Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2015

Migrain oh Migrain

Kutulis apa yang kurasakan untuk diriku yang sedang bersedih karena terkena migrain. Dan untuk diriku yang sedang berbahagia karena cicilan laptopku akhirnya lunas. 
Ini kali pertamanya aku terkena migrain dalam hidupku, seakan ada sesuatu yang hidup di kepala bagian kanan belakang. Hal ini tentu sangat mengganggu ketika migrainku sedang parah-parahnya, tapi aku sudah kadung janji dengan seorang teman untuk hadir sebagai juri lomba melukis di acaranya.
Sedang menjuri kepala berdenyut, sedang bicara kepala berdenyut. Sedikit kuhentak-hentakkan telapak tanganku ke kepala, berharap migrain itu akan reda. Namun bukannya menjinak, migrain itu seakan bertambah liar. Semakin aku melawannya, migrain itu seperti ikut melawan juga, malah galakan dia. 
Sepulang jadi juri, migrainku bertambah parah, obat yang kuminum pun tak mempan untuk mengatasi migrain ini. Kubawa shalat, itu pun tak khusyuk karena rasa sakit yang tak karuan. 
Lalu aku sedikit berpikir (karena jika terlalu banyak, aku khawatir…

berharap Tuhan

Kutanggung penderitaan dan cobaan dunia karena kecintaanku pada Engkau Kulepas pula beban yang melekat di punggungku karena taatku padaMu Bukankah tiada surga kecuali surga yang dipagari oleh ketidaksenangan?
Maka bahagiaku sebab pertahananku dari pedihku demi menujuMu.

Jakarta, April 2015

Aku jatuh cinta pada tanganmu yang kotor tapi tak meminta

Beberapa waktu lalu aku pergi ke rumah sakit, menjemput kakakku yang bekerja di sana. Pukul setengah dua aku berangkat dan tiba disana pukul dua. Sekitar setengah jam aku menunggu kakakku di depan rumah sakit sambil memperhatikan sekeliling. Lalu mataku menangkap seorang nenek dengan tubuh yang membungkuk, menghadap tempat sampah. 
Entah apa yang ia cari, barangkali seberkas botol atau gelas plastik. Ingin kuhampiri tapi tak kubawa sepeserpun dalam saku. Kupandangi lekat-lekat tubunya, semakin kupandangi aku semakin jatuh cinta dan sedih. Semoga ada orang lain yang berbaik hati.
Keesokan harinya kujemput kakakku lagi tapi tak kutemui nenek itu. Esok lusanya lagi kujemput kakakku. Setengah jam kakakku belum keluar juga, aku pergi sebentar ke tukang jus dan tak berapa lama akhirnya kakakku datang. Saat ingin pulang, kakakku berbisik sambil memberi isyarat dengan matanya bahwa di belakangku ada nenek pemungut sampah itu. 
Kuberikan roti dan beberapa lembar uang lalu diulurnya tangan hi…

Tak Apalah

Tak apalah jika kau bungkam suaraku Tuhanku Maha mendengar kata-kata yang bahkan tak kusuarakan
Tak apalah kau naikkan harga BBM sesukamu Karunia Tuhanku tak pernah padam dan tak henti diturunkan padaku
Tak apalah kau tak adil padaku Tuhanku Maha Adil dan pengadilanNya tak akan berat sebelah
Tak apalah kau tutup media-media bicara untukku Toh telinga Tuhanku akan selalu terbuka termasuk hari Sabtu dan Minggu
Tak apalah kau ambil uangku, tabunganku, dan pajakku Rezeki dari Tuhanku selalu cukup bagiku untuk mengganjal perut dan beli susu anakku
Namun..
Yang aku tak bisa berkata tak apa Jika kau tak bolehkan aku cinta dan taat kepada Tuhanku
Yang aku tak bisa berkata tak apa Jika kau tak bolehkan kami sesama manusia saling menyayangi
Yang aku tak bisa berkata tak apa Jika kau jual bangku-bangku sekolah kepada kaum papa
Yang aku tak bisa berkata tak apa Jika kau torehkan luka dan noda pada bumi pertiwi tercinta

April 2015