31.10.11

aku benci kesunyian yang tak pernah membenci diriku

tibatiba aku merasa sunyi melebihi seluruh sunyi
yang pernah menyesaki dadaku
nampaknya sunyi akan tumbuh subur disana
dengan batangbatang kian meninggi, meski
telah bosan kutebangi
mungkin begini rasanya jika sudah terlalu lama bersendiri
seperti beban yang tertambat di punggungku
namun aku tak sanggup untuk menanggungnya
aku hanya mampu sesekali menghibur diri
dan rasanya itu pun tak cukup

dulu, aku pernah merasa lebih sunyi dari ini,
dan masih bisa kuatasi dengan sedikt bepergian
atau kubaca saja sajak Hasan Aspahani
"Aku datang, cuma untuk memungut sunyiku.
Engkau, kapan akan memungut aku? memungut sunyiku?"
--aku dalam sajak itu mungkin
telah lebih maju dari perjanjian
atau ibaratnya sepihak --si aku datang sendiri tanpa perjanjian
kuanggap sajak diatas masih jauh lebih beruntung dari aku 
yang tak tahu siapa tokoh 'Engkau' yang diharapkan memungut aku,
memungut sunyiku. aku hanya tahu--
bahwa sunyi sedari tadi sibuk bercerita, dan aku
mendengarkannya. mendengarkan sunyi berbahasa
tanpa suara, tanpa katakata

atau begini mungkin gaya sunyi bercerita 
seperti Ook Nugroho mengucapkan sajaknya
"Aku tidak pernah tahu kepada siapa katakata ini 
kelak akan sampai akhirnya, pastilah aku
tidak menuliskannya untuk kekosongan belaka."
--aku tak habis pikir, sebab apa sunyi lahir
tanpa tahu siapa yang akan dtuju, siapa
yang akan mampu membaca kesunyian sunyi tanpa ragu--
meski kekosongan kuharap tidak lagi diikuti
dengan kata 'belaka', tetapi juga diisi
dengan suka cita

lalu ketabahan macam apa yang mengalir tanpa habis mengairi sunyi 
--yang punya musimnya sendiri, apakah sunyi yang sebenarnya
menjelma merawat dirinya. aku jadi teringat puisi Memoar di Jendela 2
--kepunyaan Arif Bagus Prasetyo "Bahkan dalam ketabahan pintu muara
saat menyerah pada lautan, engkau masih menangis 
mengenangkan sunyi suaramu menjelma."
--aku curiga, bahwa sunyilah dalang utama dibalik segala keterpura-puraan ini
sunyi menggemakan suaranya sendiri
sunyi berteriak lalu seketika menjelma seperti bisikkan
yang terkukung pada telinga yang setia mengasuhnya
menggemakan sunyi menjadi kelipatan ganda
--yang tak ada habisnya

pada akhirnya,
aku mungkin hanya akan berkata "biarlah!"
ini semua sudah lebih dari cukup
aku tak akan meminta apaapa lagi kecuali jika 
sunyi ingin memberikan dirinya lebih banyak lagi
aku tak akan meminta penjelasan atau bertanya
bagaimana sunyi seharusnya diperlakukan

sebab aku tahu,
apapun pertanyaannya, sunyi jawabannya


2011

sajak terakhir di bulan oktober

biarlah malam ini aku 
mengingat nomor telponmu, menekannya
mendengar nada sambung
dan mendengarkan suaramu di ujung sana

aku hanya ingin mengatakan padamu
bahwa malam ini
aku tak bisa menulis sajak
barang satu patah, barang sekali titah

karena kini aku hanya bisa mengombang-ambingkan bahasa
pada desir kopi yang melumat bibirku
menjilat sekian huruf yang berleburan
satu persatu di lidahku
namun tak juga ada yang sudi menumpahkan
dirinya dalam debur kata, 
mungkin hanya kepedihan yang sedari tadi mengalir, mengalir sendiri

susah payah aku membolakbalikkan 
kamus itu lagi
kupikir aku akan menemukan katakata
yang tepat untuk kujadikan sajak
nihil, tetap saja segalanya terasa ganjil
bahkan aku tak bisa memahami lagi bagaimana sajakku pernah
lahir dan tumbuh berkembang di tempat-tempat
mereka yang rela bersebentar 
menitip waktunya ke dalam sajakku yang dulu
yang pernah hidup di bulan bulan sebelum oktober

lalu maukah kau mengangkat telponku
memberitahuku apakah seseorang yang nyaris kesepian bisa
merayu oktober untuk menyelesaikan sajaknya lagi,
sajak-sajak yang mungkin telah mati suri


2011

29.10.11

penghitung nasib buruk

garis tangannya telah penuh oleh daftar nasib buruk
yang tertanggal sedari lahir hingga nanti takdir mencibir
tiap malam ia nyalakan tembang di kuku kuku jarinya yang pucat
sambil mencatat, menghitung, menjumlah, mengali
nasib buruk yang ia alami sepanjang hari
sepanjang usia bertumbuh tinggi

"siapa yang mencipta nasib buruk?" dengusnya kesal
sembari dihisapnya sebatang rokok
dihembuskannya lagi sembarang
seolah-olah ia paling tak bersalah

ia tak tahu bahwa di batangbatang rokonya tersimpan
bubukbubuk nasib buruk yang akan mengikutinya
tanpa henti

setiap asap
setiap hisap
akan membentuk semacam ruang fatamorgana
yang akan mengepungnya pada luka
luka yang membawanya pada nasib buruk
yang satu ke nasib buruk yang berikutnya

setiap nasib buruk yang dicatat, akan berlipat ganda

"siapa yang menentukan nasib buruk?" dengusnya lagi
sembari menabur bunga di makam yang bertuliskan namanya


2011

balada penjaga perpustakaan

di tempat ini,
waktu berjalan lebih lama dari biasanya
lebih sepi dari imajinasi
sedang aksara aksara tak pernah sabar 
dijadikan bahasa
disusun hingga terbentuk
putaran lema baru
di kerutkerut 
lipatan otak kiri

sedang wanita itu masih saja duduk 
di belakang meja
kadang kepalanya terantuk jatuh 
karena dera kebosanan 
yang mematuk matuk mata

"tak ada yang datang" lirihnya perih 
matanya cair karena terlalu banyak membaca
sedang seluruh buku telah dibabatnya habis, sendirian..


2011

28.10.11

catatan tidak romantis

: Ratih Purnamasari

malam ini aku mengajakmu pergi nonton film
kukatakan ini gratisan karena aku tahu kita sama-sama
sedang tidak bawa uang
sebenarnya merasa bersalah juga
ketika jalanan macet dan rasanya tidak sampai-sampai
aku takut kamu bosan jadi kuceritakan saja
halhal yang sebenarnya tidak begitu penting
tapi kuharap ini sedikit bisa membunuh waktu
atau sekadar bisa memberimu pandangan
bahwa pergi denganku itu tidak membosankan

dari dalam bis kau terlihat panik karena diluar hujan deras
"tenang, aku bawa payung." kataku pasti seolah  tidak khawatir
padahal aku takut juga kalau tiba-tiba payungku rusak lagi di jalan

mungkin segalanya akan menyenangkan
jika langit tidak berubah menjadi penjahat
aku tidak bilang bahwa hujan itu jahat
tapi aku hanya merasa ini bukan waktu yang tepat
kau bilang hari ini kau tidak pakai kaos kaki, dan takut kakimu bau
kalau air hujan masuk ke sepatumu
bicara soal kaki yang bau aku ingat beberapa waktu lalu
aku tertawa saja dalam hati lalu bilang
"ah di dalam dingin kok. kalau bau juga nanti nggak kecium."

terlebih ketika kita temui ada galian di sepanjang jalan
dan kita harus rela menginjak kubangan di trotoar
"tunggu, mi." katamu dari belakang.
aku lupa kalau kita sedang berjalan berdua,
aku lihat baju belakangmu basah
karena aku berjalan terlalu cepat. ah, maaf kataku dalam hati
sampai di tempat nonton film
kita seperti dua orang bodoh yang berkorban
untuk sesuatu yang tidak begitu penting sebenranya
aku tidak tahu film apa yang akan diputar, kau pun juga tidak tau
tapi kita menjalaninya
seolah ini sesuatu yang bisa menghibur atau
mungkin bisa kita tertawai di lain hari
sampai di tempat nonton film,
akhirnya aku tahu bahwa ini film tentang cinta remaja
aku tidak begitu suka tetapi kunikmati saja
sungguh aku tidak begitu megerti jalan ceritanya
tapi kulihat kau khusuk dan sesekali tertawa
lalu aku tanya padamu "apa maksudnya?"
kau menjelaskan dengan seksama
aku malu,
aku seperti orang yang ingin berlari tak punya kaki
betapa inginnya aku menonton film, tapi
begitu dangkal daya tangkapku mengenai sebuah adegan

mungkin aku yang tak pandai menangkap suasana
karena terlalu banyak ketinggalan soal cinta
tibatiba rasanya aku seperti seorang neneknenek
yang sedang nonton film kartun
hanya ikutikutan tertawa jika ada adegan lucu
tapi tidak bisa mengerti sebab apa aku tertawa
mungkin pengalamanmu lebih banyak dariku soal ini
sebab kau mengerti yang tidak kumengerti

seperti layaknya film-film remaja, akhir ceritanya adalah
si lelaki dan si perempuan jadian dengan proses yang begitu panjang
si lelaki mati-matian belajar berenang untuk masuk olimpiade, karena
si perempuan menantangnya
lalu si perempuan sempat frustasi dan menjadi gemuk karena sudah
berbohong tentang perasaannya kepada si lelaki
akhirnya si perempuan kurus lagi karena menyimpan
rasa sakit hati utuk keduakalinya
film yang cukup aneh tapi tidak bisa ditebak jalan ceritanya

mungkin seperti itu juga kita harus melalui hidup ini
tentang tujuan-tujuan yang sederhana
yang harus dilalui dengan berputar-putar terlebih dahulu
melawan kesewenang-wenangan nasib yang
tidak pernah bisa kita duga dan kita bisa apa
kita hanya bisa mecintai takdir
dan jujur terhadap derita apapun

hingga akhirnya kita berpisah lagi
saat aku harus pulang dengan naik bus yang berbeda denganmu
di waktu waktu jauh, yang mungkin kita akan habis
seperti film malam ini


28 oktober 2011

seperti puisi

sudah lama saya jatuh cinta pada puisi, tapi ketika melihat seorang penyair, saya bisa jatuh cinta berkali-kali..

hari ini saya bertemu dengan Sitok Srengenge, saya bertanya kepada beliau apa itu puisi. beliau menjawab "sampai sekarang puisi belum punya definisi, begitu banyak definisi, tapi tak ada satupun definisi yang bisa menampung puisi. puisi lahir dengan caranya sendiri, dengan proses yang berbeda dari kelahiran puisi yang satu dengan puisi yang lain. ini bukanlah sesuatu yang istimewa. puisi atau bukan puisi tergantung dari si pembuatnya dan penyair tidak lebih hebat dari tukang martabak."

kemudian saya bertanya lagi "kalau begitu ketika puisi lahir apakah ia akan seutuhnya melepaskan diri dari si penyair, atau penyair akan diam-diam menyusup masuk ke dalam puisi yang dibuatnya? jika ketika puisi lahir seutuhnya terlepas apakah itu berarti pembaca bisa bebas menangkap makna puisi?"

sambil membetulkan letak topinya ia menjawab, "ya, siapapun bebas menangkap makna puisi, puisi tidak punya satpam yang menjaganya seharian, dan kualitas puisi tidak lepas dari campur tangan pembaca. tafsir puisi akan begitu panjang berhalaman-halaman jika pembaca mempunyai keliaran imajinasi dan pandai menangkap apa itu yang tidak tampak, sedang makna puisi akan begitu sempit jika tingkat pemahaman pembaca dangkal terhadap sastra. begitu saya harap itu  sudah cukup menjawab."

terimakasih, ini benar-benar sudah lebih dari cukup. lalu keesokan harinya saya bertemu dengan Sapardi Djoko Damono, saya mengangkat tangan setinggi-tingginya tapi mungkin ia tidak melihat saya, dan saya belum sempat betanya apa-apa. 

mungkin lain kali bisa bertemu lagi. ya, lain kali..



oktober 2011

tuhan yang kau pangku dalam sajadahmu

sesuatu di hadapanmu kau temukan tergeletak
tanpa tuhan yang kau pangku dalam sajadahmu
lalu kau berdoa dan mengamininya sendiri
berkali-kali
tanpa tahu tuhanmu akan bangun atau tidak
kau masih memegangimu sajadahmu
seketika lututmu terasa berat
saat itu kau bertanya 
siapa yang menciptakan dosa sedemikian parahnya?

2011

21.10.11

Sinopsis

Saya, seperti halnya mungkin beberapa orang lain tidak begitu suka nonton televisi, tidak juga begitu suka nonton film. Mungkin karena saya suka mengantuk jika nonton film terlalu lama. Tapi, kehadiran film Jepang selalu saya tunggu-tunggu setiap bulannya yang diadakan oleh Jappanis Foundation Jakarta. Bahkan saya selalu bisa mengingat beberapa adegannya untuk beberapa tahun kedepan, alur plot ceritanya, tokoh-tokohnya, situasi disana, dan soundtracknya. Jepang itu...spesial, menurut saya.

Di Jepang, terdapat majalah yang berisikan beberapa judul manga (komik gaya Jepang) dengan total jumlah halaman sekitar 200 hingga 850 halaman. Manga yang meraup sukses hingga bertahun-tahun umumnya diangkat untuk dibuatkan film. Beberapa di antaranya berbentuk animasi atau film versi manusia (Live Action, dikenal dengan singkatan L.A.) Sebagian judul juga dibuat kembali secara internasional oleh produsen di luar negara Jepang, seperti Amerika, yang membuat film Live Action

Di bulan Oktober ini the Japan Foundation, Jakarta memutarkan film-film yang diangkat dari manga, untuk melengkapi penelusuran manga khususnya di awal masa perkembangannya.
27/10
Pk. 16:00 Tsuri Bakanisshi Supesharu/ Gila Mancing Edisi Spesial
Pk. 18:30 Harukanaru Koshien/Seruan Penonton
28/10
Pk. 16:00 Muno no Hito /manusia Tanpa Ketrampilan
Pk. 18:30 Bataashi Kingyou/Ikan tak Bersirip

SINOPSIS
Tsuri Bakanisshi Supesharu/ Gila Mancing Edisi Spesial 
1994/106 menit
Sutradara : Azuma Morisaki
Berdasarkan komik populer karya Yamasaki Juzo dan Kitami Ken’ichi. Pemain : Toshiyuki Nishida, Eri Ishida, Rentaro Mikuni

Hamasaki adalah pegawai rendahan yang menjadi ‘guru’ memancing dengan murid spesial yaitu pak Suzuki, presiden direktur tempatnya bekerja. Suatu hari seorang pengusaha kaya meminta Suzuki untuk menjodohkan Kengo, putranya dengan Shino,putri salah seorang staff Suzuki. Pertemuan terjadi dan tampaknya keduanya saling menyukai. Diam-diam Takeshi, putra penjual minuman keras merasa kecewa, karena ia menyukai Shino. Dalam sebuah pertemuan Shino terkesan akan sikap Takeshi dan memutuskan hubungannya dengan Kengo. Merasa gagal dengan perjodohan yang dibuatnya, Suzuki pun mabuk di sebuah kedai minum. Dalam keadaan mabuk ia mengunjungi rumah Hamasaki dan diterima oleh isteri Hamasaki yang menawarkannya menginap......(apa yang terjadi?)

Harukanaru Koshien/Seruan Penonton
Sutradara : Yutaka Osawa 1990/103 menit
Berdasarkan novel karya Ono Takuji & Tobe Yoshiya komik karya Osamu Yamamoto: Pemain : Yasufumi Hayashi, Mayumi Ogawa, Tomokazu Miura
Penyakit campak Jerman di tahun 1964 menyebabkan banyak bayi terlahir cacat. 15 tahun kemudian dibangunlah SLTA Kitashiro yang khusus untuk penyandang cacat. Seorang murid yang bersemangat setelah menonton pertandingan baseball tingkat SLTA bertekad membuat klub serupa di sekolahnya. Meskipun menghadapi banyak rintangan klub ini berhasil didirikan. Namun demikian karena tidak pernah memenangi pertandingan maka klub terancam dibubarkan.

Muno no Hito /manusia Tanpa Ketrampilan
Sutradara: Naoto Takenaka 1991/107 menit (dewasa)
Berdasarkan komik karya Yoshiharu Tsuge Pemain : Naoto Takenaka, Jun Fubuki, Kotaro Santo
Sukezo adalah seniman komik pertama yang muak pada komersialisasi komik. Ia beralih menjadi pengusaha batu-batu seni dengan toko di pinggir sungai. Usahanya ini tidak mendapatkan hasil dan keluarganya jatuh miskin. Walau tawaran membuat komik berdatangan, ia selalu menolaknya. Sukezo juga menolak penerbit yang membuat cerita sesuai pesanan. Kondisi keuangan yang memburuk membuat keluarganya nyaris tercerai berai....

Bataashi Kingyou/Ikan tak Bersirip
Sutradara : Joji Matsuoka 1990/ 95 menit (Remaja)
Berdasarkan komik karya Minetaro Mochizuki Pemain : Michitaka Tsutsui, Saki Takaoka, Orie Sato
Kaoru menyukai Sonoko. Ia melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan gadis ini, termasuk mendekati ibu Sonoko. Ia juga berlatih renang karena Sonoko adalah perenang di sekolah mereka. Suatu hari Kaoru mendapati Sonoko menggandeng Nagai, seorang pemuda jago renang. Ternyata itu adalah siasat Sonoko agar Kaoru tidak mengganggunya. Ketika akhirnya Kaoru memutuskan untuk menjauhinya, Sonoko mulai memikirkan pemuda ini.....

Lain kali, pasti akan saya ceritakan lagi tentang 'sesuatu yang unik' dari film Jepang. Saya tak sabar menceritakannya, seperti saya yang juga tak sabar ingin cepat-cepat menonton filmnya.

11.10.11

malam minggu

malam minggu
malamnya hari sabtu
malam sebelum hari minggu
malam yang ditunggu bagi dua sejoli
malam yang dibenci bagi para penyendiri
sesungguhnya aku tak suka menulis puisi ini
puisi malam minggu
malamnya para penunggu
puisinya orang terbelenggu
-- orang orang yang menunggu
menunggu sesuatu dari pualam
yang terasa gagu
yang ramai tapi tak berdamai
aku sesungguhnya
hanya sedang berpurapura menulis
padahal hati sedang sinis
di malam minggu yang miris


2011

10.10.11

puisi untuk seorang ayah yang ditinggal mati anaknya

rasanya terlalu pagi jika sulur sulur itu hanya berhenti sampai sini
dimakamkan dalam laci-laci kremasi yang berbau nyinyir
kita memang sama-sama tahu, bahwa tak ada yang dapat melawan usia
tapi begitu luka jika kuingat lagi bagaimana takdir memintamu moksa

anakku, buat apa aku begitu tabah bila kau sudah tak betah?
atau bisa saja betah tapi malaikat-malaikat itu merebutmu dari sisiku
mempermainkanmu dalam surga yang entah di telapak kaki siapa

rasanya baru sepersekian menit kita bermain kuda-kudaan tadi malam
kau berdiri di punggungku seolah terbuat dari baja
padahal ringkih jika kau temukan remah-remah tulang itu di dalam bajuku

lalu kau tertidur karena kelelahan bermain, aku menggotongmu lagi seolah
aku lupa kau sudah sekian puluh kilogram beratnya
seperti dalam film drama: sang ayah yang mengecup kening anaknya
yang sedang tertidur pulas lalu setelah itu kembali ke meja kerja
mengerjakan ini itu,
dan menyimpan- terpaksa menyimpan -cintaku yang kusut
itu dalam laci -menyimpannya lama- hingga membusuk tak pernah lagi terbuka


" Selamat tidur untuk anakku yang lebih dulu tertidur..."




2011

kenapa hujan?

sebab saya sadar, hujan bukan cuma soal rintik rintik yang jatuh ke bumi, yang menimbul bunyi dan bau tersendiri. tapi hujan punya jalan cerita seperti saya yang selalu ingin ke luar rumah jika hujan tiba, menginjak kubangan atau atau dengan sengaja menciprat-cipratkan supaya kaki saya basah. siapa yang tahu setiap tetesnya seperti kata kata yang perlahan jatuh membentuk kalimat, lalu terserah sesiapa yang ingin menyusun cerita, tergantung dari sisi mana ia merasakan hujan, atau mungkin untuk orang orang yang hanya melihat hujan dari kejauhan; dari balik jendela atau dari pintu yang terbuka, mereka bisa bercerita tanpa tahu rasa hujan seperti apa, seperi air mata atau seperti bahagia. 

hujan adalah ketabahanan, ketika orang orang mengeluh tidak tahu untuk apa mereka hidup, hujan begitu tabah bekerja tanpa tahu dimana ia akan bermuara, sedang bumi masih setia menunggunya memulai sebuah kisah atau mengulang lagi kenangan sebab hujan tak bisa memilih siapa yang akan ia sentuh dan ia tinggalkan. hujan adalah kejujuran yang tak bisa saya terka, seperti kejutan di hari-hari ulang tahun. saya akan melotot kemudian tertawa lebar ketika menerimanya, seperti juga dinamika yang saya yakini akan ada kebahagiaan pada suatu hari. saya tak perlu bertanya kenapa saya menangis hari ini atau kenapa saya mesti bertanya kenapa. sebab hujan selalu memberi jawaban sebelum saya sempat untuk mempertanyakan.





#15harimenulisdiblog; tema#hujan

6.10.11

Pulang

katamu, lahir adalah keberangkatan

lalu apa yang disebut kepulangan?

aku tak ingin menyebutnya

adakah kata lain yang melegakan?

seperti saat-saat pulang ke rumah

membuka kulkas dan memecah es batu

atau langsung menuang air dingin

ke dalam gelas

dan meminumnya seperti

kertas yang buru buru minta ditulis

kering, tak sabar

lalu menyalakan televisi

memencet-mencet tombolnya

mengganti-ganti

padahal aku tahu

tak akan ada berita baik hari ini

atau esok atau esoknya lagi

sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun

sepanjang kita, kau, masih ada di kota

penuh bom bunuh diri

penuh luka penuh dosa penuh lupa

lalu apa yang melegakan

kata-kata itu

tak ada

puisiku pun patah hati

tidak ada harapan untuk disimpan lagi di buku diari

atau diberi semacam bau hujan

yang menenangkan

di balik jendela buram

sebab tebal debu

sebab hujan atau gerimis sekalipun

tak ingin menyentuhnya sesekali

atau berulang kali

lalu untuk apa pulang?

di tempat kepulangan manapun

sesak begitu terasa setia



2011








~ dan lalu, sekitarku tak mungkin lagi meringankan lara.. ~ (Float- Pulang)

4.10.11

Lukaku Ada Lima, Rupa Rupa Sakitnya

luka yang pertama belum parah benar
masih bisa kuobati meski rasanya nanar
atau kalau tidak kusimpan saja sebentar
sebab siapapun belum sadar
dan aku akan sabar

luka yang kedua sedikit dalam
jika kubuka dagingnya kelihatan
warnanya merah serupa dendam
apalagi jika ditabur garam
bukan main rasanya berderam

luka yang ketiga tidak kalah sakitnya
tidak bisa lagi kudiamkan pura pura 
atau kutahan sekuat tenaga
seperti luka kesatu atau kedua
luka yang ini sungguh buruk rupa dan borok rasa

coba kita duga luka yang keempat
oh, rasanya siapapun tak sempat
mendengarkan atau sekadar melihat
bagaiman perih paraunya cacat
luka yang sudah tak mempan obat

ini luka yang kelima, tak bisa lagi kubalut
saking remuk, saking seringnya terparut
duri duri hidup yang carut marut
yang teronggok lama dibangkaikan kalut
dalam hati biarkan saja membangkai di sudut

lukaku ada lima
rupa rupa sakitnya


2011

Nyanyian Putus Asa

pada hari rindu, kuturut payah ke kota
naik dendam istimewa ku duduk di luka
ku duduk samping pak gusar yang sedang gulana
mengendarai kata supaya pahit deranya

hei...!!
tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
tuk tik tak tik tuk tik tak
suara spatu duka..!

2.10.11

Rindu

rindu adalah siksa
siksa adalah derita
derita adalah sakit
sakit adalah lemah
lemah adalah takut
takut adalah gelap
gelap adalah hitam
hitam adalah pahit
pahit adalah rasa
rasa adalah selera
selera adalah aroma
aroma adalah bau
bau adalah hirup
hirup adalah nafas
nafas adalah waktu
waktu adalah lama
lama adalah jarak
jarak adalah rindu


2011

Desember - Efek Rumah Kaca



Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi

Dibalik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka
sehabis hujan dibulan desember,

Di bulan desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka

Sampai hujan memulihkan luka

Peluk.

Source image:Pinterest.com Lelahkah ia yang jauh disana? Menungguku untuk mengetuk pintu dan berkata ”aku pulang!” Sampai kerut menggero...