26.11.11

Nah, Nietzsche


Ia sentuh ubun-ubun engkau dengan kecup embun, menuntun aku tentang tabiat Kasih dan Kasihan. Ia belum mati, Ia belum mati. Puan Kasih! Kasihkan!
Bahkan bila ia berkenan, aku mohon nabi perempuan: Ia utus kau padaku, satu-satunya pembenarmu.
Kekal cium pada engkau, Puan, di punggung lengan.
-Hasan Aspahani-


 

Harusnya kau bisa hidup lebih lama,
Untuk sekadar mengobati luka
Dan mungkin setelah itu
Kau akan mendapati seekor bulan yang
Mampu memberimu keterangan
Tentang semesta
Yang tidak tunggal dengan sendirinya
Namun segala yang berada mempunyai
Asal-usul. Mempunyai ‘ada’ yang kau namai dengan gamang
Sebagai sebuah ketiadaan yang kekal

Sewaktu kau belum tua, atau wajahmu
Masih segar dan kemerahan
Kau pernah hampir menyelamatkan dirimu dan
Mengurungkan diri untuk berbelasungkawa
Atas ketiadaan itu:
“Ingin kukenali Kau, wahai Yang Tak Dikenal,
Yang cengkerami pusat jiwaku, yang lintasi hidupku bagai badai,..” (Nietzsche, 1864)

Di dasar jiwamu, percikan atas ke’ada’an yang menjadikanmu ‘ada’
Telah tumbuh namun tak sempat kau suburkan
Atau kau sirami dengan lembut
Yang mengalir di sepanjang sum-sum

Namun apakah kesepian itu, lalu pesimis kau pikir
Tidak ada yang bisa memperbaiki segala ini
Dan semua isi telah rusak sebagaimana mestinya

Masih kau rasakan jerat-jerat itu memerosokkanmu
Dan berbagai ucap lain kau tolak dengan keberdayaan itu
Ada yang kau lupa, barangkali
Bagaimana kebaikan bisa muncul kapan saja
Dan hal-hal itu
Termasuk bulan-bulan purnama itu
Yang pernah menampikmu
Bukankah mereka menyesal jika mendapatimu
Telah lebih sehat dari biasanya
Dan kau tidak perlu berusaha mati , seperti yang kau ucap pada suatu masa:
“Saya putus asa, tak tahu cara untuk meneruskan hidup seperti ini.
Nanti malam saya akan minum opium, supaya hilang akal saya..” (Nietzsche, 1882)

Namun aku sangat percaya pada nyala matamu,
Yang bahkan belum pernah kutemui
Kau-lah keagungan yang tulus mencari Tuhan
Namun tak sempat menemukanNya
Dan takdir sepenuhnya kau cintai
Dengan kesendirian-kesendirian seperti dalam puisimu:
“Kesendirian ketujuh!
Tak pernah kurasa
Sedekat ini manis kepastian
Sehangat ini tatap mentari:
-bukankah es di puncakku masih membara?
Keperakan, ringan, bagai ikan
Perahuku kini bertolak..” (Nietzsche, Amor fati)

Aku sungguh mencintaimu sebagai cinta yang mandiri
Sekaligus kasihan sebagai kau yang tak pernah mengenal Kasih.



(2011)

Perihal Semesta

Air
Selalu jatuh, terperangah, pada jalur-jalur lapang
Yang siap menerimanya menjadi bagian
Tunduk dan patuh pada takdir yang memberinya hidup dan
Kehidupan selalu ada menjadi guna


Pohon
Tegar pada apa yang berupaya memporakporandakannya
Namun kerendahhatiannya selalu menerima embun hinggap
Pada daun-daun yang sekalipun akan patah
Tunas, dedahan akan kering di sebuah masa yang kita telah duga,
dan akar-akar tersembunyi selalu setia menguatkan

Batu
Paling pendiam diantara seluruh diam yang pernah menyalami semesta
Mengintai setiap jengkal gerak-gerik
Sesikap, tingkah laku, dan menjaga rahasia dengan aman
Menjadikan rahasia dari segala keteruakkan
Dan aib yang meniduri manusia dengan kelupaan

Awan
Menjaga apa yang dia sayangi di bumi dari terik kekuningan yang menyala deras
Yang menohok setiap kepala dari keganasan panas neraka
Ia yang ringan menjadi ciri bahwa tak perlu
Menjadi kuat untuk melindungi
Meski kadang tak percaya diri namun penurut pada
Arah kemana ia akan dibawa, serta percaya pada apa yang begitu asing


Angin
Menyampaikan pada sesuatu tentang apa yang bisa dirasa namun
tak perlu benar-benar dilihat,
Cukup memejam mata untuk merasakan kebenaran yang
Begitu mudah tertutup kalut
Menemani laut, meniupkan ornamen pada ombak yang betah berdiam
Diatas biru-biru luas yang tak terjangkau



2011

Kepada Sajakku yang Enyah

Pada November  ini kumandatkan
Sebagai nasib sial bagimu
Dimana kau tumbuh bukan selayaknya sajak
Hanya serupa angin beku
Yang meniupkan dahan-dahan yang diam
Di sepanjang jembatan—memburai bau kali
Di sekujur tubuh kata yang telah kusiapkan
Menjadi pengiring kematian bagimu
--bagi kata yang tak mampu menemukan sajaknya,
Menemukan empunya

Waktu, nasib, dan perjalanan
Semacam jantung bagimu untuk
Menyala, namun senyap
Ketika segalanya terasa hambar
Dan kutemui kau tidak memakai baju
Telanjang kedinginan di suatu sudut di
kaca jendela yang berdebu

Sebelumnya kau memang telah kumandikan
Dengan air mataku sendiri
Namun tubuhmu masih hitam
Dari segali daki dan segala dosa
Melekat-mendekap nafasmu
Yang terpotong-kudengar iramanya tak biasa
Seperti setengah ketukan kurang dari semula

Kau terlihat sekarat,
Aku terlihat keramat
Karena pada ujung-ujung kukuku
Seragam aksara telah memucat

Angin lalu memberangkatkanmu
Menjadi sebuah rahasia pagi,
Menjelma sajak yang tak pernah jadi

Kepada sajakku yang enyah,
Barangkali kita akan bertemu lagi di suatu entah
Atau barangkali juga akan selamanya terpisah


(2011)

23.11.11

Asal Usul Tawa


 “Kiranya aku benar mengapa hanya manusia satu-satunya makhluk yang tertawa; dia satu-satunya yang menderita begitu dalam, hingga harus menemukan tawa”
(Friedrich Nietzsche, 1844-1900)

Bukankah itu semacam suatu sindiran, bahwa siapa yang tertawa paling keras, ia yang paling menderita. Namun ada pula, orang yang deritanya paling perih pun paling sedikit tertawa, paling jarang mengambil sisi positif yang terselip diantara ribuan lukanya, atau menemukan setidaknya secuil kebaikan di sekitar nasib buruknya. Ya, tawa adalah semacam bentuk ekspresi memaafkan nasib, menerima segala kekecewaan dan mulai untuk tidak mempertanyakan apapun. Dalam istilah yang sering terdengar adalah; bersyukur. Begini, saya akan mulai bercerita, tentang seorang pemuda yang biasa saja, ia hanya punya sendal jepit untuk dipakainya kesana kemari, sampai ia menemukan bagian bawah sandalnya telah lusuh, alus dimakan aspal dan kerikil yang ia pijak begitu lama, ia kemudian mengeluh, dan kita menganggap ia mungkin orang yang menderita, dan ia harus punya sepatu namun tak punya cukup uang untuk membeli sekadar sepatu yang sederhana sekalipun. Ia berjalan di sepanjang taman, menangis dan kakiknya mulai luka. Di sepanjang jalan, ia melihat puluhan orang memakai sepatu, beberapa wanita tertawa dengan sepatu hak tingginya, lalu segumul pria kantoran berjalan cepat dengan sepatu kulit yang mengkilap, bahkan ia lihat seorang pengemis di dekat jembatan memkai sandal yang mungkin lebih baik dari sandalnya. Berlarilah ia ke toko sepatu di ujung jalan. Dari luar kaca ia melihat begitu banyak sepatu berjejer dengan apiknya, ia hanya berani melihat dari luar, tak sedikitpun berani untuk melangkah masuk ke dalam. Kemudian keluarlah seseorang dari dalam toko, seorang lelaki setengah baya keluar melongokkan wajahnya sambil tersenyum kemudian berkata “Mau sepatu yang seperti apa, Nak?” Pemuda itu gugup karena ketahuan memandangi toko. Lalu bertambah kegugupannya ketika mendapati pemilik toko itu memakai tongkat dan celana bahannya terkatung-katung tanpa isi, pemilik toko itu tak punya kaki. Tak punya, sama sekali. Tak terbayangkan kalau kita mau mengeluh, bagaimana hancurnya perasaan seorang pemilik toko sepatu, pemilik ratusan sepatu yang bahkan tak punya sama sekali kaki.
Saya rasa, seringkali ini sungguh bukan kemauan manusia. Tapi mungkin ini bukan juga bicara soal agama atau prinsip. Atau sampai saat ini masih ada ketentuan Qada dan Qadar. Yaitu nasib dan takdir. Betapa pemilik toko yang tak punya kaki adalah sebuah takdir, tak ada satupun yang dapat mengubahnya namun semua itu dapat digantikan dengan sudut pandang yang indah, yang menyakini bahwa ini adalah keputusan terbaik. Kemudian perihal seseorang yang tak punya sepatu adalah sebuah nasib yang bisa ia ubah, tentunya harus dimulai dengan rasa syukur, karena segala usaha yang tidak dibersamakan dengan rasa syukur sungguh suatu petaka yang fatal akibatnya, betapa keangkuhan akan sangat sekali mudah masuk ke dalam jiwa yang tidak bersyukur. Dan kerendahhatian akan sangat jarang ditemukan. Dan bersyukur saat ini masih lebih mudah diucapkan ketimbang dihayati dengan keyakinan yang hakiki.

Syukur dalam pengertian bahasa adalah rasa terimakasih kepada Tuhan, berasal dari kata terima dan kasih. Terima artinya kita membuka segalanya dengan perasaan yang baik, dan kasih adalah suatu pemberian dari Tuhan dengan bentuk yang berbagai macam rupanya, tidak melulu jelek dan juga tidak selalu bagus. Dengan perasaan berterimakasih seseorang akan mudah dimasuki energi positif, semangat, kemudian akan sendirinya muncul sebagai pribadi yang rendah hati, dan kebahagiaan akan muncul tanpa disadari.

Maka benarlah kata Nietzsche, “Kiranya aku benar mengapa hanya manusia satu-satunya makhluk yang tertawa; dia satu-satunya yang menderita begitu dalam, hingga harus menemukan tawa”.
Manusia mencari berbagai macam cara untuk menyembuhkan deritanya, salah satunya yaitu dengan tawa. Dengan tawa, derita akan musnah dengan sendirinya.


(2011)

22.11.11

Catatan Menunggu Bus

Setiap hari aku berpikir, kenapa aku harus menunggu di tempat yang sama dan sampai dengan waktu yang lama. Seringkali pun aku lupa, tentang jadwal pemberangkatan di luar rencana dan itu artinya aku harus menunggu lebih lama.

Mungkin begini perasaan Agus Hernawan ketika membikin sajaknya seperti kalimat “Kau lihat dirimu sebagai seseorang yang tak pernah berangkat, hanya mencatat kedatangan dan kepergian”

Aku bisa jadi kadang kala seperti seseorang itu, seseorang yang hanya mengamati detik-detik yang berjalan yang terasa kian mencekik nadi-nadi penantian tanpa akhir. Setiap hari, begitu aku seperti dipaksa menunggu sesuatu yang entah kapan datangnya, hanya serupa seorang pencatat begitu banyak kedatangan dan kepergian yang aku lihat silih berganti di jalanan. Dunia berjalan seperti biasa, sedang aku seperti diberhentikan oleh sesuatu, seperti ditidakbolehkan untuk bergerak sedimikan rupa, melanjutkan kegiatan, melakukan ini itu. Betapa kita sama-sama tahu, menunggu adalah sebuah kutukan yang membosankan.

Seandainya, seandainya saja, aku boleh meminta tambahan waktu, tambahan usia untuk kepergunakan khusus menunggu bus, akan kugunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Akan kutunggui bus dengan perasaan bahagia dan senyum paling lebar yang aku punya. Tidak akan lagi mondar mandir kubuang kepala ke arah jam tanganku yang rasanya jarum-jarumnya seakan mengikat kencang pergelangan tanganku.

Tetapi sungguh, betapa aku tak ingin mengeluh dan berulang kali memaksa diri mengingat ini adalah sebuah perihal biasa dalam ketentuan semesta; Ada yang menunggu, ada yang ditunggu. Rasanya aku memang mulai terbiasa untuk berada di perihal yang pertama.  


2011

di Harmoni

Aku ingin untuk sesekali membuat sajak di tempat ini
Hasilnya tak begitu bagus, hanya seperti  amarah yang keluar secara sembrono
Tidak terlihat seperti layaknya sebuah sajak,
tapi lebih terlihat seperti seonggok kertas basah yang luruh karena keringat
Tinta-tintanya mencair, tasku sudah kepalang banjir oleh duka
Dan kenangan rasanya semakin berat saja di pundakku

Di harmoni, berbagai kepala rasanya terlihat sama.
Kubayangkan didalam kepala mereka bergambar rumah dengan sofa yang empuk,
di hadapannya tersedia jus jeruk dengan gelas berembun
dan televisi yang menanyangkan berita-berita terkini,
kaki-kaki mereka selonjor,
merokok klepas-klepus, berbicara kesana kemari,
tentang hidup, tentang bos-bos mereka yang cerewet, atau
tentang gaji yang belum juga turun
atau apapun dengan segala suasana yang mereka impikan

perlu banyak fatamorgana di Harmoni
mungkin untuk obat atau
sekadar penyenang hati yang sudah terlampau borok
dan bobrok kota ini rasanya tak perlu kita pikirkan lagi
wajah-wajah kecut penjaga pintu tak usah kita hiraukan lagi
memang sudah takdirnya wajah mereka masam seperti mangga yang
tak boleh dulu dipetik dari pohonnya
atau juga mereka tak kalah frustasinya dengan kita
yang juga tak pernah bertemu dengan jalan pulang

kita juga mungkin akan lupa rumah kita dimana
karena waktu terlalu pengecut untuk berjalan dengan semestinya
ia berjalan sangat lambat sedang rencana
begitu banyak tertimbun di buku-buku agenda

di Harmoni banyak orang sakit hati, dan
halte adalah sebuah makam yang meminta kita
untuk rela menuliskan nama masing-masing di atas sebuah nisan


2011

18.11.11

Tidur dan Tuhan

ada berapa banyak tidak bisa tidur yang kita alami selama hidup ini?
kita mengeluh, mencoba berbagai macam gaya tidur
makan ngantuk seratus mangkuk
minum lagu, minum doa
tetapi tidur sekarang jadi barang langka
tak bisa kita dapatkan dimana-mana
bahkan di toko yang berlabel serba ada
makan ngantuk lagi seribu mangkuk
mangkuknya kita simpan di bawah bantal
sewaktu-waktu mungkin kita akan nambah
minta nambah pad aTuhan yang tak juga bisa tidur
tapi bukan tidak bisa, hanya tidak saja
ah, apa jadinya kalau Tuhan tidur?
seminggu tidak bisa tidur kita hampir mati
bagaimana jadi Tuhan yang tidak tidur?
untung kita tidak jadi Tuhan
tapi betapa sering Tuhan kita tinggal tidur, mendengkur
betapa sering kita tidak bersyukur
apa begini cara kita memperlakukan Tuhan
memperlakukan tidur sebagai Tuhan, sementara
Tuhan tak pernah ngantuk dan ketiduran
Tuhan menggadai tidurnya untuk menjaga
kita tak menggadai apa-apa
kita pelit sekali, Tuhan permurah sekali
kita tidur, Tuhan tidak
kita tidur tanpa Tuhan, 
Tuhan tidak tidur..untuk kita


2011

kelahiran puisi

puisi membungkam apa yang tampak dan menampilkannya dengan luka
puisi adalah luka--begitu sampai saat ini kuyakini definisinya
meski ketika puisi dibaca, ia bukan lagi menjadi luka--justru menjadi penyembuh
menulis luka, lalu menyembuhkannya
begitulah kerap puisi disebut mandiri
melakukan segala sesuatunya secara sendiri
begitu luruh, begitu rapuh
begitu santai, begitu selesai
puisi tahu apa yang dikehendakinya,
lalu menyelesaikan secara diam-diam sebelum sempat
membaca akhirnya

puisi adalah rasa peduli
puisi adalah wujud kemanusiaan 
seorang Hitler bisa saja membuat seribu slogan dalam satu hari
tapi coba suruh ia menulis puisi! (Nihil!)

Puisi juga menyusun kepedihan hingga menjelma menjadi energi tak terhingga
puisi adalah lukisan dalam bentuk kata
butuh diramu, dipermainkan, lalu diledakkan dengan metafora, 
meski dalam seni tak ada formula yang pasti, begitu juga puisi
puisi adalah ketidakpastian, hanya sebagai firasat yang
tak pernah memberi kejadian, seperti mendung yang tak pernah menurunkan hujan

puisi memperlakukan bahasa secara sewenang-wenang,
secara tega mengoyak-ngoyak kata tanpa ampun
namun terkadang puisi juga butuh diam
memberi jeda, agar bersebentar mencari makna, memberi irama

puisi adalah luka
luka paling indah, luka paling menggugah

2011

4.11.11

Memoar Januar

: Januar Nur Ikhsani

"berbahagialah mereka yang mati muda." begitu kata Soe Hok Gie. tapi begitu berat rasanya mencerna kata-kata itu terlebih untuk yang ditinggalkan. betapa ia dulu seorang yang ceria dan selalu maju ke depan kelas jika guru meminta muridmurid untuk menjawab soal di papan tulis. saya memang kurang begitu mengetahui tentangnya, tapi kami seisi kelas waktu sekolah menengah atas, masing-masing punya semacam ikatan yang lebih dari sekadar pertemanan. setelah mendapat kabar bahwa ia meninggal, saya langsung melihat akun facebooknya, untuk kembali mengingat bagaimana rupa wajahnya, karena saya agak lupa dan saya menyesal dengan itu. sungguh menyesal kenapa saat itu saya tidak menjenguk sewaktu ia sakit atau tidak bertanya kabar apapun dengan teman-teman saya yang lainnya. ya, betapa keberadaan orang baru terasa justru ketika mereka tiada. saya pun sadar, kita semua akan menyusulnya, entah dengan cara apa. dan sakit yang berkepanjangan adalah caranya untuk meninggalkan kita sejenak. sejenak, sebetulnya tidak ada yang ditinggalkan atau meninggalkan, tidak ada yang kehilangan atau dihilangkan, melainkan semua hanya titipan. tapi saya, kita, punya hak untuk berdoa, mendoakannya semoga ia berbahagia disana. amin.

2011

31.10.11

aku benci kesunyian yang tak pernah membenci diriku

tibatiba aku merasa sunyi melebihi seluruh sunyi
yang pernah menyesaki dadaku
nampaknya sunyi akan tumbuh subur disana
dengan batangbatang kian meninggi, meski
telah bosan kutebangi
mungkin begini rasanya jika sudah terlalu lama bersendiri
seperti beban yang tertambat di punggungku
namun aku tak sanggup untuk menanggungnya
aku hanya mampu sesekali menghibur diri
dan rasanya itu pun tak cukup

dulu, aku pernah merasa lebih sunyi dari ini,
dan masih bisa kuatasi dengan sedikt bepergian
atau kubaca saja sajak Hasan Aspahani
"Aku datang, cuma untuk memungut sunyiku.
Engkau, kapan akan memungut aku? memungut sunyiku?"
--aku dalam sajak itu mungkin
telah lebih maju dari perjanjian
atau ibaratnya sepihak --si aku datang sendiri tanpa perjanjian
kuanggap sajak diatas masih jauh lebih beruntung dari aku 
yang tak tahu siapa tokoh 'Engkau' yang diharapkan memungut aku,
memungut sunyiku. aku hanya tahu--
bahwa sunyi sedari tadi sibuk bercerita, dan aku
mendengarkannya. mendengarkan sunyi berbahasa
tanpa suara, tanpa katakata

atau begini mungkin gaya sunyi bercerita 
seperti Ook Nugroho mengucapkan sajaknya
"Aku tidak pernah tahu kepada siapa katakata ini 
kelak akan sampai akhirnya, pastilah aku
tidak menuliskannya untuk kekosongan belaka."
--aku tak habis pikir, sebab apa sunyi lahir
tanpa tahu siapa yang akan dtuju, siapa
yang akan mampu membaca kesunyian sunyi tanpa ragu--
meski kekosongan kuharap tidak lagi diikuti
dengan kata 'belaka', tetapi juga diisi
dengan suka cita

lalu ketabahan macam apa yang mengalir tanpa habis mengairi sunyi 
--yang punya musimnya sendiri, apakah sunyi yang sebenarnya
menjelma merawat dirinya. aku jadi teringat puisi Memoar di Jendela 2
--kepunyaan Arif Bagus Prasetyo "Bahkan dalam ketabahan pintu muara
saat menyerah pada lautan, engkau masih menangis 
mengenangkan sunyi suaramu menjelma."
--aku curiga, bahwa sunyilah dalang utama dibalik segala keterpura-puraan ini
sunyi menggemakan suaranya sendiri
sunyi berteriak lalu seketika menjelma seperti bisikkan
yang terkukung pada telinga yang setia mengasuhnya
menggemakan sunyi menjadi kelipatan ganda
--yang tak ada habisnya

pada akhirnya,
aku mungkin hanya akan berkata "biarlah!"
ini semua sudah lebih dari cukup
aku tak akan meminta apaapa lagi kecuali jika 
sunyi ingin memberikan dirinya lebih banyak lagi
aku tak akan meminta penjelasan atau bertanya
bagaimana sunyi seharusnya diperlakukan

sebab aku tahu,
apapun pertanyaannya, sunyi jawabannya


2011

sajak terakhir di bulan oktober

biarlah malam ini aku 
mengingat nomor telponmu, menekannya
mendengar nada sambung
dan mendengarkan suaramu di ujung sana

aku hanya ingin mengatakan padamu
bahwa malam ini
aku tak bisa menulis sajak
barang satu patah, barang sekali titah

karena kini aku hanya bisa mengombang-ambingkan bahasa
pada desir kopi yang melumat bibirku
menjilat sekian huruf yang berleburan
satu persatu di lidahku
namun tak juga ada yang sudi menumpahkan
dirinya dalam debur kata, 
mungkin hanya kepedihan yang sedari tadi mengalir, mengalir sendiri

susah payah aku membolakbalikkan 
kamus itu lagi
kupikir aku akan menemukan katakata
yang tepat untuk kujadikan sajak
nihil, tetap saja segalanya terasa ganjil
bahkan aku tak bisa memahami lagi bagaimana sajakku pernah
lahir dan tumbuh berkembang di tempat-tempat
mereka yang rela bersebentar 
menitip waktunya ke dalam sajakku yang dulu
yang pernah hidup di bulan bulan sebelum oktober

lalu maukah kau mengangkat telponku
memberitahuku apakah seseorang yang nyaris kesepian bisa
merayu oktober untuk menyelesaikan sajaknya lagi,
sajak-sajak yang mungkin telah mati suri


2011

29.10.11

penghitung nasib buruk

garis tangannya telah penuh oleh daftar nasib buruk
yang tertanggal sedari lahir hingga nanti takdir mencibir
tiap malam ia nyalakan tembang di kuku kuku jarinya yang pucat
sambil mencatat, menghitung, menjumlah, mengali
nasib buruk yang ia alami sepanjang hari
sepanjang usia bertumbuh tinggi

"siapa yang mencipta nasib buruk?" dengusnya kesal
sembari dihisapnya sebatang rokok
dihembuskannya lagi sembarang
seolah-olah ia paling tak bersalah

ia tak tahu bahwa di batangbatang rokonya tersimpan
bubukbubuk nasib buruk yang akan mengikutinya
tanpa henti

setiap asap
setiap hisap
akan membentuk semacam ruang fatamorgana
yang akan mengepungnya pada luka
luka yang membawanya pada nasib buruk
yang satu ke nasib buruk yang berikutnya

setiap nasib buruk yang dicatat, akan berlipat ganda

"siapa yang menentukan nasib buruk?" dengusnya lagi
sembari menabur bunga di makam yang bertuliskan namanya


2011