kami.
Ia adalah titipan amanah yang mesti kita jaga, walaupun penjagaanNya-lah yang paling dapat menenangkan kami.

Nak, usiamu  tujuh minggu kini. 
Rasa syukur Ibu jauh lebih besar dari rasa sakit yang Ibu alami selama awal kehamilan kamu
Mual dan muntah tak seberapa dibandingkan mukjizat yang Allah telah beri. 
Ibu dan Ayah akan lebih banyak belajar tentang bagaimana cara menjaga kamu. 

Ibu tahu kamu belumlah bisa mendengar apa yang Ibu dan Ayah katakan. 
Tapi Ayah dan Ibu yakin kamu telah bisa merasakan getaran kasih sayang kami. 

Terimakasih ya, Nak telah hadir menjadi pengikat jiwa bagi Ayah dan Ibu. 
Ibu mencintaimu jauh sebelum Ibu bertemu kamu.

Semoga kesehatan dan keselamatan menaungi Ibu dan kamu sampai nanti. 


15.11.17

Ludira Yudha untuk GAIA Cosmo

Hari ini, Rabu 15 November 2017. Aku menemani suami bekerja: nguntel kawat. Bukan, bukan di rumah yang biasanya kami berdua melepas penat kami dengan acara Running Man. Tetapi di Hotel. Ya, hari ini aku diajak suamiku ke Gaia Cosmo Hotel, Jogjakarta. 

Saat jejak kami menapaki lantai Hotel, suamiku langsung menggiringku untuk duduk di lobi. 
"Duduk dulu di sini ya. Aku mau ke toilet. "Katanya sambil menunjuk ke arah kursi yang berada di lobi lantai 1. 
"Iya. Tapi karyamu dimana mas?"Tanyaku sembari duduk di salat satu sofa lobi. 
"Kamu ngga ngeliat? Segede itu?" Mendengar jawaban suamiku tentu saja aku langsung melihat sekeliling.  Dan benar saja ternyata karyanya ada di sebelahku persis. 
"Masya Allah.." Aku pun langsung menertawai kebodohanku atau mungkin kekacauan penglihatanku. 
"Kamu memang ngga memperhatikan.." Jawab suamiku sambil berlalu ke toilet. 

Karya itu benar-benar di sampingku. Karya yang ternyata jika digantungkan di beton hotel ini ukurannya terlihat tidak sangat besar seperti saat aku melihatnya di rumah. Ditambah desain hotel dengan warna dinding yang dibuat natural warna semen membuat karya ini menjadi senada dan kurang menonjol. Sehingga, untuk orang-orang sepertiku, yang tidak terlalu baik dalam memangkap suasana sekitar tidak bisa langsung melihat keberadaan karya. 

Karya itu dibuat dari kawat galvanis, menghabiskan 8 roll kawat dengan berat 1 rollnya 250 ons. Bisa dibayangkan betapa beratnya karya itu. Proses pembuatannya sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 3 bulan lamanya. Tentunya dibantu menggunakan bantuan asisten. Aku tahu membuatnya penuh kesabaran. Aku saja membantu nguntel kawat hanya dapat sekitar 15 bola kawat, setelah itu bosan dan tidak membantu lagi. Maafkan aku suamiku, karena aku lebih memilih jadi asisten untuk melayani kebutuhan konsumsimu saja. Hehehe. 

Kembali kepada karya, karena sebenarnya disini aku ingin membahas soal karyanya. Karena untuk pertama kalinya bagiku melihat proses pembuatan dari tidak ada kemudian menjadi ada. Dan kini "dipajang" di Hotel. Kesabaran itu bermula dari ketika membuat pola awal kawat. dari pola ditumpuk dan dibuat menjadi lembaran, dari lembaran dibuat menjadi bola. Untuk volume bolanya sendiri disesuaikan, ada yang diisi dengan pola-pola hingga penuh. Namun ada juga yang dibiarkan kosong hingga terlihat rongga-rongganya. 

Perkara bentuk dari karya ini mengambil ide dari umbi-umbian. Yang sebenarnya ide ini mengandung keselarasan dari konsep Hotel Gaia itu sendiri. Ulasan lebih lengkapnya bisa dilihat dari ulasan berikut ini http://www.gaiacosmo.com/blog-3/2017/11/14/gaia-art-movement-artist-profile-bodas-ludira-yudha


8.11.17

Setelah Mencintaimu


Tonight’s sunset.



Setelah mencintaimu aku jadi banyak melakukan hal-hal yang tak masuk akal
Setiap pagi tubuhku dimandikan cahaya matahari
dan aku mandi dengan air yang memiliki banyak kenangan
sebab ia tak jernih seperti air di Jakarta

Setelah mencintaimu hamparan sawah jadi kawanku
Sebab manusia jarang kutemui
Gedung-gedung tinggi dan asap-asap knalpot meninggalkanku
Aku tak tahu apakah ini baik atau tidak bagiku
Suhu panas di siang hari dan kondisi air tanah yang tidak begitu baik
Tiba-tiba bisa bisa saja kuterima
Tanpa aku tahu kenapa

Namun rupanya menyenangkan juga
Membeli dan mengatur barang-barang baru
di rumah baru
rumah yang tentunya bukan milik sendiri

Tapi apa artinya
Jika aku bisa meletakkan kompor dimanapun aku mau
Pergi ke pasar dan memilih mana sayuran
yang terbaik untuk bisa dimakan hari ini

Menemukan ulat-ulat berjalan di brokoli

Mendapati sarang lebah yang semakin membesar di penyangga rumah
Bertemu dengan kelelawar di kamar mandi
barangkali adalah perkara yang tiba-tiba saja bisa kumaklumi
setelah mencintaimu

Kupikir hidup memang baik-baik saja

Karena selalu ada tawa bahagia yang terdengar
dari rumah kita


Bantul, 9 November 2017
Sumber gambar: pinterest

1.11.17

Airmata Ibu

Sajadah serupa kurir
yang mengantarkan
surat-suratku untuk sampai pada ibu

Mohon maaf sebab tak bisa
menyampaikannya langsung

Alamat rumah ibu pun
Telah melotok di luar kepalaku
Aku terlalu sering mengingat dan menghapalnya

Jadi tak mungkin jika surat itu
yang berisi doa atau ucapan selamat rindu itu
tak sampai juga kepada ibu

Sebab hanya itulah satu-satunya cara yang kutahu
Aku tak bisa mencintai ibu
dengan memijat kakinya

Aku tak bisa mencintai ibu
dengan menyuapinya

Aku tak bisa bisa mencintai ibu
dengan menggenggam tangannya

Hanya ini cara yang kupunya
Semoga tak sia-sia

Kujinjing sesalku
Kurenung kesalahanku

Airmatamu membayang
di sangkar sukmaku
Sebab belum genap baktiku 


Bantul, 1 November 2017
21:36

Gadis Kecil Ibu

Unuk Nafisa

Gadis kecil ibu
Telah sampai mana
Kau tinggalkan jejakmu
Florida atau Nusa Tenggara?
Ibu kangen, Nak
Ingin membelai rambutmu
Sesekali juga
Ingin ibu masakkan makanan kesukaanmu

Ah, tapi sudahlah, Nak
Tak usah kau hiraukan kerinduan ibu
Jangan sampai lupa ya, Nak
Akan pesan dari ibumu
Ibu titip potongan matahari
Yang terbit di dekat laut
Laut itu nampaknya masih ingat bau tubuhmu
Kau pernah selami kedalamannya

Potongan cahaya matahari itu
Akan ibu gantung di dinding rumah
Dan ibu jadikan pelita
Ketika mata ibu kian buram
Untuk memasukkan jarum ke dalam benang

Tahukah, Nak
Ibu tengah sibuk membuat
Kaos kaki bayi untuk cucu ibu nanti
Agar cinta ibu bisa terbawa
Saat ia berjalan kemanapun
Memetik satu per satu takdirnya

Oh iya, jangan lupa sering-sering telpon ibu ya
Walaupun ibu tak punya telepon genggam
Kau tau kan mesti menghubungi ibu dimana?

Saat kau berdiri, rukuk, sujud, dan menadahkan tangan
Engkau sebenarnya sedang bicara pada ibu
Dan ibu tengah mendengarkan suaramu



Bantul, 1 November 2017
21:13

Doa Pengantin

Selamat pagi
Semoga pagimu tak basi
Supaya tak basi
Maka kuhidangkan
Secangkir kopi
Untuk kau sesapi
Bersama sepi
Tapi, tidak!
Sebab telah ada aku disini
Yang tak letih mencintai

Maka jika langit terlihat sama
Ketahuilah sebenarnya
Warnanya selalu berbeda setiap harinya
Sepertiku yang selalu terlihat sama
Namun sebenarnya
Warna cinta itu
Berbeda
Setiap menitnya

Rutinitas mencucikan baju
Membuatkan sarapan, makan siang dan malam
Sesungguhnya hanya secuil saja
Dari seluruh rasa cinta
Yang kupunya

Kau tak perlu
Membayangkan seberapa berat cinta itu
Jika ditampung dalam sebuah wadah
Karena cintaku tak mampu ditimbang

Ia tak terdefinisi
Tak terlihat
Tak dapat diraba
Cinta hanya dapat terasa
Ketika kau kehilangannya

Tapi tidak!
Aku akan selalu disini
Kau tak akan kehilanganku
Kecuali kelak suatu hari
Kematian kita akan
Menorehkan perpisahan

Jangan pernah takut
Perihal usia
Sebab dunia memang bukan
Tempat yang pantas
Untuk berlama-lama dengan sang kekasih

Percayalah
Ada suatu tempat
Dimana takkan ada rasa sakit
Tak ada kesedihan atau air mata
Menyoal hidup yang fana

Ada suatu tempat
Dimana tak pernah ada kelelahan
Untuk saling menciptakan senyuman
Di wajah masing-masing
Hidup yang abadi

Semoga kita bisa pergi kesana
Entah naik apa
Namun mudah-mudahan
Bekal yang kita siapkan
Cukup untuk kita bawa
Bersama anak dan cucu kita



Bantul, 1 November 2017
21:07

29.10.17

Puisi Tempe

Bolak balik aku berjalan antara dapur dan ruang tamu
Sembari menggoreng tempe, aku menulis puisi

Puisiku tentang tempe yang terbungkus daun
Secara tekun dibungkus oleh ibu-ibu pembuat tempe
Rasanya persis seperti ayam dalam bayanganku

Sesekali aku menggorengnya dengan tepung
Sesekali kugoreng dengan senyuman

Sementara tempe terbaring santai di atas wajan
Kulanjutkan kata-kata yang belum kurampungkan

Aku bertanya-tanya, kata apa yang hendak kutuliskan tadi
Di layar laptopku kulihat kata-kata itu membentuk barisan kacang kedelai

Puisiku nampaknya sudah difermentasi menjadi sebuah tempe
Yang siap digoreng lalu dinikmati


Bantul, 30.10.2017

23.5.17

Tetangga

Hal yang sangat lumrah jika para ibu rumah tangga duduk bersama dan mengobrolkan perihal remeh temeh. Dan saya bukanlah tipikal ibu-ibu seperti itu. Bukan, bukan berarti saya tidak suka dengan mereka. Tapi memang sayanya saja yang kuper dan sulit bersosialisasi. Sebab saya selalu berpikir keras, jika sudah duduk-duduk dan kumpul begitu apa yang bisa saya bicarakan dan obrolkan dengan mereka. Saya bukan orang yang pandai mencari topik pembicaraan dan juga bukan orang yang pandai meresponnya. Sungguh, saya benar-benar kesulitan.

Ditambah lagi perbendaharaan kosa kata bahasa Jawa saya masih sangat minim. Tapi bukan berarti saya menutup diri sama sekali. Pelan-pelan saya mempelajari bahasa Jawa dari ceramah atau obrolan suami dengan kawan-kawannya, saya juga sering menanyakan artinya jika ada yang tidak saya mengerti. Kemudian tak jarang juga saya bergabung dengan ibu-ibu di lingkungan saya, saat belanja sayur misalnya. But, Believe it or not! Saat itu juga saya seperti sedang dalam ruangan berkaca yang kedap suara, dan mereka berada di luar ruangan yang berbeda dengan saya. Saya melihat mereka tapi mereka tidak melihat saya. Saya tidak mengerti apa-apa yang mereka bicarakan dan anehnya saya memang tidak benar-benar ingin mengerti. Dan ‘awkward moment’ tersebut sering terjadi di kehidupan saya belakangan ini. Saya pun hanya diam, tersenyum dan pura-pura mengamati.

Situasi yang saya alami memang terjadi bukan tanpa alasan. Pernah saya agak kecewa kepada orang yang saya sudah memiliki antusias untuk memiliki hubungan bertetangga yang lebih intim. Namun ia tidak pernah mengajak saya untuk berbicara lebih dalam dan menanggapi obrolan yang saya angkat dan kemumakan. Seolah-olah apa yang saya katakan kepadanya itu tidak ada artinya apa-apa. Saya pernah mengutarakan bahwa saya senang memiliki teman baru yang bisa saya ajak berdiskusi. Dengan pengakuan seperti itu, saya berharap ia bisa mengenalkan saya kepada lingkungan baru secara lebih intens lagi. Saya juga pernah sesekali minta diajak jika sewaktu-waktu ia ingin berbelanja ke pasar.

Tapi entah mengapa, ia sekalipun tidak pernah mengajak saya jika ia pergi ke pasar. Saat ada undangan untuk pengajian pun, hanya saya yang tidak diajak. Padahal sebelumnya saya sudah sempat mengatakan perihal apa-apa saja yang saya inginkan dari lingkungan baru tersebut. Jarak terdekat dan frekuensi sapaan yang tinggi tidak lantas membuatnya mengajak saya berbincang dengan lebih intim di beberapa pertemuan. Jujur, saya agak kecewa. Saat itu saya merasa tidak ditemani dan saya merasa ada sesuatu dalam diri saya yang tidak ia sukai. Beruntungnya, saya selalu berhasil menyingkirkan perasaan negatif tersebut dan membunuh kekecewaan saya.

Saya memang bukan orang yang supel yang bisa berbaur dengan mudah. Butuh proses yang cukup lama dan perasaan ‘klik’ untuk benar benar bisa berbaur. Fuih….. tapi saya bersyukur, setidaknya saya masih selalu dianugrahi keinginan untuk selalu asyik menyapa atau berbasa-basi jika menemui tetangga. Itulah penyebab kenapa saya lebih suka berjalan kaki daripada naik motor ketika pergi belanja. Bagi saya itu cara yang cukup bijaksana. Tidak terlalu lekat namun terlihat akrab membuka diri. Atau sekurang-kurangnya saya masih bisa melebihkan kuah makanan dan minuman untuk saya berikan kepada tetangga terdekat saya. Ya, saya pikir itu cukup aman dan tidak akan mengecewakan. 



Bantul, 23 Mei 2017

19.5.17

Menikmati Kemalasan

Hari ini, persisnya hari-hari yang kemarin juga adalah hari-hari yang diliputi kemalasan. Kemalasan untuk produktif karena pikiran rasanya kosong hendak melakukan apa-apa. Dimulai dari bangun tidur, hanya mengurus pekerjaan domestik yang sudah cukup membuat bahagia. Bahagia karena mengingat balasan-balasan pahala yang mengalir sehabis mendengarkan ceramah mengenai dahsyatnya seorang istri yang melayani suami. Iming-iming itu rasanya membuat saya menjadi malas untuk menjadi produktif di luar urusan pernikahan dan domestik. Pertanyaan mengapa sudah hendak saya luncurkan sejak jauh-jauh hari. Jauh dari ibu kota dan tinggal di desa yang sunyi dan sangat damai ini membuat saya merasa baik-baik saja tanpa perlu saya merasa bekerja lebih keras.

Proses adaptasi yang saya butuhkan memang sungguh lama sekali. Tetapi sekaligus, membuat saya merasa nyaman sehingga saya merasa aman. Namun tak jarang juga saya diliputi kebingungan-kebingungan, sebab sebelum menikah saya benar-benar merasa sibuk dan kelelahan setiap harinya. Dan weekend menjadi sesuatu yang mahal harganya, pada weekend, saya akan beristirahat sepuasnya sambil sesekali menyelesaikan pekerjaan untuk agenda di sekolah untuk satu minggu ke depan. Saya merasa telah meninggalkan seluruh diri saya di ibukota dan menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa di tanah Jogja ini.

Namun di luar itu semua sebenarnya, nyatanya sedang ada perjalanan dalam diri saya yang orang-orang tidak tahu dan bahkan diri saya yang tidak saya diri sendiri. Perjalanan itu mungkin adalah perjalanan terpanjang saya dan akan saya lakukan seumur hidup.  Perjalanan mencintai, dan saat itu juga saya mendapat mandat dari diri saya untuk berkomitmen dan memutuskan untuk mementingkan kebutuhan orang itu lebih dari kepentingan saya sendiri. Keputusan untuk mencintai seseorang lebih dari saya mencintai diri saya sendiri.

Kata seorang teman, mencintai tak pernah mudah. Karena kalau mudah namanya bukan cinta, tapi hanya ingin main-main saja. Sementara pernikahan bukanlah main-main sementara, pernikahan adalah keseriusan untuk selalu konsisten memberi dan menerima. Pemberian adalah satu-satunya yang saya punya saat ini, sebab bahkan orang yang saya cintai saat ini pun sebenarnya tidak saya punyai. Lalu penerimaan adalah sesuatu yang mesti saya bayar dengan hati ikhlas untuk mendapatkannya. Manusia bukan malaikat, bukan juga syaitan. Manusia bisa jadi baik dan sesekali bisa jadi seseorang yang tidak kita kehendaki.

Saya sedang belajar untuk meredam apapun dan menyingkirkan seluruh ego yang sudah tertanam dalam diri saya semenjak saya dilahirkan ke dunia ini oleh ibu saya. Pohon ego itu terus menerus besar dan sudah semakin kokoh sehingga selalu saja ada benteng yang membuat orang lain atau sekurang-kurangnya kehendak orang lain untuk masuk dan duduk behadap-hadapan dengan saya. Berulang kali saya minta tolong kepada pohon ego itu untuk segera melunak dan tak jarang saya patahkan rantingnya, saya gergaji batang-batangnya untuk membuat orang yang saya cintai ini merasa lebih nyaman dan bahagia. Kesemua itu memang tak mudah dan membutuhkan usaha keras. Adakalanya usaha saya itu membuahkan hasil dan adakalanya gagal begitu saja. Tapi saya percaya tidak ada yang sia-sia.   

Ya, saya sedang berjalan di jalan ini. Karena untuk saat ini hanya ini satu-satunya jalan  yang saya temui dan lalui, tentunya dengan kapasitas diri yang bisa saya nilai bahwa saya memang harus melewati jalur ini. Saya tidak tahu kapan akan sampai tapi saya sadar bahwa saya sudah memulai dan berangkat dengan hati yang lapang dan perbekalan yang mungkin tak akan pernah cukup. Bekal-bekal itu adalah mental yang terbuat dari kesulitan dan rasa sakit. Dan yang dapat melonggarkan dada serta meringankan nafas saya adalah saya tahu saya sudah tidak berjalan sendirian dan merasa kesepian lagi. Saya berjalan berdua dengan seseorang yang saya percaya bahwa ia bisa memandu saya melewati berbagai macam pernak pernik kehidupan baik yang profane maupun jangka panjang.


Kemalasan saya mudah-mudahan hanya kesementaraan, sebab saya amat sangat tahu esok hari akan ada sesuatu yang membuat saya merasa sibuk dan lebih produktif daripada saat ini. Saya hanya berusaha untuk menikmati bab hidup saya yang ini. Pengenalan akan tokoh-tokoh baru juga pemahaman atas latar belakang tempat adalah sesuatu yang tidak bisa saya elak lagi. Dan untuk kesemua itu waktu adalah penolong yang baik untuk diri saya. Saya pun mesti menabung banyak rasa syukur atas pemberian Tuhan yang tidak bisa saya hitung lagi jumlahnya. Setidaknya untuk yang satu ini saya tidak merasa malas.  

18.5.17

Setahun yang Lalu

Setahun yang lalu
Tuhan menciptakan perpisahan
Antara kehidupan dan kematian
Antara seorang anak dengan ibunya
Antara seorang istri dengan suaminya
Antara seorang nenek dengan cucu-cucunya

Aku merasa satu perpisahan terlalu banyak
Dan dua puluh enam tahun pertemuan terlalu sebentar
Aku pun menyesal
Sebab belum sempat membagi banyak hal padanya

Setahun yang lalu
Tuhan mengajariku perihal ketabahan dan keikhlasan
yang selalu ibu contohkan
dan hingga detik ini tidak pernah terlupakan

Setahun yang lalu
Tuhan memberiku kehilangan
Agar aku belajar menghargai
orang-orang baik yang masih tinggal

Setahun yang lalu
Sepasang mata yang menampung banyak rasa sakit itu
Telah terpejam
Dan aku selalu berdoa
Agar bisa menatap sepasang mata itu lagi, suatu hari

Meski bukan di dunia ini 



19 Mei 2016 - 19 Mei 2017

Hal Paling Romantis

Jika kau pulang ke rumah
Dengan seplastik makanan untukku
Itu adalah hal romantis
Sebab akulah yang kau ingat
Ketika di perjalanan

Jika aku terlelap
Dan kau membentangkan selimut untukku
Itu adalah hal yang romantis
Sebab engkau ingin memastikan
Aku terpejam dengan nyaman

Jika adzan berkumandang
Kemudian engkau mengingatkan shalat
Itu adalah hal yang romantis
Sebab engkau memikirkan kebahagiaankuu
Bukan hanya dunia

Tapi juga akhiratku

24.4.17

Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu
Aku bangun dan memasak untuk di rumah
Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya
Masakanku cukup mampu menyampaikan rasa cintaku

Menjadi istri membuatku mengerti kekhawatiranmu
Yang menunggu selalu menatap waktu
Karena yang ditunggu belum juga datang mengucap salam
Apakah ia baik-baik saja di jalan?

Menjadi istri membuatku banyak mendoakan dan merindukanmu,
Ibu.


Bantul, 24 April 2017